
"LALU BAGAIMANA DENGAN NASIB KAKAK, APAKAH KALIAN TIDAK MEMIKIRKANNYA" teriak rasya tak terima.
"BAGAIMANA JUGA DENGAN NASIB KAMI, SEBENARNYA KAKAKLAH YANG TIDAK MAU PEDULI" teriak lagi David sambil memukul meja makan.
Dengan nafas yang menggebu-gebu, wajah yang memerah, David melangkah pergi keluar dapur. Tak sampai disitu saja. Devan juga ikut menyusul adiknya.
Sial.... -rasya.
Rasya menggepalkan tangannya. Ia frustasi. Kenapa bisa ia sampai bertengkar tentang adiknya. Tapi semuanya telah terjadi.
Akhirnya rasya berfikir keras bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini. Beberapa kali ia mengerang frustasi karena solusi yang tepatkunjung datang.
Tak ada pilihan lain. Rasya mengambil sebuah kertas yang sudah tersedia di dalam lemari dapur. Menuliskannya beberapa kalimat. Lalu menempelkan nya menggunakan hiasan kulkas beralas magnet.
__________________________________________
Kakak tidak akan berubah pikiran. Kalo memang kalian ingin tetap tinggal, kakak tidak akan memaksa. Jalanilah hidup seperti biasa. Jangan pernah bertengkar. Dan ingatlah untuk merawat rumah ini seperti rumah sendiri. Mama atau kakak akan mengirimkan uang nanti pada kalian untuk memenuhi kebutuhan.
...Kakak sayang kalian:)...
__________________________________________
Setelah menempelkan note untuk adik-adiknya. Rasya bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Rasya kembali ke kamarnya. Membersihkan diri. Bersiap-siap pergi ke kampus
Masalah lagi. Ia merasa tidak enak meminta Devan untuk mengantarkannya ke kampus karena masalah tadi.
Apa sebaiknya aku menunda sampai besok saja. Tapi kertasnya udah aku tempel, aduuuhh -rasya menepuk jidatnya.
Rencananya, Rasya hari ini akan mengundurkan diri dari kampus sebagai siswa. Rasya ingin langsung pergi ke negeri XX dan hidup bersama ibunya.
Tapi naas. Ia lupa tentang dengan apa ia akan pergi ke kampus. Menyuruh Devan mengantarnya? oh tidak. Naik bus kota? ia tidak akan sanggup jika harus berjalan dari rumahnya ke jalan raya dengan tongkat. Ojek online? bentuk aplikasinya saja ia tidak tau, apalagi menggunakannya.
Menunda hingga hari esok?. Adik-adiknya pasti sudah membaca pesan yang ia tempel di kulkas. Jelas-jelas rasya merasa gengsi karena ia sudah berlagak sok akan pergi secepat mungkin dari rumah itu. Rasa ingin kabur dari semua masalahnya emang sudah melonjak.
__ADS_1
Bagaimana jika mereka belum membacanya? mungkin masih ada kesempatan. Lalu secepat mungkin aku akan berbaikan dengan mereka -rasya.
Ide tersebut tidak buruk. Tapi kemungkinannya hanya 50%. Devan dan David pasti akan pergi kedapur untuk sarapan. Meskipun rasya tidak menyiapkan apa-apa. Tapi iya yakin mereka akan memasak mi instan untuk mereka sendiri.
Tidak mencoba, tidak tau hasilnya -rasya meyakinkan diri.
Rasya melihat jam di HPnya. Pukul 06.47. Kemungkinannya naik 76%. Perkiraan mengatakan kalau jam segini masih terlalu awal untuk mereka sarapan.
Rasya mengendap-endap pergi ke dapur. Melihat kesana kemari. Mengintai segala sisi berharap ia tidak di ketahui. Bergerak perlahan dengan tongkat yang diangkat pelan. Akhirnya ia sampai di dapur.
"Tolong ambilkan mangkuk" ucap Devan pada David.
Dengan cepat Rasya menyembunyikan diri di balik dinding. Menarik nafas lega. Untung saja ia tidak ketahuan.
Sekali lagi Rasya mengintip ke dapur.
Astaga, kertasnya sudah ada di atas meja makan. Pasti mereka sudah membacanya -rasya.
Derrrrtttt... Derrrrtttt... Derrrrtttt...
HP Rasya bergetar. Dengan cepat tapi berusaha tidak menimbulkan suara rasya pergi ke ruang tamu. Andaikan saja HP nya itu berdering mengeluarkan suara. Maka tamatlah riwayatnya.
"kamu dimana sekarang, aku di depan rumahmu. Cepatlah bersiap lalu kita ke kampus" terdengar suara elita di sambungannya. Lalu Elita mematikannya secara sepihak.
Dengan cepat Rasya bangun menuju gorden jendela depan rumahnya. Menyibaknya sedikit. Memang benar, ada mobil kak johan di luar.
Dengan cepat pula rasya pergi ke kamarnya. Mengambil tas serta kacamatanya. Lalu keluar menemui temannya.
Dalam hatinya Rasya mengeluh. Berjalan beberapa kilo meter saja di dalam rumah, sudah seperti lari maraton yang jaraknya 32,195 km.
"Hai Rasya" sapa Elita ketika Rasya baru saja keluar dari rumahnya.
Bagaikan angin badai Elita menyembur keluar mobil memeluk Rasya yang masih di ambang pintu yang sudah di tutup.
"Apakah kamu benar-benar akan meninggalkan temanmu ini?" tanya Elita memelas sambil membantu Rasya berjalan ke mobil.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu. Tapi sejauh apapun aku pergi, aku pasti akan kembali" ucap Rasya sambil tersenyum.
"Tapi... kemunduranmu dari kampus cukup dadakan ra" ucap Elita lagi sambil membukakan pintu mobil.
"Pasti dengan kemunduran kamu akan membawa dampak besar bagi kampus, karena salah satu siswa terbaik mereka memundurkan diri" sambung kak Johan dari dalam mobil ketika Rasya baru saja masuk.
"Eh kak Johan. Berhentilah berfikir yang bukan-bukan. Itu tidak mungkin terjadi" jawab rasya sambil terkekeh pelan.
Akhirnya mereka pergi. Sebelum menuju kampus. Rasya sempat meminta kak Johan untuk berhenti di warung makan terdekatnya. Kan kalo mau melakukan sesuatu yang di luar ekspetasi harus mengisi energi dulu. Elita dan kak Johan pun ikut bergabung.
Banyak sekali yang dibicarakan mereka ketika makan. Mulai dari masalah bagaimana rasya selanjutnya, masalah kehidupan sederhana mereka, masa lalu ketika pertama kali kuliah, tak lupa jugacerita atau pantun humor yang dilontarkan Elita.
Rasya begitu senang. Bahkan Elita dan kak Johan menceritakan ketika mereka baru pertama kali bertemu. Tawa Rasya makin menjadi-jadi ketika tau kalau mereka pertama kali bertemu itu di pasar ikan tradisional.
"Saat itu Elita tersesat" timpal kak Johan.
Mungkin ini adalah momen terakhir mereka bersama. Rasya begitu menikmati suasana ini. Dirinya sangan bahagia apalagi ketika melihat Elita dan kak Johan tertawa bersama dirinya.
Sesudah makan. Mereka langsung menancap gas ke kampus. Memang agak sedikit membutuhkan waktu. Tetapi di dalam mobil mereka masih asik mengobrol.
Kak Johan yang memegang setir mobil. Elita di sebelahnya. Dan rasya di jok tengah, duduk di tengah-tengah kursi supaya bisa melihat reaksi tertawa sepasang kekasih dan pemandangan luar mobil dari depan, Seperti itulah posisi mereka.
Sesampainya di kampus, rasya langsung turun di temani Elita. Sedangkan kak Johan membawa mobil ke parkir.
Kling... Kling...
Suara notifikasi di HP Rasya dan Elita, tapi mereka tak menghiraukannya.
Ketika Rasya berjalan menyusuri halaman kampus, banyak sorot mata yang melihatnya dengan tatapan berbagai pengertian. Yang pasti tatapan mereka itu bersifat negatif untuk Rasya.
"Jangan lihat mereka, anggap saja mereka itu adalah fansmu" bisik Elita.
"Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini" ucap rasya ketika mereka sudah berada di gedung utama. Rasya pun mengangguk membiarkan Elita pergi. Ia pasti sudah terlambat masuk kelasnya.
Rasya pun berjalan masuk sendiri ke dalam gedung. Tak menghiraukan orang yang memandangnya hina atau semacamnya.Tapi ia jadi gugup ketika berada di depan ruangan yang akan membuat namnya di hapus dari daftar siswa di kampus tersebut.
__ADS_1
Dada Rasya makin menggebu. Nafasnya tidak teratur. Ia menggenggam kuat tali tas punggungnya dan tongkatnya. Menarik nafas dalam. Ia sudah siap untuk melangkah.
"Apakah kamu yakin untuk mengundurkan diri?. Saya rasa ini bukan kamu yang sebenarnya"