
Drrrtt Drrrtt Drrrtt
"Haaaaaaaaa!" jerit Rasya sambil menutup telinga. Sontak semua orang yang ada di ruang tersebut menatapnya.
"Kenapa? dulu kamu trauma tabrakan, sekarang kamu trauma getaran HP juga?" tuding Alita bercanda. Padahal realitanya memang hampir benar.
Sampai segitu menyeramkan kah panggilan telepon dari Katty? Memangnya apa yang ia katakan? -Dego.
"Aku hanya refleks. Kejadian beberapa waktu lalu ternyata berdampak negatif" jawab Rasya seadanya.
Alita mengambil HP Johan dalam sakunya. Entah sejak kapan sudah tertukar. Lalu ia menyambungkan panggilan. "Halo!"
"........"
"Oh iya kami lupa. Maafkan kami"
"........"
"Iya Baiklah". Alita mematikan sambungan telepon. Raut wajahnya berubah panik. " Sayang, kita lupa harus ke acara ketua Jang sekarang"
Johan ikut panik mendengar hal tersebut. Ketua Jang merupakan presdir mereka sehingga mereka harus menghadiri acaranya selaku General Manager yang dipegang oleh Johan.
"Memangnya tanggal berapa hari ini?" tanya Johan.
"Jangan bertanya lagi. Ayo cepat siap-siap. Rasya tolong jaga Joshua bentar ya, Kami tidak akan lama" pinta Alita lalu bergegas menuju kamarnya untuk prepare. Johan juga ikut bergerak.
"Jagalah Joshua seperti kami menjaga anak sendiri. Kalo kamu butuh sesuatu misalnya pakaian ambil aja di kamar. Aku juga sudah mempersiapkan keperluan kamu di kamar tamu oke!" jelas Alita di ambang pintu depan setelah mereka siap dengan pakaian pesta simpel berwarna krem yang dipadu-padankan dengan warna serta berlengan pendek.
"Kalo memang ada yang kalian tidak ketahui, chat atau telepon saja kami. Kami pergi dulu ya" lanju Johan sambil menyerahkan pada Alita sedangkan Dego juga berdiri di sampingnya. Setelan tuxedo hitamnya membuat jauh keliatan lebih muda.
"Ummuach. Dada sayangku Joshua" Alita mencium kening Joshua lalu melambaikan tangan ke arahnya hingga mereka keluar unit apartemen dan menutup pintu.
"Ayo pak. Kita ke dalam" ajak Rasya lalu ia pergi ke karpet besar tadi. Itu adalah tempat bermain Joshua. Ada berbagai macam mainan yang disimpan di rak dekat karpet tersebut.
Alita tidak membuat khusus ruang mainan karena di apartemen itu hanya ada tiga kamar. Kamar utama, kamar tamu, dan gudang.
"Ayo ambil Joshua!". Rasya meletakkan mainan berupa boneka kecil di depannya. Sementara Joshua ia letakkan tak jauh dari dirinya.
__ADS_1
" Ayo ambiiil, kenapa kamu bengong sih?!. ini mainannya!"
Rasya menenteng benda tersebut beberapa kali lalu kembali meletakkannya. Tak ada pergerakan dari Joshua. Ia hanya menikmati atraksi yang dilakukan Rasya sambil berteriak seperti respon suka.
"Aduuuhhh, kamu ini"
Rasya tak habis pikir. Ia bangun lalu juga tengkurap di samping Joshua.
"Ayo jalan seperti ini!" ucap Rasya sambil mempraktekkan gerakan anak kecil yang merangkak.
Karena kebisingan Rasya yang terus mengoceh dan Joshua yang berteriak, Dego menolehkan pandangannya dari HP, karena dimana pun ia berada ia pasti sedang bekerja. Tatapannya bingung. Rasya yang dikenal profesional saat bekerja, cerewet saat istirahat ternyata juga bisa bersikap seperti anak-anak. Sangat menggemaskan.
Apa yang ku pikirkan. Kenapa kenapa pikiran seperti ini terus datang -Dego.
Dego menggeleng-gelengkan kepalanya menyadarkan dirinya. Ia juga penasaran gejala apa yang ia rasakan saat dekat dengan sekretarisnya.
"Ayo jalan!" pekik Rasya lagi memberi semangat.
Beberapa saat kemudian Joshua ikut bergerak seperti Rasya dengan semangat. Dego yang melihat hal tersebut takjub.
Benar-benar calon istri yang bagus -Dego.
Dego memukul kepalanya sendiri. Pikiran aneh seperti itu muncul lagi.
"Anda tidak apa-apa pak?" tanya mendengar mendengar suara keras.
"Aaah. Saya tidak apa-apa" bohong Dego. Ia melanjutkan pekerjaannya berpura-pura tidak ada yang terjadi.
"Syukurlah" guman Rasya keras. Sengaja supaya Dego bisa mendengarnya.
Hari sudah menjelang sore. Malam juga hampir tiba. Rasya menyerahkan handuk pada Dego disaat ia masih bekerja sedangkan Joshua dalam gendongannya.
"Bapak mandilah dulu di kamar itu, saya akan menyiapkan makan sore" ucap Rasya sambil menunjukkan kamar tamu lalu ia berlalu ke dapur dan menaruh Joshua di kursi roda bayi.
Selesai memasak ia memberikan MPASI pada Joshua lalu memandikannya di kamar Alita. Sementara Dego makan sendirian di meja makan.
"Sini sama saya aja. Kamu mandi sana!. Nanti bau apek kamu ketularan sama Joshua" ledek Dego sambil mengambil paksa Joshua yang sudah bersih dan wangi.
__ADS_1
Rasya mencium di kedua lengannya. Meski perkataan Dego sedikit kejam, ia juga ingin memastikan sendiri bahwa ia benar bau atau tidak sebelum mengecap bosnya sebagai orang jahat.
Yang dikatakan Dego hampir benar. Rasya mencium bau keringat. Sebuah fakta memang bisa mengalahkan pemikiran siapa saja.
Ia berlalu menuju kamar tamu lalu mengambil handuk lain dalam lemari disana.
Dego mengulum ujung lengan bajunya lalu beraksi bermain dengan Joshua.
"Euuuummm ca!. Euuuuummm ca!"
Reaksi sementara Dego berhasil membuat Joshua pekik tertawa. Wajah Dego sangat lucu ketika melakukannya tadi. Jika Rasya melihatnya, ia pasti sudah sibuk tertawa. Pasalnya CEO yang biasanya sibuk bekerja kini menjejalkan wajah anehnya supaya Joshua terhibur.
"Ayayayaaa" Suara Dego ketika menggelitik Joshua yang berbaring di karpet. Ia sendiri juga ikut tertawa senang.
"Pak. Anak orang tuh!. Kalo dia kenapa-kenapa karna terus tertawa gimana?" cerocos Rasya sambil mendekati mereka berdua.
"Pikiran burukmu itu harus disingkirkan" gumam Dego menekan-nekan katanya.
PLAK
Dego menyentil kening Rasya sebagai balasan perkataannya. Yang kena tumbal hanya meringis.
"Joshuaaa. Nanti kalo misalnya kamu jadi ketua menggantikan papa kamu. Kamu harus baik-baik ya sama bawahan kamu. Jangan jadi bos pemarah, apalagi suka nyuruh yang nggak-nggak ya" sindir Rasya setelah mengangkat Joshua lalu menatapnya lamat seolah-olah mereka sedang berbicara.
"Kamu nyindir saya?!" tanya Dego tak acuh
"Siapa yang nyindir bapak?!. Saya lagi kasih nasehat nih lho pak" tudung balik Rasya. "Pokoknya nanti kalo kamu udah gede. Harus jadi orang cerdas, bijaksana, mandiri, dan nggak berkepala dingin ya!" lanjut Rasya lalu membawanya ke balkon untuk menikmati langit malam.
Dego tak ambil pusing dengan hal tersebut. Ia juga pergi ke sofa lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Dego beristirahat sejenak karena tubuhnya sudah sangat lelah. Ia pun memijit bahunya yang sudah sangat pegal.
"HUAAAAAAA, AAAAA. HUAAA" Suara tangisan itu tak jauh darinya.
Ia juga bingung kenapa Rasya tak kunjung menenangkan Joshua. Saat ia lihat ternyata Rasya sudah tergeletak berbaring di karpet bersama Joshua disampingnya yang tidur di atas bantal. Ia menyelidik bahwa Rasya juga tertidur saat menidurkan Joshua.
Segera Dego mengangkatnya lalu menggendongnya. Ia beberapa kali memghentakkan pelan dirinya berharap Joshua tenang. Tapi Usahanya tak berhasil.
__ADS_1
Ia pun menuju dapur lalu mencari-cari barang yang ia butuhkan.