
Ayah rasya menggepalkan tangannya. Menahan segala kemarahannya. Lalu keluar ruangan. Tampak Radika mengikuti dibelakangnya. Entah apa yang ia bicarakan dengan ayahnya.
Devan kembali ke tempatnya dengan datar. David masih menendang dan meninju angin seolah-olah ia ingin melakukan semua hal pada ayahnya.
"Aishhhh, ayah sialan" David.
Devan berjalan menuju kursinya. Menarik kursinya lalu membalikkan arahnya hingga bersisian dengan ranjang rasya. Menyilangkan tangannya di sisi kasur rasya dan menelungkupkan wajahnya di antara silangan itu.
Dengan sendu dan lembut rasya mengelus-elus rambut Devan.
"Makasih ya, karna mau membela kakak" ucap rasya.
Dengan cepat David berjalan ke arah rasya, membungkuk, lalu menyodorkan kepalanya di hadapan rasya.
"Kenapa?" tanya rasya karena kelakuannya yang tiba-tiba.
"Aku juga mau di elus-elus"
Hahaha, kenapa nggak dramatis sekali adiknya yang satu ini. Situasi begini masih aja cemburu.
Rasya mengelus kedua rambut adiknya sambil tersenyum. Sesaat kemudian ia berhenti.
"Lagi" David masih membungkuk.
Bukannya mengelus rambut David. Rasya malah mengacak-acak rambut adiknya itu.
"KAAAKKKK" teriak David.
Rasya dan Devan hanya tertawa.
...***...
Sehari sesudah rasya di rawat di rumah sakit Radika sudah di haruskan kembali ke tempat pelatihannya. Biaya rumah sakit di bayar oleh ayahnya.
Radika sudah menjelaskan kepada ayahnya kalau perihal ibunya pergi mereka tidak tau apa-apa. Bisa dibilang mereka kabur. Bohong emang. Tapi yah,,,, mau gimana lagi. Radika tidak punya pilihan lain untuk dikatakan pada ayahnya.
Hari-hari selanjutnya masih dilanjutkan rasya di rumah sakit. Rasya hanya di temani oleh kedua adiknya. Bahkan ketika pagi tiba. Ia harus merelakan kepergian adiknya. Mereka harus pergi kesekolah.
Kadang-kadang pun mereka akan bergantian menjaga rasya karena masih banyak urusan atau keperluan di rumah. Rasya merasa bersalah karena telah menyusahkan kedua adiknya.
"Sudahlah kak, hanya menjaga kakak tidak akan membuat ketampanan kami hilang" gerutu David.
__ADS_1
Rasya hanya mendesah kasar. Jawaban David memang di luar ekspetasi.
Tak lupa juga elita. Ia juga akan datang ketika hari libur tiba.
"Ada apa?, kamu meninggalkan kak johan lagi di luar?" timpal rasya ketika elita baru sampai. Yang ditanya malah cengiran.
"Emang kamu tega ninggalin pacar kamu di luar?" rasya masih kesal. Entah apa yang disembunyikan oleh elita.
"Bukan gitu ra. Tapi... "
"Tapi apa? kamu kenapa? " sergah rasya lagi.
"Huffftt.... Sya... " ucap elita lembut.
"Aku nggak mau kamu tersinggung. Aku pengen liat kamu baik-baik aja" sambung temannya.
" Aku baik-baik aja kok, cuma begituan aku masih tahan. Udah pokoknya aku nggak mau tau, kalo kamu masih ninggalin kak johan di luar, aku nggak mau liat kamu lagi" rasya sebel.
Sesudah kejadian itu, Elita tidak pernah lagi meninggalkan johan di luar. Emang sih masih bisa tahan. Tapi itu cuma omongan doang. Aslinya sih teriris-iris banget.
Waktu terus berjalan. Bahkan bulan pun sudah berganti. Rasya di perbolehkan pulang ke rumah. Perban di kepalanya dan di beberapa bagian lain sudah bisa dilepaskan. Tinggal kakinya saja yang masih belum bisa bergerak. Mau tidak mau ia harus menggunakan tongkat.
Rasya merebahkan diri bersama tongkat di kasur King size-nya yang lama ia rindukan. Nyamannya...
Papa sama sekali tidak pernah menjenguk ku selama di rumah sakit. Apakah ia juga tidak pernah pulang ke rumah? -rasya.
Rasya membuang pemikiran tersebut. Ia menggeleng-geleng. Mungkin lebih baik jika ia memikirkan dirinya sendiri.
Ia membuka grup kampusnya. Penasaran ingin melihat apakah rumor tentang dirinya sudah hilang atau tidak.
"AAAAAGGGGHHHHHH" rasya mengerang keras.
"Kakak kenapa?" tanya Devan dengan nafas terengah-engah di pintu perbatasan kamar mereka.
"Hah, nggak, nggak kenapa-kenapa kok. cuma seneng aja udah bisa tinggal lagi di rumah. Hehehe" ujar rasya canggung. Jelas saja ia berbohong.
"Ooo, tidur yang nyenyak" Devan kembali ke kamarnya. Menutup pintu.
"Sial, kenapa rumornya makin bertambah sih" Rasya mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia takut sekaligus khawatir ketika ia kembali ke kampus besok.
...***...
__ADS_1
Pagi telah tiba. Rasya bangun lebih awal dibandingkan adik-adiknya. Dengan kesadaran yang masih belum terkumpul sepenuhnya, rasya menuju ke dapur dibantu dengan tongkatnya.
Sesampainya di dapur. Ia mencuci muka dan berkumur-kumur di wastafel yang ada di sana. Berhenti sejenak lalu menatap ke seluruh penjuru ruangan.
Sorotan matanya berhenti pada kulkas. Ada banyak sekali kertas yang tertempel disana. Rasya berjalan, lalu menarik salah satu kertas yang ada di sana.
"Nasi goreng" gumam Rasya.
"Itu semua adalah resep masakan yang ditinggalkan kak Radika, katanya sih,,, sekarang kakak harus mulai memasak sendiri menggantikan mama"
Rasya tersentak kaget mendengar penjelasan David yang tiba-tiba. Ia pun menoleh kebelakang. Dilihatnya David yang sudah duduk di kursi meja makan.
Rasya memang tidak bisa memasak. Yang mahir memasak itu malah Radika. Setahun yang lalu ketika mereka semua masih bersama. Radikalah yang memasak untuk mereka semua ketika ibu tidak ada. Sehingga ia tidak pernah khawatir jika ibu tidak ada di rumah.
Tapi sekarang berbeda. Rasya menyesal tidak mempelajarinya dari dulu. Mungkin karena dulu ia pikir masih bisa berharap pada orang lain.
Rasya mengumpulkan semua kertas resep yang tertempel di dinding. Memasukkannya ke dalam lemari dapur.
"Kenapa disimpan?" tanya David yang baru saja datang.
Rasya menarik nafas panjang. Mengeluarkannya dengan kasar. Lalu berjalan ke arah meja makan dan duduk disana.
"Duduklah" ucapnya pada David.
"Sebaiknya kita menyusul mama saja" kalimat pembuka yang dibawa Rasya membuat kedua lelaki di ruangan dapur itu terbelalak sempurna.
"Kenapa malah sekarang kakak yang meminta kami pergi, bukannya dulu kakak setuju untuk tetap tinggal disini" bantah David.
"Dengarkan dulu penjelasan kakak. Beberapa waktu yang dulu di rumah sakit, kakak sudah menelpon mama dan menanyakan apakah sekarang kita bisa menyusulnya. Mama bilang akan lebih baik jika kita pindah sekarang. Memangnya kalian tidak merindukan mama?"
"Tentu saja kami merindukan mama, tapi David benar-benar nggak mau meninggalkan sekolah disini. Tidak bisakah kakak menunggu satu tahun lagi ketika aku lulus" bantah cepat David membuat Rasya kembali berfikir.
"Devan punya banyak Olimpiade yang sudah di daftar" lanjut Devan.
"Tidak bisakah kalian meninggalkan semua itu" ucap Rasya dengan suara agak meninggi.
"BAGAIMANA BISA KAMI MENINGGALKAN SESUATU YANG SUDAH KAMI PERJUANGKAN" emosi David sudah tidak tidak dapat dikendalikan lagi.
"POKOKNYA KAMI INGIN TETAP DISINI" kini Devan juga mulai mengeluarkan amarahnya.
"LALU BAGAIMANA DENGAN NASIB KAKAK, APAKAH KALIAN TIDAK MEMIKIRKANNYA"
__ADS_1