Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Hidup yang tak pasti


__ADS_3

"Itu bukannya,,,,," Rasya terus memperhatikan dua orang tersebut dari kejauhan.


"Ayo pergi" sarkas Dego menghampiri Rasya. Tapi yang dipanggil tak kunjung menoleh. Rasya masih terpaku dengan dua orang tersebut. Dego ikut melihat ke arah pandangan Rasya.


"Suami orang tu, jangan diliat terus. Istrinya juga lagi buncit" ucap Dego sambil menepuk pundak Rasya.


"EH!" Rasya sontak kaget. Tak mengubris perkataan Dego, Rasya masih terus menatap mereka hingga kedua orang tersebut dan satu anaknya menancap gas motor melewati jalan yang akan dilaluinya hingga hilang dari pandangan Rasya. Barulah ia berjalan mengitari mobil.


"Mau kemana kamu?"


"Mau masuk pak. Kan saya yang nyetir" ucap Rasya sambil membuka pintu.


"Sudah, biar saya aja. Nggak becus kamu bawanya". Dego langsung duluan masuk.


Di satu sisi Rasya Kesal plus sebal dengan mulut Dego sehingga ia mendorong pintu mobil dengan kuat. Tapi di sisi yang lain ia bersyukur karena terlalu membosankan jika harus mengemudi seharian penuh.


Rasya membuka penuh kaca jendela mobil, menaruh dagunya disana, sekali-kali melambai-lambaikan tangannya yang diterpa angin. Rasanya begitu bebas, hingga sebuah senyum lebar mekar di wajahnya.


Lagi. Sosok dua orang yang ia lihat tadi kini berada di samping mobilnya ketika berhenti di lampu merah. Buru-buru Rasya menutup kaca mobil.


"Kelakuan mu aneh sekali" Dego membuka suaranya pelan dengan pandangan masih kedepan menunggu lampu hijau tiba.


Rasya tersenyum simpul. "Dunia ini kadang nggak bisa ditebak ya pak"


"Bukan kadang. tapi emang hampir selalu. Lalu apa hubungannya dengannya dengan dua orang tersebut?". Termasuk Dego, ia juga termasuk orang yang kadang tidak bisa ditebak. Seperti sekarang, darimana ia tau jika yang dikatakan Rasya itu menyangkut dengan sasaran yang ia lihat sejak tadi?.


"Apakah karena motornya yang sudah ketinggalan zaman?" Tanya Dego kembali lagi. Lampu hijau sudah menampakkan dirinya. Ia kembali melajukan mobil.


"Hahaha. Iya pak" Rasya tak habis pikir, spertinya bosnya ini memang peramal. "Yang menyetir itu namanya Arjun. Anak seorang pendonasi ku kampus saya dulu. Yang dibelakangnya Nita, Ayahnya juga mempunyai posisi terhormat saat itu kampus. Dan motor yang mereka kendarai itu sekarang adalah motor terkenal dan dibangga-banggakan pada saat ini, khusus dibelikan ayah Arjun karena mereka berpacaran. Tepatnya lima tahun lalu" Rasya menarik nafas dalam-dalam. Ia kembali menatap motor yang berjalan di depan mobilnya.

__ADS_1


"Tapi lihatlah sekarang pak. Sepertinya ekonomi mereka menurun karena masih menggunakan motor tersebut serta penampilan mereka tidak glamor lagi seperti dulu. Yang pasti ayah mereka dulu pernah melakukan korupsi" Tak lupa juga Rasya kembali mengingat moment-moment dulu ketika ia jadi korban dari keduanya. Tapi keadaan sudah berbalik sekarang. Ia tak percaya jika usahanya selama ini benar-benar membuahkan hasil.


"Lalu kamu bangga karena sekarang karena kamu bisa menaiki mobil terbaru, sedangkan mereka hanya motor ketinggalanpadahal kamu hanya menumpang?!" sindir Dego.


Rasya mengerti maksud Dego. Lebih baik memiliki barang lama tapi milik sendiri daripada bergaya barang mewah tapi milik orang lain. Benar begitu kan,,,


"Tapi ini situasinya berbeda pak. Saya juga menaiki mobil bapak karena usaha saya sendiri. Andaikan saya tidak mulai berkarir dari dulu, saya pasti sedang naik bus untuk pulang dari pekerjaan" bantah Rasya blak-blakan tak terima dengan pernyataan Dego.


Dego memalingkan wajahnya. Lalu tertawa sekeras-kerasnya tanpa suara.


...***...


Mobil BMW Vision Next 100 melaju kencang dijalanan. Hujan perlahan mulai turun. Rintikan kecilnya membuat jalanan sedikit licin. Sialnya mereka harus melaju cepat untuk sebuah pertemuan kerjasama di sebuah restoran.


Rencananya mereka akan langsung pulang. Namun setelah meminta Rasya membacakan daftar jadwal hari ini, mereka masih sempat untuk melakukan meeting yang memang direncakan di kota tersebut.


Sesampainya mereka disana. Ia langsung turun duluan untuk memayungi Dego karena hujan sudah mulai deras. Dego yang yang dipayunginya tiba-tiba berhenti di depan restoran membuat Rasya juga ikut berhenti di belakangnya. Ia mengamati setiap sudut restoran dari lantai tiga hingga ke bawah.


Matanya mulai berkaca-kaca bahkan hampir meneteskan air mata. Merasa matanya sudah sembab ia pun mengambil kacamata hitam yang menggantung di kerah leher bajunya dan memakainya. Lalu dengan tegar ia mengikuti pergerakan Dego yang mulai masuk ke dalam restoran.


Sesampainya di dalam restoran Rasya menutup payung lalu menyerahkan kepada seorang pelayan yang di berdiri di sana lalu kembali mengikuti Dego.


Satu persatu pelayan berdiri di sepanjang jalan menunjukkan arah kemana mereka harus, tak lupa senyuman lebar mereka tampilkan hingga tibalah Dego dan Rasya di ruang VIP.


Seperti inilah kondisi ruang VIP. Meski hiasan dan perabot yang ada di sana terkesan mewah, tapi hanya menyediakan dua kursi. David sering mengibaratkan ruang VIP sebagai ruang pelit.


"Selamat datang pak. Silahkan duduk" sapa seseorang ketika mereka baru masuk ke ruangan tersebut.


"Terima kasih pak". Sesudah bersalaman Dego langsung duduk di kursinya satu lagi sedangkan Rasya berdiri samping kanan belakang Dego.

__ADS_1


"Wah,,, anda tampak muda sekali yaaa. Sebelumnya perkenalkan nama saya X. Sayalah pemilik restoran ini. " Basa-basi pemilik resto tersebut yang hanya ditanggapi dengan deheman oleh Dego.


Ini dia orang yang pernah menendangku dulu. Senang bertemu dengan anda pak dalam keadaan hampir bangkrut pak -Rasya tersenyum smirk.


"Jadi begini pak eumm-" ucapan orang tersebut terpotong


"Saya sudah sudah membaca pengajuan anda. Jadi silahkan tanda tangani saja kontrak ini" tegas Dego.


Dego mengangkat tangannya kesamping, mengisyaratkan supaya Rasya memberikan map hitam yang sedari tadi dipegangnya. Dengan sopan dan profesional Rasya menyerahkan map tersebut.


"B-baik, anda sungguh murah hati sekali


Tidak salah jika saya mengajukannya kepada anda"


Semudah ini kah! hahaha -Bos restoran.


Orang tersebut sontak langsung mencoret selembar kertas putih yang akan berpengaruh terhadap masa depan restorannya nanti.


Tiba-tiba dua orang polisi masuk sambil menghadang pistol ke arah bos restoran tersebut.


"ANGKAT TANGAN!!!"


Dego tidak kaget dengan kejadian tersebut, seolah-olah itu hanya tontonan action baginya. Responnya biasa saja. Sontak ia menopang kaki kanan di atas kaki kirinya, tak lupa dagu ia sandarkan di atas tangannya. Sungguh nikmat adegan ini baginyan.


Begitu juga Rasya. Ia juga hanya sekedar menonton dibelakang Dego.


Flashback off


Di dalam mobil ketika memasuki kawasan tersebut. Rasya tampak linglung dengan apa yang ia lihat. Beberapa kali ia mengucek matanya berharap apa yang ia lihat adalah khayalan nya semata. Tetapi papan namanya tak kunjung berubah"

__ADS_1


Siaaaaal,,,,, -Rasya


"Halo, tolong periksa semua tentang Restoran Barat di jalan X. Jika bermasalah, segera laporkan ke pihak kepolisian. Saya yakin ada hal janggal disana"


__ADS_2