Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Cowok Tak Dikenal


__ADS_3

"Ngga di kasih. Tiap pagi juga gitu" ketus David.


"Maksudnya?"


"Tiap pagi papa beli sarapan enak-enak buat si markonah itu pas kakak udah berangkat. Nggak pernah pun dia nawari aku atau Devan buat makan" David menatap Rasya malas.


"Loh? nggak mungkin kan? masa ayah gitu?" Rasya mengernyit.


"Tanya aja sama bang Depan" raut wajah David jadi sendu. Sepertinya ia juga ingin makan enak. Rasya jadi kasihan pada adiknya.


"Berarti sia-sia aja dong gue masak lebih tiap pagi buat mak lam-" ucapan Rasya terpotong.


"Huaaaammmm" Ibu tirinya menguap di ambang pintu sambil menatap jalanan lalu kembali masuk.


Mata Rasya terbelalak. Rasya melirik jam yang ada di HPnya, jam 09.17.


"Tumben bangunnya cepet. Biasanya juga pas udah siang" ketus David lagi sambil memandang pintu. Lalu melirik Rasya yang memandangnya heran.


"Biasa aja lah kak. Dia emang kek gitu. Pulang larut malam, kadang sambil megang botol alkohol dan tertawa gak jelas sendiri. Bangun juga kesiangan. Entah apa gunanya dia di rumah ini" David selesai dengan sepatunya lalu menghentak-hentakan kakinya.


"Udah, mending kakak nyari suami aja biar cepet kita pindah. HAHAHA" David langsung gas saat Rasya sudah mengangkat tinjunya.


"AWAS LU YA KALO NGOMONG GITU LAGI" David tak mengubris, ia berlari sambil tertawa sendiri.


...***...


Keadaan rumah Rasya makin memprihatinkan seiring berjalannya waktu. Banyak perabot di rumahnya pecah akibat amukan ibu tirinya.


Rasya tak habis pikir ketika ada sekelompok penagih utang datang ke rumahnya tiap malam, ketika ayahnya dan si ******* itu tidak ada di rumah.


"Memangnya berapa utang papa saya?" kini Rasya langsung yang menghadap penagih tersebut.


"DELAPAN PULUH JUTA. CEPAT. KATAKAN, DIMANA AYAH KAMU" orang itu pun memaksa untuk masuk ke dalam rumah untuk mencari ayahnya.


Rasya ternganga. Kenapa ayahnya bisa mengutang sebanyak itu.


"BERHENTI. SAYA YANG AKAN MEMBAYAR UTANG AYAH SAYA" Rasya tak tau lagi apa yang harus ia lakukan supaya penagih tersebut berhenti memperparah keadaan rumahnya. Langsung saja Rasya mentransfer uang ke rekening mereka.


"Nah, kalo gini dari dulu kan beres masalahnya" penagih tersebut berlalu di hadapannya.


"KAKAK GILA YA, SEHARUSNYA ITU UANG BUAT KITA PINDAH" David menggerutu kesal. Devan juga sudah berkacak pinggang.


Setahun telah berlalu. Rasya sudah selesai dengan sidangnya. Rasya menepati janjinya untuk pindah bersamaan dengan perusahaannya.

__ADS_1


Ya, perusahaan yang Rasya kembangkan bersama om Herman berkembang pesat dari sebelumnya. Bahkan mereka harus pindah tempat karena tempat tersebut sangat kecil untuk mereka bisa lebih berkembang lagi.


Akhirnya om Herman memindahkan perusahaan ke pusat kota yang sangat jauh jaraknya.


Rasya kembali menatap kertas yang ada di tangannya setelah tersadar dari lamunannya tentang kejadian tadi malam.


"Kamu ingin pergi kesana?" tanya om Herman sedih mendapati kertas beasiswa kuliah S2 ke Jepang dari kampusnya.


"Ti-tidak tuan. Sepertinya perusahaan lebih membutuhkan saya" Kini embel-embel om berubah jadi tuan ketika mereka berada di perusahaan.


Rasya meletakkan kembali kertas tersebut ke dalam lacinya. Jujur ia ingin sekali pergi kesana. Tapi selain perusahaan lebih membutuhkannya, ia juga sudah kehabisan uang karena membayar hutang ayahnya.


"Jadi gimana? sudah siap untuk pindah?!"


Rasya tersenyum.


Ketika malam sudah tiba. om Herman datang menjemputnya dan kedua adiknya dengan mobil.


Mereka berencana pindah ketika malam karena saat itulah tidak ada ayah ataupun ibu tirinya di rumah.


Rasya memasukkan headset ke telinganya sambil memutar lagu Run, BTS. Lagunya sangat cocok dengan situasinya saat ini yang sedang berkemas.


Setelah mengemasi barang-barang pindahan. Akhirnya mereka pindah ke pusat kota yang jauh lebih indah tempatnya.


Dari sini Rasya sudah bisa merasakan bahwa ia akan baik-baik saja.


......***......


Di kafe.


"Jadi apakah pada saat itu, pemimpin perusahaanmu di gantikan?" eke mencoba menanyai Rasya dengan teliti.


"Eummm, tidak juga. Pada saat itu om Herman memberikanku black card untuk sedikit merubah penampilan setelah kami memberikan suprise kepada tante sela. Saat itu aku sangat senang. Benar-benar senang" tampak raut wajah bahagia padanya.


"Dari saat itu-"


"Cukup. Tolong langsung ceritakan saja kisah cinta you with Mr. **** . Mungkin bukan hanya aku, tapi para pembaca mungkin juga akan merasa bosan dengan kisah perjuangan terus-terusan. Hehehe. Maap ya" sela eke.


Maap juga ya readers. Soalnya I penasaran betul gimana kisah motivator eke yang super duper tamphannnn. Muach, muach, muach Mr. Dego.


Lakik gue tu -Rasya


... ***...

__ADS_1


Tiga tahun setelah Rasya berjuang mati-matian bersama om Herman. Akhirnya mereka berada di puncak yang membanggakan. Om Herman pun mengadakan pesta perayaan di auditorium sewaan.


"Gimana Rasya penampilan mami?" tanya tante sela sedikit berekspresi remaja.


"Ca-"


"Mami?! ini sungguh mami?! Whoaaa. Mami sungguh cantik! Mari kita foto bersama!!!" David menyambar yang baru saja masuk ruangan tunggu bersama Devan. Sedangkan tante Sela sudah tersipu malu dengan ucapan David.


David mengeluarkan kameranya lalu memasang pada tripod dan mengarahkannya ke atas.


"AYO SEMUANYA KITA SELFIII!!!!"


Kenapa sih omongan ku dipotong melulu -Rasya. Dengan malas ia mendekat ke arah David. Begitu juga Devan dan tante Sela.


Ceklek


Bergaya ala artis. Didampingi oleh Vlogger terkenal. Siap sudah sebuah foto kenangan.


"Wahhh, kok papi ngga di ajak?!" Om Herman baru saja masuk bersama seorang laki-laki, tatapannya datar.


Rasya menyipitkan matanya menatap laki-laki itu. Ia berusaha mengingat siapa orang itu karena ia seperti pernah melihatnya. Itu...


"Kalian Disini! Mari foto bersama!" ajak tante Sela.


"Itu siapa mami?" tanya Devan berbisik pada tante.


Rasya dan David turut menatap tantenya.


"Kalian pasti belum mengenalinya ya!" tante Sela melirik om Herman sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


"Perkenalkan ini-" ucapan om Herman terpotong.


"Tuan. Anda dan sekeluarga ditujukan untuk langsung memasuki pesta karena para tamu undangan sudah mulai datang" ucap pegawai perusahaan yang bertugas disana.


"Baiklah. Kamu boleh pergi" ucap om Herman tegas seperti biasa.


" Baik, saya permisi "


"Kalo begitu mari, kita menuju pesta" lanjut om Herman dan mereka semua keluar ruangan.


Rasya masih penasaran siapa laki-laki itu. Dari parasnya tampak sekali ia sangat dekat dengan tante dan om Herman.


Rasya berjalan ke pintu masuk. Dengan memakai Dress selutut berwarna hitam, ia menyambut para tamu disana selaku sekretaris perusahaan. Penampilannya tampak lebih profesional dengan setelan yang ia kenakan saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kalian memanggil nona Sela dengan mami? sedang ia bukan ibu kandung kalian" laki-laki yang baru saja ia pertanyaan identitasnya tiba-tiba menyapanya sinis.


__ADS_2