Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 033: Ada Apa Ini?


__ADS_3

“Mbak Likta, ayo, Bi Mur bantu ganti baju,” tawar pengurus rumah paruh baya.


“Terima kasih, Bi, tapi aku bisa sendiri, kok.”


“Nanti kalau perlu bantuan panggil Bibi, ya.”


“He'eh.” Likta mengulas senyum.


Acara tasyakuran selesai lebih malam dari yang diperkirakan, Likta didera gelombang kelelahan, sehingga segera mengganti gaun pestanya dengan salah satu baju yang Murti berikan sebelumnya. Meski malas sekali, dia memaksa kedua kaki masuk ke kamar mandi, membasuh muka dan menyikat gigi sekadarnya.


“Mbak Likta!”


“Ya,” sahut Likta seraya membuka pintu, “Ya, ampun, aku bukan batita, Bi. Lihatlah, aku sudah ganti baju.”


Senyum Murti tersungging, pasalnya bukan perkara itu yang membawanya datang. “Percaya, kok,” pungkasnya sembari menyodorkan segelas susu. “Biar si kecil enggak membangunkan Mbak Likta tengah malam.”


“Eemm, terima kasih,” ucap Likta, kedua lengannya melingkar di bahu Murti.


“Eh, eh, awas nanti tumpah.”


Likta pun cekikikan, lalu meraih gelas.


“Ayo, masuk, wanita hamil pamali berdiri di ambang pintu,” tutur Murti seraya memegang lembut lengan Likta. Mengajaknya duduk di sofa dekat kaki tempat tidur.


“Betapa beruntung memiliki ibu seperti Bi Murti,” sanjung Likta usai menghabiskan susu dalam sekali tenggak.


“Lebih beruntung lagi punya anak seperti Mbak Likta.”


“Enggak juga.” Likta mengembalikan gelas kosong kepada Murti.


Meskipun istri Tiarnan mengatakan itu diiringi senyuman, Murti dapat melihat sekilas kesedihan. “Lah, makin malam, deh, tidurnya. Keasyikan ngobrol. Besok mau dimasakin apa?”


“Apa pun masakan Bi Mur, aku suka.”


“Oke, kalau gitu.”

__ADS_1


Keduanya beranjak dari duduk, melangkah beriringan menuju pintu. Likta menatap punggung Murti yang makin jauh, setelah tidak terlihat baru menutupnya.


Sudut-sudut bibir mungil Likta tertarik ke bawah. “Kalau saja Mama masih hidup, pasti Papa enggak pergi.”


Sebelum merangkak ke tempat tidur, Likta memeriksa ponsel, tidak ada pemberitahuan apa pun. Dalam waktu singkat merebahkan diri, rasa kantuk lebih mendominasi. Dia terlelap di bawah selimut lembut yang sangat nyaman, dan setiap kali terhanyut dalam tidur wajah Tiarnan selalu muncul.


Keesokan paginya Likta bangun dengan kondisi lebih segar, menggeliat sebentar guna melenturkan otot-otot yang kaku. Dia lekas membersihkan diri supaya bisa cepat-cepat ke dapur, makin hari kebiasaan makannya makin tidak bisa terbendung.


Likta merias diri sambil berdendang lirih, membawa rambut panjangnya ke bahu kiri supaya lebih mudah disisir. Mengambil sebagian surai pada masing-masing sisi lantas menyatukan dengan penjepit. “Oke, siap!” serunya, tetapi kemudian mendekati cermin lagi. Dia kembali melepaskan jepitan seraya berujar, “Digelung ajalah.”


Saat sibuk mengikat seluruh rambut tinggi-tinggi ponsel Likta berbunyi, keinginan untuk meringkas rambut pun urung. “Halo, ya—”


Mata belok Likta membelalak. “Apa? Sekarang kondisinya gimana?” Suaranya bergetar, air hangat perlahan menganak sungai di kedua sudut mata.


Dengan berurai air mata Likta menggigit bibir bawahnya. “Gimana bisa?” tanyanya kepada orang di seberapa telepon sambil mengecek semua yang dibutuhkan saat menggunakan transportasi udara.


Likta sedikit berlari ketika keluar dari kamar, dengan buru-buru wanita hamil itu menuju dapur. “Bi Mur!”


“Bi Mur lagi ke pasar,” sahut Nov, mengalihkan perhatian sebentar dari seikat kangkung di genggaman.


“Mengantarkan Kak Cea pulang.”


Susah payah Likta menelan kecemasan, dia tidak bisa menunggu lebih lama. Daripada membuang waktu wanita hamil itu memesan kendaraan melalui aplikasi.


Likta bolak-balik tanda tidak sabar ketika menunggu di depan gerbang sambil memeriksa saldo rekeningnya. “Bismillah, cukup.”


Motor model bebek berhenti tepat saat Likta mengangkat kepala, dia mencocokkan nomor platnya.


“Likta?” Pengemudi memastikan.


“Ya, agak cepat ya, Mas!” pinta Likta, sembari menerima helm dan memakainya.


Dari jalan Pantai Indah Barat menuju bandar udara membutuhkan waktu selebih-lebihnya setengah jam. Beruntung sekarang sudah tersedia tempat pembelian tiket go show yang terletak di Terminal 1B Keberangkatan, Bandara Soetta. Jadi, Likta bisa mendapatkan tiket dadakan dengan mudah.


Jangan ditanya Likta tahu dari mana, sebab dalam perjalanan tadi dia sempat berbincang dengan mas-mas ojeknya. Benar saja, setelah mencapai tempat yang dimaksud, sebagai calon penumpang dirinya dibantu oleh petugas mesin jual tiket otomatis.

__ADS_1


Selepas menunggu selama dua-tiga jam penerbangan, pesawat membawa Likta mengudara meninggalkan Jakarta. Dia menatap keluar jendela dan hanya menemukan gumpalan awan seputih salju.


Selama melambung tinggi Likta tidak terpikir bagaimana keadaan di rumah Tiarnan. Kecemasan berhasil mengambil alih diri, sehingga lupa berpamitan. Dan, tanpa sengaja menciptakan huru-hara delapan jam kemudian.


“Gimana bisa salah satu dari kalian tidak tau Likta pergi ke mana?” bentak Tiarnan. “Pak Muh, bukankah saya sudah berpesan agar menjaga Likta. ” Putus asa, membuat suaranya terdengar lebih pelan.


“Pak Darman, masa sebagai penjaga pintu gerbang tidak lihat Likta keluar?” Mata merah Tiarnan nyalang. “Seharian Pak Darman kerja apa? Menjaga satu orang saja tidak bisa!”


Satpam yang dimaksud Tiarnan menunduk takut. Mungkin Likta pergi ketika dia sedang ke toilet, tetapi dirinya saat ini tidak punya keberanian untuk berkata jujur.


“Bi Mur, tolong katakan sesuatu,” desak Tiarnan, kekhawatiran mencengkeram sampai kesulitan mentransfer oksigen ke paru-paru, dadanya kian lama kian sebu.


“Maaf, Mas Tiarnan, sepulang saya dari pasar Mbak Likta sudah tidak ada di rumah. Kami sudah mencari ke semua tempat di dalam dan sekitar luar rumah.” Murti menyodok perut Nov dengan siku.


“Tadi pagi Lik—” Nov memukul ringan bibir dengan ujung telapak tangan. “Mba—Mbak Likta sempat ke dapur menanyakan Bi Mur sama Pak Muh, tetapi setelah aku katakan Bi Mur sedang ke pasar dan Pak Muh mengantar Kak Cea, dia pergi begitu saja. Aku ki—kira dia hanya jalan-jalan karena saat itu tidak membawa apa pun selain tas jinjing lusuh,” papar Nov walau terbata-bata.


Ritme jantung Tiarnan berdetak cepat hingga menderu-deru seperti suara guruh. “Dia pergi dari rumah jam berapa?” Semua orang mendadak bisu dan tuli, dia pun kembali bertanya, “Terakhir kali kamu melihatnya jam berapa, Nov?”


“Ja—jam tu—tujuh.”


Tiarnan menyugar rambut yang sudah berantakan. “Pak Darman, tolong periksa CCTV,” perintah Tiarnan, “Jangan bilang kameranya mati!”


“Ba-baik, Mas Tiarnan.”


Semua orang berbondong-bondong ke pos satpam dan Darman memeriksa hasil rekaman delapan jam yang lalu.


“Ah, kelamaan.” Tiarnan mengambil alih, memperhatikan layar dengan teliti, sayangnya plat motor tidak terlihat.


Darman yang melihat kedatangan Frits segera membuka pintu gerbang, sama seperti Tiarnan, pria paruh baya itu hanya menggunakan sopir pribadi saat terdesak atau sedang lelah.


“Ada apa ini?” Frits melihat penampilan semrawut Tiarnan dengan heran. “Kenapa semua di luar?”


Muhin berinisiatif memberi jawaban, “Mbak Likta hilang.”


“Hilang? Omong kosong!” dengkus Frits, “Dia jelas sengaja meninggalkan rumah, untuk apa dicari?”

__ADS_1


__ADS_2