Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Lagi-lagi Berdetak


__ADS_3

Ia pun menuju dapur lalu mencari-cari barang yang ia butuhkan. Ternyata benda tersebut ada di storage berwarna putih jauh di atas kulkas, tempat khusus peralatan makan bayi. Ia mengambil dot yang ada disana lalu meletakkannya di nakas dapur.


Dego memasukkan dua sendok susu bubuk ke dalam dot, lalu menuangkan air panas ke dalam sesuai suhu yang pernah ia lakukan sebelumnya.


Dego memberikan dot tersebut pada Joshua. Anak kecil memang seperti itu menurutnya. Cara mereka meminta sesuatu yaitu dengan menangis.


Sesenggukan demi senggukan tangis Joshua mereda. Ia lenyap dalam gendongan Dego yang terus menyuapinya dot susu formula. Sesekali ia juga melantur mengucapkan kata-kata eksotis supaya Joshua diam.


Sebuah senyum merekah di wajah Dego kala Joshua kembali tenang dengan dot masih di mulutnya. Ia pun menuju ruang tamu tempat Rasya terlelap.


"Halooo!" sapa Johan yang baru saja masuk ke apartemen di ikuti Alita. Mereka tampak menikmati acara mereka.


"Joshuaaaa!" lanjut panggil Alita pelan.


"Aaah, kalian sudah pulang?!" basa basi Dego ketika masih baru saja sampai di ruang tamu.


"Sini Joshua pak, biar saya saja yang urus" ucap Alita lalu mengambil Joshua dalam gendongan Dego. Ia membawanya ke kamar.


"Ngomong-ngomong, bagaimana anda bisa mengurus bayi seperti ini?" tanya Johan sambil merebahkan dirinya di sofa. Ia penasaran ketika melihat Dego seperti sudah mahir dalam mengurus anaknya.


"Saya sudah biasa melakukan ini dulu ketika menggantikan dan menemani teman saya bekerja sebagai babysister di sebuah tempat penitipan anak saat masih kuliah dulu" jelas Dego dengan senyum sumringah lalu pergi ke arah Rasya.


"Begitukah" sahut Dego lalu melepas tuxedo kesukaannya.


Ragu-ragu Dego menyentuh Rasya untuk membangunkannya. Namun is singkirkan segala pemikiran negatif tersebut dan memikirkan konsekuensinya nanti saja. "Rasya, Rasya. Bangun. Cepat bangun Rasya" ucap Dego sambil mengguncang sedikit lengan Rasya.


"Ia tidak akan bangun bagaimana pun caranya jika sudah kelelahan. Lebih baik bapak mengangkatnya saja ke kamar tamu. Disana ada dua kasur. Saya harap bapak tidak sungkan tidur satu kamar dengannya. Ini juga sudah terlalu malam. Sangat tanggung jika bapak pergi keluar untuk menginap di hotel" jelas Alita yang baru saja kembali dari kamar lalu membereskan mainan-mainan Joshua di karpet.


"Baiklah" hanya itu jawaban Dego. Setelah ia menimbang semua yang dikatakan Alita, semuanya memang benar. Kali ini saja ia akan mengalahkan egonya berhubung ia sedang bertamu.


"Letakkan saja ia dikasur singgle bad pak!teriak Alita pelan ketika Dego baru memasuki kamar tamu.

__ADS_1


Benar saja. Disana ada dua kasur. Ada singgle bad king size. Karena apartemen Johan kecil, ia sengaja mendekorasi seperti ini supaya muatannya lebih untuk untuk anak-anak dari para tamu.


Dego menidurkan Rasya di kasur King size. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia melakukan hal tersebut. Satu alasan yang pasti sedang mengganjal dirinya. Ia ingin sesekali sekretarisnya mendapatkan lebih karena sudah bekerja keras.


Dego mengambil selimut di dalam lemari lalu menyelimuti Rasya hingga ke leher. Untuk yang kedua kalinya ia melihat wajah sendu Rasya. Rasa tenang menjalar seperti sebelumnya. Ia juga candu dengan wajah polos Rasya sehingga tak ingin sedikit pun menoleh darinya.


CEKLEK


Dego gelapgapan menegakkan dirinya.


"Ehem, maaf menggangu waktunya. Ini selimut satu lagi. Saya lupa hanya menaruh satu selimut di dalam lemari. Ini selimut lainnya" ucap Johan di ambang pintu. Ia menyodorkan selimut di tangannya tak. ingin masuk.


"Tolong jangan macam-macam dengan Rasya. Ia masih polos" tekan Johan seperti sedang menantang. Ia sempat melihat kejadian tadi. Johan berlalu setelah Dego menerima selimutnya.


Tak ada respon dari Dego. Ia tau dengan jelas maksud Johan. Ia sendiri juga bingung dan malu terhadap Johan. Tapi darimana keberaniannya untuk menatap lekat wajah Rasya tadi?


Dibanding memikirkan hal tersebut yang tak habisnya. Dego langsung berjalan menuju kasur singgle bad dan menghempaskan dirinya disana. Ia kembali menatap punggung Rasya yang membelakanginya dari kasur sebelah.


Dego mengintip sedikit dibalik selimut. memastikan apakah pikirannya benar? atau hanya ilusi!. Tenyata memang halusinasinya sendiri. Rasya hanya menyesuaikan tidurnya supaya nyaman. Ia masih terlelap.


Dego merutuki pemikirannya sendiri. Ia memukul kepalanya sekali menembus perbuatan pikirannya. Tidak merasa sakit sedikit pun karena rasa menyesalnya lebih parah. Tak berapa lama kemudian ia juga ikut terlelap berhadapan dengan Rasya.


...***...


"Aunty pamit dulu. Bye-bye" ucap Rasya sambil melambaikan tangan ke arah Joshua dalam gendongan Johan seusai memeluk sohib karibnya itu.


Rasya menutup pintu. Dego berdiri sebelahnya menunggunya selesai berpamitan ala sahabat yang sangat lama karena drama tangis mereka.


"Pak. Tolong antarkan saya butik dekat sini bentar pak. Sekali lagi saja saya menumpang mobil bapak" pinta Rasya sambil berjalan menuju lift.


Mereka memasuki lift.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Dego datar sambil menekan tombol lift.


"Pokoknya ada deh pak" celetuk Rasya tak ingin membeberkan tujuan selanjutnya. Ia tak berniat membawa Dego kesana.


Sesuai permintaan Rasya. Dego membawanya ke butik terkenal di kota tersebut. Mereka di layani dengan pelayanan paling bagus disana. Dego juga menyempatkan dirinya mengganti setelahnya karena ia juga tak mau mengenakan baju yang sama selama dua hari.


"Tolong berikan saya Dress simple untuk ke pesta" pinta Rasya pada salah satu pelayan disana.


Pelayan tersebut terus menunjukkan pakaian-pakaian yang sekiranya cocok dengan bentuk tubuh Rasya.


Rasya akhirnya menemukan baju yang bagus menurutnya. Dress putih selutut, lengan sebahu, serta rompi kecil di ujung dressnya semakin menambah kesan mewah.


Dego yang melihat hal tersebut, padahal ini yang kedua kalinya ia melihat Rasya memakai dress. Pertama kali saat pertama mereka bertemu di acara penggantian Ceo GVM dulu.


Ada rasa gejolak yang berbeda dibandingkan ketika ia melihatnya dulu. Rasa yang yang berhasil meluluhkan hatinya. Jantungnya kembali berdetak hebat, tak memberi rasa jeda sedikit pun.


Dego memegang daerah jantungnya yang berpacu. Sepertinya ia harus memeriksa lagi kesehatannya. Ia duduk sebentar di kursi yang disediakan sebelum membayar setelannya ke kasir. Masih memegang dadanya. Ia mengistirahatkan dirinya sejenak.


Mahal banget -Rasya.


Rasya ragu ketika memegang kertas harga yang menggantung di baju. Ia sempat berpikir untuk tidak jadi membelinya karena harga yang sangat tidak estetik.


Dego menarik Rasya paksa ke depan kasir lalu membayar semuanya.


"Mau dipakai langsung atau bungkus?" tanya kasir pada keduanya.


"Pakai langsung saja" sahut cepat Dego karena Rasya tak kunjung memberi jawabnnya. Ia masih menimbang-nimbang apakah pantas memakai baju semahal itu.


"Te-terima kasih pak. Lain kali akan saya ganti uangnya" ucap Rasya gugup.


"Tidak perlu" jawab Dego, sontak membuat Rasya bersyukur sesyukur-syukurnya.

__ADS_1


"Tapi saya ikut kamu sekarang"


__ADS_2