
Buru-buru Rasya membuka aplikasi Whatsapp karena penasaran.
"Eh, mau ngapain kamu?" sambar Elita sambil melotot.
"Buka Whatsapp, emangnya apa lagi" Ujar Rasya.
"Enak aja. Kamu pikir kamu ini malaikat maut apa? baru sadar udah cabut nyawa orang. Makan dulu atau minum dulu lah. Buka mulut" Titah Elita.
Keluar dah jiwa keibuan. Pengen bunuh diri aja gue, hiks -Rasya.
Hahaha. Hebat juga ni orang. Jadiin tempat aduin kakak Ah.. lumayan kalo kakak berevolusi jadi kingkong -David.
Pacarku emang perhatian -kak Johan tersenyum sendiri sambil menopang dagu.
Kini dimata kak Johan, sebuah cahya telah menyoroti Elita dengan desiran angin lembut yang menerpa pacarnya dan membuat rambutnya berayun-ayun menyiratkan keindahan dan kecantikan yang luar biasa.
Sungguh menyejukkan hati (bagi yang bucin) .
"Aaaaaaaaaa" Suasana dramatis berubah drastis ketika Rasya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Elita.
Ganggu -kak Johan kesal karena suara Rasya memecah halu indahnya. Tapi raut wajah tersebut ia sembunyikan.
"Air-air " rengek Rasya hampir kesedak.
"Kenapa?" tanya Elita.
"Buburnya hambar, nggak da rasak, pokoknya nggak mau lagi" ucap Rasya manja.
"Jangan kegenitan, entar pacarnya cemburu" timpal David datar. Rasya menatapnya tak suka.
"UHUK UHUK UHUK" kak Johan terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan David.
Tuh kan bener. Kalo nggak, nggak mungkin keselek -David.
"kenapa sayang?" tanya Elita.
"Nggak kok, nggak kenapa-napa. Aku ke toilet dulu ya" jawab kak Johan bergegas pergi.
Ada-ada aja ni anak. Bisa-bisanya dia wakilin isi pemikiran gue. Hehehe -kak Johan.
"Udah, makan lagi nih" Elita ingin menyuapi lagi Rasya, tapi Rasya menolak.
"Harus tetap makan biar cepet sembuh"
"Tapi makanannya nggak enak. Aku mau spageti.."
"Nggak boleh makan yang begituan sebelum sembuh. Cepet, buka mulut"
Aaahhhh, mereka sangat ribut -David menutup kupingnya.
__ADS_1
Perdebatan terjadi. Sementara David sibuk menatap kepergian kak Johan, hingga ia rela mengintip dari balik pintu demi melihat punggung kak Johan benar-benar hilang di telan koridor.
Aman -David.
David berjalan berjingkrak masuk ke dalam. "Ekheummmm". Deheman David mendapat perhatian dari kedua wanita di ruang itu.
Selesai berdehem, David membuat gerakan pemanasan beberapa hingga ia rasa otot-ototnya sudah cukup kuat.
" Kak, sini biar aku aja" David meminta mangkuk buburnya sambil berjalan di sisi lain bangkar.
Elita dan Rasya bingung dengan tingkah David yang sangat percaya diri, tapi Elita tetap memberikan mangkuknya.
"KAK, BUKA MULUT" David mencengkram Rahang Rasya supaya mulutnya terbuka.
"KAK ELIT, PEGANGIN TANGANNYA. SAKIT NIH TANGAN GUE TERUS DI CUBIT"
"Ooo ya ya ya, gue pegangin" Elita panik sekaligus penasaran apa yang akan dilakukan David.
"KAK, BUKA MULUTNYA, KALO NGGAK GUE BILANGIN MAMA KAKAK NGGAK MAKAN"
Rasya menggeleng keras lalu makan satu suap.
"KAK, CEPET BUKA MULUTNYA"
Rasya memberontak dan menutup rapat mulutnya.
"KAK, BUKA MULUTNYA. KALO NGGAK GUE SITA HP LO"
Tidak ada pilihan lain. Dengan wajah seriusnya David menaikkan satu lututnya ke atas bangkar dan menahan bahu Rasya hingga posisinya terbaring juga sedikit lebih dekat dengan Rasya karena ia terus berusaha untuk menghindar dengan cara berusaha duduk.
"KAK, TAHAN BAHUNYA SEBELAH LAGI KAYAK GUE"
Elita pun berusaha kera6 melakukannya meskipun agak sedikit susah.
"Gue nggak mau, lepasin, euhhh"
Satu suap lagi masuk ketika Rasya berbicara.
"Eh kalian kenapa? Berhenti. Banyak orang liat di luar tuh" peringatan kak Johan cepat.
Ia juga terkejut dengan tingkah tiga orang tersebut yang cukup heboh dari sebelum masuk ruangan. Bahkan sebelumnya ia sempat penasaran kenapa orang banyak berkerumun di depan kamar rawat Rasya.
Elita, Rasya, David sontak melihat ke arah pintu. Benar saja. Banyak mata yang menyaksikan mereka. Mulai dari anak-anak hingga lansia. Ada yang tertawa, ada juga yang tertegun
" Maaf ya semuanya, maaf ya kalo bikin ribut, silakan lanjutkan aktivitas kalian" kak Johan terus meminta maaf pada mereka sambil menutup pintu.
David menurunkan kakinya sambil menetralisir tingkahnya, sangat malu dengan orang di luar sana.
Elita juga. Ia juga sangat malu pada pacarnya karena sikapnya ketika menahan bahu Rasya dengan lututnya. Rasanya gimanaaaaa gitu.
__ADS_1
Rasya dapat bernafas lega. Ia pun memperbaiki posisi tidurnya hingga senyaman mungkin.
Kak Johan dan David kembali duduk di kursi panjang. Bahkan karena terlalu malu, David memakan sendiri buburnya. Hahaha.
Rasya bersyukur,ia tidak harus menghabiskan bubur hambar. Ia pun mengambil HPnya di nakas dan membukanya. Sebuah video terkirim disana. Lalu Rasya dan Elita menonton video itu dengan cermat.
"Itu... Bukannya vidoe kamu kemaren pas di labrak cowoknya temen sekelas kamu? Kalo gak salah, namanya Tina ya? "
"Iya sih, tapi kok, aneh ya... perasaan kemaren nggak da siapa-siapa disana" Rasya mengernyit.
"Tadi siang,,, kamu baru pingsan sekitar enam jam-an,,," celetuk Elita.
"Oh"
"Bisa aja kan dia sembunyi, kan banyak pohon besar disana" Duga kak Johan sambil meminum kopi instan.
"Bukannya nolongin malah videoin, trus apa gunanya di ngirim video ini?" lanjut Rasya.
"Baca teks dibawahnya goblok" timpal David yang tiba-tiba berada di sisi Elita.
"Ikut campur aja, sanah! sanah!, main game sana"
"Yaelah,,, orang kasih solusi malah diusir, kakak kurang ajar emang" celetuk David yang mendapat tatapan tajam Rasya. Kak Johan dan Elita terkekeh.
"Laporin ke pihak kampus atau lainnya, siapa tau mereka di keluarin" Elita membaca dengan seksama.
Rasya mendengus kasar, lalu menyandarkan tubuhnya di kepala bangkar dengan bantal yang disiapkan Elita.
"Iya, bener tuh apa yang dia bilang, laporin aja" gas David.
"Nggak guna. Yang ada malah kita yang di keluarin" Rasya memutar bola matanya malas.
"Lho, kenapa?" David penasaran.
"Namanya Arjun. Ayahnya merupakan pendonasi dana terbesar untuk kampus kami. Bahkan tiap tahunnya. Dia juga udah bertunangan sama Tina sejak satu tahun yang lalu karena sebuah janji yang ayah mereka buat dulu. Siapa sangka mereka juga saling mencintai" jelas kak Johan.
"Trus, apa hubungannya?" tanya David lagi.
"Ayahnya Tina itu orang penting di kampus kami. Kalo mereka sampe bekerja sama, bukan cuma dikeluari dari kampus tapi bisa ngancurin hidup kita"
"Maksud aku apa hubungannya sama Tina?"
"Tina itu-" Elita
"Udah, udah ah. Jangan diungkit lagi" sela Rasya. Ia kesel entah pada apa dan siapa. Yang pasti ia tidak ingin mendengar nama Tina lagi.
"Sabar ya ra. Nanti kalo kamu udah sembuh semuanya pasti akan baik-baik aja"
"Iyah" Rasya pasrah.
__ADS_1
Tak habis pikir. Rasya menelpon lagi Satria. Ia masih penasaran dan ingin tau sejelas-jelasnya tentang video tersebut.
"Halo sat!"