
"Buat lu aja lah, nggak mungkin juga kan kita balik lagi kesana" Rasya mendesah kasar akan nasibnya.
Satria mulai menghidupkan mesin mobilnya. Lalu mobil mulai melaju ke luar komplek kos.
"Ra!" panggil Satria ketika mereka dalam perjalanan.
"Apa..."
"Lu beneran mau mundur?"
"Hoax. Lu main nerima aja suara radio bergigi. Emangnya kenapa? "
"Nggak gue cuma mau mastiin aja"
"Awalnya sih iya. Tapi kayaknya gue terlalu cepat menyerah. Kayak bukan gue yang dulu lagi" Rasya termenung.
"Udah... Kalo lu punya masalah, bilang aja ke gue. Ntar gue bantu kok. Kita kan udah jadi temenan sejak SD" ucap Satria sambil menepuk pundak Rasya.
"Makasih ya"
Akhirnya mereka sampai di rumah Rasya.
"DAAAAA!!! " teriak Rasya menatap kepergian Satria.
Rasya pun berjalan memasuki rumahnya. Ia lelah. Ingin cepat-cepat merebahkan dirinya di kasur. Menyandarkan bebannya di atas bantal yang empuk. Sungguh nyaman ketika ia membayangkannya.
Apa yang terjadi? - Rasya.
Rasya bingung ketika melihat beberapa koper ada di ruang tamu. Apakah adik-adiknya benar-benar mengusirnya?
Benar-benar kurang ajar. Awas aja kalian kalo gue sembuh. Gue cincang, gue jadiin sate kambing ntar. Tunggulah -Rasya.
Rasya berjalan menyusuri beberapa ruangan mencari keberadaan adik-adiknya. Ia penasaran apa yang mereka rencanakan.
"KAAAKKK" David menyambarnya dengan pelukan. Diikuti Devan di belakang memeluk dengan lembut.
Rasya merasa geli dipeluk tiba-tiba oleh dua pangeran tampan di hadapannya. Untung saudara kandung.
"Kalian kenapa? lepasin, gue geli nih"
Tidak ada reaksi.
"WOIII. KAKAK KECEKIK NIH" teriak Saat ia merasa tidak bisa bernafas lagi.
Akhirnya mereka melepaskan pelukannya.
Kok mereka jadi aneh gini ya? -Rasya.
Rasya sudah sampai di depan kamarnya. 'Lelah lelah lelah'. Ia ingin memusnahkan kata itu.
"Kami ikut ya kak" Devan memulai pembicaraan.
"Hah?" Rasya masih tak paham situasi.
__ADS_1
"Devan juga minta maaf soal tadi pagi"
PHAAAAMMMM
Devan memukul punggung David. David terkejut, segera saja ia menatap tak suka pada Devan.
"David juga minta maaf soal tadi pagi. Padahal nggak seharusnya David ma Devan marah-marah" David menunduk.
Makasih untuk perwakilannya dek. Tapi Lain kali bisa nggak sih nggak usah bawa-bawa nama gue. Gue nggak butuh. Gue masih bisa sendiri -Devan menatap David nanar.
"Iya, nggak apa-apa kok. Kakak jadi makin sayang ma kalian" ucap Rasya sambil memeluk kedua adiknya.
"Tapi kakak nggak jadi pergi" ucap Rasya tersenyum sambil melepaskan pelukan lalu berjalan melewati mereka.
"Tapi tiketnya udah di pesen" Devan.
"Batalin"
"Trus kopernya?" David.
"Ya di bongkar lagi lah. Itu aja kok pake nanya" Rasya menatap malas kedua adiknya. Lalu memasuki kamarnya.
"YAAHHHHHH" David mengerang keras. Mungkin Devan dan David lebih frustasi lagi karena sudah melakukan hal yang sia-sia.
HAHAHAHA -Rasya tertawa keras di dalam kamar. Kakak yang jahat.
...***...
Pagi telah menyambut Rasya di hari yang lebih tenang. Meski masalah masih menggumpal. Tapi itu tak perlu dipikirkan. Jalani saja tanpa harus melihat beban yang sedang kita tanggung. Yang penting jangan lengah dan putus asa.
Seperti itulah suara yang membangunkan Rasya dari alam tidak sadarnya. Suara tersebut adalah suara idolanya yang di rekomendasikan oleh Elita.
Di tahun yang hampir menjelang 2022 ini, siapa yang tak mengenal BTS. Personil yang banyak membuat kamu wanita di seluruh dunia tergoda dengan pesona mereka.
Rasya termasuk salah satu orang yang mengagumi mereka. Tapi hanya sebatas untuk memotivasi.
Rasya bangun dengan mata yang mulai terbuka. pandangannya masih samar-samar. Ia meraih Hpnya lalu mematikan alarm tersebut.
Rasya mendudukkan dirinya sebentar lalu bangun, dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi ia pergi ke dapur untuk sarapan.
Kling
Sebuah notifikasi berbunyi ketika ia sampai di dapur.
"Kabar tentang kemunduran Rasyandra Alita ternyata hoax. Orang yang menyebarkan berita bohong harap intropeksi diri" Rasya membaca isi berita dari notifikasi group kampus.
"JHAHAHA. Bagus juga beritanya. Jadi makin terkenal nih kayaknya! Azzekkk" Rasya tergelak sendiri.
"Cieeee... yang udah jadian nih kayaknya?! " goda David yang baru datang.
"DEVAN... DEVAN... KAKAK PUNYA PACAR. BILANGIN MA MAMA YUK. OIII, DIMANA KAU" sontak David berteriak histeris.
Rasya dari tergelak jadi terbelalak. Tanpa berpikir panjang. Langsung saja Rasya mengangkat tongkatnya dan memukul David di pantatnya sambil berkata "rasain lu".
__ADS_1
David mengelak. Namanya juga atletis.
"AAAAAAKKHHH" Rasya sama sekali tidak memprediksi kalau ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya tanpa tongkat. Akhirnya ia ambruk di tempat.
Rasya merintis kesakitan. Untuk saja ia masih bisa menahan tubuhnya sedikit dengan tangan kanannya. Dengan posisi yang telungkup, Rasya membalikkan tubuhnya supaya ia bisa bernafas.
"Kakak nggak apa-apa" tanya Devan yang sedang berlari ke dapur.
"Aduuhhhhhh. Tolongin gue dong" Rengek Rasya.
Segera saja David dan Devan memopong Rasya untuk duduk di kursi meja makan.
"Makanya... Kalo pacaran itu, tingkat kewaspadaannya harus ditingkatkan biar nggak mau ada resiko" Nasehat David saat Rasya sudah duduk di kursi.
PHAMMM
Devan memukul mulut David dadakan.
"Udah buat orang tersungkur masih aja mengoceh" ucap Devan datar. Sedangkan David hanya memanyunkan bibirnya tanda tak suka.
Devan menaikkan kaki Rasya yang terbalut perban ke atas kursi sampingnya sambil memeriksa apakah ada yang luka.
"Aakkkkhhh " Rasya mengerang kesakitan saat Devan mengangkat kakinya.
"Maaf ya kak" ucap Devan dengan wajah bersalah.
"Bukan itu. Pinggang kakak yang sakit" jelas Rasya sambil memegang pinggangnya.
"Jhahaha. Ternyata jadian juga bisa bikin salah tingkah ya" ledek lagi David. Bukannya membantu Rasya. Ia malah menyiapkan sarapan berupa nasi goreng bungkus untuk dirinya sendiri dari kantong plastik yang dibawa lari Devan tadi.
"Apaan sih, siapa juga yang jadian" Elak Rasya.
"Trus cowok yang nganterin kakak tadi malam tu siapa?" tuding David.
Ni anak beneran bisa bikin orang stress. Menghilang aja napa? -Rasya.
Semoga aja nggak ada manusia lain yang seperti dia dalam hidup gue -David.
"Itu Satria peak. kepo amat sih" bantah Rasya.
"Ooo bang Sat ternyata"
Daripada mendengar Tom and Jerry mengoceh, Devan lebih memilih untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan kakaknya yang baru saja ia beli bersama David.
"BANGSAT PALA LU. Bisa sih nama orang jangan disingkat-singkat" sambar Rasya.
Satria? jangan-jangan dia yang buat berita tadi? - Rasya.
Lamunan Rasya terbuyar karena Devan menyodorkannya sepiring nasi goreng kepadanya.
Sambil makan, Rasya melihat lagi beritanya. Ia penasaran tentang seputar komentar para netijen disana.
"Hey,,, balikin HP gue" Rasya berteriak spontan karena tiba-tiba David mengambil HPnya.
__ADS_1
Gawat nih kalo dia tau masalah gue. Bisa bocor nanti sama mama. Padahal gue pengen jadi kakak yang tegar. Aduhhhh -Rasya.
"Emang ada apaan sih di HP kakak? kok histeris banget. Markilat. Mari kita lihat... "