Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Percakapan Panjang


__ADS_3

"Pacar anda atas nama Ketty pak menelpon"


"Bilang saja saya sibuk" ucap Dego dingin masih berkutat dengan berkas-berkas di atas mejanya.


"Baik Pak" jawab Rasya bingung. Bagaimana tidak membingungkan, ketika pacarnya sendiri di abaikan.


Rasya merapikan mejanya cepat-cepat lalu bergegas pergi.


"Bapak tidak mau makan? ini sudah jam istirahat lho pak" tanya Rasya saat melewati meja bosnya.


Dego berfikir sejenak, lalu menatap Rasya menatap Rasya santai. "Karena kamu sudah bertanya. Tolong belikan saya mi ayam, pancake coklat, sama buah apel. Masing-masing dua porsi. Dan ini kartunya. Cepat!"


Mata Rasya berkedip beberapa kali. Menyesal ia sudah bertanya tadi. Tapi tak membuatnya frustasi karena semua makanan tersebut tersedia di kantin kantor. Ia tak berniat lagi bertanya lebih lanjut.


"Untuk airnya,,, tolong ambilkan saja air mineral di pantry ya!". Itulah yang dimaksud Rasya.


"Rasyaaa, sini-sini" panggil Melly dari kursi kantin, sedangkan Rasya sedang memesan makanya.


"Bentar-bentar, gue bawain ini buat tuan Dego dulu ya" teriak Rasya sambil menunjukkan bawaannya.


Sesampainya Rasya di ruang kerjanya ia menaruh makanan di depan Dego dan segera beranjak pergi.


"Mau kemana?" tanya Dego sambil merapikan mejanya.


Mau mancing, ya jelas mau kekantin lah pak. Saya juga harus makan, bukan bapak aja yang punya perut -Rasya.


"Mau ke kantin pak"


"Duduk. Makan disini aja. Saya juga tidak sanggup menghabiskan semuanya" perintah Dego sambil mengaduk mi ayam.


Rasya tidak membantah lagi. Tidak ada gunanya bertarung dengan makhluk egois.


"Mau kamu apakan kursi itu?" tanya Dego dingin saat Rasya mengangkat kursinya di depan meja Dego.


"Tadi kan bapak nyuruh duduk?" Rasya balik bertanya ketika sudah duduk di depan Dego.


"Saya suruh kamu duduk di tempat kamu sendiri. Ambil makanannya aja" tegas Dego sambil mengambil ponsel di atas meja lalu memainkannya.

__ADS_1


Rasya sangat terkesipu malu, lebih tepatnya malu tiada tara. Hampir saja ia membalikkan meja tersebut. Ia merasa wajahnya akan lebih cepat berkeriput karena selalu cemberut atas perlakuan bosnya.


Rasya memindahkan makanan dulu ke mejanya, baru mengangkat kursi lagi. Ini benar-benar pekerjaan mempersulit diri.


"Yang tadi itu siapa?" tanya Dego masih sibuk dengan mie ayamnya tanpa menoleh sedikit pun.


"Teman gosip saya pak. Bapak mau kenalan? Dia orangnya cantik, seksi, pintar tekwondo juga pak. Jadi rumah bapak nanti aman dari maling" Ceroscos Rasya tak pedulia dimana lagi Rasya profesionalnya itu. Rasya memang hanya akan bersikap profesional ketika jam kerja saja. Selain waktu itu, ia tak malu memperlihatkan sifat aslinya. Kecuali situasi-situasi tertentu.


"Jadi itu alasan kamu?! supaya bisa gosip nggk jelas. Buang-buang aja". Lagi, perkataan pedas itu kembali mengenai dirinya, tapi ia tak ambil hari.


Para pekerja renovasi keluar dari ruang Dego lalu memberi hormat satu persatu, karena juga sudah waktu istirahat mereka.


"Sebenarnya begini pak. Meskipun melly itu bekerja hanya di lantai dua, tapi gajinya termasuk lebih banyak di antara yang lain. Jadi untuk mengatasi kemungkinan adanya penyelundupan seperti dulu, tuan Herman berinisiatif memperkerjakan orang-orang rahasia yang bekerja seperti biasa yang diketuai oleh Melly. Sejak saat itu juga kami dekat" jelas Rasya sambil mengingat masa lalu.


Dego berhenti sejenak menandakan ia ingin mendengar lanjutan dari cerita Rasya.


"Bapak pasti tau kejadian beberapa tahun lalu ketika tuan Herman bangkrut. Kalau bapak bertanya kenapa tuan Herman tidak mejaga ketat secara langsung? jawabannya sudah pasti pada saat itu perusahaan ini kekurangan uang. tuan Herman benar-benar lelah pada saat itu, tapi ia masih saja mencemaskan saya" lanjut Rasya.


Dego turut beraimpati. Ia tau pada saat itu ayahnya dan Rasya pasti bekerja sangat keras. Ia termenung sebentar.


"Lalu kenapa tidak meminta bantuanku saja?" tanya Dego pelan.


"Saya memang sudah berbisnis sejak saya dilahirkan. Jadi wajar jika saya punya perusahaan dimana-mana" jawab Dego menyombongkan diri karena sekejam apapun pertanyaan Rasya tak membuatnya jatuh.


Rasya hanya mengangguk-angguk pelan seolah-olah yang dikatakan Dego itu benar dan sudah biasa baginya.


"Entahlah pak. Saya juga tidak tau. Memang sepertinya ada sedikit yang dirahasiakan oleh papi pada saat itu. Tapi Andaikan saya tau kalau papi (tuan Herman) punya anak sekaya bapak, saya pasti akan memaksanya " ucap Rasya sendu.


"Semuanya sudah berlalu. Bahkan bapak juga sudah ada di sini" sambung Rasya lalu kembali menyuapi mi ayam ke dalam mulutnya.


"Lanjut ke pembahasan lain. Kenapa kamu tidak memasak untuk saya selain saat pertama kali papi pergi?" suara Dego meninggi. Ia bahkan menoleh kw belakang menatap Rasya kejam. Sorotnya matanya mengatakan bahwa ia akan membunuh Rasya sekarang juga.


"Saya mau mau masak apa kalo persediaan bapak habis" ketus Rasya. Trus bapak makan apa selama ini?" ucapnya lagi penuh semangat. Matanya berbinar, bahkan ia mencodongkan kepalanya kedepan ingin tau jawaban Dego.


Flashback on


-Pagi

__ADS_1


Dego menyantap mi instan dengan kasar.


-Sore


Dego terus mengecek makanan cepat saji dalam microwave supaya tidak hangus seperti pertama kali ia menggunakannya, karena ia tidak tau bagaimana cara mengatur timer. Rasanya begitu melelahkan.


-Malam


Ia harus menunggu selama sepuluh hingga pesanannya datang. Hingga rasa laparnya hilang.


Flashback off


Rasya tau apa yang dipikirkan Dego. Hampir setiap malam tukang pesan antar makanan bertemu denganya di lift. Bahkan terkadang hingga tiga orang.


*Jh*ahahahahahaha -Rasya.


...***...


Dego memarkirkan mobilnya di basement mall. Dego setuju untuk mengantar Rasya. kesana untuk membeli bahan-bahan dapurnya.


"Kartu kreditnya pak?" pinta Rasya sebelum turun dari mobil dengan tanggan diacungkan ke depan Dego tanda meminta.


"Nanti saya yang bayar sendiri daripada kamu foya-foya uang saya. Ayo turun!" ucap Dego dingin tanpa memedulikan Rasya lalu pergi duluan.


Mereka kini sedang menjelajahi mall dengan Dego yang membawa troli sedangkan Rasya berjalan di depan melihat-lihat barang apa yang ia butuhkan. Situasinya berbanding terbalik dengan beberapa hari yang lalu ketika membeli perlengkapan kantor milik Dego.


Ironisnya, ketika Rasya memasukkan barang misalnya dua kecap manis. Dego justru mengambil sepuluh kecap lagi untuk dimasukkannya ke dalam troli. Dego juga terus memperhatikan Rasya.


Rasya tertegun ketika melihat troli hampir penuh, padahal baru sebentar ia keliling. Ia menatap Dego penasaran. Ini pasti sikap antara boros dan terlalu kaya pikirnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.


"Bagaiamana jika kita kesana dulu?!". Dego menunjukkan ke arah peralatan pria yang tak jauh dari sana.


"Bapak aja duluan. Trolinya biar saya yang bawa aja pak, karna masih banyak yang belum lengkap"


while minutes later.


"Semuanya dua puluh tiga juta pak!" ucap kasir.

__ADS_1


What the f*ck -Rasya


__ADS_2