
"Emang ada apaan sih di HP kakak? kok histeris banget. Markilat. Mari kita lihat... "
Oh tidak. Oh tidak. Oh tidak. Kakak yang selalu tegar selama ini adalah seorang pengecut. Reputasiku menjadi kakak yang hebat akan hilang. Aku akan menerima kenyataan yang menyakitkan setelah ini -Rasya.
Rasya menutup matanya. Suasana adik-kakak pasti akan heboh setelah David membaca berita di HPnya. Rasya memegang dadanya. Panik terus menggelandang di hatinya.
"JANGAAAAN" Rasya berteriak keras ingin menghentikan aksi adiknya.
David terus tersenyum devil pada Rasya sambil mendekatkan HP kakaknya di depan wajahnya. Sedikit dramatis emang reaksi antara Rasya dan David. Tapi apa boleh buat.
"Udah. Jangan pernah mengintip privasi orang" dengan santai dan datar Devan meraih HP ditangan David. Melirik sekilas ke layar HP. Lalu melemparkannya ke arah kakaknya.
HAP
Tangkapan yang bagus dari Rasya. Kini bagian dari hidupnya sudah kembali ke tangannya.
"Yahhh" David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kecewa akan tindakan kakak laki-lakinya. David geram. Ia melanjutkan makannya dengan kasar. Memakan setiap sendok nasi keras hingga terdengar suara giginya bersentuhan dengan sendok dalam mulutnya sambil terus menatap Devan.
Merasa ditatap. Devan mengalihkan pandangannya. Bereaksi seolah-olah tidak terjadi apa-apa sambil meminum air. Lalu ia duduk untuk menyantap sarapannya.
Rasya terkekeh.
Setelah sarapan. Rasya bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Memang terkesan masih cukup pagi untuk pergi ke kampus. Tapi Devan yang akan mengantarkannya kesana. Ia tidak ingin kedua adiknya terlambat hanya karena dirinya.
Seperti biasa. Karena ia berangkat terlalu awal bahkan belum ada sesosok manusia pun disana kecuali petugas kebersihan, Rasya pergi perpustakaan. Mengkaji materi sebelum masuk kelas memang hal paling dibutuhkan oleh setiap pelajar.
DDRRRRTTTTT
HP Rasya bergetar.
"Ya halo Elita" Rasya mengangkat telepon.
" .... "
"Teror? mana mungkin" Rasya tak percaya tentang argumen yang disampaikan di seberang sana.
" .... "
"Oke, oke. Gue kesana sekarang"
__ADS_1
Rasya bangun dari duduknya. Merapikan semua barang bawaannya termasuk buku yang ia ambil dari rak buku, lalu meletakkannya kembali seperti semula.
Rasya berjalan dari perpustakaan ke mading di gedung utama dengan tongkat. Tak peduli seberapa ribet perjalanannya. Ia hanya ingin memastikan kalau yang di katakan Elita tidak benar terjadi.
Sesampainya disana. Rasya bertemu Elita. Bukannya disapa ceria seperti biasa. Tapi malah di seret untuk membuktikan bahwa perkataannya benar.
Rasya terbelalak saat mengetahui namanya ada di mading.
...RASYANDRA ALITA SENGAJA MEMPERMAINKAN BERITA SUPAYA DIRINYA LEBIH TERKENAL...
...RASYA WAJIB DIBERIKAN HUKUMAN KARENA MEMPERMAINKAN BERITA KAMPUS...
...ORANG YANG MEMPERMAINKAN BERITA SEHARUSNYA DISINGKIRKAN...
Seperti itulah judul yang yang terpampang di mading.
Rasya melirik jam di tangannya. Tak dapat dipungkiri. Cepat sekali berita tersebar. Baru tiga jam yang lalu ia tertawa akan berita tentang dirinya.
Rasya mengambil nafas panjang. Lalu keluar dari kerumunan orang-orang kepo berita bersama Elita.
"Yang sabar ya Rasya. Kamu pasti terpukul akan berita tersebut" tiba-tiba Tina datang dan langsung memeluknya.
Bukan saingan sih. Tapi hanya Tina saja yang merasa dirinya disaingi. Sedangkan Rasya ya... What ever.
Aneh. Sangat aneh. Apalagi dengan suaranya yang penuh iba dan lebay tersebut. Rasya ingin bilang jijik, tapi harus menghargai.
"Makasih ya Tina" Rasya membalas pelukan Tina dengan sebelah tangannya, karena sebelah lagi harus menggenggam tongkat. Tentu saja Elita melirik Tina tidak suka.
"BERHENTI. Rasya dia memasukkan sesuatu ke dalam tasmu" teriak kak Johan yang tiba-tiba datang.
Tina langsung gelapgapan. Elita yang antusias dari tadi langsung menarik tas punggung Rasya. Membuka resleting lalu membalikkan tas Rasya hingga semua isinya jatuh keluar berhamburan ke lantai.
Elita mengutip sesuatu dari lantai. Suasana jadi heboh karena yang ditemukan Elita adalah alat penyadap yang sama seperti kemarin.
"Dasar wanita kurang ajar" teriak Elita sambil mendorong Tina hingga tersungkur ke belakang.
Tak sampai di situ. Elita kembali melangkah ingin memukul Tina.
"Elita jangan" cegah kak Johan sambil menggenggam erat tangan pacarnya.
__ADS_1
Elita memberontak. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Ia ingin sekali ia memusnahkan makhluk yang jahat pada temannya.
Tak sanggup menahan aksi Elita. Akhirnya kak Johan memeluk Elita untuk membuatnya tenang.
Dada Elita memburu cepat. Reaksi spontan yang dilakukan pacarnya membuat dirinya lesu seketika di dalam pelukan. Memang adegan yang sedikit canggung karena mereka melakukannya di depan banyak orang.
Entah drama mana yang mereka mainkan. Yang pasti mereka sama-sama terkejut akan hal tersebut dan saling menatap satu sama lain.
Banyak orang sedang berbisik-bisik tentang adegan tersebut. Tak lupa juga mereka turut mereka moment romantis yang langka terjadi itu.
" Bagaimana bisa kalian menuduhku yang melakukannya? " elak Tina sambil bangkit untuk berdiri.
"Aku punya buktinya" kak johan langsung melepaskan pelukan canggung mereka. Lalu mengeluarkan HP dari saku celananya dan memutar kembali video yang ia rekam ketika Tina memeluk Rasya sambil memasukkan alat penyadap ke dalam tas punggungnya.
Semua orang terkejut, termasuk Rasya yang masih mematung di tempatnya dari tadi. Tidak tau apa yang harus ia lakukan karena ia masih tidak percaya akan situasi ini.
Tina berlari meninggalkan kenyataan bahwa ia adalah seorang penjahat. Tentu saja raut yang ia bawa adalah marah dan malu.
Untuk menghindari suasana canggung. Elita melangkah mundur menuju Rasya yang belum juga sadar akan situasi.
"Kamu nggak apa-apa Ra?" tanya Elita khawatir.
Ya ampun. Ingin sekali kupeluk lebih lama lagi pacarku. Ah, pikiran apa ini -kak Johan.
"Iya aku nggak apa-apa" jawab Rasya menyadarkan dirinya sambil geleng-geleng.
Nafas Elita masih tidak stabil. Rasya mengetahuinya. Akhirnya kak Johan mengajak mereka pergi ke taman kampus. Kak Johan berpikir tempat tersebut sangat cocok untuk menenangkan suasana.
Suasana sunyi saat mereka duduk di kursi taman dengan Elita berada di tengah-tengah antara sahabat dan pacarnya.
"Jangan pergi ya Elita, kalau tidak perjuanganku hari ini untuk mu akan sia-sia" ucap Elita sendu saat melihat Rasya terus menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Aku iri. Seharusnya kamu juga berjuang untukku -kak Johan
Rasya terkejut akan pertanyaan tiba-tiba Elita. Kak Johan mengamati reaksi mereka.
Elita berpikir bahwa Rasya akan benar-benar mengundurkan diri dari kampus karena kejadian ini. Terlihat dari sikap Rasya yang tak banyak bereaksi dan terus melamun dari tadi.
"Jangan pergi ya ra" pinta Elita lagi.
__ADS_1