
"HEI KAMU, bukannya tadi bos yang menyuruh kamu untuk membawakan makanan keruang walikota, KENAPA MAKANANNYA TIDAK SAMPAI HINGGA SEKARANG HAHHH" suara atasan rasya.
"Ta-tapi pak, tadi bukannya ada yang menggantikan saya tadi pak? " jawab rasya agak gap-gapan.
"SIAPA YANG MENGGANTIKAN KAMU HAHHH, BOS ITU MENYURUHNYA SAMA KAMU BODOHHH"
"Ada pak tadi, pas diperjalanan dia bilang akan menggantikan saya pak" rada-rada cemas mulai menghampiri rasya.
Kok gue sendiri sih yang disalahin, kan tadi yang ngantar makanan tu banyak -rasya.
"Mana makanannya, yaudah kamu sendiri yang buktikan sekarang" atasan itu tidak lagi berteriak pada rasya karena sudah berada di depan rasya.
Rasya ditarik paksa oleh orang tersebut. Ia meringis kesakitan karena cengkraman di tangannya kuat sekali.
"Eh pak, jangan main kasar dong sama cewek" bentak kak dika menarik tangan rasya yang sebelahnya lagi.
"Diam kamu janda, sebelum saya potong gaji kamu" spontan kx dika langsung melepaskan tangannya. Lalu rasya kembali di seret dengan kasar.
"pak, lepaskan saya pak, saya bisa jalan sendiri" rasya menjerit dengan keras sambil mencoba melepaskan diri.
"AHHHH, DIAM KAMU"
Rasya kini tak berkutik. Membiarkan dirinya diseret paksa dan berjalan tertatih-tatih karena memakai rok sempit.
Kembali rasya menatap ke belakang. Kak dika sedang berdiri tak berdaya sambil membuat gerakan seperti mengatakan "Maafkan aku rasya, maafkan aku" di belakang sana. Rasya mengerti karena pekerjaan inilah Satu-satunya harapan untuk menafkahi anak-anaknya. Sehingga dengan suka rela rasya mengikuti atasannya itu.
Rasya dibawa ke ruang CCTV. Tidak mungkin kan ia dibawa ke ruang penjamuan langsung.
"LIHAT DENGAN MATAMU, MANA MAKANANMU GOBLOK" di depan pengawas CCTV serta beberapa pegawai yang penasaran tentang penjamuan tersebut rasya disebut goblok, rasanya sungguh memalukan.
TAP TAP TAP
Bos memasuki ruangan. Diikuti seorang asisten pribadinya di belakang. Sontak semua membungkuk sebagai penghormatan.
"Jadi kamu yang menyembunyikan makanan untuk pertemuan penting bagi kelangsungan restoran ini" ucap bos dengan seringainya.
__ADS_1
"HAHAHA, kamu di pecat" lanjut bos sambil menyentil keningnya. Lalu beranjak pergi ke luar ruangan.
"Maafkan saya bos, saya sama sekali tidak melakukannya, tolong jangan pecat saya, saya mohon bos" Kata rasya yg berlari melewati bos lalu duduk membungkuk di depannya.
"KAMU TIDAK DENGAR APA YANG SAYA KATAKAN?" teriak bos.
DDDDAAAAAMMMMNNNN
Rasya ditendang hingga terjungkal kebelakang. Setelah itu ia ditarik paksa keluar restoran lewat pintu belakang. Dihempas begitu saja. Lalu dilempar sembarangan tasnya.
Setetes demi setetes air matanya keluar. Ia mengambil tasnya. Lalu pergi meninggalkan restoran. Sebelum ia pulang ke rumah. Terlebih dulu ia mengganti pakaiannya di WC umum milik pemerintah yang lumayan bersih.
Malam itu. Malam yang seharusnya ia pulang jam 12.00, kini ia pulang lebih awal dua jam. Mungkin bagi sebagian orang akan merasa senang karena memiliki sedikit waktu untuk bersenang-senang. Namun bagi rasya ini adalah sumber petaka karena penghasilannya berada di sini. Tapi bukan itu masalahnya. Yang paling ia benci adalah bagaimana ia dihina dan dicaci tanpa belas kasihan.
***
"Maaf ya, kalo aku udah buat kamu nyeritain hal yang membuat kamu sedih, sebenarnya aku gak bermaksud gitu kok" ucap elita yang merasa iba dan bersalah.
"Iya, gak papa kok, aku baik-baik aja" jawab rasya sambil mengusap air matanya.
"Bentar, bentar. Kok cerita you ini banyak flashback-nya sih, eke dah mulai agak pucing nih dengernye" papar gue setelah sekian lama ngedenger cerita rasya. Maap ya kalo dadakan gue berentiin ceritanya ya gaiys. Gue yakin bat orang sabar banyak rezekinya. Ye...
"Soalnya gue agak sedikit kelupaan sama ceritanya, kan masa lalu yang kelam harus segera dilupakan, hehehe" jawab rasya spontan dengan tawa kecut diakhirnya.
"Yaudah, gue oghei aja kok, lanjut gih" jawab gue.
"Permisi... " ucap cowok ganteng amit-amit yang menghampiri kami. Aduh... kok aku jadi gak sabaran gini toh, padahal rasyan-nya aja udah kebingungan sama orangnya. langsung berdiri bersamaan dengan rasya lalu gue menyapa siapa yang datang.
"Oh, halo Mas Dego, apa kabarnya?" tanya gue sambil menepuk pundak Tuan Dego. Pengen rasanya gue ketawa terbahak-bahak ngeliat rasya yang celingak-celinguk gak karuan.
"Ya, saya baik" jawab Tuan Dego agak tidak nyaman. Mungkin karena gue manggilnya mas ya???
"Bagaimana dengan undangannya? apakah sudah sampai ke tangan anda Mr. Rizana?" tanya Tuan Dego sambil menggandeng tangan rasya lalu menarik ke sisinya. Yang digandeng malah terlihat lebih kebingungan dari sebelumnya dan terus menatap Tuan Dego seolah-olah bertanya "Apa maksud dari perkataan anda?".
"Oh, tentu saja, asisten eke sudah memberikannya pada I tadi pagi" jawab gue.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Ini sudah larut malam, tokonya juga hampir tutup, apakah kalian tidak ingin pulang?" tanya lagi Tuan Dego.
"Tentu saja kami ingin pulangs sekarang, bukankah begitu rasya?" tanya gue lagi basa-basi.
"Iya, hehehe" Yang ditanya malah cengengesan. Tapi kok gue perhatiin, rasya kayak canggung aja dari pas digandeng sama mas Dego. Udahlah, jangan dipikirin. Nanti keungkap juga.
"Oh ya mas Dego, boleh nggak sih eke minjem rasya setiap malam, boleh dong?!" aduh... perasaan gue kok gak karuan sih, apa gue salah ngomong ya. Kenapa juga Tuan Dego natap gue serius gitu.
"Tujuannya?" tanya Tuan Dego antusias.
"Biasa lah mas, nyari inspiration gituuu, emang masnya mikirin apa sih?, jangan yang aneh-aneh dheh!!!" gue kok kayak malu-malu gini ya.
"Ooo, boleh, tapi ada syaratnya!" Kok seringai Tuan Dego udah mulai keluar sih. Mending gue harus cepet nyelesain pertemuan ini. Rasya udah mulai memegang kepalanya sambil geleng-geleng. Kayaknya bakalan ada hal mistis nih.
"Jangan pernah goda calon istri saya" tuh kan, gue bilang juga apa!
"Ahhhh, kalo itu sih mah, saya mana mungkin ngelakuinnya. Saya kan tau siapa suaminya. Pokoknya mas tenang aja ogheiii" jawab gue sambil ngedipin sebelah mata. Terlihat rasya yang begitu terkejut atas tingkah gue, tapi Tuan Dego biasa aja. Bod*amat ah.
"Baiklah kalo begitu. Mau saya antarkan pulang?" tanya Tuan Dego.
"Tidak perlu mas, tidak perlhu. Sopir eke juga sedang nunggyu di mobil di luar, hehehe"
"Kalo begitu, kami permisi dulu"
"Sampai jumpa kx riza!!! "
"Ah, iy iy"
Akhirnya mereka pergi dan hilang dari pandangan gue. Liat mereka bergandengan, bicara manis plus romantis, gue jadi iri... Tapi apalah daya. Mana ada yang mau sama benconk kramat kaya gue.
Aduh, kok HP gue kagak ada ya, tas gue juga kosong. kayaknya gue nuker tas dalam mobil tadi juga lupa mindahin isinya. Kalo gini sih, gimana mau calling sopir. Nomor telepon rasya juga gue lupa minta. Nasib...
Oh ya guys, jadi untuk kedepannya gue nggak bicara lagi masalah gimana tiap malemnya kita ketemu di cafe. kita bakalan langsung cerita aja lanjutannya terus menerus. Jadi tetep stand by untuk lanjutannya ya.
...Jangan lupa like, vote, share and comen untuk perkembangan cerita ini ya,,,...
__ADS_1
...Thanks and bye!!!...