
"Apakah kamu yakin untuk mengundurkan diri?. Saya rasa ini bukan kamu yang sebenarnya" tanya sinis seorang perempuan yang menghampirinya.
Rasya tertegun. Bagaimana bisa satu-satunya dosen yang galak padanya tau kalau ia akan memundurkan diri.
Miss Anjel. Usianya hampir melonjak 32 tahun. Penampilannya memang modis. Cowok SMP pun bisa tertarik padanya. Tapi sikapnya jauh di luar nalar. Sebaik apa pun sikap rasya padanya, tetap saja yang dibalas hanyalah runtuhan repetan tentang menjadi manusia yang berkualitas.
"Halo miss Anjel, apa kabar?" sapa rasya menghormati.
"Ikut ke ruangan saya" perintah Miss Anjel sambil menggandeng rasya.
Sontak Rasya kaget karena Miss Anjel memapahnya ke ruang pribadinya.
Tak sampai disitu saja. Sesampainya di ruangan tersebut. Miss Anjel juga mendudukannya di kursi di depan meja kerjanya. Perlakuan yang aneh. Rasya tidak pernah duduk disana karena dilarang.
"Siapa yang menyuruh kamu duduk disana"
"Jangan pernah duduk disana sebelum kamu mempunyai gelar"
Itulah kata-kata yang pernah di ucapkan Miss Anjel dulu ketika Rasya ingin duduk disana untuk menyerahkan laporan atau lain sebagainya.
"Kamu pasti heran kenapa saya memperlakukan kamu dengan baik" ucap Miss Anjel sambil duduk di kursi kebesarannya.
Itulah yang Rasya ingin ketahui.
"Sebenarnya alasan saya dulu memperlakukan kamu dengan buruk adalah karena saya tau kamu orang yang berambisius. Apalagi berbagai pendapat kamu yang bisa dibilang menarik di setiap pertemuan kita dalam kelas. Tentu saja kemampuanmu harus dipoles dengan kasar supaya kamu mau berusaha untuk melicinkannya sendiri dengan cepat. Jadi itulah alasan saya menekan kamu"
Suasana hening sejenak. Rasya bingung sekaligus tak percaya dengan penjelasannya.
"Jadi selama ini miss memarahi saya bukan karena benci?!"
"Hahaha" tertawa elegan "mana mungkin saya membenci kamu Rasya..." ucap Miss Anjel.
"Baiklah, mari jelaskan. Apa alasan kamu memundurkan diri?" ucap Miss Anjel tegas, seperti ia berbicara biasanya. Sekarang Miss Anjel mulai antusias sambil menatap rasya lekat-lekat.
"Sebenarnya... saya tidak tahan lagi dengan situasi saya saat ini. Terlalu banyak rintangan yang saya hadapi. saya tidak sanggup lagi. Mungkin akan lebih baik jika saya menjalani kehidupan baru" Rasya menunduk, merasa hidupnya menyedihkan.
"Saya rasa ini bukan diri kamu yang sebenarnya. Karena Rasya yang saya kenal tidak pernah lari dari masalahnya. Apakah kamu masih ingat motto pertama kali wawancara pengenalan diri kelas kita?"
"Lari dari kesulitan, bukanlah suatu jalan, menuju impian. Jika anda melihat saya melakukannya, berarti itu bukan saya yang sesungguhnya" Rasya mengucapkannya sambil mengingat wawancara pengenalan diri dulu di dalam ruangan kelas.
__ADS_1
Rasya ingat, dulu ia mengucapkan kalimat itu di depan semua orang dalam kelas sebagai motto pribadinya. Semua orang akan diuji dengan motto yang mereka miliki. Tapi rasya termasuk salah satu orang yang gagal dalam penerapannya.
"Iya. Intinya... Berhenti lari dari kesulitan, karena itu bukan kamu yang sesungguhnya. Kalau kamu mengundurkan diri sekarang, mungkin banyak yang akan meremehkan kamu"
"Kamu harus tau. Hal yang paling banyak orang sesali adalah merasa gagal padahal belum berusaha. Kamu mengerti maksud saya?"
Rasya menggelengkan kepalanya.
"Artinya kamu sudah merasa putus asa pada hidup kamu padahal kamu belum melakukan apapun. Saya mengerti penderitaan yang kamu alami. Tapi jika kamu tidak mau berusaha dan mengambil resiko dalam menjalani hidup. Maka kamu akan menyesal"
"Jangan jadi pengecut hanya karena masalah sepele"
Apakah Miss Anjel baru saja mengatakan kalau aku itu pengecut? Miss... penderitaanku cukup berat -Rasya
"Masih ada orang lain yang lebih menderita di luar sana"
Miss benar, aku pengecut -Rasya.
"Tolong pikirkan kembali keputusan kamu, hanya itu yang ingin saya sampaikan"
"Terima kasih miss atas kepeduliannya dan akan saya pikirkan lagi. Saya pamit dulu" ucap rasya senyum pada Miss Anjel sambil berdiri.
"Tidak perlu Miss, saya bisa sendiri" jawab Rasya menoleh sebentar ke arah Miss lalu menutup pintu dengan senyum yang masih terus merekah di wajahnya.
Setelah menutup pintu. Rasya berjalan ke kantin, mencari sesuatu yang bisa mengenyangkan sekaligus membahagiakan cacing dalam perutnya.
Sambil berjalan rasya membuka group kampus untuk mengetahui berita atau hal-hal baru yang mungkin bisa membuat isu tentang dirinya hilang. Karena setelah ia ingat, tadi ada suara notifikasi ketika ia dalam perjalanan kesana.
"Apa ini? kenapa berita tentang kemunduranku juga diposting, dari mana mereka tau? tidak mungkin Elita atau kak Johan kan?" Rasya mengernyit sambil menatap HPnya.
Jadi ini alasan Miss Anjel tau tentangku, pantas saja. Aku pikir dia siluman misterius yang dapat mengetahui segalanya -Rasya.
Telepon Rasya berbunyi.
"Halo... "
"... "
"Masih di gedung utama"
__ADS_1
"... "
"Apa? alat penyadap?, oke oke, aku kesana sekarang"
Rasya buru-buru pergi ke luar gedung. Elita sedang menunggunya disana. Dengan cepat ia mengayunkan tongkatnya menuju teras gedung.
"Dimana? coba kulihat?" tanya Rasya ketika ia sudah melihat Elita menunggunya.
"Ssshuuuuttttt, jangan disini. Lebih baik kita cari tempat aman" ucap Elita bisik sambil membuat aba-aba menyuruh Rasya diam.
"Ini tempat amannya?" tanya rasya ketika mereka sudah sampai di kantin. Entah kenapa Rasya malas sekali menatap temannya yang sedang serius menyeruput kuah bakso dari tadi.
"Iyah" ucap Elita sambil menyeruput kuah terakhirnya lalu memindahkan mangkuk bakso tersebut ke samping.
Gila kau ya, mana aman kalo orang rame beginian -Rasya.
Elita merogoh tasnya. Mengambil sebuah barang berwarna hitam kecil. Lalu menyodorkannya pada Rasya.
"Ini alat penyadapnya?" tanya Rasya membolak-balikan benda tersebut.
Elita mengangguk.
"Dimana kalian menemukannya?"
"Menempel di bawah mobil saat Johan memeriksa ban mobil di pakir. Awalnya ia sih nggak tau kalau itu penyadapan. Tapi pas ia ambil, ada orang lewat bilang kalo itu alat penyadap" jelas Elita.
"Trus sejak kapan ya alat ini menempel disana?" tanya Rasya lagi merasa tak pasti.
"Johan bilang. Tadi pagi pas kita lagi nyamperin mini market. Ada orang mencurigakan bersembunyi di balik mobil kita pas udah masuk mini market. Johan sih nggak takut kalo mobilnya di nyolong. soalnya keamanan mobil itu di atas rata-rata. Kan mobil keluaran terbaru!" Elita menyombongkan diri.
"Trus Johan bilang. Kayaknya itu deh alasan kenapa orang tau kalo kamu mau mundur dr kampus. Soalnya omongan kita pas di rumah kamu udah ke tangkep" jelas Elita lagi.
Rasya berfikir sepertinya ada orang yang ingin memata-matai dan ingin menjatuhkan dirinya. Kalau ia mundur dan pergi sekarang, berarti ia kalah telak sama orang tersebut.
Ini nggak boleh terjadi, yang namanya hama harus dibasmi, trus baru boleh pergi. -Rasya.
Baiklah, mari kita lihat, sampai mana kalian bisa menjatuhkanku?! - Rasya tersenyum smirk.
"Eh, mau kemana kamu?" tanya Elita melihat Rasya bangkit dari duduknya dan pergi.
__ADS_1