Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Rehan


__ADS_3

"Rehan?" gumam Rasya pelan ketika melihat kebelakang.


"Rasya, kamu masih ingat aku kan?!, sudah lama kita nggak ketemu. Kamu jadi lebih cantik ya!" ujar Rehan pelan memastikan.


"Maaf, anda pasti salah orang" jawab Rasya gugup. Ia mengancang-ngancang kakinya untuk segera kabur. Tapi nihil, tangan Rehan dari bahu kini turun ke pergelangan tangan Rasya dan mencengkramnya dengan kuat. Rasya meringis sedikit meringis kesakitan.


"Iya. Kamu benar Rasya. Ayo kita ngobrol dulu di rumahku" ucap Rehan dengan senyuman.


Rasya membuang mukanya. Sekali lagi ia mencoba kabur. Menarik tangannya dengan keras supaya terlepas dari genggaman Rehan. Tapi hasilnya tetap sama.


"Kamu mau kemana? Kamu nggak mau ketemu sama aku lagi ya? Hah? " suara Rehan meninggi. Sorot matanya juga menakutkan. Cengkramannya juga makin kuat. Rehan marah sekarang.


"Lepasin. Lepasin Rehan" pekik Rasya. Ia menjatuhkan semua yang ia pegang lalu melepaskan cengkraman Rehan.


Tapi cengkraman Rehan benar-benar kuat. Rasya kewalahan bahkan setetes air matanya keluar kerena pergelangannya sakit.


"Ayo ikut ke rumah gue". Bahasanya juga sudah berubah sekarang. Ia menarik Rasya memaksanya ikut bersamanya.


Bukan Rasya namanya jika tak melawan. Berkali-kali ia memukul tangan Rehan. Tapi apalah daya jika energinya sangat lemah. Kini mereka jadi sorotan beberapa orang. Tapi tak ada yang menolong.


Tak habis pikir, Rasya langsung menginjak kaki Rehan lalu menggigit tangan yang mencengkram dirinya dan segera kabur. Ia berlari tak tentu arah. Rehan yang shock juga ikut mengejar.


Entah apa yang dipikirkan Rasya. Bukannya masuk kedalam hotel, ia malah menuju ke jalan Raya.


" RASYAAAA, BERHENTIIII" teriak Rehan.


Rasya kembali menoleh kebelakang. Rehan sudah semakin dekat dengan dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia pun melintasi penyebrangan karena trotoar di depannya sedang dalam perbaikan sementara.


Tiba-tiba saja lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Sebuah truk semen melintas dengan cepat tak jauh dari Rasya. Bayang-bayang masa lalunya kembali dalam pikiranya, dimana ia terlempar jauh hingga saat-saat dimana matanya menutup. Rasanya begitu mengerikan.


Ia mematung di tengah jalan. Keringat bercucuran, nafasnya memburu, kaki dan tangannya juga bergetar.


Truk semen juga semakin dekat dengan dirinya. Ia ketakutan lalu memegang kepalanya sambil menunduk.


POOOOOPPPPPPP


Suara klakson mobil terdengar sangat keras. Orang-orang yang sudah melintasi jalan ikut terkejut dan panik saat melihat seorang gadis masih di tengah jalan. Sementara Rehan sudah kabur karena tak ingin terlibat dalam skandal tersebut.


"AAAAAAAAAAAA,,,,,, " pekik Rasya.


Tanpa disadari Dego berdiri di depan Rasya, merentangkan tangannya menghalangi truk tersebut untuk segera berhenti. Namun sisi buruknya, bisa saja Dego yang jadi korbannya atau keduanya karena aksi nekadnya itu.


IIIUIIHHHHHTTTTTSSSSS

__ADS_1


Tapi keadaan berkata lain. Truk tersebut berhenti tepat beberapa senti dari tempat Dego berdiri. Ia bernafas lega, begitu orang-orang yang melihat kejadian itu. Semua orang bersyukur.


Menyadari tak ada apapun yang terjadi padanya, Rasya membuka mata serta menurunkan tangannya. Ia menoleh ke sumber yang tiba-tiba saja berada di depannya. Dego ikut menoleh ke arah Rasya. Memastikan sekretarisnya itu baik-baik saja.


Mata mereka bertemu. Sorot mata sendu dari Rasya serta sorot mata khawatir dari Dego bertabrakan sejenak. Mereka saling memikirkan satu sama lain. Nafas Rasya kembali memburu dengan kencang, hingga akhirnya ia pingsan.


Keesokan harinya.


Cahaya matahari sudah menampakkan dirinya. Membuat hampir seisi bumi kembali menjalankan aktifitasnya.


Dego menatap lekat-lekat wajah pucat Rasya yang terbaring lemas di atas bangkar.


"Pasiennya baik-baik saja. Ia hanya mengalami shock sehingga ia membutuhkan banyak istirahat". Itulah yang dikatakan dokter semalam padanya.


Perlahan mata Rasya terbuka. Menyadari hal tersebut Dego buru-buru mengambil hpnya lalu pura-pura memainkannya.


" Aduuhhh, kepalaku sakit" ringis Rasya. Ia memegang kepalanya lalu merubah posisinya menjadi duduk.


"Ayo pulang" ujar Dego sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya.


Tak mengharapkan perkataan Dego, Rasya langsung mengambil gelas air mineral di nakas lalu menengguknya hingga kandas.


"Baru saja saya bangun pak. Kepala saya masih sakit. Apakah bapak tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun?"


"Kasihan? bukannya tidur di hotel saya malah harus duduk di kursi semalaman hanya karna kamu. Lagi pula kita harus bekerja sekarang" protes Dego.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Dego ketika mereka diperjalanan.


Baru sekarang bapak nanyak? kenapa nggak lusa aja -Rasya


Rasya tak menjawab. Ia mengerlingkan matanya menatap jalanan jenuh lalu mobilnya berhenti. Dego memberhentikan mobilnya di depan apartemen mereka.


"Saya nggak tau apa yang kamu alami. Jadi istirahatlah hari ini"


Mata Rasya berbinar. Tapi raut wajahnya masih kesal. Tanpa sepatah kata pun Rasya turun memasuki apartemen, sedangkan Dego menancap gas mobilnya menuju kantor.


Ooohhh bullsh*t. Seharusnya ia tak memperlihatkan wajah masa pada bosnya. Karena itu hiburan baginya.


...***...


"Kenapa berisik sekali?" tanya Rasya pada dirinya sendiri ketika melihat ruangan dengan tulisan CEO GMV GROUP'.


"Ruangan saya sedang dalam renovasi. Jadi untuk sekarang saya memakai ruangan kamu" sarkas Dego yang baru datang dengan kopi di tangannya lalu duduk di meja Rasya.

__ADS_1


"Kenapa pendek sekali mejanya?" sindir Dego.


Seperti biasa, Rasya menahan nafasnya dua belas detik, barulah ia beraksi.


"Lalu dimana saya duduk pak?" tanya Rasya sopan dengan sikap profesionalnya.


Dego hanya melirik ke arah meja kecil di belakangnya, serta kursi kantin. Ingin sekali Rasya tertawa terbahak-bahak dengan takdirnya. Sungguh kejam.


Rasya menarik nafas dalam lalu menghembuskannya hingga beberapa kali. Barulah ia berjalan menuju mejanya dengan tegar. Ia harus ikhlas menerima segala cobaan dari CEO-nya itu.


GGGREEENNGGG,,,


GGGREEEEEEEEEEEEEEEENNGGG


TUK TUK TUK


UUUWHIIIIIIIHHH UUUWHIIIIIHHH


BRAM BRUM BRAM BRUM BRAM


Segala jenis suara terdengar dari ruangan di sebelahnya. Sangat sangat berisik. Ia menatap iri ke arah bosnya karena memakai earphone sambil terus mengetik dan memeriksa dokumen. Sedangkan dirinya?


"Jangan pakai headset. Nanti kalo ada yang nelpon kamu nggak bisa dengar. Apalagi jika dari meja saya". Itulah perintah Dego yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. Karyawan-karyawan yang ada di lantai ini saja memakai penutup telinga, kenapa ia tidak boleh,,,


"Rasya, Rasya, Rasya,,," panggil melly pelan supaya tidak menganggu Dego, tapi tetap saja ia mendapatkan tatapan darinya.


"Hehehe. Maaf pak, saya hanya ingin menemui Rasya" ujar melly cengengesan.


Rasya menoleh, lalu menaikkan sebelah alisnya melempar tatapan pertanyaan pada melly. Segera saja melly membuat pergerakan ketika makan dan menepuk-nepuk perutnya. Waktu istirahat sudah tiba.


Rasya mengibas-ngibaskan tanganya sambil bergumam "duluan, nanti gue nyusul".


"Okhe". Melly melingkarkan jari jempol dan telunjuknya lalu pergi.


Tit tit tit


Telpon di depan Rasya bergetar.


"Halo, dari Sekretaris GVM. Dengan siapa ini?


"......"


"Do you want to talk with Mr. Dego. Oke. Please wait"

__ADS_1


Rasya menepuk bahu Dego yang berada tak jauh di depannya dengan pulpen. Dego pun menoleh sambil melepas earphone-nya.


"Pacar anda atas nama Ketty pak menelpon"


__ADS_2