Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
perusahaan


__ADS_3

"Bantuan apa?". Anneth juga ikut mengernyit.


"Tolong cariin aku pekerjaan. Selama ini aku selalu minta bantuan kak Johan tapi malah meninggalkan kesan tak baik di setiap pekerjaan. Aku nggak hati mau minta bantuan kak Johan lagi" keluh Rasya.


Satria dan Anneth saling memandang tak percaya.


...***...


Andaikan gue tau begini, gue minta bantuan kak Johan aja -Rasya.


Waktu berjalan dengan cepat ketika keadaan yang kamu jalani sangat mendukung. Seperti halnya dengan Rasya.


Fisioterapi yang dilakukan berjalan dengan baik meskipun kini ekonomi keluarganya merosot turun karena pengobatannya. Jadi Rasya harus cepat-cepat mencari pekerjaan supaya bisa membantu ekonomi keluarganya.


Yaaaahhh. Rasya kesal tapi tidak ingin menyesal karena telah meminta bantuan Satria.


Berbeda dengan yang ditawarkan kak Johan dulu. Mulai dari katsir, pelayanan restauran, pengatur kebutuhan, dan lain sebagainya. Lah, ini malah Cleaning Service.


"Masih udah bekerja. Kasian ya"


"Iya"


Dua orang pegawai wanita lewat di depannya hendak pulang. Jujur Rasya sakit hati dengan perkataan tersebut. Ia pun meletakkan pel di dalam ember, lalu duduk sebentar di kursi pegawai disana.


"Jangan di masukkan ke dalam hati ya, bapak yakin kamu sanggup menghadapinya!" itu pak Kamal. Sekretaris perusahaan ini.


Pak maman langsung turun tangan soal kebersihan perusahaan ini karena ini termasuk perusahaan kecil.


"Apa perlu saya bantu?"


"Tidak usah pak. Saya hampir selesai kok. Bapak pulang aja" Rasya senyum terpaksa.


"Baiklah kalo begitu. Selesaikan dengan cepat ya. Jangan sampai kamu pulang larut" pak Maman berlalu dari hadapan Rasya.


Huuufftt


Rasya menghela nafas pasrah. Baru sehari ia mendapat pekerjaan sudah di cibir hingga beberapa kali.


Pekerjaannya memang belum terlalu mahir, tapi seharusnya mereka menasehati bukan malah marah-marah. Cuma pak Maman yang baik padanya.


Selesai dengan pekerjaannya, Rasya bergegas pulang karena malam ini ia harus menghadiri pesta perayaan hubungan Satria. Ia hanya memakai dress simple, sepatu elastis yang senada dengan dressnya serta rambut diikat.


Tak disangka, banyak teman SMA-nya disana. Rasya terharu karena bisa bertemu mereka semua.


"Hay Rasya. Ayo silahkan duduk" sapa Anneth ramah saat Rasya baru memasuki ruang karoke


"Hey Rasya. Whatsapp?"


"Udah lama nggak ketemu ya?"


"Kalian semua disini! Aku kangeeeenn!!!" sontak Rasya memeluk semua teman perempuannya.


Ada Ica juga disana. Teman bacotnya semasa SMA.


"Gue juga kangen sama lo Ra!!! " Ica menimpali.


"Aw, aw. Aduh..." Rasya meringis karena kakinya tiba-tiba nyeri. Fisioterapi nya emang lancar, tapi harus melakukannya beberapa kali lagi karena kakinya belum benar-benar sembuh.


"Aduh.. Maaf ya Rasya" Ica melerai pelukan mereka lalu mendudukkan Rasya di sofa.

__ADS_1


"Satria udah cerita kok sama gue tentang kondisi lo. Kalo butuh apa-apa panggil aku aja ya?" Ica mengelus tangan Rasya khawatir.


"Nggak apa-apa. Aku baik-baik aja kok" Ica tak menyahut lagi. Ia tau, temannya yang satu ini cukup keras kepala.


"Baiklah, mari kita sambut nyanyian dari teman kita! Rasyandra Alita!"


Rasya berdiri dibantu Ica, lalu menyanyikan sebuah lagu hasil bisikan Satria. Ia menyanyikan lagu Jangan Menyerah lirik D'Masiv.


Tak ada manusia


Yang terlahir sempurna


Jangan kau sesali


Segala yang telah terjadi


Kita pasti pernah


Dapatkan cobaan yang berat


Seakan hidup ini


Tak ada artinya lagi


Reff 1:


Syukuri apa yang ada


Hidup adalah anugerah


Tetap jalani hidup ini


Tak ada manusia


Yang terlahir sempurna


Jangan kau sesali


Segala yang telah terjadi


Back to: Reff 1


Reff 2:


Tuhan pasti kan menunjukkan


Kebesaran dan kuasanya


Bagi hambanya yang sabar


Dan tak kenal putus asa


Bridge:


Jangan menyerahkan (6x)


Meskipun ini acara peringatan hubungan Satria dan Anneth yang ke sebulan. Tapi Rasya malah menyanyikan lagu tentang hidupnya. Hahaha.


Semoga lagu ini bisa menjadi penyemangat kamu -Satria.

__ADS_1


...***...


Belum sempat sebulan Rasya bekerja disana, ia harus berhenti dadakan karena perusahaan bangkrut.


Diduga pak Maman melakukan pengkorupsian lalu kabur bersama uangnya.


Hari ini, hari terakhir Rasya bekerja disana. Ia menghela nafas sambil sambil memasukkan sampah ke dalam tong di halaman perusahaan.


Ia menatap sebentar ke langit yang hampir gelap, memejamkan mata sebentar sambil menghirup udara disana. Rasanya tenang.


Lalu menoleh sebentar ke arah para pegawai yang bersiap pergi dari perusahaan sambil membawa kardus berisi barang-barang mereka.


"Lho, kertas apa ini? Sepertinya aku tau apa isinya" Rasya mengambil kertas itu lalu langsung membacanya.


Rasya terbelalak. "PAAAAAKKKKK". Ia berlari menaiki tangga hingga ke ruang pemilik perusahaan. Tak peduli bagaimana pandangan para pegawai lain yang menganggapnya gila.


"PAK" panggil Rasya sambil membuka pintu. Sesaat kemudian ia baru sadar bahwa dirinya tidak sopan.


"Iya, ada apa?" terlihat wajah stress pemilik perusahaan tersebut yang terus berkutat dengan komputernya.


"I-ni, ini. Bapak pasti tau apa artinya?"


"Ada apa?, saya udah transfer gaji kamu kan?"


masih tak menoleh.


"Pak, liat dulu?" Rasya terus menunjukkan kertasnya.


Dengan malas bapak itu menoleh. Bukan pada kertas, tapi malah pada Rasya.


"K-kamu, Rasya kan?"


... ***...


"Hahaha, ternyata nasib kita sama. Sama-sama berada di titik terendah" ucap om Herman setelah mendengar cerita Rasya. Lalu meneguk lagi birnya.


Ternyata yang menjadi pemimpin perusahaan itu adalah ayah dari teman masa kecilnya. Mereka dulu bahkan sudah seperti keluarga.


"Oh ya, soal. Rian..-"


"Jangan dibahas lagi om. Biarkan dia tenang di alam sana" kini raut Rasya jadi sendu.


"Baiklah kalo begitu" om Herman mengangguk santai. "Soal kertas ini, ternyata kas saya tidak semuanya dibawa pergi. Masih cukup untuk membangun kembali perusahaan. Tapi saya sudah menjualnya kepada orang lain" kali ini ucapan om Herman sedikit oleng, mungkin karena efek alkoholnya.


"Om, jangan begitu dong. Masak jatuh sikit udah nyerah. Nggak ada orang sukses di dunia ini tanpa jatuh bangun. Seharusnya om itu bisa menjadi contoh yang baik buat Rasya"


"Hahaha, yayaya. Ternyata Rasya udah besar ya. Udah tau harus berjuang. Kalo dulu taunya cuma main sama Rian doang!" meneguk lagi birnya.


"Om...., jangan dibahas lagi" rengek Rasya.


"Hahaha. Gini aja. Saya bakalan jalanin lagi perusahaan saya asalkan kamu jadi sekretaris saya, gimana?" tuding om Herman sambil tersenyum.


"Tapi om, saya nggak tau apa-apa soal perusahaan, bisnis, sekretaris, manajemen?. Saya kan kuliah jurusan hukum" kini Rasya yang meneguk cola-nya.


"Tenang, nanti bisa saya ajarin" om Herman menunggu jawaban Rasya.


Rasya terus berfikir. Ia tidak bisa menjawab langsung karena ia juga harus mempertimbangkan kuliahnya. Baru sebulan ia mendapatkan lagi jati dirinya di kampus, sudah harus mendapatkan cobaan lain. Huuufffttt.


"Saya...-"

__ADS_1


__ADS_2