Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Detak Jantung


__ADS_3

"Apakah kamu masih bisa ceria setelah kejadian semalam?"


Lift tertutup


"Semalam? memangnya apa yang bisa saya lakukan? bapak harus tau,,, kalo saya itu bukan orang yang suka melakukan hal aneh!" pamer Rasya menyangkal.


Dego membandingkan sekilas perkataan Rasya dengan sikapnya tidur di lantai depan unit apartemennya.


Hahaha -Dego.


"Kenapa anda tertawa sendiri? Apakah anda sakit?" Rasya memperhatikan setiap detail wajah Dego yang sempat menahan-nahan senyum sendiri tapi beberapa saat kemudian berubah kembali. Matanya beralih pada dasi Dego yang sedikit mereng. Rasya memperbaikinya telaten.


Rasya sangat fokus pada dasi. Sedangkan Dego hendak menatap Rasya sebentar dari jarak yang sangat dekat. Sebentar saja. Tapi pandangannya tidak bisa lepas. Ia jadi semakin memperdalam pengamatannya karena terlalu candu jika ia harus mengabaikan dengan jarak yang sedekat ini.


Wajahnya yang imut, mata bulat, pipi tembem, warna bibir merah merona seakan-akan ia sudah diberi zat adiktif supaya tidak menoleh sedikit pun. Sial, kenapa ia tidak mau menerima lipstik pemberiannya.


Dhuk Dhuk Dhuk


Jantungnya kembali berpacu. Ia menutup mata dan menahan nafas supaya Rasya tidak terganggu.


"Sudah" ucap Rasya klise


"Ekhem, Ekhem. Apa jadwal nanti sore?" Dego berdehem menetralisirkan suasana. Mereka kembali ke posisi semula.


Rasya membuka tablet yang ia bawa dalam tas jinjing Hermes Pre-Owned Birkin berwarna putih dengan les berwarna emas yang harganya cukup fantastis. Itu adalah hadiah dari mami ketika mereka berhasil membangun perusahaan yang lebih besar. Rasya juga tak tau darimana mami alias ibu dari bos saat ini mendapatkannya.


"Nanti sore jam 14.30 kita akan menemui klien di resto jepang di daerah kota bandung pak"


Lift terbuka di lantai tiga puluh.


"Batalkan! " perintah Dego.


"Yaahh pak, kenapa dibatalkan? bahkan saya sengaja membawa tas ini karena kita akan pergi ke acara penting pak" bantah Rasya. Ia menunjukkan tas yang sedang di jinjingnya.


Itu kan tas permintaan mami kemaren tu. Katanya untuk calon mantu, biarpun akhirnya bercanda. Tapi kok udah ada sama dia? -Dego.


Ia tak ingin memusingkan hal remeh yaitu hanya sebuah tas. Lagi pula ia masih bisa membeli lagi tas yang seperti itu untuk maminya.


"Saya harus ke Rumah Sakit. Kalo begitu, kamu yang gantikan saja" perintah Dego.


"Baik Pak"


Dego sangat memercayai kepiawaian sekretarisnya itu karena dari sekian banyak pengalaman yang ia dapatkan bersama ayahnya, tak mungkin hal seperti ini jadi masalah baginya.

__ADS_1


Ketika melewati ruang karyawan yang hanya diberi kaca pembatas, Rasya melihat seorang pria yang tertidur di meja karena lembur. Ia jadi teringat sesuatu.


"Kenapa berhenti. Ayo cepat!. Ada yang harus kita selesaikan" teriak Dego yang sudah beberapa langkah di depan Rasya yang sedang melamun. Suara baritonnya itu tidak hanya membuyarkan lamunan Rasya, tapi juga membangun pria yang tertidur dalam ruangan. Rumor memang cepat meluas sehingga pegawai tersebut langsung bangun mendengar amukan Dego.


"Iya pak" jawab Rasya lalu mensejajarkan kakinya selangkah dibelakang Dego. Meskipun Dego kerap kali membuat dirinya kesusahan seperti tadi malam, ia tidak boleh dendam dan tetap menjawab panggilan atasannya dengan sopan. Pamali kata David.


"Mana berkas yang saya minta kemaren?" tanya Dego ketika duduk di tahta sementaranya.


"Ini pak, sudah saya rekap" jawab Rasya. Akhirnya mereka tenggelam dalam pekerjaan.


......***......


"Rasya! Yuhuuuu! mana presdir kita?" sapa melly girang melihat Dego tak ada di mejanya.


"Dia pergi mendadak karena sakit" jawab Rasya santai. Jarinya masih fokus menekan-nekan keyboard.


"Bernarkah? sakit apa?" tanya melly kembali.


"Aku juga tidak tau. Sakit jiwa mungkin. Tadi saat aku tiba-tiba memegang dahinya ia langsung pergi. Padahal tidak panas" jawab Rasya acuh.


Itulah masalahnya. Jantung Dego kembali bersenyut ketika tangan mungil itu menyentuh dahinya. Ia langsung pergi setelah merasa detak jantung tidak normalnya kambuh.


"Ayo pergi!. Sudah lama kita tidak melakukannya. Ada yang ingin aku beritahukan padamu" pinta melly memohon sambil jongkok di samping Rasya .


"Aku minta maaf melly sayang. Aku ada pertemuan sekarang menggantikan Tuan Dego. Lain kali saya yaaaa. Sekarang aku akan pergi" ucap Rasya seperti ibu-ibu yang menenangkan anaknya.


Rasya menutup layar laptopnya. Mengambil berkas yang diperlukan dan memasukkannya ke dalam map untuk ia pegang. Tak lupa memakai tanda pengenal yang kini menggantung di lehernya.


Melly berdiri dari aksinya. Ia mundur dua langkah. "Kamu benar-benar pergi sekarang ya?" Melly memelas.


"Tidak. Aku pergi karena menghindarimu. Hahaha. Bye-byeee". Rasya melambaikan tangan dan berlalu dari ruangannya.


"Rasya. Lihat dulu ini!" panggil Melly lagi.


"Aku tak akan tertipu. Kamu pasti membuat alasan bukan?" Rasya kembali dan berdiri di ambang pintu.


"Apakah kamu tidur di lantai tadi malam?"


PLAK!!!!


Tidur? di lantai? tadi malam? -Rasya.


Rasya berbalik menuju meja Dego. Melly sedang menekan-nekan mouse di samping komputer memastikannya lebih dekat orang ada di dalam video tersebut. Rasya ikut nimbrung di sampingnya.

__ADS_1


"Lihatlah. Ini pakain yang kamu kenakan kemarin". Melly menatap Rasya memastikan.


"Kamu benar. Tapi aku tidak mungkin melakukannya"


Tit tit tit


Telekom di atas meja kerja Rasya berbunyi. Segera ia mengangkat telponnya karena waktu pertemuan masih satu jam lagi.


"Halo, dari sekretaris GVM. Dengan siapa ini?"


"......"


"Ouh, You are Mr. Dego boyfriend. I know you. A few days ago you called me too. Can I help you Miss?"


"......"


"Rasya. Katakan nomor Whatsapp -mu. Biar aku kirim. Siapa tau nanti ini benar kamu" Tekan Melly.


"Tunggu sebentar" desis Rasya panik karena yang menelpon adalah pacar bosnya. Ia harus memberikan pelayanan yang penuh. Siapa tau nanti dapat bonus tambahan dari bos Dego karena memperlakukan kekasihnya dengan baik.


"Mr. Dego is not in the office. He has an impromptu trip" jawab Rasya pada sambungan telepon.


"Ayooo cepattt. Nanti Tuan Dego pulhaaaang". Melly melompat-lompat di tempatnya seperti orang kesetrum. Ia ketar-ketir.


"Ah.Baiklah. 08xx xxxx xxxx" buru Rasya menjawab Melly dari pada ia tidak sempat mendengar calon ipar kakak angkatnya. "What you say Miss?"


"........"


"Oh yes Miss. I will tell him"


"......."


" You are welcome "


Brukh


Rasya meletakkan telekomnya histeris. Pacar Dego terdengar sangat cerewet. Tapi itu bukan urusannya. Ia beralih berdiri di samping Melly. Tak ada siapapun yang duduk di singgasana sementara Dego padahal kosong.


"Ini memang kamu Rasya!. Bagaimana ku bisa melakukannya?" finish Melly.


"Aku juga tidak tau. Sepertinya karena dompetku tertinggal di dalam mobilnya, aku jadi kesana untuk mengambilnya. Kartu kunci apartemen tinggal disana. Devan baru saja mengganti sandinya. Jadi aku tidak punya pilihan lain"


"Kenapa tidak tekan bel saja biar Devan atau adikmu siapalah itu yang membukakan pintu!" omel Melly tak henti-hentinya

__ADS_1


SKAK MAT!


__ADS_2