Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Ibu tiri


__ADS_3

"Saya...-" Rasya gugup.


" Udah nggak usah di jawab dulu. Om kasih waktu kamu tiga hari buat mikir"


"Tante Sela udah rindu banget sama kamu lho. Mau ikut saya pulang? Dia sering berharap andaikan aja ketemu sama kamu lagi" Om Herman tersenyum sendiri mengingat kelakuan istrinya itu.


"Nggak dulu deh om, lain kali aja. Biar tante makin rindu sama aku"


Mereka tertawa bersama.


...***...


Rasya sedang mengatur roster hariannya untuk besok. Beberapa hari yang ia menerima tawaran om Herman. Jadilah dia harus mengatur waktu hariannya supaya semuanya sempat di kerjakan.


Pagi, bangun lebih awal nyiapin sarapan buat adek-adeknya lalu ngampus. Selesai ngampus, pulang lalu pergi ke perusahaan buat belajar berbisnis meskipun perusahaan belum beroperasi.


Pulang malam, belajar memasak biar nggak makan telor tiap harinya. Dan begitu seterusnya. Sedangkan tugas bersihin rumah sudah ia jadwalkan untuk Devan dan David. Rasya terus berharap dan berdo'a supaya rumah mereka tidak tamat.


Setiap waktu lenggang ia gunakan untuk ke perusahaan. Melelahkan emang, tapi apa Boleh buat. Usaha takkan menghianati hasilnya.


Hari-harinya cukup padat. Ia bahkan tidak sempat untuk merawat dirinya. Om Herman bilang mereka masih beruntung karena mereka menemukan investor luar negeri dengan cepat.


Ternyata bekerja di sebuah perusahaan cukup melelahkan. Bagaimana bisa miliader bertahan dengan pekerjaan mereka yang cukup menggila. Diriku saja yang masih pemula sudah tinggal setengah nyawa.


Rasya terus menggerutu dalam hatinya karena terlalu lelah mengurus perusahaan secara mandiri. Terlebih lagi pendapat karyawan yang handal dan baik. Sudah cukup dirinya dulu yang dicibir.


Matanya sudah terkatub-katub saat turun dari mobil om Herman yang mengantarnya ke rumah.


"Kapan sih kamu mau datang ke rumah saya. Tante Sela benar-benar tidak pernah bosan dengan harapannya bertemu denganmu" om Herman tersenyum. Tak ada raut lelah di wajahnya. Mungkin karena mengurusi perusahaan sudah seperti makanan sehari-harinya.


"Om udah bilang ya kalo udah ketemu Rasya?" Rasya panik.


"Nggak sih. Cuma kalo nunggu kita sukses... Kelamaan"


"Yang sabar ya om. Kita sama-sama berjuang" ucap Rasya sebelum mobil om Herman meninggalkannya.


Rasya menguap sebentar. Matanya sudah sangat menyipit. Rasya kalo diberi pilihan antara kaya atau jodoh yang mapan, ia justru memilih tidur.


Tok tok tok


Tak biasanya Adiknya mengunci pintu rumah.


Ceklek

__ADS_1


Pintu rumah terbuka. Rasya bingung berat melihat orang yang membuka pintu.


"Nggak usah natap gue seperti itu. Gue juga nggak mau punya anak tiri" wanita itu mendorong Rasya untuk masuk sambil menatapnya sinis.


"Eh, anak papa udah pulang kok. Ayo kita bicara sebentar nak. Sebentar ya sayang" ayah Rasya bicara lembut dan pamit pada wanita itu.


Sepertinya istri barunya -Rasya.


Rasya dibawa ke dapur oleh ayahnya.


"Kamu jangan macam-macam ya sama ibu tiri kamu selagi saya tidak ada di rumah, karena mulai hari ini dia resmi menjadi ibu tiri kamu dan tinggal di rumah" tegas ayahnya Rasya.


"Loh, trus mama gimana?" tanya Rasya dengan suara sedikit meninggi.


"Apa urusan saya. Lagian mama kamu duluan yang mencampakkan saya" Ayah Rasya melotot ke arahnya.


"Pah, jangan gini dong. Gimana nanti kalo situasinya malah terbalik?" Rasya hampir mengeluarkan air matanya. Tega sekali ayahnya.


"Nggak mungkin. Ibu tiri kamu itu baik. INGAT, jaga kelakuan kedua adik kamu dan jangan sampai mereka bertingkah lagi"


Emang mereka kenapa? -Rasya.


Ia lupa bagaimana keadaan kedua adiknya sekarang. Rasya berlari ke luar dapur menuju kamar adiknya. Ia tak peduli bagaimana ayahnya memanggilnya dari tadi dengan kasar.


Devan juga sedang berusaha untuk mengobatinya perlahan supaya tidak menambah rasa sakit pada David.


"Gara-gara wanita sialan itu. Bodynya sih lumayan. Tapi wajah sama mulutnya berbanding terbalik" David emosi.


"Maksudnya?"


"MIRIP KNALPOT KARATAN, eushhh" David meringis sambil memegang tepi lukanya. Ingin Rasya tertawa, tapi ini situasi sedang serius.


"Makanya jangan emosian. Makin parah kan jadinya?!" cibir Devan.


"Kak, kayaknya aku jadi nggak betah lagi tinggal di rumah ini" adu David. Devan mulai mengemasi kotak P3Knya.


"Sabar ya. Kakak juga sedang berusaha buat nyari uang. Perusahaan kakak sudah berjalan dengan baik dan semoga aja bisa diterima oleh masyarakat dengan baik" Rasya sedih. Sepucuk air matanya keluar.


"Kakak harus kuliah minimal satu tahun lagi. Kalo misalkan kakak udah selesai sidang, kita langsung cari rumah baru. Jadi tolong bertahan sebentar lagi ya" Rasya memeluk kedua adiknya.


...***...


"PAH, HENTIKAN" ayah Rasya hendak menghajar Devan lagi, tapi ia berhasil menahan serangan ayahnya.

__ADS_1


"KAMU TANYA SENDIRI SAMA ADIK KAMU" Ayahnya emosi.


"KAK, WANITA ITU YANG MENGAMBIL TABUNGAN DALAM LEMARIKU, KALO TIDAK MANA MUNGKIN HILANG" Devan hendak menghajar ibu tirinya.


"DEVAAANNN" kini ayahnya juga sudah bersiap-siap ingin menghajar Devan.


Dengan cepat Rasya dan David menghentikan Devan yang tak terkendali. Ibu tirinya pun turut menghentikan ayahnya.


"Sudah sayang, sudah. Mending sekarang kita keluar dulu"


"MENJIJIKKANN" balas David tak tahan dengan sikap ibu tirinya yang sok lembut.


Ayahnya kembali emosi dan hendak berbalik menghajar David. Tapi istri barunya terus menenangkannya.


Sialannnn, cobaan apakah ini. Kenapa aku baru pulang langsung ada masalah lain -Rasya.


Rasya juga benar-benar tidak betah lagi berada di rumah ini. Ia menatap sendu kedua adiknya yang terus menatap kepergian manusia sialan rumah ini.


Ia pun membawa Devan dan David masuk ke kamarnya.


"Kok kalian bisa tau sih mak lampir itu yang mengambil tabungan Devan?" tanya Rasya sambil duduk di kursi belajar Devan.


Devan tak berniat menjawab, ia sudah menutup matanya untuk tidur. Melupakan apa pun yang terjadi malam ini.


"Ada bekas parfumnya. Lagian selama nek lampir itu belum datang, nggak pernah pun celengan bang Devan hilang" gosip hangat David.


"Emang isinya sekitar berapaan?" tanya Rasya lagi.


"Kurang lebih dua belas jutaan. Itu uang hasil lomba Devan selama SMA" Devan menjawabnya dengan sendu. Rasanya sekarang Rasya juga ingin menghajar wanita itu.


...***...


Keesokan harinya. Kampus dan pekerjaan Rasya libur karena hari minggu. Selesai memasak sarapan, ia langsung berkutat di kursi teras rumahnya meneliti berkas-berkas yang ada di depannya.


"Kak, aku pergi latihan futsal ya. Di lapangan


XX" ucap David sambil memakai sepatu.


Tiba-tiba ayahnya pulang sambil membawa kantong kresek berisi makanan. Rasya menatap curiga sedangkan David biasa saja. Tidak ada niat untuk meminta.


"Kamu kok nggak kepoin? biasa juga kamu yang paling bablas" tanya Rasya di sela aktivitasnya.


David memutar bola matanya malas

__ADS_1


__ADS_2