Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Pasangan Dadakan


__ADS_3

"Tapi saya ikut kamu sekarang" jawab tegas Dego. Sontak Rasya memegang setir kemudi supaya Dego berhenti sekarang juga.


"Apa yang kamu lakukan? Hampir saja kita kecelakaan" lanjut Dego emosi memuncak karena Rasya tiba-tiba memutar kemudi supaya menepi ke pinggir jalan.


"Maaf pak. Sepertinya saya tidak dapat pergi bersama bapak" tolak mentah Rasya.


"Pokoknya saya ikut. Siapa tau nanti kamu tiba-tiba menghilang di acara sementara pekerjaan kamu masih banyak" balas Dego. Ia menstabilkan emosinya. Tidak baik berdebat sambil marah.


Bisa-bisanya bosnya itu berpikiran aneh. Mana mungkin ia menghilang dengan cara tidak absurd seperti itu.


Ternyata yang ia khawatirkan itu pekerjaannya, bukan sekretarisnya -Rasya.


Rasya memutar otaknya mencari jalan tengah yang lebih efisien. Bukan karena gengsi ia tidak membawa Dego, tapi karena takut teman sealumninya nanti akan menyoraki dirinya yang bukan-bukan sehingga dirinya kembali terlibat skandal yang tidak berkepentingan.


AHA!


"Kalo gitu bapak tunggu aja di basement, gimana?" tanya Rasya sambil terus berdo'a dalam hatinya.


"Nggak! saya ikut kamu. Nanti kamu malah main-main disana seharian" tegas Dego lagi.


"Saya janji hanya satu jam pak. Satu jam aja" pinta Rasya lagi sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.


"Yasudahlah" gumam Dego yang masih di dengar Rasya.


Rasya bersorak ria dalam hatinya. Tidak mudah membujuk CEO yang keras kepala. Tapi dalam dunia bisnis, kadang sifat seperti itu juga diperlukan.


Sesampainya mereka di basement hotel tempat acara berlangsung. Rasya langsung turun dari mobil Dego. Tak lupa ia mengambil tas jinjingnya di jok tengah.


Dego menatap kepergiannya lekat-lekat. Sebenarnya yang ia khawatirkan adalah jika Rasya sampai bergaul dengan para lelaki disana. Ada rasa yang membuat dirinya tak rela.


Dego memukul setir di depannya. Ia menyesal telah mengiyakan perkataan Rasya.


"Tolong perlihatkan undangan anda?" ucap pelayanan di ambang pintu khusus tamu VIP.


"Ini pak". Rasya berlanggang masuk setelah memperlihatkan undangan. Pelayan tersebut mencegatnya.


"Maaf nona, tapi ini undangan pasangan. Anda tidak boleh memasuki acara tanpa pendamping anda" jelas pelayan tersebut sambil menunjukkan lambang pasangan di ujung atas kanan undangan.

__ADS_1


Satria gila. Lihat saja pembalasanku -Rasya.


Pelan-pelan Rasya menerobos masuk. Gagal, Pelayan tadi kembali mencegatnya dengan merentangkan tangan di depannya. Rasya tak akan diam disitu. Ia kembali beraksi melewati pelayan tersebut tapi beberapa pelayan lain datang menariknya di bahu.


"Lepaskan saya. Saya temannya pengantin disini. Ia pasti membiarkan saya masuk" pekik Rasya meronta mencoba melepaskan cengkareng kedua pelayan disana.


"Jika tidak percaya panggil saja pengantin pria. Dia teman saya" lanjut Rasya lagi tapi cengkraman kedua pelayan tersebut sangat kuat.


"Kami sudah diperintahkan untuk tidak membiarkan masuk siapa saja yang tidak membawa pasangan jika ada lambang tersebut. Maaf kan kami nona"


Bukan Rasya namanya jika harus mengalah. Ia kembali meronta melepaskan dirinya. Jalan VIP tersebut kini macet. Semua orang terus melantur karena kejadian tersebut membuat mereka harus menunggu lama.


"Sayang. Maaf jika terlambat" ucap Dego yang baru saja datang melewati tamu VIP lain.


Wajah tampan, postur sempurna, serta suara maskulin yang baru saja di ucapannya membuat semua orang disana terpana padanya. Tak terkecuali tamu pasangan paruh baya yang ingin menjadikannya menantu.


Dego langsung mengaitkan lengannya pada lengan kanan Rasya. Rasya yang melihat kedatangan sosok yang tidak ia inginkan melongo seperti tamu lainnya. Satu sisi ia memang penyelamat, tapi sisi yang lain Dego adalah masalah baginya.


Jantung Dego kembali bergotang tak karuan. Ia semaksimal mungkin menahan imejnya supaya tidak kelihatan gugup. Ia menarik nafas beberapa kali meminimalisir detak jantungnya yang tak karuan.


Dego menarik Rasya masuk ke dalam Hotel. Meski di gelar tengah hari, hal tersebut tidak mengurangi suasana kemeriahan acara.


Rasya hendak melepaskan tangan Dego, tapi tak memberi celah sedikitpun.


"Pak bisakah kita berjalan secara terpisah saja disini?" tanya Rasya frustasi.


"Tidak bisa"


Menyesal rasya bertanya seperti itu. Seharusnya ia menggunakan kata seperti memerintah saja seperti yang biasanya dilakukan Dego.


"Kamu ingin ke meja itu? ayo kita pergi bersama" ajak Dego.


"Tapi pak. Mereka nanti akan mengira kita yang bukan-bukan. Apakah bapak mau seperti itu?" tuding Rasya menaikkan alisnya.


"Lalu bagaimana bisa kamu meninggalkan bos yang sudah menyelamatkannya kamu seperti itu?" tuding Dego balik, ia juga menaikkan alisnya.


Rasya tak membantah ketika Dego menyeretnya menuju teman-temanya. Mereka berjalan ala pasangan paling harmonis di dunia.

__ADS_1


"Hai Rasya!"


"Rasya nih bro!"


"Siapa nih disamping lo?!"


Sapa semua temannya yang dibalas sapaan balik olehnya. Ia melepas pergelangan tangannya supaya bisa memeluk dan cipika-cipiki semua teman perempuan. Tak lupa ia juga berjabat tangan dengan beberapa teman laki-laki disana.


Salah satu cewek temannya menyenggol dirinya seolah-olah menanyakan siapa pria tampan yang datang bersamanya. Rasya tak tau harus menjawab apa. Ia menggaruk tengkuknya memikirkan alasan yang pas untuk Dego.


"Dia ini sau-" ucapan Rasya terpotong.


"Perkenalkan saya Dego Alfianta. Pacar Rasya. Saya CEO di perusahaan GVM" ucap Dego profesional lalu berjabat tangan dengan mereka semua. Tepatnya tiga cowok dan lima orang cewek.


Rasya memutar bola matanya. Ia sudah menduga respon terkejut dari temannya.


Memangnya siapa yang tak mengenal perusahaan mereka yang sudah terkenal hampir seluruh negara. Apalagi di luar negeri ia sebenarnya juga seorang pemimpin perusahaan besar yang terkenal di manca negara.


"Kalo begitu kami permisi dulu ya teman-teman. Gue sebenarnya belum bertemu Satria. Hehehe" ucap Rasya cengengesan. Ia mendorong Dego supaya menjauh dari mereka.


Kini dirinya bersama Dego sedang mengantri dibarisan tamu bersalaman dengan pengantin.


"Dasar satria jahat. Tega-teganya lo ngundang gue ginian" timpal Rasya duluan sambil bersalaman saat sudah giliran mereka. Tak ada sedikit pun senyuman di wajahnya.


"Hahaha. Kalo bukan kek gini. Kapan juga lu nunjukin pacar lo. Gue jenius kan! " timpal balik Satria menyombongkan dirinya. Anneth yang berada di sisinya ikut tertawa.


"Nggak nanggung-nanggung ya pacarnya!" cerocos Anneth lagi ketika giliran mereka bersalaman. Lalu berpelukan.


"Bisa aja. Hahaha" Rasya tertawa paksa. Memang keadaan yang memaksanya melakukan hal tersebut.


Akhirnya mereka kembali ke dalam mobil. Rasya sangat lelah, lebih tepatnya lelah batin. Ia tidak sanggup lagi bertemu dengan temannya. Apalagi jika mereka menanyakan hal yang sama.


'Sebenarnya di pacar boongan plus bayaran gue'


'Dia bos gue'


'Dia hanya titipan Tuhan untuk sementara'

__ADS_1


Rasya menghempaskan dirinya di kursi mobil. Ia menyalakan AC suhu tinggi. Ia tak peduli itu mobil siapa sekarang.


"Dimana rumah sakit terdekat di daerah sini?"


__ADS_2