
"Kenapa tidak tekan bel saja biar Devan atau adikmu siapalah itu yang membukakan pintu!" omel Melly tak henti-hentinya
SKAK MAT!
Rasya terciduk. Kenapa ia tidak memikirkan hal seperti itu sejak dahulu. Sekarang situasi jadi makin rumit. Ia malu dengan bosnya sendiri karena tindakan bodohnya.
"Aduuuuhhhh. Bagaimana ini Melly? Huhuhu. Tuan Dego juga menanyai hal tersebut tadi pagi, tapi aku tidak pekaaaaa. Aku maluuuuu. Huhuhu" Rasya meggelayut pada tangan Melly. Ekspresi menangisnya dilebih-lebihkan.
"Sudah hentikan. Kenapa malu dengan bos sendiri, lagi pula diakan anaknya Tuan Herman" nasihat Melly. Ia juga meringis sendiri dengan kelakuan bar-bar sekretaris perusahaannya saat ini.
"Tapi aghu, akhu berlagak sombong tadi pagiiii. HUWAAAAAA. Tapi apa yang kamu lakukan jika misalnya hal ini menimpamu? " rengek Rasya makin menjadi-jadi.
"Aku akan menghadapinya. Itu kesalahan yang aku buat, jadi aku harus bertanggung jawab untuk diriku sendiri" teguh Melly. Ia memang orang paling kuat.
Bukannya tersipu atau terharu, Rasya malah semakin menangis. Ia merasa tak mampu melakukannya jika itu bersangkutan dengan Dego.
"Sudah sudah sudah. Ayo pergi. Kamu punya misi penting untuk di lakukan. Aku juga ingin gaji tambah jika klien hari ini berpengaruh bagi kita.
Tak habis pikir dengan kelakuan temannya yang gila, Mely menarik Rasya hingga ke luar gedung.
"Sana pergi!" Melly mendorong Rasya ke dalam mobil jok belakang karena ada supir suruhan Dego yang akan membawanya menuju tempat tujuan. Rasya hanya bisa pasrah. Raut wajah dan gerak-gerik dari kelakuannya juga menunjukkan hal yang sama. PASRAH.
Perjalanan bisnis Rasya berjalan lancar. Pikirannya sempat kacau beberapa kali, tapi ia memaksa dirinya untuk terus bersikap profesional dalam situasi apapun. Percayalah, dipermalukan secara diam-diam juga menyakitkan.
Rasya melahap ramen brutal efek memikirkan hal tersebut.
"Cara anda makan unik sekali ya! Hahaha!" Sahut klien yang juga sedang menikmati Ramen bersama dirinya. Umurnya sekitar 36 tahun. Tapi menurut Rasya bisa jadi teman bicara karena sikapnya yang ramah.
"Saya dengar orang pedalaman jepang juga makan seperti ini. Saya jadi ingin mencobanya. Hehehe!" Bohong Rasya.
__ADS_1
Sementara disisi lain. Dego sedang mendengar penjelasan tentang jantungnya.
"Saya lihat tidak ada yang bermasalah. Untuk yang terakhir kalinya saya mengatakan jantung anda baik-baik saja" jelas dokter lanjut usia sambil melihat hasil ronsen. Ia sudah memeriksa Dego dengan berbagai cara, salah satunya ronsen.
"Alat anda pasti rusak pak" tegas Dego lalu keluar ruangan.
"Berani-beraniya dia bilang alatku rusak. Padahal pihak rumah sakit baru membelinya kemarin" omel sang dokter.
"Bagaimana hasilnya pak?" tanya Jeff di luar ruangan.
Dego menggeleng-geleng pelan.
"Apa perlu kita ke luar negeri?" tanya Jeff kembali. Dego menatap Jeff intens. Idenya tidak buruk. Segera saja mereka menuju London dengan pesawat khusus petinggi. Rumah sakit miliknya.
Jeff merupakan pria keturunan Indonesia-Inggris yang bekerja sebagai asisten pribadi Dego selama di luar negeri. Ialah yang mengurus semua keperluan atau menggantikan Dego saat ia tidak bisa hadir. Seperti saat ini, Jeff berangkat dari rapatnya di China ke negeri maritim hanya untuk mencarikan Dego dokter terbaik.
Hasilnya sama. Jantungnya baik-baik saja. Lalu apa yang membuat organ tersebut sesekali tak karuan?. Dego menekuk sedikit telapak tangan di atas meja lalu menyandarkan kepalanya disana.
"Jeff, segera siapkan pesawat. Saya ingin pulang sekarang" perintah Dego sambil menegakkan tubuhnya kembali.
"Tapi pak, jika kita pulang sekarang. Kita akan sampai pada jam tengah malam di disana pak. Sebaiknya bapak beristirahat dulu"
Keputusan sudah di ambil. Dego menginap disana malam ini. Ia akan pulang besok sekaligus libur bekerja. Rasya yang melihat pesan singkat dari Dego langsung berjoget ria dikamarnya. Sudah dua jam ia tidak bisa tidur memikirkan nasibnya besok. Sepertinya malam ini akan menjadi tidur malam paling menyenyakkan seumur hidupnya.
Keesokan harinya saat jam istirahat tiba dikantor. Melly langsung merangkul Rasya menuju kantin. Mereka tertawa bersama di belakang dapur, karena itulah tempat cerita paling aman. Judulnya hari ini 'pegawai elit, tingkah laku sulit'.
"Jhahahah. Jadi pegawai itu menumpahkan air pel ke bajunya. Orang jahat memang harus kena imbasnya sekali-kali. Hahaha". Rasya tersentak-sentak saat makan karena tertawa. Sesekali tangannya memukuk meja. Melly juga sama ngakaknya.
Alarm HP Rasya berbunyi. Tandanya mereka harus bekerja.
__ADS_1
"Aaahh. Alarm sial. Padahal masih banyak yang ingin ku ceritakan padamu" ucap Melly terdengar seperti rengekan. a
"Lain kali saja yaaa. Kita harus bekerja secara efisien" Nasehat Rasya sambil menepuk-nepuk bahu Melly. Lalu mengambil blezer yang tersampir di kursinya dan bergegas pergi.
Rasya terus menahan tawa hingga akhirnya bungkam ketika lift terbuka saat ia menuju lantai tiga puluh. Yang pertama kali terlihat adalah wajah garang Dego yang menatap HP saat lift sedikit terbuka. Buru-buru Rasya berlari dari hadapan lift menuju pintu tangga.
"Aneh sekali. Lift terbuka tapi kenapa tak ada yang masuk" gumam Dego.
Rasya terengah-engah di depan pintu tangga. Ia menopang tangannya disana. Ia berpikir bahwa sekarang lift terlihat sangat berbahaya. Itu bisa jadi titik pertemuan antara dirinya dengan kematiannya.
"Aku lebih baik lewat tangga saja. Tapi...". Kantin saat ini terletak di lantai tujuh, jadi ia harus menanjaki dua puluh tiga lantai supaya sampai di tempat tujuan. Pasti sangat melelahkan. Rasya tidak sanggup melakukannya.
Ia merubah strategi. Biarlah ia menunggu Dego duluan sampai di lantai tiga puluh, baru ia akan naik setelahnya. Strategi berjalan lancar. Tapi apa gunanya menghindar dari lift jika mereka bekerja satu ruangan.
Sesampainya di lantai tiga puluh, Rasya langsung menguraikan rambutnya ke depan menutupi wajahnya. Ia berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Dego sedang sibuk mengutak-atik keyboard dengan tangannya. Baru saja ia sampai sudah sefokus ini.
"Baguslah. Jadi ia tidak akan sadar" gumam Rasya di ambang pintu. Ia berjalan perlahan melewati meja Dego menuju tempat duduknya.
"Apakah kamu sudah menyelesaikan laporan yang saya berikan kemarin?" tanya Dego masih fokus di layar monitor.
"Be-belum pak. Sedikit lagi" jawab Rasya pelan. Belum sempat Rasya mendudukkan pantatnya di kursi, ia sudah disemprot tentang pekerjaan. Bayangan tentang malam kemarin terus melayang di pikirannya.
"Selesaikan dengan cepat. Saya membutuhkannya nanti" tegas Dego masih fokus.
Rasya gelapgapan kembali bekerja. Memeriksa semua data secara terperinci. Ia tak ingin ada kesalahan sedikitpun yang membuat ia harus berhadapan lagi dengan Dego.
Tit tit tit
Suara telekom mengagetkan dirinya sehingga pulpen yang ia pegang jatuh ke bawah dan berguling di bawah kursi Dego.
__ADS_1