
"Halo, tolong periksa semua tentang Restoran Barat di jalan X. Jika bermasalah, segera laporkan ke pihak kepolisian. Saya yakin ada hal janggal disana"
"Baik" -
Rasya mematikan teleponnya secara sepihak. Alis Rasya terangkat sebelah, begitu juga dengan senyumannya yang menandakan akan ada hal tak terduga nantinya.
Flashback on
"Bukankah ini ulahmu? jangan pernah menyalah gunakan kekuasaan sesukamu hanya untuk balas dendam" sarkas Dego sambil terus melihat bos restoran yang terus diseret polisi.
"SAYA TIDAK BERSALAH. SAYA BENAR-BENAR TIDAK BERSALAH. LEPASKAN SAYA!!! AAAAKKKHHHH"
Hingga akhirnya pintu tertutup meninggalkan mereka berdua dalam ruangan.
"Kejahatan memang harus dihapuskan pak. Lagi pula lima tahun yang lalu saya juga bekerja disini jadi saya tahu hampir seluruh kejahatannya" ujar Rasya lugas.
Sebuah kilauan terpancar pada kacamata hitam yang ia pakai. Segera saja Rasya mengambil kertas di atas meja yang di tanda tangan tadi lalu merobeknya dengan kasar hingga kecil dan melemparnya ke atas.
Ini bukan kemenangan dalam pertarungan, tapi karma -Rasya.
...***...
Hujan sudah mulai reda. Rasya bernafas lega lalu menyenderkan kepalanya kebelakang di kursi mobil. Ia mengeluarkan sedikit tangannya untuk merasakan sedikit angin lembab malam yang menyegarkan.
Dego sengaja membuka kepala yang Lama-kelaman terlipat lalu masuk ke bagian belakang mobil sehingga langsung menampakkan bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Mata Rasya tak pernah berkedip memperhatikan setiap keindahan dari bintang. Sudah lama ia tidak menikmati hal ini. Rasanya begitu bebas dan lega. Ia memejamkan matanya menikmati angin yang membuat rambutnya berterbangan. Sesekali ia menghirup udara segar disana. Diam-diam Dego memperhatikannya.
Ketika mobilnya melintasi jembatan panjang. Ia juga ikut menikmati air terjun berwarna dari samping jembatan yang bergerak sesuai irama membuat suasana jadi lebih mengesankan.
Ia jadi teringat, andai ibunya melihatnya ketika ia sudah menggapai impiannya seperti ini. Ibunya pasti akan sangat bangga. Ia juga rindu pujian dari ibunya. Tapi sayangnya, beberapa tahun yang lalu mereka hilang kontak. jadilah ia ibu jadi-jadian untuk ketiga adiknya.
"AAAAAKKHHH!!!!AAAAAAKKKKKHHHHH!!! I MIIISSS YOUUUU" Rasya berteriak sepanjang jembatan lalu tertawa tak jelas.
"Apakah kamu tidak malu dengan bosmu ketika bersikap aneh seperti ini?!" Dego fokus dengan setirnya. Lalu sekilah melihat Rasya. Disana tampak dengan jelas Dego melihat raut wajah sedih dari Rasya.
__ADS_1
"Kenapa saya harus malu. Orang anda saja menganggap saya sebagai anaknya, Berarti anda adalah kakak saya. Ini hal yang lumrah di antara saudara"
"Tidak, saya tidak mau punya adik seperti kamu. Merepotkan"
Rasya tersenyum paksa mendengar penuturan orang paling menyebalkan di dunia versinya.
Drrrrttttt Drrrrttttt Drrrrttttt
Rasya mengangkat telpon dengan malas lalu menyalakan speaker karna Devan yang menelponnya.
"Kak" panggil Devan dari seberang sana.
"Iyaaaa"
"OIIIII MAK LAMPIIEEERR. KAPAN LO PULANG"
Buru-buru Rasya mematikan sambungan teleponnya karena suara David yang mampu mengguncang seisi kota. Ia turut memperhatikan Dego yang memandang teleponnya dengan raut bingung.
"Maafkan saya pak. Maafkan saya" Rasya juga sedikit gugup karena takut kemarahan bosnya itu keluar.
"Baik pak"
Dego bergegas memasuki hotel. Sementara Rasya masih di mobil menelpon adiknya hendak mengeluarkan sumpah serapahnya kepada mereka.
Setelah selesai dengan urusan adiknya ia juga masuk ke hotel bintang lima tersebut. Bukannya membantu atau mengekori Dego, ia malah langsung menuju belakang hotel yang terdapat kolam renang besar disana yang tak banyak orang, hanya beberapa pasangan yang bersantai.
Ia langsung duduk di salah satu kursi yang ada di samping kolam. Meletakkan berkas-berkas. Ia Merebahkan kepalanya di atas meja, sesekali mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya menandakan ia bosan.
"Aku baru tau ternyata kamu suka pemandangan seperti ini" ucap Dego. Sorot matanya menunjukkan ke arah tiga orang cowok yang tengah berenang disana.
Tak ada jawaban dari Rasya hingga Dego mengambil salah satu map paling atas yang berisi segala jadwal dirinya.
"Buang saja ini". Dego langsung melempar map tersebut ke dalam kolam renang.
Sadar dengan kelakuan Dego yang tidak benar, Rasya langsung mengangkat kepalanya dan mendapati mapnya mengapung basah kuyup lalu tenggelam.
__ADS_1
"Paaakkk" Rasya menatap mapnya nanar.
"Tidak mungkin kamu tidak menyalinnya di komputer". Sebaliknya, Dego malah meletakkan ipad di depannya. " Pakai ini saja supaya lebih mudah. Lagi pula saya tidak mau punya sekretaris yang kulot masih menggunakan barang manual" lanjut Dego memalingkan wajahnya.
"Wahhhh, apakah ini model terbaru?!. Tidak sia-sia saya menemani bapak keliling segala toko seharian. " mata Rasya berbinar, segera saja ia membuka kotak ipad -nya.
"Bapak memang yang terbaik" ucap Rasya sambil mengacungkan dua jempolnya. Dego tampak membusungkan dadanya, berlagak memperbaiki jasnya seolah-olah mengakui perkataan Rasya.
"Orang bilang bapak itu dingin, ternyata bapak cerewet hahaha. Orang bilang tatapan bapak seperti maut. Tapi saya penasaran, maut seperti apa yang mempedulikan hal-hal kecil seperti ini?!". Rasya mulai merenung saat mengangkat plastik yang menempel di atas ipad.
Pandangan Rasya tentang Dego kini tidak seburuk sebelumnya. Meskipun punya mulut pedas ataupun sikap keterlaluan, tapi kadang ia juga memperlakukannya dengan baik.
"Kamu yakin dengan perkataan kamu? padahal baru sehari kamu mengenal saya"
ujar Dego lalu duduk di depan Rasya.
"Saya benar-benar yakin pak. Saya tidak akan mengubah argunen saya tentang bapak" jelas Rasya dengan serius bahkan sambil memukul-mukul meja dengan tangannya. "Sebagai ganti dari jus jeruk bapak tadi, saya juga akan membelikan
Spesial Americano yang terkenal di dekat sini" lanjutnya dengan penuh semangat lalu beranjak pergi.
"Saya memang agak sedikit cuek. Tapi entah kenapa semenjak saya bertemu kamu saya jadi sangat senang menceramahi kamu, memarahi kamu,,,,. Apalagi jika kamu kesal, raut wajah kamu itu sudah seperti hiburan bagi saya"
Dego tersenyum puas ke arah Rasya. Tidak ada sedikit pun Rasa bersalah di wajahnya. Rasya yang mendengar hal tersebut sontak jalannya terhenti. Ia mencerna sedikit perkataan Dego. Ia menatap Dego yang ada dibelakang, lalu membalas senyum Dego dengan senyum kecut.
Menyesal sudah Rasya memuji Bosnya.
Tak ingin memperpanjang masalah. Rasya kembali berjalan menuju Cafe yang tak jauh dari hotel tersebut. Ia sangat tau daerah ini karena ia pernah tinggal di sekitaran sini. Apalagi ia tadi sempat melihat cafe langganannya dulu sudah menyediakan menu baru. Harus langsung dicoba -Rasya.
Ketika pulang ia sudah menenteng dua minuman dan sekantong kresek berisi Cheesecake menu barunya. Sebuah senyuman tak kunjung pudar sejak ia memasuki cafe.
Padahal kalo dulu ia sudah berjalan berjingkrak-jingkrak saking senangnya, namun tetap ia pertahanan keprofesionalannya karena situasinya berbeda.
Tapi ketika ia tiba di depan hotel, seseorang mencegat bahu kanannya. Ia menoleh sebentar dan sudah mewanti-wanti akan langsung berlari setelah menepis tangannya.
"Rehan?"
__ADS_1