Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 031: Loh, Kok, Marah?


__ADS_3

Hebat sekali! Di saat seperti ini Tiarnan pergi, kerja bagus. Dan, mestinya Likta memaksa sang suami tetap tinggal, bukan malah bersembunyi. Coba lihat apa yang bisa dia jadikan pegangan sekarang.


Tidak ada yang bisa melukiskan perasaan Likta saat ini kecuali kelabu. Mata beloknya mengabur, air terbendung di pelupuk. Senatural mungkin dia meletakkan sendok ke atas piring, lalu membasahi tenggorokan yang mulai gersang dengan sedikit teh hangat.


Mustahil mengikuti alur ramah-tamah bersama dua orang yang senantiasa menyudutkan, sekuat tenaga Likta bertahan agar sudut rapuh dalam dirinya tidak kelihatan. Menghempaskan jauh-jauh perasaan terintimidasi, dia sudah terlalu sering dihadapkan dengan orang-orang seperti mereka, tetapi tak satu pun dapat menumbangkan dirinya.


Sudut bibir mungil serupa pita Likta tersungging, dia mengulas senyum begitu sanggup mengangkat kepala. Duduk tegak bagai tokoh wanita pemberani dalam legenda pewayangan. Tangguh tak terkalahkan.


Dalam hati Likta bergumam, sedini mungkin harus mengajarkan benih yang bertumbuh di dalam rahim arti dari pertahanan diri. Agar suatu saat nanti tidak ada seorang pun mampu menjatuhkannya, kecuali kehendak semesta.


“Gimana menurut, Om?” desak Violacea.


Frits melempar tatapan yang sulit didefinisikan ke arah sang menantu. Pria paruh baya itu tengah didera perang batin. Dia mengembuskan napas pendek sebelum menanggapi. “Sayang, kita bisa bicarakan ini sekembalinya Tiarnan, oke?”


Violacea menggigit sudut bibir, tidak yakin bahwa putra dari pria itu akan setuju dengan usulnya, mengingat pertemuan terakhir mereka. Besar kemungkinan calon suaminya mulai menaruh hati terhadap Likta. Dia mengangguk ragu, “Ya, persetujuan Tiarnan sangat diperlukan.”


Likta mengembuskan napas lirih, batu granit yang menyesakkan paru-paru sesaat lalu hancur seketika. Dia begitu lega dan percaya Tiarnan tidak mungkin tega memadunya, pria itu pasti memilih berpisah terlebih dahulu daripada menanam bunga berbeda dalam satu lahan.


“Wah, sayang sekali, Om harus berangkat,” sesal Frits seraya bangkit. Telapak tangan besarnya mengusap lembut pucuk kepala Violacea. “Om tinggal, ya.”


Likta turut beranjak dari duduknya, bergerak menuju ayah Tiarnan. Dia meraih telapak kanan sang mertua yang sudah turun di samping badan, lantas mencium punggung tangan dengan khidmat. “Hati-hati, Bapak.”


“Ya.”


Kedua wanita muda itu menatap punggung lebar ayah Tiarnan.


“Nah, Likta, boleh aku usulkan satu hal kepadamu?” Violacea berjalan anggun menuju wanita hamil itu, menyentuh pundak kanan lawan bicaranya dengan mantap. “Bisakah kamu membuktikan kepadaku, bahwa benar kamu enggak ada niat sedikit pun merebut Tiarnan dariku?”


“Dengan cara apa?” tanya Likta.

__ADS_1


“Bujuk dia agar menyetujui usulanku,” pinta Violacea lantas melipat lengan di depan perut yang rata. “Sanggup?”


“Begini—” Likta bingung harus memulai dari mana, dia duduk kembali, baru berkata, “Jujur, aku dan Mas Tiarnan enggak terlalu dekat. Lagipula, su—een, maksudku, dia, pria dewasa yang enggak bisa kita atur seenaknya.”


Seketika ingatan Likta menembus waktu pagi menjengkelkan kemarin lusa, bulu-bulu romanya pun meremang. Penuturan bernada lemah Tiarnan kembali menyusup ke dalam indra pendengaran.


“Kamu begitu menyiksaku, Likta!” gumam Tiarnan pada saat itu, hanya dengan mengingat saja, tatapan dalam sang suami masih terasa begitu membekukan. Perkataan bernada sinis dia utarakan dengan parau, “Sungguh seharusnya kita tak berada dalam situasi seperti ini. Kalau saja wanita itu bukan kamu. Aku tidak pernah merencanakan hubungan seserius ini, terlintas pun tidak.”


Likta tersentak, bibirnya sudah tidak sabar ingin bertanya, “Kalian saling mencintaikan?”


“Maksudmu apa tanya gitu?” hardik Violacea.


“Loh, kok, marah? Kalau iya, saling cinta—terus, kenapa harus repot-repot membujuk segala?” desak Likta polos, mata beloknya mengerjap lugu.


“Siapa yang marah!” balas Violacea sewot, tanpa melihat Likta dia pergi dari sana.


Dengan taktik licik, Violacea ingin bertindak sebagai korban, wanita yang calon suaminya direbut orang. Di balik sikap peduli, sang model menyimpan segudang rencana besar.


Violacea berniat mengambil hati para penggemar, dengan sengaja mengundang beberapa awak media. Dia ingin Likta terekspos sebagai pihak yang tidak berperasaan.


“Duh, idola kita yang satu ini memang tiada duanya, masih bisa menerima wanita yang telah merebut tunangannya dengan begitu lapangan dada,” seru salah seorang.


“Heran, deh, sama wanita itu. Berani-beraninya muncul.”


“Dasarnya muka badak, keras, cuy!” sambar yang lain, mengabaikan keturunan Adam di sudut ruangan.


Likta sadar dirinya bukan bagian dari mereka, sehingga mencari sudut tersepi rumah megah itu. Mereka kira Likta tidak punya telinga apa? Seenaknya membicarakan orang lain tanpa disaring.


Dan, tiba waktu acara, Likta benar-benar berniat menghindar dari kerumunan. Selama sisa hari dia gunakan untuk mengucilkan diri di kamar, desas-desus beredar dengan amat cepat hingga tak sanggup menanggung sendiri. Suami yang dia harapkan datang seperti jin tidak kunjung menampakkan ujung rambutnya.

__ADS_1


Ingin sekali Likta menjerit sejadi-jadinya, tetapi langsung sadar, dirinya tidak boleh terlihat lemah. Dia kini sedang termenung di depan meja rias. Bertanya-tanya bagaimana cara menutupi kecemasan berlebihnya.


Ketukkan pintu mengagetkan Likta, dia berdiri untuk membuka pintu. “Bi Mur?”


Wanita paruh baya itu menyelinap masuk. “Kok, belum siap-siap?”


“Aku takut Bi,” keluh Likta, muram.


“Kenapa mesti takut?”


“Mereka enggak menyukaiku.” Likta berjalan tiga langkah dan mendudukan diri di pinggiran tempat tidur.


“Bicara apa! Mbak Likta istri sah Mas Tiarnan, semua terjadi sebelum pernikahan Mas Tiarnan dan Mbak Violacea terjadi. Lantas, apa yang perlu dirisaukan?” Hiburan wanita paruh baya itu, “Malam ini waktu yang tepat untuk meluruskan semuanya. Bibi memang enggak tau permainan apa yang sedang dipertontonkan Mbak Violacea, tetapi di sini Mbak Likta-lah tuan rumah, bukan dia.”


Tidak pernah sekali pun Likta memungkiri keterlibatan wanita paruh baya itu, pengurus rumah satu ini selalu berada di pihaknya. Dan, dia teramat bersyukur akan hal itu. “Bi Mur, yakin?”


“1100% yakin!” ungkap Murti mantap. “Sekarang, ayo! Bi Mur bantu bersiap.”


Likta yang sudah menarik dari sananya, tidak membutuhkan waktu lama dalam berdandan. Dia turun ditemani oleh Bi Murti.


Tepat pada saat itu, berbagai ekspresi tersemat di masing-masing wajah para tamu yang terlihat asing. Lebih banyak sorot menuduh di sana, Likta merasakan itu. Bahkan sebagian besar tamu wanita memilih membuang muka.


Ayah Tiarnan mengulurkan tangan untuk membantu Likta turun dari anak tangga terakhir, membimbing langkah agar berdiri di sebelahnya.


Beberapa saat kemudian, Violacea muncul dari balik kerumunan dan Frits memberikan perlakuan yang sama.


“Oke, karena orang yang ditunggu-tunggu sudah datang mari kita mulai acaranya,” ujar pembawa acara.


Kemudian Frits diminta menyampaikan serangkaian sambutan, lalu mempersilakan pemuka agama memimpin doa dan setelah itu disusul dengan bersantap santai.

__ADS_1


__ADS_2