Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 042: Sentimental Sekali


__ADS_3

Sebelum memangkas jarak satu jengkal Likta menjulurkan lidah dengan mimik jenaka.


“Kamu meledekku, ya?”


Kelopak mata Likta terbuka lebar, kok, tau, sih, batinnya, lantas mengeluarkan kalimat berbeda, “Siapa juga yang ngeledek.”


“Jelas banget, tau, dari spion,” gumam Tiarnan, senyum tersungging miring di sudut bibir. “Pegangan! Aku bukan tukang ojek.”


Semburat kemerahan mewarnai pipi, semestinya Likta tidak boleh bersikap kekanak-kanakan, dia cemberut singkat seraya berpaling. Sebisa mungkin menghindari sorot menyidik Tiarnan. “Mas Tiarnan selama ini memata-matai aku, ya?”


“Kamu mengharapkan jawaban apa?” Tiarnan melirik dari balik bahu, kemudian kembali fokus pada jalan di depan. “Aku harap kamu tidak terganggu.”


“Kalau aku bilang terganggu, apa Mas Tiarnan mau berhenti?”


“Tidak,” jawab Tiarnan, lugas.


“Egois,” dengkus Likta, dia memainkan ujung kuku, lalu berujar, “Syukurlah setelah bayi ini lahir aku gak perlu berhubungan lagi dengan orang seperti mu.”


“Makin ingin kamu lepas diriku, maka semakin besar pula niatku mengulur waktu.” Tawa kecil lolos dari bibir Tiarnan, “Tidak kusangka kamu ibu yang kejam.”


Tuduhan yang terlontar dari bibir Tiarnan merangsang produksi zat asam di dalam perut Likta secara berlebihan. Kepalanya pun pusing tak tertahankan, rasa mual naik ke tenggorokan. Dia buru-buru mengambil permen dari saku tas jinjing.


“Apa ada pilihan lain, bisakah aku menghentikan Violacea menjadi ibu pengganti bagi anakku?” tanya Likta, suaranya terdengar gemetar menahan kekecewaan.


Bagaimana bisa sikap Tiarnan sesantai ini, apa pria yang menikahinya memang tak punya hati? Mungkinkah suatu saat nanti bisa berubah? Ah, kemungkinan itu sangat-sangat kecil, terlebih ada wanita cantik menanti selepas perpisahan.


Likta mendesah sambil berkata, “Di lihat dari layar kaca kalian tampak sempurna, seperti sendok dan garpu.”


“Sentimental sekali,” sanggah Tiarnan, dia melirik Likta melalui spion. “Apa ada perumpamaan untuk aku dan kamu?”


Terlalu banyak perbedaan, tidak terpikir sama sekali, batin Likta. Kemudian bergumam, “Gak ada, aku lelah, bolehkah bersandar sebentar saja?”


Sebelum memberi persetujuan, punggung Tiarnan sudah merasakan berat tubuh Likta yang terkulai. Kedua lengan ramping melingkar di seputar pinggang, sensasi tidak nyaman berdesir cepat, dia sadar ini bukan waktu baik untuk berdebat.

__ADS_1


Istrinya butuh istirahat, setibanya di rumah sakit, Tiarnan berencana menyewa jasa perawat pribadi untuk menjaga Farida. Hanya Tuhan yang tahu kapan tante Likta sadar.


Tiarnan melajukan motor dalam kebisuan, sesekali melepas sebelah tangan untuk mengusap lengan Likta. “Kamu tidur?”


“Enggak.”


Ketika angin berembus kencang setetes air mata turut terbawa, Likta memejam sebentar. Sungguh merebahkan diri di punggung Tiarnan teramat nyaman. Aroma yang berasal dari tubuhnya menentramkan, tidak terlalu berbau parfum mahal. Lantas mengapa dirinya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Terlalu sulit untuk berterus terang, selagi orang itu tidak memiliki perasaan yang sama.


Kenapa juga cintanya tumbuh di tempat yang salah, Likta menahan isak, memangnya siapa yang peduli kalau dia menangis? Biar pun begitu, terasa bijak menempatkan segala kesedihan di sudut tergelap hati.


“Likta.”


“Hemm.”


“Pola makan mu beberapa hari ini tidak teratur, ya?” tanya Tiarnan di tengah-tengah konsentrasi mengemudi, “Bobotmu seringan bulu tau. Aku tidak mau kebiasaan itu memengaruhi pertumbuhan si baby”


Likta menghela napas, paling tidak Tiarnan mengkhawatirkan keselamatan calon anaknya. Dengan ini dia bisa sedikit lebih tenang melepaskan si kecil di kemudian hari. “Aku makan cukup baik.”


“Besok ajukan permohonan berhenti kerja.”


“Tentu saja aku.”


“Halah, tanggung jawab Mas Tiarnan, kan, ada expired-nya. ”


“Sok tau,” ujar Tiarnan tidak terima, “Aku bisa kasih jaminan seumur hidup.”


“Terima kasih, tetapi itu enggak perlu,” kata Likta masygul, sembari melihat langit hitam bertabur gemintang jauh di atas kepala.


Seperti embusan angin, pengakuan Tiarnan seakan-akan mencoba menumbangkan Likta dengan hawa dingin menentramkan, merapuhkan sisa kekuatan yang dia punya di tiap terpaan.


Namun, Likta tidak membiarkan itu, dia bisa berdiri tegar hingga detik ini meski cobaan datang silih berganti. Dia terlalu hafal dengan skenario Tuhan, selalu ada jawaban di tiap persoalan. Jadi menggantungkan sesuatu kepada sesama ciptaan-Nya, tidak keliru, tetapi kurang tepat.


Likta mengulas senyum getas, mengharapkan Tiarnan sama dengan menanti bintang jatuh di tangan. Mustahil dapat tergenggam dan menerangi kehampaan jiwanya yang kelam.

__ADS_1


“Sudah sampai, yuk!”


Gelagapan mendapat teguran, Likta menyeka air bening di sudut mata. “Wao, tanpa bertanya, Mas Tiarnan bisa tau harus ke mana. Hebat sekali,” sindirnya.


“Apa seharusnya aku tersanjung?” tanya Tiarnan asal sambil melepas pelindung kepala, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Likta. “Udah, diem kenapa,” katanya saat mendapat penolakan.


“Berhenti bersikap manis!” gerutu Likta, “Nanti makin susah aku—”


Tiarnan melipat lengan di depan dada, menunggu kalimat Likta selanjutnya. Akan tetapi, wanita itu malah berlalu begitu saja.


“Likta!” seru Tiarnan, mengambil langkah lebar-lebar untuk menyejajarkan gerak cepat Likta. “Tunggu, selesaikan dulu.”


“Apanya?”


“Yang tadi,” desak Tiarnan sambil mengingatkan, “Jangan buru-buru nanti perutmu kram.”


Suami-istri itu tiba di lobi rumah sakit, aroma khas disinfektan menyusup indra penciuman. Likta terus berjalan, tidak memedulikan Tiarnan.


“Enggak ada waktu, aku sudah terlambat dua jam,” terang Likta dengan langkah tergesa-gesa melewati koridor rumah sakit. Sepatu tumit datarnya berdenting cepat di lantai.


“Tante Farida.”


Namun, makin mendekati ruang rawat Farida laju kakinya kian memelan, Likta terpundur sesaat. Ada seorang dokter dan perawat memasuki ruang rawat itu. Dia pun kembali memperlebar langkah, ketakutan mencengkeram hatinya—apa kondisi tantenya memburuk?


“Pelan-pelan, Dear.” Tiarnan menyambar lengan Likta, merangkul bahu wanita itu. “Semua pasti baik-baik saja.”


Kalimat penenang Tiarnan tidak berpengaruh terhadap Likta, benaknya kini telah dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk mengenai perkembangan Farida. Mengingat pasca-operasi sampai detik ini belum ada tanda-tanda sadarkan diri.


Satu-satunya keluarga yang dipunya Likta hanyalah Farida, dia tidak bisa membayangkan kehilangan sosok ibu sekaligus ayah.


Tanpa disadari air bening pun merembes lewat sudut mata, Likta mengusapnya sebelum menganak sungai di kedua pipi. Ingin sekali memanggil nama sang tante keras-keras, tetapi bibir tak bisa bergerak sedikit pun. Digigitnya ujung bibir yang bergetar, dia meraup udara sebanyak-banyaknya.


“Tante pasti baik-baik saja, kan?” Likta mendongak, mencari kesungguhan di paras tenang Tiarnan. Jemari lentik mengusap perut yang terasa kaku karena berjalan setengah berlari tadi.

__ADS_1


“Ya,” sahut Tiarnan tanpa bimbang. Dia menyadari kernyit samar di dahi Likta, juga gerakan lembut tangan sang istri yang mengelus perut. “Duduk dulu, setelah lebih tenang, kita masuk sama-sama, oke.”


Likta mengangguk cepat, keringat dingin mencuat dari pori-pori pelipis, mengalir perlahan hingga sulur-sulur anak rambut menempel di pipi.


__ADS_2