Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Lanjut Cerita


__ADS_3

Masih di tempat yang sama. Rasya menunduk dengan segala kekacauan yang menimpanya. Elita yang melihatnya pun turut merasakan apa yang dirasakan temannya. Elita berpikiran bahwa jika ia yang berada di posisi temannya, mungkin ia akan lebih memilih mati sebagai korban kecelakaan dari pada menanggung semua beban yang menimpanya.


Setelah suasana senyap sesaat. Tiba-tiba elita teringat satu hal.


"Maaf ya ra, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu meskipun ini hal kecil, tapi aku mohon... jangan melakukan sesuatu yang aneh-aneh ya" pinta elita dengan raut wajah ragu-tagu. Ia takut ini akan menjadi beban tambahan baginya.


Rasya yang merasa penasaran dengan ucapan elita, langsung mendongakkan wajah meminta penjelasan pada temannya.


"Jujur, aku juga nggak tau dari mana semua hal yang menyaki-, aaahhh, semua hal yang kamu alamin kemarin terekspos di grup kampus kita" Elita memperlihatkan postingan-postingan kejadian yang dialami rasya kemarin.


Nafas rasya memburu ketika ia melihat hal menyedihkan tentangnya kemarin. Mulai dari ketika ia dicampakkan oleh rehan di kursi taman kampus, presentasi yang berantakan, bahkan di pecat dari pekerjaannya.


Ironisnya lagi peristiwa tabrakan yang dialaminya malah disalah artikan.


"RASYA MENJADI FRUSTASI AKIBAT DITINGGALKAN OLEH MANTAN KEKASIHNYA, AKIBATNYA IA MENCOBA MELAKUKAN BUNUH DIRI"


#kampusxx #beritaterbaru #rasyandraalita


Elita memejamkan matanya. Kekhawatiran sudah mendampinginya dari tadi. Ia berharap tidak akan ada hal diluar nalar seperti yang ada di berbagai film atau novel.


Rasya tidak terkejut. Ia sudah siap akan hal buruk yang akan menimpanya selanjutnya. Ia merasa hidupnya tidak berguna lagi. Biarlah semua hal buruk menimpanya. Ia ikhlas menerimanya.


PHUUUUFFFFF


Elita membuang nafas lega.


Gue pikir dia bakalan jadi monster yang murka setelah melihatnya -elita.


"Aku yakin ra, pasti ada yang mencoba mencelakai kamu. Maka dari ituh, cepatlah sembuh, mari kita balas dendam pada orang yhang telah membuat mu tidak beruntung. HYAAAAA" ucap elita penuh ambisi. Diakhir dengan sebuah gerakan taekwondo yang kaku gerakannya.


Rasya hanya tersenyum simpul mendengar kelakuan sahabat karibnya ini.


"Udahlah ta, ini memang sudah takdirku. Mungkin setelah ini aku akan meninggalkan kota ini. Aku ingin menyusul ibuku dan memulai kehidupan baru bersama adik-adiku" kata rasya sendu.


"DIMANA IBUMU TINGGAL? , APAKAH KAMU AKAN MENINGGALKANKU?" teriak elita sambil mengguncangkan tubuh rasya penuh emosi.


"Beb ber henti ti lah, kep palaku masih sa sakit" Rasya tak bisa berbicara dengan jelas. Elita benar-benar menggoncang nya dengan dahsyat.


Benar saja. Kepala rasya jadi semakin berdenyut. Perutnya terasa mual-mual. Bila matanya berputar-putar tak sanggup menyeimbangkan. Segera saja elita melepas cengkramannya.


"Ups, maaf"


"Makanya hati-hati" ketus rasya.


Dreeet... Dreeet... Dreeet


HP elita bergetar di tangan rasya. Buru-buru elita ingin mengambil duluan HP nya, yah,,, malah diangkat duluan oleh rasya. Kembali elita ingin merebut HP nya.

__ADS_1


"Halo, dengan siapa ini?" tanya rasya sambil menepis tanggan elita.


Bodoh amat, padahal namanya udah jelas-jelas terpampang tadi di layar -elita.


"......."


"Hah, kak johan?, ngapain di halaman rumah sakit?"


"......."


"Buru-buru?"


"......."


"Ooo yayaya, okeh!" rasya memutus sambungan telepon. Rasya menatap sinis pada elita. Sedangkan elita sudah gelap-gapan memikirkan jawaban yang tepat untuk keselamatannya.


"Kenapa kak johan nunggu di luar?, biar kamu enak-enakan duduk disini, gitu. Biar kamu leluasa bebas melakukan apa yang kamu mau?"


Elita bingung mau menjawab apa.


Tuk Tuk Tuk


Kak johan mengetuk pintu yang masih terbuka. Senyum sekilas pada rasya lalu menatap sendu pacarnya.


"Halo rasya"


"Halo kak"


Kedatangan johan telah menampar suasana hati elita. Ia berkedip-kedip pada johan seolah-olah memberikan isyarat supaya johan mengetahui maksudnya. Johan tak bergeming alias tidak mengerti.


"Kamu ngapain lagi disini, jangan pernah menyusahkan orang lain!" timpal rasya sambil melemparkan HP ke pangkuan elita. Tak enak jika dirinya harus membuat johan menunggu lebih lama.


"Tapi ra, kamu masih ngutang cerita sama aku..., aku nggak mau pergi dulu..." rengek elita sambil menggoyangkan tangan rasya.


"Kalo aku cerita sekarang nanti nggak bakalan jenguk aku lagi. Nanti aja pas kamu datang kesini lagi ya" jawab rasya sambil melepaskan tangan elita lalu mendorongnya untuk segera pergi.


Dengan pasrah elita beranjak dari kursinya.


"Kami pamit dulu ya rasya!. Semoga cepet sembuh" ucap johan ketika elita sampai di pintu lalu merangkulnya.


"Iy kak, makasih" rasya tersenyum simpul.


Padahal aku lakuin ini buat kamu rasya. Supaya kamu nggak tersinggung sama hubungan kami -elita.


Begitulah ungkapan dari lubuk hati elita ketika keluar dari ruang rasya.


Hubungan mereka sangat harmonis, aku iri -Rasya.

__ADS_1


Malam pun tiba. Adik-adiknya masih menemaninya disana.


Seperti biasa. David berbaring di kasur pasien kosong di sebelah rasya mempelajari berbagai taktik permainan olahraga atau mencari info terbaru seputar dunia olahraga.


Devan, Duduk di kursi sambil belajar dengan buku yang di taruh di pinggiran kasur yang dibaringi David. Membelakangi Rasya.


Radika, keluar mencari angin malam sekali membeli makanan ringan untuk menghilang jenuh mereka.


"Kak, belum menjawab pertanyaanku tadi"


"Yang mana?"


"Tentang kakak bisa langsung sadar"


"Emangnya kenapa?"


"Aneh"


Devan berhenti sejenak ingin mendengar jawaban kakaknya.


"Unik lhoooo," Rasya membanggakan diri sambil melempar buah apel yang sudah dimainkannya, alias tinggal bagian tengahnya saja ke arah David.


"Heh" David meremehkan menatap kakaknya malas.


"IIHHHH, jijik tau" dengan secepat kilas David melempar kembali buah apel. Baru menyadari kalau yang di pegangnya adalah bekas gigitan orang lain.


PLAAAKKKKKKM


Pintu ruangan dibuka kasar menyisakan suara yang begitu keras.


"KATAKAN, DIMANA IBU KALIAN" ayah Rasya datang tiba-tiba membuat seisi ruangan tegang. Tak ada yang menjawab.


Pandangan murka disiratkan pada mereka. Masih tak ada yang menjawab. Bahkan devan melanjutkan belajarnya.


"AKU TANYA DIMANA MAMA KALIAN" ayah mulai berjalan menuju rasya menarik kerah baju rasya yang menyandarkan punggungnya di bagian kepala ranjang. Rasya sedikit tercekik. Nafasnya memburu. Tak bisa bicara.


"HENTIKAN PAPA" buru-buru devan bangun melepaskan tangan ayahnya.


"JADI KAMU BERANI MELAWAN PAPA, HAH" sekarang malah kerah baju devan yang di cengkram. Devan tak bergeming. Hebat sekali dia, suasana sengit begini masih aja datar.


"PAPA HENTIKAN, KAMI TIDAK TAHU SAMA SEKALI" kini David yang bersuara. Beranjak duduk.


"BOHONG" David masih tak bergeming membuat ayahnya geram.Ayah rasya sudah mengancang-ancang ingin memukul wajah devan dengan tinjunya. Ingin sekali rasya menghentikan aksi ayahnya. Ia sadar tak bisa bergeru. Suarnya juga sudah hilang ditelan kegugupan.


David beranjak dari duduknya. Sekarang ia ingin melepaskan cengkraman ayahnya pada devan.


SSSHHHUUUUUSSSS

__ADS_1


Baru saja ayahnya melancarkan aksi, Radika datang menghentikan tangan ayahnya. Cengkramannya cukup kuat.


"Kenapa ayah tidak mengerti sama sekali. Kita di rumah sakit. Kak rasya sedang menderita"


__ADS_2