Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Alat Penyadap


__ADS_3

Lampu menyala.


Rasya terkejut melihat kamar Satria. Ia bahkan sempat terpaku sebentar sebelum melihat kesana kemari, menyusuri isi kamar temannya.


Kotor -Rasya


Itulah satu-satunya kata yang timbul di benaknya.


Baju berserakan, bahkan sulit di ketahui mana yang bersih dan mana yang kotor. Lemari terbuka dengan baju yang sudah berkerumunan keluar. Kasur berantakan dengan segala campuran peralatan di atasnya. Lebih-lebih lagi lantai, tidak bisa di definisikan lagi.


Satria memijat kepalanya yang tidak sakit sama sekali. Lalu kembali pada komputernya.


"Kenapa sampai kotor begini?" Tanya Rasya sambil berjalan mendekati meja komputer Satria.


"Aku putus" sela Satria sambil menyodorkan minuman soda dengan tutup kaleng sudah dibuka yang tadi diambilnya dari kulkas mini di kamarnya.


"Kenapa?" tanya ketika ingin meminumnya.


"Dia selingkuh"


"Trus apa hubungannya?"


"Dialah dulu yang datang ke kamar ini untuk membersihkannya. Bahkan setiap hari" ucap Satria lirih.


Sebenarnya Rasya merasa iba dengan wajah Satria yang mulai sayu dan redup. Tapi bod*h amatlah,,, siapa juga yang nyuruh pacarnya buat bersihin kamarnya tiap hari. Jadi gak betah kan?!


"Trus kapan mau dibersihin? mau nunggu sampe kiamat? " timpal Rasya.


" Ya nggak lah " bantah cepat sang keSatria.


"Rencananya sih mulai besok sampai beberapa hari kedepan aku mau tamasya di beberapa tempat. Buat nyari yang baru githuuu, yang lebih sethiaaa" ledek Satria.


Kayaknya, ada bau-bau nyindir nih -Rasya.


"Mau ikutan gak?! kan lagi jomblo jugak" tambah Satria.


UHUUUUUUKKHHH


Rasya terbatuk hingga air dalam mulutnya terpancur ke arah komputer di sampingnya.


Satria mematung.


"Kamu bilang apa? jomblo? jelas-jelas aku masih singgle" timpal lagi Rasya sambil memukul keras lengan Satria.


Komputer gue kena ciprat, gue kena sambar, hadeuhhh -Satria.


Satria hanya mengelus sebentar lengannya, lalu mengelap komputer yang ada di depannya sambil terus berdo'a supaya komputernya tidak apa-apa. Lalu melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


"Hahaha " Satria tak marah. Ia menyadari perubahan pada sikap Rasya, dan itu membuat ia senang.


"Kamu udah berubah ya ra" ucap Satria sendu.


Rasya mengernyit.


"Selama Dua tahun ini kamu kalo diliat sekilas, mirip orang culun. Kalo diperhatikan, mirip orang judes. Kalo diajak bicara, mirip orang sibuk. Aku bersyukur, ternyata musibah yang kamu alami membuat kamu kembali menjadi pribadi seperti dulu lagi, jangan berubah lagi ya" Satria tersenyum sendu sambil mengotak-atik keyboard komputernya.


Hening sejenak. Rasya terdiam atas apa yang dikatakan Satria barusan. Sepertinya ini memang benar apa yang dikatakan Satria, ia berubah.


"Tapi nggak sepenuhnya berubah juga, buktinya kita tadi masih berbicara formal, Aku-kamu. Seharusnya kan kayak dulu, lo-gue " Satria.


Rasya hanya melirik.


"Kayaknya sih, cuma lo aja yang nggak berubah. Katanya ada urusan penting untuk beberapa hari kedepan, tapi ternyata cuma mau nyari pacar. DASAR PEMBOHONG" balas Rasya.


"iya deh, iya deh. Coba dengerin" Satria antusias. q


"Apakah kamu benar-benar akan meninggalkan temanmu ini?" tanya Elita.


"Bisa dibilang begitu. Tapi sejauh apapun aku pergi, aku pasti akan kembali" ucap Rasya.


"Tapi... kemunduranmu dari kampus cukup dadakan ra" ucap Elita lagi.


Rekayasa ulang percakapan antara Rasya dan Elita saat ingin pergi ke kampus tadi pagi sekarang terdengar dari komputer.


Rasya memandang Satria sinis. Bukankah berbicara aku-kamu lebih sopan?


"Ada sih, tapi gue juga nggak yakin. Soalnya dia nggak pernah jahatin gue"


"Belum kali tu"


"Ahhh, nggak usah dipikirin. Makasih buat bantuannya. Besok gue traktir lu ya" Rasya menyudahi percakapan lalu beranjak dari tempatnya.


"Nggak bisa ra. Kan udah gue bilangin, besok gue ada urusan. Mending gini aja"


Satria bangun dari kursinya lalu mendudukkan Rasya di kursi tersebut. Satria mulai mengutip baju yang ada di lantai, kasur, gantungan lalu memasukkannya ke dalam tas toko.


"Sebagai imbalannya, lu cici baju gue aja ya" timpal Satria sambil meletakkan tas toko di samping komputer.


"Lu gila ya. Masak iya gue mau cuci baju lu dengan kaki ginian"


TTHHAAAMMMM


Rasya memukul meja pelan dengan uang di bawah tangannya.


"Udah, bawa ke loundry aja. Gue mau pulang"

__ADS_1


Rasya buru-buru keluar kamar takut ada imbalan lain yang akan dilontarkan Satria. Tapi saat baru saja berada di pintu kamar. Rasya membeku.


"Hahaha, lu apaan sih"


"kegeeran tuh. Hahaha"


"Iya. Bakalan salting"


Berbagai suara meriah para cowok dari ruang tamu kos merasuki telinga Rasya. Rasya menelan ludah. Membalikkan badannya menatap Satria sambil tersenyum cengengesan. Yang di tatap cuma cuma menaik-turunkan alisnya seolah-olah menantang lawannya.


"Gimana? orang nggak ngapa-ngapain kok udah main kabur aja. Yuk gue anter" ujar Satria.


Segera saja Satria mengambil jaket di lantai dan kunci mobil di meja komputer lalu menarik lengan Rasya keluar kamar.


Rasya menutupi dirinya dengan topi sweater sambil mengikuti langkah Satria di depannya.


"Siapa tu Sat?" tanya salah satu cowok di ruang tamu.


" Ciee ciee ciee "


"Cieeeeee"


Rasya semakin tegang karena ia dan Satria menjadi pusat perhatian saat mereka memasuki ruang tamu


Satria tak menjawab. Ia terus berjalan sambil menyombongkan dirinya.


"Siapa lagi kalo bukan kesayangan fakultas hukum" sahut salah seorang di antara mereka. Sepertinya itu cowok yang di temui Rasya ketika ia datang kesana tadi.


"Kenalin sepupu gue. Rasyandra Alita" ucap Satria dengan bangga sambil menarik topi sweater Rasya.


Rasya terkejut. Bagaimana bisa dengan santainya Satria memperlihatkan dirinya di depan para buaya yang berjumlah sepuluh hingga lima belas orang.


"Hy rasya. Kenalin, aku Rudi. Kesayangan fakultas Teknik Mesin" ucap cowok lainnya yang maju kedepan sambil menjulurkan tangannya di depan Rasya.


Emangnya,,, kelebihan gue apa sih? Kok gue kayak dewi kecantikan aja di sini? -Rasya.


"Nggak udah PDKT. Kita lagi buru-buru" timpal Satria lalu menarik lengan Rasya lagi menuju parkiran.


"Kok lo tegang banget sih? kayak bakalan jadi santapan buaya aja!" ledek Satria saat membukakan pintu mobil untuk Rasya.


"Ya tegang lah, jumlahnya aja udah bikin gue pingsan" jawab Rasya sambil masuk ke dalam mobil.


"Idiiiihhhh, sok polos lu. Kalo masalah jumlah itu belum seberapa. Lagian banyak kok cewek-cewek yang dateng kesini malah tebar pesona. Bukannya sembunyi kayak lu" ucap Satria lagi ketika duduk di bangku setir.


"Lah, kenapa harus tamasya kalo emang di kosan lu banyak lalat cewek" ledek Rasya.


Satria memandang Rasya sinis.

__ADS_1


"Namanya juga lalat. Bukannya membantu tapi malah mengganggu. Alat penyadapnya ketinggalan ra" Satria terkejut baru ingat kalau alat penyadapnya masih menempel di kabel komputer.


__ADS_2