
"Bilang saja padanya kalau saya bukan pacar dia" ucap Dego lagi seperti tanpa beban.
DAMN IT!!!
Jika dari dulu Rasya tau fakta ini. Ia pasti tak segan-segan untuk langsung membuang HP-nya. Rasya kembali ketempat duduknya. Ia memblokir nomor yang sudah menyusahkan dirinya itu. Jam menunjukkan pukul 15.34. Sudah sedari tadi seharusnya ia pulang.
Drrrtt Drrrtt Drrrtt
Getaran itu kembali menyapa dirinya.
Hah, nomor tak dikenal. Kali ini siapa lagi? pacar aslinya, mantannya, mertuanya, atau neneknya. -Rasya.
"Halo!. Katty..." guman Rasya pasrah di akhir ucapannya sambil menjauh telepon dari telinganya. Percuma diblokir. Ia pasti bisa menelponnya dengan nomor lain.
"Pak. Apakah ini balas dendam karena telah mempermalukan bapak? Kenapa bapak tega mempermalukan saya?". Rasya kembali bergerak menuju Dego.
"Maksud kamu apa?" tanya Dego menatapnya penasaran.
"Bapak nggak usah pura-pura. Bapak pasti malu pada tetangga karena saya tidur di depan apartemen bapak seminggu yang lalu"
Drrrtt Drrrtt Drrrtt
Rasya menatap HP-nya nanar dan pasrah. Rasya berlutut disamping Dego. Sedangkan dirinya masih bingung dengan kelakuan absurd itu.
"Jujur pak. Saya lebih malu daripada bapak. Kelakuan saya pasti oleng ketika saya terlalu mengantuk. Tidak biasakah bapak memakluminya?. Tahukah bapak bahwa seminggu ini saya juga malu terhadap bapak karena kejadian tersebut. Bukan hanya bapak yang malu. Bapak juga diam-diam menonton ulang kejadian tersebut. Saya bisa saja melaporkannya kepada polisi karena ini termasuk penyelenggaraan. Tapi sebagai gantinya, tolong bapak angkat telepon ini saja" Rengek rasya panjang lebar.
Di akhiri ia mengangkat telepon yang masih bergetar di depan Dego sambil menatap ke bawah. Pada akhirnya memang itu tujuannya, membuat Dego mengangkat telepon.
Ia tak peduli siapa Katty itu, bagaimana penampilannya, atau secantik apakah dia sehingga berani mengklaim berani mengklaim Dego sebagai pacarnya. Karena David pernah cerita padanya bahwa jangan pernah kepo dengan urusan atasan karena nanti pasti kena impasnya seperti di cerita-cerita NOVELTOON.
"Baiklah kalo itu yang kamu mau" ucap Dego sambil mengambil HP di tangan Rasya lalu pergi meninggalkan ruangan.
Pipinya panas. Ia tak mendengarkan apapun yang dikatakan Rasya. Yang ia lihat hanya wajah mungil yang sedang merepet dan itu terlihat sangat menggemaskan. Karena itulah ia cepat-cepat pergi sebelum jantungnya yang bergoyang meledak tiba-tiba.
"Huffftt. Rasya bernafas lega. Tapi jantungnya masih berdetak kencang. Bagaimana bisa langsung mengatakan yang sebenarnya pada Dego tadi. Ia ragu apakah kelakuannya berlebihan atau lebay, meskipun keduanya sama saja.
__ADS_1
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Yang penting masalahnya selesai -Rasya.
Rasya kembali berdiri, berjalan ketempat duduknya. Ia mengambil selembar kertas undangan pernikahan yang baru saja dikirim dari teman lamanya. Mungkin jika ia berlibur mengunjungi orang yang membuatnya bahagia di masa lalu bisa membuat otaknya sedikit lebih rileks.
Ia membolak-balik undangan tersebut dan melihat tanggal acara.
"Hah? Lusa?. Si gila ini pasti melupakanku?" dumel Rasya karena waktu tenggat yang kirimnya hanya dua hari.
Dasar gila. Bagaimana jika lusa aku punya meeting yang tidak bisa dimundurkan. Ia pasti sengaja melakukan ini -Rasya.
"Ini. Dia tidak akan menelponmu lagi". ucap Dego santai membuyarkan lamunannya.Karena tak ada respon dari Rasya, Dego meletakkannya di meja.
Rasya sedang berpikir panjang untuk rencana Healing-nya. Ia melirik jam sekilas, betapa terkejutnya karena sudah sangat sore.
Ia segera membereskan meja kerja, menyandang tas di bahunya, lalu baru mengambil HP di meja dan memasukkannya dalam saku blezer.
"Pak, Saya izin cuti dua hari. Terima Kasih" pamit Rasya buru-buru. Tak ada tanggapan dari Dego ia jadikan sebagai jawaban 'ya'. Bosnya pasti tak peduli pikirnya.
Rasya berlenggang pergi. Ia tak sabaran menunggu taksi di depan gedung GVM. Berkali-kali ia melirik jam berharap waktu berjalan lama. Taksi tak kunjung lewat, melainkan mobil Dego yang berhenti di depannya.
"Mau kemana buru-buru seperti ini?" tanya Dego setelah menjalankan mobil.
"Tolong antarkan saya ke mall pak"
"Kenapa buru-buru? padahal mall di daerah jalan perdagangan kan tutup jam dua belas malam" sanggah Dego.
Oh iya -Rasya
" Kalo gitu pak santai aja. Hehehe" Rasya cengengesan.
Setelah mereka sampai di mall, Rasya langsung pergi di perlengkapan bayi.
"Ke-kenapa kamu..., Saya tidak melakukan apapun kan pada kamu malam itu?" tanya Dego bingung melihat Rasya memilih baju bayi yang bagus menurutnya. Ia sedikit panik.
Rasya yang tau kemana arah pembicaraan Dego hanya tertawa renyah. Ia tak menyangka jika Dego akan berpikir seperti itu.
__ADS_1
"Coba bapak lihat. Bagus yang ini atau ini?" tanya Rasya menunjukkan dua baju di tangannya.
"Jawab dulu pertanyaan saya" perintah Dego. Sirot matanya sangat tajam.
"Kalo iya memangnya kenapa pak? Bapak nggak mau bertanggung jawab?" goda Rasya.
"Jadi ka-kamu," Dego gelapgapan. Ia melotot tak percaya melihat sekretarisnya.
"Hahaha. Nggak lah pak. Saya cuma beranda. Kalo gitu, sekarang bapak jawab pertanyaan saya. Mana yang bagus menurut bapak?". Sesekali mengganggu bos sendiri juga terasa menyenangkan pikirnya.
Anggap aja balas dendam pak. Hahaha -Rasya.
"Ambil saja semuanya. Saya yang bayar" ucap Dego dingin. Ia menarik kedua baju dintangan Rasya juga beberapa baju masih tergantung di depan mereka.
Inilah kebiasaan yang sering membuat dirinya bingung. Mengapa cewek-cewek harus memilih jika nantinya juga pasti dipakai. Memilih itu menurutnya juga membuang-buang waktu untuk hal sepele. Meskipun tidak selamanya keadaannya seperti.
Sebelum memilih kita sudah harus menentukan kriteria barang seperti apa yang kita inginkan. Apalagi jika itu ciri-ciri dari si penerima barang. Ini jauh lebih efisien, kenapa tidak ada yang menerapkan hal seperti ini.
"Pak!" panggil Rasya untuk ketiga kalinya di basement mall. Mereka sedang berjalan disana, tapi Dego terus melamun dari tadi.
"Kalo begitu saya saja yang nyetir. Daripada bapak melamun di tengah jalan nanti kecelakaan" timpal Rasya merebut kunci mobil di tangan Dego lalu berlari cepat menuju mobil.
"Kamu bilang apa tadi?". Dego bahkan tak tau apa yang dikatakan Rasya.
"Cepat pak. Saya yang nyetir" teriak Rasya meniru ucapan Dego.
"Kamu tidak boleh libur besok". Dego membuka percakapan duluan. Ada rasa tak rela jika Rasya tak bisa mendampinginya seperti biasa di kantor.
"Tapi pak-"
"Pokoknya harus bekerja" Tegas Dego. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam meskipun pandangannya ke depan, auranya sangat menakutkan. Rasya tak berani melawan jika sudah seperti ini.
Keesokan harinya. Dego bersiap pergi ke kantor meski sudah siang. Ia harus menghadiri rapat luar negeri meskipun online. Tiba-tiba HP di dalam sakunya bergetar ketika baru saja keluar dari gedung apartemen.
"Halo pak. Saya sedang sakit jadi saya izin libur"
__ADS_1