
"Eh, mau kemana kamu?" tanya Elita melihat Rasya bangkit dari duduknya dan pergi.
"Ke kelas. Bentar lagi bakalan mulai kelas Miss Anjel!" teriak Rasya dari kejauhan sambil tersenyum ria melambai-lambaikan tangannya sebentar pada Elita lalu berbalik pergi.
"Lho, bukannya dia mau... Ah, Aku turut senang. Akhirnya dia kembali ke sisiku" ujar Rasya. Berasa pacar aja nih maksud kalimatnya.
"PAK... SATU MANGKOK LAGI YA. TEMENKU NGGAK JADI PERGI" teriak Elita lebih kencang pada pemilik kantin.
Jujur aja. Elita merasa sedih banget pas Rasya bilang ingin pergi. Namun sebagai sahabat yang baik, ia harus suka rela menghargai keputusannya.
Rasya sudah sampai di depan kelas. Dari aura suasana kelasnya sih sepertinya Rasya terlambat. Dengan pelan Rasya membuka pintu. Semua sorotan aneh mengenai Rasya. Rasya juga kebingungan melihat mereka yang terus menatapnya.
"Lain kali, jangan terlambat lagi. Saya tidak mau kelas saya terganggu" peringatan Miss Anjel padanya. Ia bermaksud mengalihkan perhatian semua murid dari Rasya.
"Kamu tidak jadi mundur dari kampus Rasya?" tanya salah seorang siswa ketika Rasya duduk di sampingnya.
"Mundur? siapa bilang?" Rasya membuat ekspresi terheran-heran seolah-olah ia tidak mengetahui apa-apa. Padahal di dalam hatinya sudah bergejolak ingin tertawa ria.
Kenak deh lu berita boong. Hahaha -Rasya
"Ouh, ngga. Cuma nanya doang"
Siswa tersebut pun mulai berbisik-bisik ke teman disampingnya tentang berita di group ternyata cuma hoax. Hingga satu kelas mengetahuinya.
"Diam. Ini bukan kelas gosip" Bentak Miss Anjel saat kelas mulai riuh.
Kelas pun di mulai. Entah mengapa Rasya merasa lebih senang dengan berita hoax tersebut. Terlebih lagi Miss Anjel tidak terlalu menyudutkannya lagi dengan seribu pertanyaan seperti dulu.
Saat kelas usai Rasya duduk sebentar. Menunggu semua siswa yang lain keluar. Dengan kakinya yang cedera tidak memungkinkan ia berjalan dengan cepat dan berdesakan seperti yang lainnya.
Ia menelungkupkan wajahnya ke dalam lipatan tangan di atas meja. Bingung setelah ini akan seperti apa nasibnya.
"Apakah keputusan kamu berubah?" tanpa ia sadari miss Anjel sudah berdiri bersandar di meja sebelahnya dengan tangan yang disilangkan di depan dada.
Dengan cepat Rasya bangun dan langsung menatap siapa yang berbicara kepadanya.
"Sepertinya begitu Miss" Ucap Rasya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Baguslah. Akhirnya kamu tau pilihan yang tepat. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa datang pada saya. Saya akan membantu kamu jika saya bisa. Tapi saya tidak akan berubah dan akan terus menyudutkan kamu setiap dalam pertemuan kelas kita" Miss Anjel berlalu. Meninggal Rasya sendirian.
Oh bagaimana bisa Miss nya bertindak keren di setiap saat. Tapi yang lebih mengherankan lagi adalah di usianya yang hampir tua itu, ia belum menikah. Apakah kecantikan bukan segalanya?
Rasya terus menatap kepergian Miss Anjel. Hingga bayangannya hilang. Ia merenung. Apakah keputusannya tepat, atau malah sebaliknya.
Meskipun begitu. Ia sudah memutuskan. Jadi ia harus berusaha keras supaya keputusannya itu tidak mengecewakan.
Ia bangun dari duduknya. Mengambil tas dan tongkat. Lalu pergi meninggalkan kelas.
"Halo"
"halo, dengan siapa ini? " suara di seberang sana.
"Gue, Rasya. Lagi dimana? masih di kampus?" Rasya memperkirakan kalau temannya yang satu ini pasti masih di kampus.
"Ouh.... nggak di kosan, emangnya ada apa?"
"Gue nemu maskawin. Lu mau gak periksain kira-kira asli ni atau bukan? "
"Hahaha a*jim emang, lu salah alamat. Hahaha. Mending lu bawa ke dukun gih"
"Nggak usah. Datang sini trus ke kosan gue, soalnya lagi mager nih"
Apa? dia barusan nyuruh gue ke kosan dia? nggak deh. - Rasya.
"Besok gimana?"
"Untuk beberapa hari kedepan gue ada rencana penting, jadi kayaknya nggak bisa"
"Ouhhh. Yaudah gue kesana sekarang" Rasya gerogi saat mengatakannya.
"Oke"
Rasya merasa khawatir dan gugup jika ia harus pergi rumah teman SMA-nya, Satria. Sekarang masih satu kampus tapi beda jurusan. Kalau Rasya jurusan teknik Fisika. Maka temannya yang satu ini jurusan IT.
Dulu satria dengannya tidak terlalu dekat. Bisa di bilang teman kelas baco*an. Alias salah teman nongkrongnya pas lagi gada guru dalam kelas.
__ADS_1
Rasya berjalan ke luar kampus. Menaiki bus untuk pergi ke rumah temannya.
Sesampainya di depan gerbang. Jantung rasya berdegup lebih kencang. Bagaimana tidak. Kos-kosan di sini isinya cowok semua. Bahkan dari depan gerbang Rasya udah bisa melihat para cowok-cowok berlalu lalang.
Kos-kosan disana beragam. Ada yang bentuknya seperti gedung (seperti asrama lah), ada yang seperti perumahan. kapasitas dan fasilitasnya juga beragam. Ada kamar berisi satu orang hingga empat orang.
Hebatnya lagi, disana nggak ada peraturan sama sekali seperti kos biasa pada umumnya. Termasuk para cewek-cewek juga bisa berkunjung kesana, bahkan tiap hari.
Dengan tegar Rasya melangkah memasuki pekarangan kos. Menutup dirinya dengan topi hoodie-nya. Berjalan menunduk sambil merapalkan kalimat-kalimat suci supaya tidak di goda oleh buaya.
"Dek, mau kemana?"
Awalnya jantung Rasya berdentak tajam seketika. Tapi setelah beberapa saat kemudian ia lebih tenang karena mengenali suara tersebut. Rasya pun mendongak.
"Dek apaan, hah. Tumben nungguin gue di luar. Biasanya sih lu masih molor di dalam kosan sana"
"Hahaha. Emangnya siapa sih yang mau biarin temennya berjalan dengan tongkat sendirian disini. Yang ada nanti malah makin di gangguin karna jalan kamu lambat. Kamu mau?" timpal Satria sambil tersenyum.
"Siapa tu sat?" tanya salah satu cowok yang baru aja lewat. Sepertinya teman satria.
Tak ingin menjawab. Satria langsung saja menarik topi hoodie-nya Rasya sambil tersenyum ke arah cowok tersebut seolah-olah membanggakan kehadiran Rasya disana. Hingga tampaklah kepala serta wajahnya Rasya dengan jelas. Meski rambut ikatnya agak berantakan sikit.
Rasya kaget dengan perlakuan spontan tersebut. Lalu menatap satria dan cowok itu secara bergantian.
"Eh, siswa kebanggaan sekolah ternyata. Yuk mampir dulu ke kosan abang sekalian kita kenalan?" goda cowok itu. sedangkan Rasya hanya tersenyum canggung.
"MODUS" gerutu satria sambil memapah Rasya pergi.
"Bentar ya!" ucap Satria sambil melepaskan tangannya dari memapah Rasya lalu membuka kunci pintu. Setelah pintu terbuka barulah mereka masuk.
"Kok kamar lu gelap banget ya?" Rasya berpikiran aneh saat sudah memasuki kamar kosan Satria yang berbentuk perumahan dengan beberapa kamar di dalamnya.
"Masuk aja" satria mulai duduk di kursi komputernya, dan hanya itulah satu-satunya cahaya yang ada di dalam ruangan itu.
"Gue idupin lampu ya?" pinta Rasya ketika melihat tombol sakelar di samping pintu masuk.
"JANGAN, JANG- "
__ADS_1
TAPPPH
Lampu menyala.