Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Keluarga baru


__ADS_3

"Halo pak. Saya sedang sakit jadi saya izin libur" ucap Rasya langsung memutuskan sambungan telepon.


Dego jelas mendengar suara itu bukan hanya dari telepon. Tapi juga secara nyata. Sorot pandangannya tertuju ke arah seorang wanita yang sedang menunggu taksi di pinggir jalan. Itu adalah Rasya.


Tega-teganya dia membohongiku -Rasya.


Dego berjalan mendekati Rasya. Terpancar aura dingin dari tubuhnya Seakan-akan ia akan melahap siapa saja yang membuatnya marah. Namun ia menahan semua itu dan tetap bersikap tenang.


"Jika kamu sakit, apa yang kamu lakukan disisni?" bisik Dego di telinga Rasya sedikit membungkuk karena tinggi Rasya hanyalah sebahunya saja.


"Aw. Aw. Aw. Hehehe pak Dego. Saya mau, mau ke.... " Rasya terkejut. Ia bahkan tak tau jawaban apa yang harus ia berikan.


"Kalo kamu tidak mau jawab, saya ikut kamu" ucap Dego yang terdengar seperti perintah.


Mereka sedang berada di mobil ferari milik Dego menuju kota lama. Kota dimana ia tinggal dulu. Kota yang pernah membuatnya terluka.


Tapi ia sadar dari perjalanan beberapa waktu lalu bersama Dego, bahwa ia harus berdamai dengan masa lalu karena menghindari masa lalu tak akan membuatnya tenang. Yang perlu ia lakukan hanyalah hadapi dan jalani. Dan, masa lalu yang menyakitkan adalah pelajaran paling hebat.


Mereka sudah sampai di depan apartemen bernuansa barat. Rasya masuk duluan di ikuti Dego. Segala interior di sana di desain seperti luar negeri. Rasya sangat kagum melihat keindahan apartemen itu.


Sangat fantastis -Rasya.


Biasa aja -Dego.


Berbeda dengan Dego. Tatapan datarnya selalu mendominasi. Mungkin ia sudah biasa melihat hal ini karena sebelumnya ia tinggal di luar negeri.


Ting Ting Ting


Rasya menekan bel apartemen milik temannya. Seorang pria yang baru saja memiliki status 'ayah', membuka pintu untuk mereka.


"Hai Rasya, ayo masuk" sapa Johan lalu melirik ke arah cowok di samping Rasya. Johan menerka-nerka bahwa itu adalah pacar Rasya.


"Iya kak Johan"

__ADS_1


"Sayang, Rasya udah nyampe nih!" panggil Johan ketika mempersilakan dua tamu untuk duduk di sofa.


"Iya, tunggu bentar" jawab istrinya dari dalam kamar.


Alis Johan diangkat sebelah, menatap Rasya kepo dengan sesosok yang ia bawa bersamanya. Yang ditatap hanya melempar senyum sungging.


"Perkenalkan. Ini bos ditempat aku berkerja". Rasya memperkenalkan Dego pada Johan ketika mereka bertiga sedang duduk di sofa.


"Rasyaaa! " pekik pelan Alita.


Rasya langsung berhambur dari tempat duduknya menuju Alita. Alita ikut merentangkan tanggan sebelah menyambut pelukan Alita, karena sebelah tangannya lagi sedang menggendong Johan kecil.


"Joshuaaaaa"


Perkiraan Alita salah. Rasya bukan berlari untuk memeluknya, tapi mengambil Joshua di tangan sebelahnya lagi. Raut wajah Alita berubah, tak ada lagi senyum di wajahnya. Tatapannya terhadap Rasya tidak dapat diartikan. Antara senang karena Rasya datang dan Kesal karena bukan ia duluan yang disambut.


"Maaf ya aunty telat datang. Habisnya aunty sibuk bekerja buat cari makan" ceramah Rasya sambil mengangkat Joshua tinggi dengan kedua tangannya. "Nanti aunty janji deh kalo kamu ulang tahun, aunty pasti tepat waktu ya!" lanjutnya.


Rasya mencium Joshua mulai dari kening, pipi kanan, pipi kiri, dan meneol-neol hidung Joshua pada hidungnya.


Hampir seperti itulah pandangan Dego terhadap sekretaris dan anak sahabatnya yang baru berusia delapan bulan. Ia jatuh dalam pesona Rasya dan membayangkan mereka seperti anak dan istrinya.


"Tidak!" guman Dego menepis pemikirannya sendiri. Entah kenapa bayangan tadi sangat indah baginya. Namun ia harus menyadarkan dirinya bahwa pikirannya tidak benar.


"Huaaa. Huaaaaaaaaaa". Joshua malah menangis dalam gendongan Rasya.


"Eh, kok nangis. Yaudah, kamu sama mama kamu aja ah" ucap Rasya pada Joshua sambil menyerahkannya pada Alita.


"Tuhkan Rasya. Kamu ada-ada aja sih?!" timpal Alita mengambil Joshua kembali.


"Cieeee. Yang pakek daster. Udah cocok nih jadi jadi ibu-ibu rumah tangga" puji Rasya melihat setelan baru Alita.


Alita tersipu. "Udaaaah, duduk dulu yok" ucap Alita mengalihkan pembicaraan. Ia memberikan Joshua pada Johan dan berlalu ke dapur.

__ADS_1


"Cieee yang nggak ngejomblo lagi, udah berapa bulan?" goda Alita sambil membawa nampan berisi lima gelas minuman dan dua toples makanan.


"Ini bosnya Rasya. Awalnya aku juga berpikir begitu karena mereka sangat cocok. Hahaha" jelas Johan pada Alita lalu tertawa renyah di ikuti Alita. Rasya tertawa paksa, menurutnya ia sama sekali tidak cocok dengan bos dinginnya itu. Sedangkan Dego hanya tersenyum simpul.


"Jika dia bukan pacarmu, lalu kenapa kalian bisa pergi bersama?" tanya Johan memastikan sebagai kepala keluarga.


DAK DIK DUK


Rasya tidak tau jawaban yang harus ia berikan karena Johan jelas bertanya kepada dirinya karena ia yang membawa Dego kemari.


"Karena besok kami punya meeting pekerjaan di daerah sini, jadi sekalian kami kemari. Nanti malam saya juga akan menginap di hotel. Oh ya, Sebelumnya perkenalkan saya Dego Alfianta, CEO perusahaan GVM" ucap Dego tanpa ragu-ragu lalu berjabat tangan dengan Johan.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Joshua tiba-tiba menangis. Alita taun sinyal yang diberikan anaknya. Ia pun bangun diikuti Rasya dibelakangnya. Sesampainya di dapur, Alita menyerahkan anak tunggalnya pada Rasya untuk digendong sebentar lalu ia membuat bubur sun.


Setelah itu mereka kembali lagi ke ruang utama tersebut tepatnya di karpet besar berbulu dekat sofa. Disana terdapat banyak mainan juga. Rasya mendudukkan Joshua di kursi bayi Winfun Musical Baby Booster Seat, kursi makan bayi yang juga berfungsi sebagai mainan si kecil.


Kursi ini memiliki tray mainan yang bisa dilepas dengan mudah dimejanya. Tray mainan tersebut dilengkapi musik dan bunyi lainnya untuk ditekan. Bentuknya yang compact membuat Alita mudah membawanya kemana saja. Warnanya putih yang mendominasi membuatnya terlihat mewah.


"Makan dulu ya nak, Aaaaaaaa". Alita mulai menyuapi Joshua.


"Bagaimana kelakuan Rasya?" tanya Johan.


Sangat menyebalkan-Dego


"Dia baik dan sangat bekerja keras" jawab Dego seadanya tentang hal positif yang dimiliki Rasya.


"Yah,,,. Ia pasti harus bekerja keras karena ayahnya" monolog Johan pada Dego ketika ia melihat sahabat istrinya. Dego tak menjawab, ia hanya mengernyit tanda meminta penjelasan lebih.


Merasa Dego serius ingin mendengarnya, Johan pun melanjutkan pembicaraannya. "Dulu ketika ia hampir mendapatkan gelar sarjananya, ia sangat senang karena ia juga mendapatkan beasiswa ke Jepang. Tempat yang sangat ingin dikunjunginya" Johan berhenti sejenak.


"Namun karena utang yang dimiliki ayahnya pada rentenir bisa dibilang cukup banyak baginya yang masih berstatus mahasiswa pada saat itu. Ia harus membayar mereka dengan hasil kerjanya sendiri selama dua tahun. Itu semua juga berkat orang yang menerimanya sebagai anak angkat. Ia pasti sangat bersyukur sampai-sampai meninggalkan impiannya"


Dego yang mendengar hal tersebut turut merasa iba. Ia tak pernah tau jika sekretarisnya mempunyai masa lalu yang kelam.

__ADS_1


Drrrtt Drrrtt Drrrtt


"Haaaaaaaaa!"


__ADS_2