
Verna antusias sekali. Ia mengikat Rambut dengan ikat rambut di tangannya, menampakkan wajah yang dari tadi tersembunyi.
Angin berhembus pelan membuat poninya berterbangan. wajahnya bercahaya hingga Rasya silau. Pipinya yang tirus, alia tipis, kulit wajah halus, sudut bibir yang indah dengan bibir kenyal pink merona. Tidak. Itu hanya bayangan Rasya menilainya.
Aslinya Verna memang terlihat cantik dan kelihatan seksi setelah mengikat rambut. Ia memang tak salah bertemu orang. Rasya menyadarkan pikirannya ketika sedikit tertegun warna bibirnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Verna kembali menatap Rasya lamat-lamat.
"Cukup berikan sedikit perhatian dan bantuan saja ketika ia sedang membutuhkan" ketus Rasya.
Diam-diam Dego memperhatikannya dari dalam mobil yang berhenti di jalan depan toserba. Ia bisa melihat Rasya dengan jelas karena kaca toserba yang bening. Merasa Rasya tak membutuhkannya, ia pun meninggalkanmu lokasi tersebut. ternyata perasaannya mampu mengalahkan egonya.
"Itu saja?, apakah aku sedang mentraktir tiga cup mi hanya untuk satu kalimat?" protes Verna dengan raut wajah kesal.
"Hehehe. Baiklah, baiklah. Kisah cinta kami tidak jauh berbeda. Sejak cinta pertamanya meninggal beberapa tahun yang lalu ketika ia kelas tiga SMP. Kepribadian dinginnya semakin menjadi-jadi. Bahkan ia tak bicara sepatah kata pun. Ia benar-benar terpuruk pada saat itu. Jadi, aku ingin kamu mengisi kekosongan hatinya selama ini. Tolong rahasiakan cerita ini juga ya" ucap rasya sendu lalu menepuk bahu Verna.
Devan terobsesi tinggi pada belajar juga karena cintanya itu. Hubungan mereka hanya sekedar pertemanan. Namun memiliki cita-cita yang sama untuk menjadi profesor ahli kimia. Mereka saling menyemangati dalam belajar dan mengejar cita-cita. Hingga akhirnya Devan menaruh hati pada gadis tersebut.
Gadis kecil Devan itu juga pernah membuat kesepakatan. Apabila ada salah satu orang yang berhenti atau gugur dalam menggapainya, maka yang satunya lagi harus mampu mendapatkan gelar tersebut. Hal tersebut ditujukan supaya hubungan mereka takkan sia-sia dan memiliki makna. Devan pun menyetujuinya.
"Jadi dia pernah punya pacar?, aku pikir dia masih polos" ucap Verna panik.
"Hei, hei, hei. Kamu pikir setampan dia nggak da yang tertarik. Semua siswi dulu juga berbaris untuk berada disisinya. Namun, hanya satu orang yang benar-benar menarik perhatiannya. Kamu ini yang benar saja" tuding Rasya dengan emosi meluap-luap.
"warna apa lipstikmu itu?"
"Bagaimana dengan kisah cintak kakak?"
Tanya mereka bersamaa.
"Jawab dulu pertanyaan ku" sergah Verna.
"Pertanyaan ku dulu" Balas Rasya.
__ADS_1
"Aku yang bertanya duluan!"
"Kamu menentang kakak iparmu? Hah?" Timpa Rasya kembali dengan suara meninggi.
"Kakak ipar? ka-kak ipar? apa ya?". Dengan bodohnya Verna memikirkan arti kakak ipar. " Haaaahhhhh!!!! kakak menyebut diri kakak, kakak ipar?!" tanya Verna. Padahal telinganya sangat jelas mendengar perkataan Rasya.
"Aaahhh, sudahlah. Aku mau pulang" keluh Rasya. Ia bergerak meninggal tiga cup mi yang sudah kosong. Memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jas.
"Kak Rasya, kak Rasya. Tunggu aku!!!" ucap Verna buru-buru mengikuti Rasya.
"Taksi!!! Taksi, Taksi"
Rasya melambai-lambaikan tangan memanggil taksi. Ia kembali sadar bahwa tak ada sepeser pun dalam kantongnya.
"Terima kasih atas sarannya!" ucap Verna penuh ramah saat taksi menghampiri mereka.
Rasya membalikkan badannya. Ia menjulurkan tangannya meminta sesuatu. Raut wajahnya datar.
"Apa?" tanya Verna. Keningnya mengerut sangat penasaran. "Oh sebentar". Verna membuka dompet yang ia ambil dalam tasnya.
Melihat tingkah Verna yang mematung Rasya langsung mengambil beberapa lembar yang tersisa dari dompet Verna tanpa rasa dosa.
"Akan ku kembalikan besok, oke!". Rasya membaikan tangannya lalu beranjak masuk dalam mobil. Tak berapa lama mobil pun bergerak.
Verna terus menatap taksi yang bergerak menjauhi dirinya. Sorot matanya sedih, bibirnya juga monyong. Ia berjalan pelan. Terus melihat ke bawah karena kecewa.
"Vernaaaaaa!" panggil Rasya dari kaca mobil. Tak lupa senyum sumringah. Mobil yang ia tumpangi meringsut ke belakang mensejajarkan kecepatannya dengan gerak langkah Verna.
"Berikan karti NIM-mu sebagai jaminan serta nomor telepon" perintan Rasya.
Verna menurutinya. Ia kembali membuka dompet yang masih dipegang lalu mengambil notebook kecil, menuliskan beberapa angka disana merobeknya. Lalu menyerahkan semuanya kepada Rasya. Verna masih setengah sadar.
"Oke! besok aku akan menyuruh Devan mengembalikan semuanya kepadamu ya!" pekik Rasya lalu kembali masuk ke dalam Taksi. Mobil pu melaju dengan cepat.
__ADS_1
"Apa lagi ini? Devan!. Devan akan menemuiku!. AAAAAAAAAA. IBUUU, BESOK AKU AKAN BERTEMU MENANTUMUUUUUU!!!!" teriak Verna sepanjang trotoar menuju rumahnya.
Taksi yang dinaiki Rasya tiba di depan gedung apartemennya.
"Permisi. anda sudah sampai nona. Nona!. Nona!. Nona?"
Rasya tak berkutik. Ia tertidur pulas dalam mobil. Untung ia sudah memberitahukan alamatnya kepada sopir taksi.
"Nona anda sudah sampai!" ucap sopir lagi sambil menoleh ke belakang.
"Hah? sudah sampai ya?" ucap Rasya masih setengah sadar. Ia menguap beberapa kali lalu membayar uangnya kepada sopir dan turun dari mobil. Ia berjalan terseol-seol menahan kantuk hingga sudah berada di depan pintu apartemen.
Ia meraba-raba saku kemejanya mencari kartu pintu masuk. Tapi itu juga berada di tas dalam bagasi mobil Dego.
Karena rasa kantuk benar-benar menghilangkan kesadarannya, ia pun kembali berjalan. Menaiki lift lalu menekan tombol paling atas. Tentu saja karena Dego tinggal diantai dua belas paling atas. Apartemen yang sangat mewah itu hanya ditinngali satu orang yaitu Dego. Sungguh sangat mubazir -pikir David.
Di dalam lift, Rasya sempat tertidur sambil menyender di dinding. Suara denting lift kembali menyadarkan dirinya. Ia kembali bangun lalu berjalan dengan amat susah payah hingga tibalah di depan pintu apartemen Dego.
Rasya menekankan bel beberap kali dengan mata tertutup. Tapi tak ada respon. Ia kembali menekan bel, hasilnya tetap sama.
Dego yang sedang mandi di kamar mandi ikut kesal karena bel terus berbunyi. Ia terpaksa mengakhiri pemijatan rambutnya yang diberi shampoo.
Dego sebenarnya kesal karena mengganggu waktu self healing-nya. Segera saja ia menuju pintu masuk hanya dengan kaos hitam dan celana abu-abu panjang. Ia berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di kepalanya.
Klik
Dego membuka pintunya. Sama sekali tak ada orang diluar. Ia berpikir ada orang yang iseng dengan dirinya. Ia langsung menutup pintu lalu menuju ke dapur karena sangat haus.
Ting Tong
Bel kembali berbunyi ketika baru mau minum dari air mineral botol yang di ambil dalam kulkas.
"Siapa sih yang main-main tengah malam begini?" tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan aneh. Ia kembali membuka pintu.
__ADS_1
"Maaf pak, apakah ini teman anda?" tunjuk salah seorang penghuni apartemen ke lantai.