
"Maaf pak, apakah ini teman anda?" tunjuk salah seorang penghuni apartemen ke lantai. Sepertinya wanita paruh baya tersebut tetangganya.
Kening Dego berkerut tak yakin. Ia memandang ke balik pintu dan mendapati Rasya sedang tertidur pulas dengan posisi miring menghadap pintu unitnya.
Rasya menaruh tangan kanannya sebagai bantalan di bawah kepala. Sesekali ia menggaruk pipinya yang terasa gatal. Pantas saja wanita paruh baya itu mengetuk pintu Dego lantaran tidur Rasya yang menghalangi jalan.
Jika terlalu lelah, Rasya memang akan menjadi maniak tidur dimana pun ia berada. Bahkan suara berisik pesawat yang melintas di atasnya sekalipun takkan bisa mengusik tidurnya.
"Itu bibi saya. Dia memang suka tidur belakangan ini. Apalagi jika kelelahan. Maaf jika sudah merepotkan. Hehehe" ucap Dego cengengesan. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut pedasnya.
Setelah tetangganya berlalu. Dego membopong Rasya kasar di atas bahunya lalu masuk ke dalam apartemen. Ia menidurkan Rasya di sofa. Mengambil selimut di dalam kamarnya. Merentangkan di atas tubuh Rasya.
"Dasar sekretaris bodoh"
Untung Rasya tak sadar.
Ia menatap sejenak wajah sekretarisnya itu. Rambut yang menutupi matanya membuat ia menyelipkan ke belakang telinganya.
Dego membandingkan wajah tenangnya dengan wajah kesal Rasya dikantor. Kedua-suanya memiliki ketertarikan sendiri. Wajah panik bercampur kesal wanita 25 tahun itu membuatnya ingin terus tertawa. Sedangkan wajahnya sendunya saat ini membawa dirinya ikut tenang. Bagaimana bisa wajahnya ini sangat menggemaskan.
"Tidak". Dego sontak meringsut ke belakang. "Apa ini? apa yang kupikirkan. Kenapa detak jantungku sekarang sangat cepat? aku harus ke rumah sakit besok" ucapnya panik. Ada yang salah dengan jantungnya.
Dego bergegas menuju dapur. Menenggak segelas air yang ia isi tadi. Perasaannya ikut tenggelam. Ia seperti tak bisa bernafas. Namun sadar itu hanya iluminasi dirinya.
pandangannya beralih ke arah tas kecil di depannya. Tas milik Rasya. Ia membawa tas tersebut untuk di taruh di meja depan sofa. Pasti Rasya akan mencari-carinya besok.
Dego kembali tertegun. Selimut yang ia rentangkan sudah jatuh ke bawah. Ia kembali menyelimuti Rasya.
BRUK!!!
Selimut jatuh lagi. Rasya pelakunya. Ia membuang sembarangan selimut yang menutupi dirinya.
Dego berjongkok di depan Rasya lalu menyelimutinya lagi. Tapi Rasya membuangnya lagi.
__ADS_1
"Rasya, Rasya" panggil Dego membangunkan Rasya. Tapi Rasya masih benar-benar pulas. Tak ada pergerakan sedikit pun. Deru nafasnya juga masih stabil.
Apakah dia kepanasan? -Dego.
Dego memandang Rasya tak nyaman dengan tidurnya. Ia bergerak maju selangkah. Pikirannya sudah kemana-kemana.
"Aaah, apa yang kupikirkan. Aku hanya ingin membuka blezernya. Apakah itu macam-macam? Aku rasa tidak!"
Ragu-Ragu Dego membuka blezer Rasya. Meletakkannya di atas sandaran belakang sofa. Lalu kembali menidurkan Rasya. Ia tak berulah lagi.
Jantungnya kembali berpacu saat bersentuhan dengan Rasya. Ia gelapgapan merentangkan selimut lalu berlari menuju kamarnya.
"Jantungku memang bermasalah" ucapnya ketika duduk di pinggir kasur sambil meletakkan tangan kanan di dadanya.
Keesokan paginya Rasya bangun karena bunyi alarm yang tiba-tiba berteriak.
'Chagiya. Chagiya iroenaaa, chagiyaaaa, YAAAAAAAAAAAAA'
Diawali panggilan halus dari idolanya. Artinya yang juga menyejukkan hati. Serta di akhiri panggilan keras memang cocok bagi para jomblo yang ingin bangun cepat.
Ia berjalan menuju dapur. Mencuci muka di wastafel. Memakai celemek lalu memasak ke sukaan dirinya sendiri sedikit lebih banyak, karena ia pasti akan mengemil dengan makanan berat tersebut nanti.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dego sambil menuang segelas air. Celana hitam, jas putih, dasi masih disampirkan di bahu, jam. Semua setelan kerja hampir lengkap si tubunya. Sedangkan Rasya masih menguap-nguap saat mengaduk ayam kecap.
"Hah? kenapa bapak disini?" tanya Rasya balik dengan mata terbelalak.
"Ini memang tempat tinggal saya" timpal Dego lalu meneguk air.
"Benarkah?"
Rasya melihat panci yang ia pegang berwarna hitam, bukan ping atau biru. Begitu juga benda-benda di sekitarnya, terutama keberadaan Dego.
Untunglah ia memasak lebih banyak tadi. Jika tidak, porsinya pasti akan ia ikhlaskan untuk Dego karena tanggung jawabnya mulai sekarang.
__ADS_1
"Lalu? apakah saya tidur di sofa bapak tadi malam? bagaimana saya bisa berada di sini? apakah bapak macam-macam dengan saya tadi malam?" segala rantetan pertanyaan ia lontarkan untuk Dego. Ekspresinya meluap-luap.
"Kompornya-" desis Dego.
Thip
Rasya mematikan api kompor. Hampir saja ayam kecapnya gosong. Ia bernafas lega. Lalu ia menyajikan makanan Dego. Memasukkan sebagian isi panci ke dalam rantang untuk ia bawa pulang. Memang seperti itu kesepakatannya.
Rasya berprasangka buruk kepada Dego. Apalagi saat melihat blezernya tidak ada yang hanya meninggalkan kaos oblong warna putih. Namun segera ia singkirkan pikiran itu karena tak mungkin Dego melakukannya.
Sementara Dego makan di meja makan. Rasya sibuk mencuci piring. Saat sudah selesai, ia bergegas mengambil rantang di atas dapur dan tas selemoang di atas meja ruang utama lalu menuju pintu utama.
"Kamu sudah selesai? Tolong pasangkan dasi saya" perintah Dego berjalan mendekati Rasya.
"Maaf pak. Bapak bisa sendiri. Saya buru-buru" ketua Rasya. Ia berlenggang dari hadapan Dego. Sang empu hanya bisa menatapnya pasrah.
"Ini sudah yang kedua kalinya kakak pergi pagi pulang pagi tanpa memberitahu kami? memangnya tadi malam di mana kakak tidur?" tanya Devan serius di meja makan. Mereka sedang makan bersama seperti biasa.
"Dimana lagi memang gadis usia dua puluh lima bisa tidur?" goda David.
"Memangnya apa yang kalian pikirkan hah?, tadi malam kakak tidur di Apartement kak Dego (sebutan dari Devan dan David). Makanan ini bisa menjadi saksi kakak memasaknya disana" bentak Rasya tak terima perkataan David. lalu memasukkan lagi sesendok dasi ke dalam mulutnya.
"Apakah benar ayam? apakah kamu juga melihat kak Rasya dan kak Dego sedang bercumbu disana?"
HUWIIIISSHHHHH PLETAK!!!
Sendok yang di lempar Rasya tepat sasaran mengenai kepala David. Ia meringis kesakitan. Rasya tak selera makan lagi lalu berjalan ke luar apartemen untuk pergi bekerja.
Ia ojek online hari ini supaya bisa menghirup angin sebanyak-banyaknya. Tidak apa-apa jika ia masuk angin karena yang akan mencium bau kentutnya hanyalah CEO gila.
Sesampainya Rasya di perusahaan GVM. Berbagai sapaan sudah membanjiri dirinya dari para karyawan serta cleaning servis yang dibalas senyuman manis oleh Dirinya.
"Rasya. Tolong sebutkan jadwal-jadwal saya hari ini?" perintah Dego yang sedang menahan pintu lift supaya tidak tertutup lalu masuk ke dalamnya.
__ADS_1
"Apakah kamu masih bisa ceria setelah kejadian semalam?"