Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Di pecat


__ADS_3

"Kemarin..."


"Kemarin kenapa rasya? " tanya elita ketika rasya terdiam sesaat dan menunduk dengan ekspresi sedih.


"Aku menghancurkan penjamuan walikota di tempatku bekerja"


"Itu saja yang ingin kamu katakan, ayolah... aku ini temanmu... "


Kemarin malam.


Suasana kota tak kalah ramai ketika malam hari. Disaat inilah mereka menghabiskan waktunya untuk beristirahat, mencari hiburan, atau sekedar jalan-jalan menghilangkan lelahnya saat bekerja di siang hari.


Tapi berbeda untuk sebagian orang. Termasuk rasya. Ketika malam hari, ia selalu pergi ke sebuah restoran besar di kotanya. Tentu saja untuk bekerja. Semenjak ayahnya jarang memberikan uang jajan kepadanya dengan alasan usahanya bangkrut. Diam -diam rasya bekerja paruh waktu.


Awalnya rasya ragu-ragu untuk melakukannya. Ia menganggap bahwa bekerja disaat masih mengenyam pendidikan adalah hal bodoh. Memang uang itu menggiurkan. Tapi bukankah lebih baik jika menginvestasikan waktu tersebut untuk belajar. Baru setelah itu bekerja tanpa beban pelajaran dengan hasil yang memuaskan.


Tapi segera ia buang pemikiran tersebut mengingat kondisinya yang tak sedang mendukung. Ia pun mendapatkan pekerjaan yang cocok dengannya yaitu hanya bekerja ketika malam. Semua itu berkat hasil tinjauan dari pacar abadinya elita, Johan.


Rambut yang diikat dengan poni yang menutupi seluruh bagian dahinya. Baju ala pelayan dengan rok sempit selutut. serta sepatu hak yang tidak terlalu tinggi melekat padanya.


Suasana pun makin riuh ketika rasya memasuki restoran. Banyak pelayan berlalu lalang membersihkan semua ruangan karena tempat itu akan segera dibuka. Tapi malam itu suasananya lebih sibuk dibandingkan malam sebelumnya.


"Rasya cepatlah, sebentar lagi kita akan kedatangan walikota. Bos ingin restoran kita terlihat sempurna, sekarang kita akan diberikan interupsi" teriak kx dika. Umurnya masih muda, tapi dia sudah berhasil menjadi janda dua anak.


"Baiklah"


Dengan cepat rasya pergi ke bagian dapur. Disanalah biasanya mereka akan diberikan arahan untuk kinerja yang baik.


"Ingat! pengunjungan Walikota saat ini sangat berpengaruh bagi perkembangan restoran kita ini, KALIAN MENGERTI" Tegas sang bos.


"IYA BOS" jawab semuanya.


Dari interupsi tadi dijelaskan bahwa bukan hanya walikota yang akan datang, tapi juga para pejabat lainnya. Dan rasya terpilih sebagai salah satu orang yang akan melayani mereka. Namun karena kedatangan mereka tiba-tiba ditunda sebentar, Akhirnya rasya harus terlebih dahulu melayani pelanggan biasa.


"Antarkan ini ke meja nomor 83" ucap salah seorang pegawai yang bertugas mengatur kinerja pelayan pada rasya.

__ADS_1


"Baik"


Seperti biasa, rasya akan membawanya dengan profesional ke meja yang di tuju. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia terus menyimak orang yang ada di meja tujuannya.


Tangannya bergetar. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia seperti mati rasa padahal ia sudah berada di tengah kerumunan orang-orang. Tujuannya hanya tinggal beberapa meter lagi saja. Tapi kakinya tidak bisa melangkah seolah-olah mengikuti kata hatinya yang ragu-ragu.


Ingin sekali ia kembali untuk mengambil pesanan dari orang lain saja. Tapi ini restoran besar. Pelayan hanya menjalankan. Tidak berhak mengatur. Tidak mungkin juga berjalan, karena setelahnya situasinya pasti akan kacau.


Ia memejamkan matanya. Menggigit bibirnya. Kira-kira apa yang harus dilakukannya setelah ini.


"Rasya, kamu kenapa?"


Rasya tersentak kaget. Saat dirinya tidak ingin diketahui keberadaannya oleh beberapa orang. Tiba-tiba saja namanya diteriaki tanpa aba-aba. Ia sungguh akan menggila dengan keadaannya saat ini.


Kembali dilihatnya meja 83. Rasya bersyukur karena tidak ada reaksi sedikitpun dari penghuni meja tersebut.


"Kak dika, tolong bawakan ini ke meja itu ya" kata rasya sambil menunjukkan meja yang ditujunya.


"Oke, tapi... " ingin sekali kx dika menanyakan keberadaannya, tapi rasya sudah terlonjak pergi dengan cepat.


Ia ingin sekali mencuci wajahnya. Tapi hak itu tak mungkin ia lakukan karena ia takut bedak dan lipstiknya akan luntur. Tidak mungkin kan ia keluar kesana melayani orang-orang tanpa make up sedikit pun.


Apakah tadi itu ayah dan selingkuhannya? -rasya.


Rasya terus saja menatap pantulan dirinya di cermin. Ia kembali mengingat apa yang tadi dilihatnya. Wajah wanita itu, wajah selingkuhan ayahnya dengan jelas ia bisa melihatnya.


Rambut disanggul tinggi dan besar. Make up hampir menutupi seluruh bagian wajahnya. Gaya berbicara yang sok anggun. Pakaian serta perhiasan yang mahal serta mencolok mengelilingi tubuhnya. Dari umurnya terlihat lebih tua dari umur ibunya, tapi karena kesan make upnya lah yang membuat ia terlihat lebih muda.


DDDRRRRRREEEETTTT


HP rasya bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya.


"Rasya, kamu dimana?, tamu kehormatan sudah datang, cepatlah ke dapur" suara kak dika seberang sana


"Ya, baiklah, aku akan datang sekarang"

__ADS_1


HEEEEKKKKKKKSSS


Rasya terlonjak kaget ketika orang yang baru saja diingatnya tadi sekarang berada tepat di depannya.


"Kenapa kamu seperti itu, memangnya ada yang salah dengan wajah saya" bentak selingkuhan ayahnya.


"Ti-tidak buk"


"APA, kamu memanggil saya buk?, panggil saya nyonya, dasar anak kurang ajar"


"I- iya nyonya, maafkan saya" ucap rasya sambil menunduk, tak berani menatap orang yang baru saja di panggilnya nyonya tadi. Lalu kabur.


Ketika sampai di dapur. Langsung saja ia dikerahkan untuk membawa sebuah meja kecil yang ada rodanya di bawah (maap ya gaess, eke lupa namanya pas rasya cerita, hehehe). Berbagai makanan mewah ada di atasnya.


Rasya akan membawa makanan tersebut ke ruang VIP yang ada di sana. Tapi dalam perjalanan. Ia terus saja memikirkan apa yang tadi dilihatnya. Hatinya masih berkobar tak karuan. Sedikit demi sedikit ia pun mulai gelisah.


"Maaf ya, tapi bos baru saja menyuruh saya untuk membawa makanan ini ke ruang VIP" rasya kembali dikagetkan dengan kehadiran seseorang di depannya.


"Baiklah, terimakasih! "


"Iya, Sama-sama"


Akhirnya tugas tersebut perpindahan ke tangan orang lain. Rasya merasa sedikit lega karena makanannya dibawa oleh orang lain. Artinya ia tidak harus melayani walikota yang mungkin beresiko.


Ketika perjalanan pulangnya ke dapur. Ia kembali berpas-pasan dengan kak dika. Cuma beliau seorang yang dekat dengannya di restoran ini.


"Rasya, kok kamu tadi tiba-tiba gugup sih tadi" tanya kak dika yang tentu saja pertanyaannya mengarah kepada meja nomor 83 tadi.


"Ah, nggak kok kak, mungkin karena aku terlalu gugup untuk melayani pak walikota, tapi kakak dengar nggak apa yang mereka bicarakan?" tanya rasya penasaran.


"eummm... kalo soal itu sih kakak cuma denger tentang bar... bar... alah pokoknya bar yang dekat dengan hotel XX"


"Ooo yayaya" rasya hanya menjawabnya dengan singkat tak ingin terlihat kepo.


"HEI KAMU, bukannya tadi bos yang menyuruh kamu untuk membawakan makanan keruang walikota, KENAPA MAKANANNYA TIDAK SAMPAI HINGGA SEKARANG HAHHH"

__ADS_1


__ADS_2