Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Dikejar Orang Gila


__ADS_3

"Semuanya dua puluh tiga juta pak!" ucap kasir.


What the f*ck -Rasya


Dego segera memberikan kartu kreditnya pada kasir, sementara Rasya terpaku disampingnya. Perasaan ia hanya membeli bahan-bahan dapur yang harganya tak akan semelonjak itu.


"Memangnya bapak beli apa aja tadi, kok bisa tagihannya tinggi sekali?" tanya Rasya dalam mobil saat perjalanan pulang.


"Kamu yang belanja banyak tadi. Saya hanya membeli beberapa kaos putih sama jam tangan hadiah pernikahan untuk teman bapak"


Rasya meraih paper bag yang ada di belakang lalu merogoh jam tangan di dalamnya. Ia melihat harga yang tertera di kotaknya. Sembilan belas juta terpampang dengan indah disana. Nafas Rasya berhenti sejenak, pandangannya lurus karena jika bandingkan dengan dirinya maka sembilan belas bisa untuk biaya hidupnya selama beberapa bulan.


"Disitu juga ada lipstik buat kamu. Berhentilah memakai lipstik warna merah karna kamu jauh terlihat seperti ulat l*tah yang di inginkan semua buaya"


Rasya kembali merogoh paper bag tersebut dan menemukan lipstik berwarna pink punch. Ia menatap Dego nanar atas perkataannya.


"Bapak salah. Warna merah itu menunjukkan keberanian. lagi pula ini merah maron pak, nggak akan terlihat seperti pelakor"


"Pokoknya nggak boleh!" tegas Dego. Ia teringat beberapa kejadian yang lalu saat bertemu dengan klien yang terus menatap bibir Rasya ketika ia yang menggantikan Dego menjelaskan kontak mereka. Kalian pasti tau pikiran seseorang ketika terus menatap bibir lawan bicaranya bukan?!


"Nggak mau pak!" bantah Rasya.


Bukan tanpa sebab Rasya membantah. Ia sengaja menggunakan warna merah karena saran dari beberapa sekretaris perusahaan lain supaya penampilan mereka terkesan berani.


"Kalo kamu nggak mau, turun dari mobil saya" lanjut dengan suara makin meninggi.


"Oke, siapa takut" tuding Rasya tak ingin kalah. Dego menepikan mobilnya ke pinggir jalan di depan toko-toko lalu Rasya turun dan menutup pintu mobil dengan keras. Mobil Dego pun berlalu.


"Cih, dia pikir dia siapa". Rasya menopang kedua tangannya dipinggang. Mulutnya terus berkomat-kamit melafalkan kalimat kebencian terhadap Dego.


"Yah, tasku? tasku dimana?" ucap Rasya panik. Ia mondar-mandir menepuk seluruh saku yang ada di setelannya.


Rasya terus mengingat-ingat dimana keberadaan dompetnya. Sesaat kemudian ia baru sadar dompetnya ada di bagasi mobil Dego. Ia meletakkannya ketika menaruh belanjaan disana.


"Aaaahhhh sial, TUAN DEGOOO. TUAN DEGOOOOOOOO. TUNGGUUUUUU!!!!!!" teriak Rasya sambil berlari mengejar Dego dari pinggir trotoar.

__ADS_1


Mobil Dego melaju maksimal meninggalkan Rasya yang sedang berlari lalu berhenti tiba-tiba karena kelelahan. Andaikan Dego mendengar teriakan Rasya yang memanggilnya 'Tuan', ia pasti akan berhenti. Memundurkan mobilnya, menyapa Rasya, dan kembali memberinya tumpangan. Namun takdir berkata lain.


Ia memelankan laju mobilnya. Menimbang antara kasihan dan tak peduli. Ego berhasil menguasai dirinya sehingga ia kembali menancap gas mobil.


Rasya terengah-engah setelah berlari sia-sia setelah mengejar mobil Dego. Ia jongkok sebentar mengistirahatkan tubuhnya. Sesekali ia juga mengipasi dirinya dengan tangan.


Jarak antar tempatnya sekarang dengan apartemennya sekitar empat belas kilometer. Pasti membutuhkan semalaman supaya sampai kesana.


Daripada meratapi nasib, Rasya memilih berjalan pelan. Melihat kesana kemari berharap ada orang yang ia kenal.


"Itu bukannya kakak Devan" gadis tersebut menelisik orang yang dilihat tak jauh darinya.


"Benar ia. Bahkan masih memakai pakaian kantor. KAK RASYA. KAK RASYAAAAA. JANGAN LARIIII"


Bukannya menemukan teman atau karyawan yang dikenal. Rasya kini berlari kencang ke arah berlawanan karena orang gila mengejar dirinya sambil terus meneriaki namanya. Larinya tertatih-tatih. Ia berhenti. Buru-buru ia melepas high heel dan kembali berlari.


Ia menoleh kebelakang. Sepertinya orang tersebut orang gila baru. Sepatu sport berwarna putih, kaos di atas lutut, rok span putih pendek, tas selempang polos berwarna putih, blezer bermotif bunga dengan kaos berwarna toska. Hanya rambutnya saja yang berantakan menutupi wajahnya.


Orang gila itu berlari sangat cepat di luar dugaan Rasya. Bibirnya mengerucut, keringat bercucuran, wajahnya berkerut tanda ia kelelahan karena ia harus kabur sendiri setelah mengejar mobil Dego.


"Aaaaaaaaaaa" Rasya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa"


Mereka saling berteriak lalu orang gila tersebut ambruk di atas Rasya. Posisi mereka sedikit menyilang. Ia tak bisa berhenti dadaku karena larinya yang begitu kencang.


"Akhhh" ringis Rasya.


Ia langsung bangun menyadari Rasya kesakitan ditindih. "Maafkan aku, maafkan aku! Perkenalkan nama aku Verna, aku mahasiswa jurusan desainer. Juga slah satu penggemar Devan"


Rasya menatap gadis tersebut kecewa karena bukannya membantu dirinya bangun. Ia malah memperkenalkan dirinya.


GRUUUUUULLLLLL


Perut Rasya berbunyi. Wajar saja karena ia belum makan dari tadi siang.

__ADS_1


"Ini CV, surat prestasi, dan KTP" jelas Verna gugup sambil mengeluarkan segala benda dalam tasnya. Tangannya terus mengatup. Berdo'a pada yang maha kuasa supaya ia lulus. Seperti seleksi pekerjaan saja pikir Rasya. Mereka sekarang ada di toserba.


Rasya menyeruput lahap mi instant cup yang di beli Verna lagi sambil melihat membolak balikkan KTP.


"Aneh sekali, kenapa berwarna pink?" tanya Rasya mengerutkan kening.


"Eum,,, itu Kartu Tanda Penggemar" jawab Verna gugup.


"Benarkah? padahal Devan lebih suka warna biru. Lalu apa mau mu?" ucap Rasya lalu meletakkan KTP tersebut asal.


"Begini..." mata Verna berbinar. "Aku ingin meminta restu sekaligus saran. bagaimana caranya mendekati Devan". Mata Verna berkaca-kaca menunggu jawaban Rasya. Rasya menatapnya aneh.


"Hahahaha, apa yang kau sukai dari kulkas dingin itu. Haha. Bagaimana bisa kalian mengagumi batu berjalan. Hahaha" sanggah Rasya sambil tertawa memukul-mukul meja.


"Ini bukan lelucon. Devan itu bukan hanya malaikat yang tak pernah senyum. Ia juga pangeran yang selalu menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Pesonanya membuat seluruh kaum hawa di kampus mengantri untuk menjadi pacarnya. Setiap kali ia mengibas rambutnya saat membaca buku di bawah sinar matahari yang terik. Pasti akan ada satu orang yang tumbang. Parasnya yang rupawan membuat siapa pun yang melihat takkan tau cara berkedip lagi. Ditambah kecerdasan yang ia miliki-". Verna membayangkan semuanya.


"Cukup. Kenapa berlebihan sekali". Rasya ikut mendelik ke pergerakan tubuhnya yang sama berlebihan lebay ketika menjelaskan. Ia baru tau kalau adiknya sepopuler ini.


"Karena memang itu faktanya. Jadi tolong, berikan saya saran dan kesempatan" pinta Verna. Tangannya mengatup tepat di depan wajah Rasya.


Rasya nampak menimbang-nimbang. Ia mengambil semua benda Verna. Menyeleksinya dengan teliti. Verna sama berprestasinya dengan Devan, tapi di bidang desain baju. Ia langsung menyetujuinya. Siapa tau nanti bisa dapat baju gratis tiap pekan. Hehehe.


"Baiklah"


Verna antusias sekali. Ia mengikat Rambut dengan ikat rambut di tangannya, menampakkan wajah yang dari tadi tersembunyi.


...----------------...


**Hai readers.... 👋


Sebelumnya terima kasih karena sudah mendukung cerita ini hingga sekarang. Semoga kalian selalu sehat supaya tidak terlewat part-part berikutnya✨


Jangan lupa like, vote, dan komen (Karena saran dari kalian sangat membantu cerita ini supaya lebih berkembang👍)


... -GOOD😄DAY**-...

__ADS_1


__ADS_2