Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Dego Alfianta


__ADS_3

"Memang apa urusan anda? Mereka sendiri yang menyuruh kami memanggilnya mami" Rasya membalasnya ketus.


"Cih, dasar tidak tau malu" masih memandang Rasya tidak suka.


Rasya tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Ia sangat geram dengan orang yang ikut campur dengan urusannya. Bahkan bukan cuma dia, mungkin semua orang juga akan merasa begitu.


"Uuuhhhh. Baiklah saya menyimpulkan bahwa anda iri. Atau anda tidak punya pekerjaan sehingga ingin mengganggu saya? Oh, anda tidak perlu berterima kasih karena telah mengisi waktu anda. Hehehe. Saya ikhlas kok!" ucap Rasya kocar-kacir sambil tersenyum lalu meninggalkan brengs*k itu.


Dasar menyebalkan -Rasya.


Pletak


Rasya di tampar oleh keadaan karena yang ia temui tadi adalah Ceo perusahaan luar negeri yang membantu perusahaannya.


Rasya membalikkan badannya untuk meminta maaf pada orang tersebut. Jangan sampai hubungan perusahaan mereka rusak karena dirinya.


"ACARA SELANJUTNYA ADALAH PENYAMBUTAN YANG AKAN DILAKUKAN OLEH DIREKTUR KITA. KEPADA TUAN HERMAN, KAMI PERSILAHKAN DENGAN SEGALA HORMAT"


Rasya berlari menuju ke samping podium karena acara penyambutan akan segera dimulai. Ia berdiri disana sambil menunggu tuan Herman.


"Ada apa ini? kenapa dia juga ikut disamping tuan" ucap Rasya tak percaya.


Cowok itu berjalan bersamaan dengan tuan Herman lalu berhenti dan berdiri di sampingnya. Ia menaikkan sebelah alisnya menatap Rasya sombong.


"Ayo Rasya!" ajak tuan Herman ke stage. Rasya mengikutinya dari belakang sedangkan cowok itu masih di tempatnya.


Rasya berdiri di atas panggung menatap tuannya kagum di depannya. Tak lupa ia memberikan tepuk tangan ketika menyelesaikan pidato inspiratifnya.


Kini ia terharu mengenang kisahnya selama lima tahun berjuang menggapai kesuksesan. Sepucuk air mata keluar dari matanya. Ia mengangkat tangannya ingin menyapu air mata berharganya dengan lembut.


"Dikarnakan usia saya yang sudah menginjak tua. Dengan resmi saya memperkenalkan dan memberikan jabatan saya kepada anak saya DEGO ALFIANTA" semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah.


Apa ini? jadi Ceo yang selama ini kami bekerjasama adalah anaknya? matilah aku setelah ini -Rasya.


Ia menyapu air matanya kasar. Sepertinya air matanya jatuh bukan pada waktu yang tepat.


Acara selesai. Ia tidak punya waktu berbicara dengan tuan Herman karena banyaknya tamu yang harus ia sapa.

__ADS_1


"Tuan. Kenapa anda tidak memberi tahu saya bahwa anda punya anak?" tanya Rasya ketika mereka kembali ke ruang tunggu.


"Kamu jangan berpikir yang bukan-bukan Rasya" tuan Herman berhenti lalu tersenyum padanya.


Tuan Herman memegang kedua pundak Rasya tenang. "Alasan papi merahasiakan ini padamu adalah papi tidak ingin kenangan kamu bersama Rian terungkit kembali. Rian juga anak kami"


Rasya menunduk sendu.


"Ini demi kebaikan kamu juga. Papi harap kamu bisa bekerjasama dengan Dego kedepannya di perusahaan"


Tuan Herman memeluk Rasya karena raut Rasya berubah setelah mendengar nama Rian. "Jangan pernah mengecewakan Rian. Bukankah kalian dulu pernah taruhan siapa dulu yang akan sukses dan bahagia bersama dengan orang sekeliling kalian?"


Air mata Rasya mulai berjatuhan di pundak tuan Herman. Ia terisak menahan tangisnya. Mereka melerai pelukan. Tuan Herman kembali memegang kedua pundaknya.


"Kamu sekarang sudah sukses meski Rian tidak ada di samping kamu. Rian pasti sangat senang dan bangga sama kamu. Jadi berbahagialah seperti yang ia inginkan" tuan Herman mengelus punggung Rasya lalu mengajaknya menemui anggota mereka yang lain.


Rasya menyapu air matanya. Jangan sampai raut wajah sedihnya dilihat oleh David, Devan, tante Sela yang sekarang ia panggil mami, Apalagi anaknya tuan Herman. Ia tidak ingin laki-laki itu memandangnya rendah.


Rasya terkejut ketika menemukan cowok menyebalkan itu tertawa bersama tante Sela dan kedua adiknya.


...***...


"SEMOGA KALIAN BAHAGIA DISANA!!!" teriak David sambil melombat-lombat melambaikan tangannya. Tampak mami Sela membalas ucapan David dengan melambaikan tangannya dari jendela mobil.


Perusahaan sudah diberikan kepada tuan Dego. Merasa tugasnya sudah selesai. Akhirnya tuan Herman memutuskan untuk tinggal di pedesaan menikmati masa tuanya bersama istrinya.


"Huh, dulu mama meninggalkan kita. Sekarang malah mami dan papi" kesal David.


"Kita memang ditakdirkan untuk mandiri" Devan menepuk bahu David bebrapa kali sebelum akhirnya mereka kembali ke kosan.


"Saya sangat lapar. Tolong masakkan spageti, tumis kangkung, dan ayam panggang. Lalu segera antarkan ke apartemen saya" ucap tuan Dego tegas.


Rasya menatap tuan Dego tak percaya. "Bisakah kita hanya memesannya. Saya sudah cukup lelah sekarang karena seharian mengemasi barang pindahan" Rasya datar


"Saya bilang se-ka-rang" tuan Dego menatap Rasya galak lalu pergi meninggalkannya.


Rasya memutar bola matanya malas. " Kenapa anda tidak menyewa pembantu saja dan pindah ke rumah lebih besar dan mewah. Uang anda kan berlimpah " Rasya masih datar.

__ADS_1


Tuan Dego tidak mengubris. Ia terus saja berjalan sambil mengecek data yang ada di HPnya.


Rasya sangat kesal karena tidak di respon. Sontak ia menendang angin. "BOS SIALAAAAAN" ia berteriak histeris sambil melompat-lompat, tapi masih saja berharap Tuan Dego tidak mendengarnya.


Sabar Rasya, sabar. Remember, always profesional. Dia itu calon bosmu. Keuanganmu berada di tangannya -Rasya menepuk dadanya beberapa kali.


...***...


Sial lagi. Baru saja ia ingin menyapa bosnya untuk tumpangan, Tuan Dego sudah melajukan mobilnya. Nasibnya berubah. Ia rindu Tuan Herman yang selalu menunggu dan memberinya tumpangan.


Sekarang Rasya mengerti. Hanya taksilah yang bisa mengerti keadaannya.


"Ke ruangan saya"


Baru sebentar Rasya ingin mendudukkan pantatnya di kursi dengan sempurna, bos sialan sudah mengusik telinganya lewat telepon otomatis di depannya.


Rasya memasuki ruang Ceo dengan sopan. Tak lupa ia membungkuk sebentar tanda penghormatan.


"Kenapa tidak langsung memasuki ruang saya saat kamu baru sampai? Bukankah ini hari pertama saya bekerja? Seharusnya kamu melayani saya terlebih dahulu" ces-cos Ceo kita.


Ingat. Jangan memberi alasan apapun jika bersangkutan dengan bos abnormal. Pasti ia tidak mau mendengarkan -Rasya.


"Maafkan saya pak. Apa ada yang butuhkan?"


"Pak? kamu memanggil saya pak disaat yang lain memanggil saya tuan? Heh. Ulangi pertanyaanmu dan panggil saya tuan" Tuan Dego mengeluarkan seringainya.


Rasya membuang muka sebentar. "Tuan saya hanya satu yaitu Tuan Herman. Lagi pula saya tidak sudi memanggil anda tuan disaat anda memperlakukan saya seperti anjing"


Tuan Dego hampir terkekeh. Tapi ia menahannya. Suasananya pasti tidak relevan karena yang ia tertawakan adalah manusia dalam mode profesional.


"Kalo begitu panggil saya pak tampan saat kita sedang berdua"


"Maaf Pak. Tapi orang yang paling tampan bagi saya hanya ada dua belas orang. Papa saya, Radika, Devan, David, papi, dan tujuh orang idola saya"


Tuan Dego mencengkam tangannya kuat di atas meja kerjanya.


"Jika pak tampan tidak bisa juga, maka panggil saya pak sayang"

__ADS_1


__ADS_2