Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 040: Aku Udah Kenyang, deh, Bri


__ADS_3

Sepanjang pagi sampai sore hari itu, Likta berkutat dengan pekerjaan dan tanpa toleransi Brielle menyuruhnya mengurus dokumen. Sahabatnya itu berkeras agar dia tidak terlalu bekerja keras, apalagi berdekatan dengan para hewan yang sedang sakit.


Selepas bekerja, keduanya sama-sama termenung di parkiran, duduk diam di kursi besi dekat pos jaga sebelum hengkang dari klinik. Tadi, Likta berkata akan langsung mengunjungi Farida, sedangkan Brielle memastikan teman karibnya itu beristirahat lebih banyak.


Dengan kesadaran penuh, Brielle mengalihkan perhatian Likta agar tidak terlalu memikirkan masalah Awang. Dia tidak mau wanita hamil itu terlalu stres, memang sulit mengendalikan pikiran orang lain. Akan tetapi, si gadis bermata sipit itu berusaha keras membelokkan perhatian temannya.


“Sebelum ke rumah sakit ayo makan dulu di tempat biasa,” ajak Brielle memecah keheningan.


“Aku—”


“Mau, kan?” Brielle mengedip-ngedip, mempersembahkan tatapan penuh permohonan. “Kita sudah lama gak ketemu, loh, sejak kamu ke Bali.”


Likta mengembuskan napas berat, “Oke. Eeun, tapi Bri—menurutmu apa aku tanya langsung aja ya ke Om Awang mengenai uang itu?”


“Iya, daripada kamu repot cari pinjaman buat tebus motor Om Awang.”


Terhitung satu menit Likta melamun, bukannya menyesal atau keberatan kehilangan motor kesayangan, tetapi pengakuan Awang beberapa hari lalu kini jelas mengganggu pikiran.


Menurut bukti cetak pengambilan uang, pria itu punya tabungan lebih dari cukup untuk bertindak cepat demi menyelamatkan Farida, lalu kenapa malah menunggu kedatangannya. Jatuh di kamar mandi tidak kurang berbahayanya dibandingkan kecelakaan di jalan raya, apalagi sampai menimbulkan cedera kepala.


Ini terlalu sulit dicerna oleh akal sehat Likta, kepala bagian belakangnya berdenyut-denyut, pening membuat pandangan sedikit mengabur. Dia segera berpegang pada lengan Brielle sejenak, seraya menghirup oksigen lebih banyak.


“Likta, kamu kenapa?” tanya Brielle, khawatir. “Asli, kamu pucat banget.”


“Agak pusing.”


“Tunggu bentar aku belikan minum,” pinta Brielle.


Senyum kecil terukir di kedua sudut bibir Likta. “Gak usah, lebih cepat cari makan lebih baik.” Sisa ucapannya terungkap dalam batin, Dan, aku bisa cepat-cepat ke rumah sakit.


Likta memicing tatkala menatap jauh di ufuk barat, Sang Batara Surya lambat-laun menepi di batas cakrawala, menebar sinar lembayung nan anggun. Akhir-akhir ini mengamati keindahan semesta terasa menentramkan jiwa yang tengah dilanda gulana, pemandangan alam berhasil mengoyak prasangka berbalut putus asa dalam dirinya.


Segala aral yang melintang nyaris membuat Likta tersungkur dan takut bangun. Namun, sepatutnya bersyukur sebab dia masih mendapatkan uluran tangan dari orang terkasih, securam apa pun jalannya baik dinikmati dengan besar hati.

__ADS_1


“Oke, yuk!”


Dua wanita bak remaja itu berboncengan menuju warung tenda langganan pinggir jalan. Memarkir motor di bahu jalan, begitu dapat tempat duduk langsung memesan makanan dan minuman.


Karena ramai keduanya harus sabar menunggu, dua es teh diantarkan terlebih dahulu.


“Terima kasih,” ucap mereka kompak.


“Jadi pastinya tanggal berapa Calvin secara resmi datang beserta keluarga?” Likta memulai obrolan.


“Kita masih beli-beli hantaran,” terang Brielle, “Kalau gak ada halangan sebulan lagi.”


“Eemm, senengnya,” ujar Likta. “Akhirnya setelah pacaran dari SMA sampai ke pelaminan.”


“Belum, masih lamaran.”


“Bagiku sama aja, tujuannya ke sana.” Likta terdiam agak lama, lalu bergumam, “Bri.”


“Selama aku pergi, berapa kali kamu ketemu Tante Farida?”


“Pas di pasar antar Mama waktu itu.” Kenang Brielle, jari telunjuk mengetuk-ngetuk meja ringan, seperti berusaha mengingat sesuatu yang mungkin terlupakan. “Oh, ya aku ingat. Gak bisa dibilang ketemu juga, sih, cuma kebetulan lewat. Sekitar seminggu lalu kayaknya, aku lihat mobil parkir sembarangan di luar halaman rumah.”


“Depan rumah Om Awang?”


“He'em, tapi enggak tau juga, itu tamu om-tantemu atau Bu Wiwik. Aku buru-buru, sih, jadi gak seberapa merhatiin.”


“Eeun gitu.”


Kedua pesanan telah di antara, Likta dan Brielle menekuni makanan dalam diam.


“Setelah ini kamu mau balik ke rumah sakit langsung? Kamu kenapa?” tanya Brielle, melihat gerakan Likta tertahan. “Bawaan bayi ya, jadi gak selera makan?”


Wanita hamil itu setia dalam bisu, takut keliru atau mengkhayalkan hal yang mustahil. Dia merasakan atmosfer di sekitar warung tenda berubah, orang-orang yang bertepatan menghadap ke arahnya bergeming. Semula dia mengira hanya kebetulan belaka, tetapi begitu angin berembus lembut baru menyadari kehadiran seseorang.

__ADS_1


Bulu kuduknya meremang dan darah berdesir hangat di urat nadi. Sebelum memutar badan pun Likta menyadari kehadiran orang itu, ragu-ragu dia menoleh ke belakang.


Tenggorokan Likta seakan-akan tersumbat, sosok jangkung tak tercela memblokir jalan orang di belakangnya. Di balik kacamata hitam, orang itu memindai sekitar dan tertuju ke arahnya.


Telinga peka Likta mendengar gumaman kagum setiap wanita, dan dia berani bersumpah pria itu jelas menyadarinya. Seperti tebar pesona melepas pelindung mata dengan bergaya, mengambil langkah lebar ketika menghampiri meja, lalu duduk santai di kursi seberang.


“Mas Tiarnan, gimana—” kata-kata Likta dihentikan dengan lambaian tangan.


Salah seorang pramusaji lekas-lekas mendekat. “Ya, Mas?”


“Es jeruk aja satu,” ucap Tiarnan, tanpa mengalihkan pandangan dari Likta, lantas berkata, “Lanjutkan.”


Likta merasakan kakinya diinjak. “Ma—Mas Tiarnan kenalkan ini Brielle.” Melirik sekilas ke arah sang teman. “Bri, ini Mas Tiarnan.”


Ditatap Tiarnan tanpa jeda membuat Likta salah tingkah, tangannya gemetar ketika meraih gelas. “Aku udah kenyang, deh, Bri.”


Dahi Tiarnan berkerut hingga alis tebalnya hampir bertemu dan secara ajaib selera makan Likta kembali datang. Bahkan Brielle dibuat geleng-geleng kepala, nasi beserta lauk di atas piring bersih tak bersisa.


“Alhamdulillah,” ucap Likta, kemudian menyeruput sedikit es teh.


Brielle menggeser duduknya, meletakkan telapak tangan terbuka di sisi telinga Likta. “Aku balik dulu ya, kalau ada apa-apa telepon aja, Aku siap 24 jam.”


Secara impulsif Likta menggenggam erat punggung tangan Brielle yang ada di atas meja. “Ya, trims. Hati-hati,” ucapnya berbalas kedipan.


Sebelum benar-benar pergi Brielle mengangguk segan ke arah Tiarnan. “Mari, Mas,” pamitnya tak berbalas. Lalu, mengambil langkah seribu guna menutupi malu. Berasa mimpi bisa bertemu orang penting macam suami Likta. Aura penguasaan terpancar di raut wajah yang terkesan muram, tetapi menarik perhatian. Ya, ampun, ingat Calvin, Bri! Mengingatkan diri sendiri.


Tibalah Brielle di depan si penjual dan menoleh cepat di tempat tadi makan. “Makasih, ya, Mas!”


Rupanya, Tiarnan telah memberi uang lebih kepada penjualan itu, sehingga para pengunjung yang datang pada hari ini tidak perlu membayar.


“Sudah,” tanya Tiarnan kemudian mengulurkan tangan.


Likta mendongak, menatap bingung pada sosok yang selalu datang bagaikan jin. Dia bergeming, mesti senang atas kehadiran pria ini atau sepantasnya takut dengan berbagai tujuan yang mendorong sang suami datang?

__ADS_1


__ADS_2