Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Lelah


__ADS_3

Masih di taman kampus. Rasya mencerna sekilas pertanyaan Elita.


"Nggak kok. Makasih ya karna udah bantu aku" Sesaat Rasya memeluk Elita.


"Justru aku bersyukur kok. Karna kalian aku nggak perlu khawatir lagi tentang berita yang aneh-aneh nanti" ucap Rasya melepaskan pelukan.


Seharusnya itulah yang dipikirkan Rasya dari tadi. Bukannya malah terdiam seperti menyesali sesuatu.


"Baguslah kalo gitu. Aku jadi lega" jawab Elita sambil tersenyum.


"Oh ya, bukannya sekarang kalian udah ada kelas? " Rasya mengingatkan mereka. Sebenarnya bagi Rasya itu bukan sebuah pengingat sih, tapi lebih ke pengusiran. Hehehe.


"Oh iya, kita harus cepat-cepat nih. Keburu telat. Ayo" ajak kak Johan pada Elita.


Elita menatap sendu Rasya.


"Kamu nggak apa-apa kan sendirian? apa perlu kami antar ke kelas, atau langsung antar ke rumah? " tanya Elita. Rasya tau, Elita pasti mengkhawatirkannya. Tapi hal tersebut sangatlah berlebihan.


Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk di HP Rasya. Dengan cepat Rasya mengambilnya di saku celananya sambil berkata " Aku nggak apa-apa kok, kalian pergi aja. Kayaknya mama aku mau nelepon nih"


Setelah melihat nama yang tertera di HP, Rasya langsung mendorong pelan Elita karena dia masih tak kunjung menghilang, dibantu kak Johan yang menariknya.


Elita masih menatapnya khawatir.


"Aku baik-baik aja... Ntar kalo aku kenapa-napa pasti aku manggil atau telepon kamu. Aku janji" ucap Rasya sambil memperlihatkan kelingkingnya. Itulah satu-satunya ide penyelamat yang terlintas di pikiran Rasya.


"Janji ya?"


"iya, janji"


Selang beberapa saat kemudian, Elita dengan rela meninggalkan Rasya. Sekali-kali ia menoleh kebelakang, masih tak rela meninggalkan temannya yang sedang menderita. Rasya pun hanya bisa tersenyum ketika Elita menatapnya.


Rasya langsung mengangkat teleponnya ketika Elita dan kak Johan sudah jauh dari pandangannya.


"Halo, ada apa pak?"


"Udah, udah. Jangan banyak nanya lagi, kamu ke ruangan pak Dodi sekarang, cepattt" suara panik diseberang sana. Itu adalah salah satu bawahan pak Dodi.

__ADS_1


Dengan malas Rasya berdiri dan berjalan dengan tongkatnya ke gedung utama lagi. Tepatnya keruang pak Dodi, orang yang menangani masalah kedisiplinan dan nama baik kampus.


"Permisi pak! " sapa Rasya dengan nafas terengah-engah sambil membuka pintu.


"Kamu pikir kampus ini tempat apa hah? tempat bermain? ya? atau tempat bersenang-senang?" argumen yang langsung menjatuhkan mental tiba-tiba keluar.


Rasya mematung di pintu masuk mendengar ucapan pak Dodi.


"Salah saya apa pak?" tanya Rasya berusaha tegar di depan singa berpangkat tak berkelas.


"Heh, kamu masih nanya apa kesalahan mu? dasar anak-anak tidak tau diri" pak Dodi meremehkan Rasya.


"Saya bukan anak-anak pak" bantah Rasya sambil berjalan menuju meja kerja pak Dodi.


"Mentang kamu siswa terbaik di Fakultas Hukum kamu berani mentang saya? kamu pikir saya takut? Hahaha" terdengar suara tawa seperti penjahat di depan Rasya.


"Karena kamu sudah mempermainkan berita kampus, maka kamu di skors selama satu minggu" ucap pak Dodi sambil tersenyum.


Siapa sangka. Tina ternyata juga mengandalkan ayahnya untuk menjatuhkannya. Ya, pak Dodi adalah ayahnya Tina. Seharusnya pada saat-saat seperti ini Rasya bisa menyangkalnya dengan aturan hukum. Tapi entah kenapa pikirannya tiba-tiba kosong.


"Tapi pak, itu salah anak bapak. Bukankah dia yang menyebarkan berita bohong seperti itu. kenapa malah saya yang di hukum? " sangkal Rasya hampir emosi dan suara sudah agak lebih meninggi.


"Apa? kamu menuduh anak saya? memangnya kamu punya bukti? karena kamu memfitnah anak saya, maka skors kamu ditambah menjadi sebulan" tuding pak Dodi.


Rasya jadi panik bahkan sangat panik. Sebulan? 30 hari?. Bukankah ini sangat keterlaluan dan diluar batas seseorang?


"Tapi pak-" ucapan Rasya terpotong karena pak Dodi bangun dari kursinya dan langsung mendorong paksa Rasya untuk keluar hingga beberapa kali Rasya merintis kesakitan karena kakinya yang tidak bisa berjalan cepat.


"Jika kamu merasa tidak adil. Silakan gugat saya di pengadilan. Saya pun sudah menyiapkan pengacara unggul untuk menjatuhkan kamu"


PHAAAMMM


Pintu ditutup dengan keras. Saya sempat sedikit terkejut dengan hal tersebut. Rasya membuang nafas keras. Ia pun berjalan menyusuri lorong-lorong dengan kesal.


Dilewatinya mading tadi dan sekarang sudah ditempel kertas baru bertuliskan:


...RASYANDRA ALITA DARI FAKULTAS HUKUM DI SKORS SELAMA SATU BULAN...

__ADS_1


...................


...bla-bla-bla....


Rasya menatap mading tersebut dengan pasrah. Lagi-lagi namanya yang terpampang disana. Dimanakah letak kesalahan dirinya sehingga ia harus mengalami kejadian serumit ini.


"Rasya!" panggil pak Jurnal, bawahan pak Dodi menelponnya tadi.


Pasti pak Jurnal yang menempelkan kertas sial itu di mading, kalau tidak siapa lagi -Rasya.


Rasya tersenyum pada pak Jurnal menanggapi sapaannya tadi.


"Maaf ya bapak tidak bisa membantu kamu kali ini. Maaf ya, soalnya ini menyangkut urusan keluarganya langsung, jadi bapak tidak bisa membantah" ucap pak Jurnal canggung.


"Iya, nggak apa-apa pak. Kadang Rasya harus nyelesain sendiri juga kok, biar lebih mandiri. Lagian kalo di skors, selama sebulan nanti Rasya bisa lebih fokus penyembuhan kaki Rasya" jelas Rasya berusaha tersenyum tulus supaya pak Jurnal tidak khawatir padanya.


"Oh, baiklah kalo begitu. Sekarang kamu ingin kemana? apa perlu bapak antar kamu? kamu terlihat lelah sekali"


"Tidak apa-apa pak, saya bisa sendiri kok. Saya permisi dulu ya pak, daaaahhh" Rasya langsung cabut dari tempatnya berdiri. Sejujurnya ia tidak ingin di kasihani dan merepotkan orang lain.


Rasya kembali lagi ke kursi taman tadi. Ia duduk


disana sambil mengipasi dirinya dengan tangan. Andaikan saja ia punya mobil atau motor sendiri, pasti ia tidak akan capek begini.


Ia kembali ingat tentang skors selama sebulan. Untuk waktu yang cukup lama itu entah apa yang harus ia lakukan. Bagaimana jika ibunya tau? Bagaimana jika seluruh keluarganya tau? ia pasti akan dicap gelandangan dari saat ini.


Rasya menggepalkan tangannya. Lalu menatap seluruh taman. Sudah sepi, tidak ada orang lagi disana. Mungkin karena banyak siswa yang sudah masuk kelas mereka atau memang sudah siang dan cukup panas untuk berada disana.


Ia menaikkan sebelah kakinya yang tidak sakit ke atas kursi di sampingnya. Memijatnya dan memukulnya perlahan-lahan. Ia sungguh tidak bisa berjalan lagi karena kakinya sudah kaku akibat terus berjalan tadi.


"Ternyata disini kamu rupanya" tiba-tiba suara kasar menyapa dirinya. Terdengar beberapa suara langkah kaki yang mendekatinya.


Rasya menurunkan kakinya, lalu menatap heran orang yang mendatanginya. Sesaat kemudian, baru ingat siapa yang ada di depannya.


"Kenapa menatap kami seperti itu? takut? dasar g*mbel" suara yang tadi kembali menggema di telinganya.


"Hahaha" ia tertawa bersama segerombolan temannya.

__ADS_1


__ADS_2