Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Lupa diperiksa


__ADS_3

Di tengah gaduhnya suasana antara kakak beradik dalam sebuah ruangan serba putih. Tiba-tiba saja di sulap oleh sebuah kata menjadi sunyi.


"Ibu"


"Bagaimana kalian mengetahuinya? di mana HP-ku sekarang?" rasya mulai mencarinya dan melihat kekanan dan kiri dengan panik. Perasaan cemas mulai menimpanya. Bagaimana tidak, orang yang sudah ia rindukan selama sehari meskipun malamnya ia tak sadar tiba-tiba menelponnya.


"HP kakak udah hancur, namanya juga di tabrak mobil, kakak aja udah hampir mati, apalagi HPnya. Udah di kubur duluan sama devan" celetus david tanpa rasa bersalah sambil cengengesan. Lalu menyodorkan air minum lagi ke rasya. Kan kalo makan terus nantinya jadi keselek.


Sialnya yang dituduh tak bergeming apa-apa. Malahan ia sudah menarik kursi yang ada di sekatnya dengan tangan sebelah kanannya karena tangan yang disebelah kiri masih memegang mangkuk nasi. Devan tak sanggup lagi berdiri apalagi harus menyuapi kakaknya makan.


Bohong -rasya


Tadi malam saja HPnya masih baik-baik saja, berdering bergetar disampingnya. Masa udah mati duluan. Memang sih kecelakaannya cukup parah. Tapi kan HPnya tu merk terkenal,kualitas di atas rata-rata, tahan banting, karena itu adalah pemberian dari seniornya tahun lalu sebagai hadiah untuk prestasinya meskipun cuma bekas yang senior itu pakai.


TOK TOK TOK


"Permisi,,, boleh saya masuk!" ucap radika di ambang pintu.


Apalagi ini, kenapa radika ada di sini, bukannya dia harus mengikuti pelatihan yang ketat -rasya.


Akhirnya malaikat kedamaian datang menyelamatkanku dari tuduhan kampretty david, huffff -devan


Masuk aja bodoh, kalo pintunya kebuka, ribet banget sih -david, untung cuma perkataan di dalam hati. Kalo sempat benar-benar di ucapkan, maka entah dimana nyawanya akan digantung oleh radika.


Iya, memang pintunya dari tadi terbuka. Tapi bahkan rasya tidak menyadarinya karena sibuk dengan hal-hal yang tidak jelas.


"Silahkan" jawab rasya.

__ADS_1


Inilah satu-satunya adik rasya yang selalu tersenyum dan bersikap baik padanya dan juga orang lain. dibandingkan dengan devan atau david, yang satu ini memiliki tubuh tegar (sejengkal lebih tinggi dari rasya) dan sikap lembut nan ramah yang begitu menarik.


Jika rasya mahasiswa tahun kedua di sebuah universitas. Maka radika Murid tahun pertama yang sedang menjalani pelatihan menjadi tentara. Yap, umur mereka hanya beda satu tahun. Meskipun dia itu adiknya rasya, tapi merupakan hal yang wajar jika panjangnya lebih unggul dengan perbedaan umur yang begitu dekat.


"Ini, handphone kakak, tadi kubawa ke toko ponsel karena kacanya udah sedikit pecah, daripada nanti tangan kakak kegores" kata radika sambil meletakkan tas toko di samping rasya.


Tuh bener kan, radika orangnya emang baik. Kalo aku tu perempuan, pasti udah ku pacarin dari dulu. Eeeeh keceplosan. Kira-kira yang baca tau gak ya?!


"Makasiiiiih" rasya langsung menyerahkan gelas minum ke david yang berdiri di dekatnya. Lalu mengambil tas tersebut dan membukanya dengan cepat.


"Oh ya, gimana keadaan kakak, apa kata dokter tadi?" tanya radika sambil duduk di ranjang pasien di sebelah rasya yang kosong sebelah kanan.


Di ruangan ini memang cuma ada dua ranjang. Posisi david berdiri di antara dua ranjang tersebut namun lebih dekat dengan rasya. Sedangkan posisi devan disebelah kiri rasya.


"YA AMPUUUUN, seharusnya kan kita manggil suster dulu pas kak rasya sadar. Gimana sih lu kak devan. Main kasih makan ajaaa" ucap david terperanjat kaget dengan suara setengah keras.


K**an yang ngasih gua mangkok bubur juga lu nyet -devan.


Untung aja gue ingetin -radika.


"Kenapa keadaannya jadi sinting gini ya?" tanya rasya heran sambil menatap punggung david yang mulai menghilang.


"Kok sinting sih kak, bukannya gawat" radika juga mulai panik dan berjalan menyusul david. Sementara rasya mulai mencari kontak yang dirindukannya di HP. Disusul oleh devan yang kembali menyuapinya dengan bubur.


"Kak, sebenarnya kita udah telepon mama tadi pagi pas kak radika baru aja nyampek kesini.Katanya mama sama alena sekarang tinggal di negara X bersama uncle agus dan aunt kely, karna mama masih belum nemuin rumah yang layak." ucap devan lalu menyuapi lagi buburnya.


"Mama bilang untuk tidak mengkhawatirkannya dan jangan menelponnya hingga malam tiba. Mungkin aja hari ini mama lagi sibuk nyari pekerjaan di sana biar tetap bisa nafkahin kita kak. Kak,,, lomba devan gagal, devan kalah, guru devan pasti kecewa sama devan, devan merasa bersalah, devan menyesal kak" sekarang devan mulai meletakkan bubur di atas meja.

__ADS_1


"Devan kepikiran terus sama mama, seharusnya devan nggak membantah mama, seharusnya devan ikut mama waktu itu, devan malu sama diri devan sendiri, apa boleh devan nggak ke sekolah besok? " devan mulai membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya.


Sedingin apapun es di antartika, suatu hari nanti pasti akan mencair. Seperti itu juga devan. Meskipun ia dikenal sebagai sesosok orang datar, tapi dalam hati dan pikirannya ia juga mempunyai emosi yang hanya bisa dicurahkan pada kakak perempuannya saja.


"kamu sabar dan hadapin aja dulu, jangan mengeluh sebelum mencoba, semuanya akan indah pada waktunya, ya!" ucap rasya dengan senyuman sambil mengelus-elus kepala devan. Berharap situasinya berubah menjadi lebih baik.


Tapi tanpa rasya sadari, setetes air mata keluar dari kelopak matanya. Rasya juga berfikir bahwa, andaikan ia mengikuti saja ibunya. Pasti hal-hal sial yang terjadi kemarin tidak akan menimpanya.


Apakah ini karma kita karna tidak menuruti perkataan mamanya? -rasya


Jika berbicara tentang karma. Maka dapat dikatakan bahwa rasya masuk dalam keadaan bingung. Padahal ibunya sudah mengizinkan untuk mereka tetap tinggal. Bagaimana mungkin ini disebut karma.


Tak berapa lama kemudian kemudian, radika datang disusul oleh dokter dan suster dibelakangnya. Rasya memasukkan kembali HPnya ke dalam tas, membiarkan dokter untuk memeriksanya. Mulai mengecek detak jantung, memeriksa matanya, dan lain sebagainya. Juga dibantu oleh suster.


Tapi dimana david? Kenapa dia tidak ikut nongol?. Sudahlah, pasti ia tidak akan mati di tengah jalan kan?!.


"Gimana dok, keadaan kakak saya" tanya radika.


"kondisinya baik-baik saja, mungkin ia hanya perlu penyembuhan untuk luka-luka di tubuhnya dan juga untuk cedera di kakinya"


"Begitu ya, terima kasih dokter"


"Sama-sama, saya pamit dulu ya" lalu dokter itu mulai beranjak dari ruangan itu diikuti oleh suster dibelakangnya.


Apa ini, cedera di kaki?, apakah kakiku patah tulang?, oh tentu saja, akukan ditabrak mobil. Apakah aku tidak akan bisa berjalan lagi? -rasya.


Rasya mulai meraba-raba kakinya di dalam selimut.

__ADS_1


Sial, kenapa ada perban ketat di kakiku? -rasya


__ADS_2