
"Halo sat!" Rasya antusias.
"Gue juga kagak tau darimana video tu dateng. tiba-tiba aja udah ada di komputer gue. Makanya gue kirim ke lu. Udah dulu ya. Gws. Entar gue jenguk. Bye"
Mencurigakan. Gelagat menghindar.
"Idiiiihhh, tau aja mau ditanya apa" ketus David. Seisi ruangan nampak menyetujui argumennya.
"Kok belum pada tidur?" Devan baru saja sampai.
"Habis dari mana?" tanya Rasya.
"Dari rumah. Ambil perlengkapan kakak" Rasya manggut-manggut melihat Devan meletakkan koper disamping nakas.
"Kak Elita sama kak Johan boleh pulang. Makasih ya karena udah nemenin kak Rasya. Lagian ini kan udah malem. kalian harus tidur" ucap David sopan tak lupa muka datarnya.
"Senyum dikit dong. Mana ada orang berterima kasih muka biawak. DATAR" David menarik kedua sudut bibir Devan hingga terbentuk senyuman. Devan menatapnya sinis.
"Nggak apa-apa. Lagian ini salah aku kok. Kalo bukan karena aku yang membentak Tina, mungkin Rasya nggak akan kayak gini"
"Iya. Biar kami aja yang rawat Rasya malam ini. Kalian pulang aja" tawar kak Johan.
"Nggak usah repot-repot. Biar kami aja. Udah biasa kak" kali ini David yang menyahut dengan ramah.
Perdebatan kecil pun terjadi hingga akhirnya mereka semua terlelap disana. Devan dan David tidur di bangkar sebelahnya. Sedangkan Elita dan kak Johan tidur di kasur gulung di bawah yang sengaja di sediakan rumah sakit.
Mereka tadi sempat beradu argumen masalah tempat tidur. Awalnya saran Devan adalah Elita tidur sendirian di bangkar. Biar mereka bertiga aja tidur di bawah. Menghargai wanita gitu lho...
Tapi Elita menolak. Kasur gulung tersebut cukup kecil untuk tiga orang. Akhirnya Elita dengan kak Johan. Tidak mungkin ia tidur dengan David atau Devan. Biasalah, yang berkepemilikan pasti cemburuan.
Jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Rasya terkekeh melihat Elita yang menyelimuti kak Johan. Padahal tadi dia sempat mencibir pacarnya supaya tidak macam-macam padanya.
Kak Johan sih kalem-kalem aja. Bahkan ia menolak satu selimut dengan Elita. Salah Devan yang tak membawa lebih.
Rasya melirik ke jendela. Cahaya bulan masuk ke celah-celah kaca. Lampu sengaja di matikan karena Rasya tidak bisa tidur dengan cahaya lampu sehingga mereka hanya memanfaatkan cahaya bulan.
Mungkin bagi sebagian orang pasti akan merasa ketakutan. Tapi bagi Rasya hal ini lebih menenangkan karena bisa menikmati langit malam.
Ia memandang Devan yang sudah beberapa kali memperbaiki posisi tidurnya. Tentu saja karena David terus ngeloyor dari tadi. Terus menganggap Devan sebagai gulingan.
Rasya menunduk. Menatap selimut lalu menggoyang-goyangkan kedua kalinya pelan. Ia terkekeh. Bagaimana bisa ia masih hidup.
__ADS_1
Tabrakan yang terjadi beberapa waktu yang lalu cukup keras. Seharusnya ia sudah menyatu dengan tanah sekarang, tapi malah terus-terusan berada di rumah sakit. Aneh. Entah dari mana keajaiban itu datang.
Seharusnya ia sudah mengalami koma, hilang ingatkan, patah tulah atau semacamnya karena tabrakan tersebut. Atau bisa saja langsung tewas di tempat kejadian. Rasya menginginkan hal tersebut.
Lelah rasanya menjalankan hidup yang tak bersimpati padanya. Ia tak mau menyalahkan Tuhan. Karena Tuhan pasti punya rencana baik untuk semua orang.
Matanya terpejam sebentar. Baru kemarin malam ia absen dari rumah sakit. Sekarang sudah disana lagi.
Rasya menitikkan air mata tanpa sadar. Ia tersenyum tak percaya menyadari bahwa dirinya lemah. Membuat orang lain kesusahan merawat dirinya.
Disaat-saat seperti ini Rasya merindukan Rehan. Sesosok pengkhianat yang hadir dalam hidupnya. Ia merindukan kepedulian Rehan dulu padanya.
Gila. Gue gila. Pokoknya harus lupain dia -Rasya.
Rasya menepuk dadanya yang sesak. Menangis pilu sendirian di tengah malam. Hingga ia juga terlelap dalam keluh kesahnya.
...***...
Beberapa minggu telah berlalu. Suasana kali ini lebih ramai karena bangkar di sebelahnya sudah memiliki pasien. Banyak orang terdekatnya juga yang mengunjunginya.
Mulai dari Teman SMA-nya, Teman seperkuliahan, dan lain sebagainya. Tak lupa Miss Angel yang selalu menjadi motivator dadakan.
"Nak Rasya" Panggil pasien di sebelahnya.
"Nenek mau tidur. Nanti kalau datang cucu nenek bilang suruh bangunin. Bilang jangan sungkan-sungkan. Soalnya pacarnya mau di kenalin sama nenek. Kasian kan kalo datang nenek tapi nggak berkomunikasi!?"
"iya nek! Mimpi indah ya nek!" Rasya kembali mengingat nasibnya. Ia rindu Rehan.
Nenek disampingnya cukup baik, begitu juga keluarganya. Mereka sering bertukar cerita dan tertawa. Rasanya indah ketika ada orang yang peduli dan senasib dengan kita.
"Permisi!" Satri membuka pintu diikuti seorang wanita di belakangnya.
Rasya tersenyum. "Ini... pacar barunya?" ramah Rasya.
"Iya, perkenalkan saya Anneth. Salam kenal!"
"Iya.Salam kenal!" mereka bersalaman.
"Nih, mi goreng Aceh kesukaan lu. Capek tau nyarinya!" Rasya tersenyum cengir sambil menerima bungkusan tersebut.
"Yang ini lebih perfect dari sebelumnya. tamasya dimana?" bisik Rasya pada Satria yang masih bisa di dengar Anneth. Yang di puji cuma bisa tersenyum malu. Uhuuuyyyy.
__ADS_1
Satria menarik kursi untuk pacarnya. Sedangkan ia berdiri disamping bangkar.
" Hahaha. Tamasya nya gagal. Kita malah ketemu di minimarket. Oh ya, kita disini sambilan mau besuk neneknya dia. Ternyata satu kamar sama lu. Sekalian mau di kenalin... " Pamer Satria.
"Jomblo mah bisa apa?!" raut Rasya dibuat sesedih mungkin. Padahal kan emang sedih.
"Hahaha" mereka tertawa bersama.
"Beberapa bulan lagi kita mau rayain hari jadi sebulan kita. Cepat sembuh ya biar bisa hadir"
"Siiiipppp!!!"
"Sayang" Anneth mendelik Rasya.
"Oh iya gue lupak" Satria mengeluarkan HPnya, memutar sebuah video lalu menyodorkannya pada Rasya.
Sebuah video terpampang berisi pengkorupsian yang dilakukan oleh ayahnya Arjun. Karma. Rasya terkekeh dalam hati.
"Ayahnya di jatuhi hukuman penjara. Ayahnya Tina juga ikut serta dalam pengkorupsian tersebut. Diduga itu uang untuk yayasan panti asuhan. Sebaiknya kamu laporin aja trus masalah kamu. Pasti pihak kepolisian mau menanggulanginya" jelas Satria. Anneth mengangguk menyetujui.
Rasya nampak berfikir.
"Ayolah Rasya. Ini biar kamu punya keadilan" kini Anneth yang meminta.
Emang benar apa yang dikatakan Anneth. Siapa tau mereka juga mau membayar biaya pengobatannya. Karena ekonomi keluarganya sudah menurun. Semenjak ayahnya tidak ada kabar, Rasya bersama adik-adiknya kembali dinafkahi oleh ibunya.
"Kayaknya nggak deh. Kasian Arjun. Ia pasti udah menanggung banyak beban" lirih Rasya.
"Tapi-"
"Dia dapat masalah ginian juga udah menjadi pembalasan yang adil buatku. Makasih untuk perhatian kalian" sela Rasya lalu tersenyum sendu.
"Yaelah, baik amat punya teman" Satria mendesah kasar.
"Kamu nyesel hah punya temen baik?" Rasya tak terima dengan pernyataan Satria.
"Nggak gitu juga, maksud aku- maksud aku-" Satria gelapgapan.
Rasya menaikkan sebelah alisnya menantikan jawaban Satria. Hingga beberapa menit kemudian Satria masih bingung mau menjawab apa.
Rasya dan Anneth tertawa bersama.
__ADS_1
"Satria, boleh minta bantuan kamu gak?"