Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Telepon Maut


__ADS_3

Tit tit tit


Suara telekom mengagetkan dirinya sehingga pulpen yang ia pegang jatuh ke bawah dan berguling di bawah kursi Dego.


"Sial lagi" gimana Rasya. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya di meja sebentar.


"Jangan berisik!" ucap Dego dingin yang masih fokus.


Berisik apanya?!, malahan suara di dalam ruangannnya yang sedang di renovasi lebih berisik pikirnya. Rasya bangun menuju lemari gantung bernuansa putih yang cukup lebar. Ia hendak mengambil pulpen cadangan baru.


Nihil. Persediaannya habis. Rasya kehabisan akal. Bisa saja ia mengambil sekotak yang baru di gudang, tapi melewati bos galak sangat mengancam nyawanya.


Bagaimana ini??? -Rasya.


Rasya mondar mandir dibelakang kersi kerjanya. Matanya tertuju pada pulpen yang masih bertahan di bawah kursi Dego. Ia terus berpikir bagaimana caranya ia bisa mengambilnya tanpa menarik perhatian Dego.


Tak ada cara lain yang terpikir di kepalanya. Ia beranjak mengangkat meja kerjanya hingga tak jaraknya tak jauh dibelakang kursi Dego. Dego yang mendengar suara krah-kruh itu menoleh. Pandangannya sangat datar tapi tajam. Rasya tak dapat bergerak karena tatapan maut itu.


"Hehehe. Mau mindahin meja pak. Disana nggak nyaman" ucap Rasya cengengesan ketika berhasil memindahkan meja dan masih memegangnya.


Dego kembali ke aktifitas semula. Sedangkan Rasya tidak dapat bernafas lega karena ia baru saja menarik perhatian. Rasya melanjutkan aksinya. Ia pura-pura memperbaiki kabel komputer meski kenyataan memang benar dengan posisi tepat di belakang Dego. Tangannya terus bergerak memperbaiki kabel, namun sekali-kali ia juga melihat ke arah pulpen.


Setelah memperkirakan ia tidak sampai dengan pulpen tersebut. Ia pun maju selangkah dan mencoba meraihnya. Ia maju perlahan tapi pulpennya masih belum bisa digapai. Tak mungkin ia maju lagi karena jaraknya sudah sangat dekat.


Rasya kembali mengoperasi kabel komputer sambil berpikir bagaimana caranya ia meraih pulpen tersebut. Satu solusi melintas di kepalanya dan itu sama sekali tak beresiko. Segera saja ia mengambil high heels-nya lalu mengarahkan ke arah pulpen.


Tit tit tit


Telekom berbunyi. Rasya terkejut. Ia takut jika Dego akan menoleh karena suara itu. Ia menguatkan dirinya. Segera saja ia menarik pulpen tersebut di bawah kursi dengan high heels dan yah, ia berhasil. Cepat-cepat Rasya berdiri mengangkat telepon. Tapi yang ia sandarkan di telinganya bukanlah gagang telepon, melainkan high heels saking gugupnya.


"Eh, salah!" cerocos Rasya lalu mengambil telepon dengan tangan kirinya.


Dego menoleh sekilas. Seutas senyum terbit di wajahnya. Rasya menjatuhkan high heels lalu memakainya langsung.


"........ "

__ADS_1


"Oh yes Miss Ketty. Please Waiting" jawab Rasya pada sambungan telepon luar negeri. "P-pak. Pacar anda menelpon" panggil Rasya ragu-ragu. Dego tak menjawab. "Pak. Pacar anda menelpon" ulang Rasya dengan suara lebih keras. Dego masih tak berkutik.


"PAK!" pekik Rasya. Lama-lama bosnya ini bikin pitam saja. Sesaat kemudian Dego menoleh. Tatapan yang diberikan jelas mengisyaratkan ia sok-sokan tidak tau apa-apa. Bahkan Dego menaikkan sebelah alisnya.


"P-pacar anda pak. ini menelpon". Sialnya Rasya kembali gugup. Tatapan polos itu seolah-olah mengintimidasinya.


"Bilang saja saya sedang sibuk" jawab Dego santai.


"B-baik pak. Eumm Mr. Dego is busy. You can call him next time" ucap Rasya beralih ke telepon.


".........". Pacar Dego yang berinisial Katty masih mengoceh di seberang sana. Berulang kali Rasya mengatakan bahwa Dego sibuk tapi juga dihiraukan.


"Matikan saja" perintah Dego tak menoleh sedikitpun.


Tanpa pikir panjang Rasya mematikan sambungannya. Daripada nanti urusannya makin panjang. Lebih baik ikuti saja perintah atasan yang memang lebih efisien.


Tit tit tit


Ketty kembali menelpon. Awalnya Rasya ragu. Ketika ia ingin mengangkat, Dego mencegahnya.


Drrrtt Drrrtt Drrrtt


"Halo?"


"......"


"Katty..." gumam Rasya yang masih bisa di dengar Dego. Rasya mematikan sambungan dan kembali bekerja. Tapi ponselnya terus bergetar sepanjang hari. Bahkan sepanjang minggu. Ketty terus menelponnya tak kenal waktu. Mulai di kamarnya ketika bangun tidur, di dapur Dego ketika jadwal masak pagi, di kantor, di kantin, di kamar mandi, Bahkan di WC.


"KAKKK, ADA YANG NELPON NIH!!!" teriak David sambil memukul-mukul pintu WC apartemen.


"Bentar, lagi kebelet nih" ringis Rasya.


Ditambah Rasya terlalu malu untuk memberitahukannya pada Dego. Ia masih memikirkan kejadian malam dimana ia tidur di lantai. Apabila Rasya berhasil memberitahukannya pada Dego setelah mengumpulkan segala keberaniannya, jawaban Dego selalu saja tak pasti.


"Saya ada rapat"

__ADS_1


"Saya harus bertemu klien"


"Sa-ya mau ke kamar mandi" tekan Dego saat di kantor. "Kamu mau ikut?" lanjutnya.


"T-tidak pak" jawab Rasya panik. Selama seminggu ia jadi trauma pada nada dering. Memblokir nomor tersebut juga mustahil. Siapa sangka nantinya ia yang diblokir dari perusahaan karena hal sepele seperti itu.


Di perusahaan GVM. Rasya sedang terpaku pada HP yang sesaat lagi akan berdering. Ia menebak-nebak bagaimana bagaimana caranya si Katty itu bisa menemukan nomornya. Rasya memutar kembali ingatannya. Dimana hanya beberapa kali ia menelpon di telekom sebelum menyerbu dirinya lewat HP.


Ketukan demi ketukan terdengar di atas meja yang bersumber dari jari Rasya. Kata kunci yang ia cari sekarang adalah kapan ia menyebutkan nomornya. Kejadian yang lalu terus berputar di otaknya. Hingga teringatlah ia dan Melly menemukan video tentang dirinya si komputer Dego. Sungguh tak terduga.


Drrrtt Drrrtt Drrrtt


Hp-nya kembali berbunyi. Ia sudah bosan mematikan sambungan terus menerus. Dego baru saja kembali dengan segelas kopi ditangannya.


"PAK. TOLONG ANGKATLAH. SEKALI INI SAJA!!!" teriak Rasya frustasi. Dego tak menyahut dan duduk di kursinya.


"DEGO!" panggil Rasya lagi. Kali ini Dego langsung menoleh tak seperti biasanya. Menyadari reaksi Dego yang begitu cepat. Rasya bergegas berdiri menuju meja Dego dengan angkuh. Ia tidak peduli lagi dengan sikap profesional.


"Pokoknya anda harus mengangkat telepon ini. Saya nggak mah tau!" tegas Rasya sambil memukul meja, membuat sang empu kebingungan. Entah roh siapa yang merasuki dirinya. Ia juga tidak tau alasan mengapa dirinya diam saja. Mungkin kalau pekerja lain, sudah ia musnahkan dari dunia ini.


Dego melanjutkan kerjanya tanpa memedulikan Rasya. Sikapnya sangat santai. Nafas Rasya menggebu-gebu. Bisa-bisanya ia jadi korban. Ia menghembuskan nafas hingga poninya sedikit terayun.


"Kenapa anda tidak menikahi saja pekerjaan anda jika anda lebih mencintainya daripada pada kekasih anda sendiri" hujat Rasya menggebu-gebu. Dego menatapnya bingung.


Apakah ia demam? -Rasya.


"Jika kamu tidak sanggup mengangkatnya kenapa tidak blokir aja" ucap Dego santai.


"Tapi bisa saja dia orang penting bagi anda pak. Mana mungkin saya mengabaikannya" tekan Rasya.


Drrrtt Drrrtt Drrrtt


Lagi-lagi panggilan masuk.


"Bilang saja padanya kalau saya bukan pacar dia"

__ADS_1


__ADS_2