
Di sebuah ruangan yang sensitif bagi sebagian orang, rasya masih meraba-raba kakinya itu. Ia masih merasa lega karena perban keras nan ketat itu hanya melingkari sebelah kakinya saja.
Pantas saja dari tadi aku merasa kaki kananku mati rasa -rasya.
"Aaaahhhhhhh" rasya mulai mengacak-acak rambut panjangnya geram dan frustasi.
"Kakak nggak apa-apa?" tanya radika yang melihat aksi kakaknya itu.
"Kok kalian nggak bilang-bilang sih kalo kakak patah tulang" timpal rasya.
"kan kakak gak nanyain" timpal radika lagi dengan lembut dengan devan di sebelahnya, sekarang posisi mereka sudah seperti tadi lagi.
Sekarang devan sudah mulai membayangkan bagaimana jawaban atas pertanyaan kakaknya sambil geleng-geleng.
Emang kaki gue yang patah harus bilangin sama kakak hah, kan yang sakit itu lu nyet, ngerasain sendiri dong -david.
"Permisi, apa ini ruangannya rasya?" tanya elita yang membuyarkan lamunan devan serta mengalihkan perhatian radika dan rasya.
Tanpa disuruh masuk pun elita akan masuk sendiri ketika melihat rasya.
GLEEEKKKKKK
Hening sesaat.
Ada apa ini, kenapa ada banyak sekali pria tampan disini? apakah mereka pacar simpanan rasya? -elita.
"Hai rasya" sapa elita dengan kaku lalu dibalas oleh rasya dengan senyuman.
"KAKKKKK, sekarang aku baru ingat, kok kakak bangun dari pingsan langsung ingat semuanya ya?" tanya david baru muncul dengan nafas yang terengah-engah karena berlari.
Ya Tuhan, dari mana datangnya satu lagi malaikat tampan ini, tapi agak sedikit pendek, tidak tertarik -elita sambil mengalihkan pandangannya lagi pada rasya.
Ini anak keselek apa ya, kok cuma pertanyaan gituan larinya terbirit-birit? -rasya mengernyit.
Kok dia maluin banget sih, padahal lagi ada tamu -radika menepuk jidat.
Kebiasaan -devan.
"Ekhemmm" david tersentak kaget. Ia baru menyadari ada orang lain seusia kakaknya di sana setelah radika berdehem.
Langsung saja devan menarik kerah baju david paksa di ambang pintu keluar ruangan. Devan bermaksud untuk tidak memperparah keadaan dengan kehadiran david.
__ADS_1
"Kalian pasti butuh waktu privasi untuk bicara, kalo begitu saya pergi dulu ya" ucap radika sambil tersenyum lalu juga ikut keluar.
GLEEEEKKKKKKK
Hati elita kembali meleleh ditiup senyum manis radika.
"Siapa itu tadi rasya?" tanya elita ketika radika sudah berlalu pergi.
"Mereka semua itu adik-adiku, maaf ya atas tidak kesopanan mereka, hehehe"
"Iy, gak papa. Tapi apakah kamu baik-baik saja?" tanya elita lagi.
"Iya, aku baik-baik aja kok" jawab rasya sambil tersenyum penuh.
"Kok kamu nggak bilang sih kalo kamu punya adik, aku pikir yang tadi duduk disamping kamu yang sering ngantar kamu ke kampus tu doi kamu tau!"
"Trus kamu nggak pernah nanya sih? ya aku pikir masalah keluarga aku tu seperti apa pun nggak masalah buat kamu" jawab rasya dengan mulut yang dimanyunkan.
"Tapi nggak gitu juga sih..." elita sudah kehabisan kata-kata.
"Tapi benar nggak sih yang dibilang adik kamu yang pendek tadi kalo kamu bangun dari pingsan langsung ingat semuanya?"
"BUAAAAHAHAHAHA"
Di sebuah ruangan yang serba putih berbau menyengat ala khasnya. Jam dinding yang masih bergerak menunjukkan pukul 11.56. Desain dan perabot-perabot yang bisa dibilang sederhana bagi sebagian orang.
Tangan rasya sedikit demi sedikit mulai bergerak menandakan kalau ia sudah siuman. Tak berapa lama kemudian, matanya mulai terbuka secara perlahan. Yang ia lihat hanyalah langit-langit atap yang putih bersih dengan dua lampu disana.
Kini rasya mulai mengedip-ngedipkan matanya karena pandangannya yang tidak bisa ia lihat dengan jelas. Setelah matanya mulai jernih, ia pun mulai menatap seisi kamar yang agak sempit itu. Berkali-kali mendongakkan kepala demi melihat seluk-beluk keadaan tempat yang ia diami sekarang.
Baru akhirnya ia menyadari dimana ia berada sekarang. Ia yakin kalau ia berada di rumah sakit. Dengan cepat ia menggosok-gosok matanya berharap yang ia lihat adalah ilusi. Tapi semuanya nyata.
Dengan cepat ia mencoba bangun untuk duduk. Namun kaki kanannya sama sekali tidak mendukungnya untuk duduk dengan cepat. Hingga akhirnya ia menyeret tubuhnya dengan tangan dibantu dengan kaki kirinya.
Sekarang dia sudah duduk tegap meski agak sedikit lemah. Ia kembali melihat ke sekelilingnya dengan tatapan bingung.
"apa yang terjadi padaku?" ucap rasya sambil terus mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Namun sial. Kepalanya mulai sakit ketika ia mencoba mengingat sesuatu.
Alhasil, ia pun menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Kepalanya masih terasa sakit. Tanpa diduga, ia melihat beberapa kertas yang dijepit dengan papan ujian di atas meja. Ia pun mengambilnya dengan susah payah.
Ketika benda tersebut sudah sampai di tangannya, ia pun melihatnya dengan seksama. Kata pertama yang ia tangkap dari kertas tersebut adalah...
__ADS_1
"Tabrak lari?"
Apakah aku baru saja kecelakaan tabrak lari? bagaimana mungkin -rasya.
"Aduuuhhhh,,, ssshhhhh" rasya meringis sakit, kepalanya tiba-tiba saja bereaksi memberikan tekanan padanya. Beberapa kali dia memegang kepalanya. Sepertinya dia mengingat sesuatu.
TAP TAP TAP
Suara sepatu hak tidak terlalu tinggi menyadarkan dirinya. Buru-butu ia meletakkan benda tersebut ke tempatnya kembali. Ia kembali memberinya tubuhnya. Menarik selimutnya dengan cepat hingga ke bahu. Lalu pura-pura tidur. Semua itu ia lakukan karena rasa ketakutan yang ia rasakan ketika dalam ruangan itu.
Benar saja. Seorang suster berjalan ke ruangannya. Ketakutan rasya bertambah ketika suster itu berjalan mendekatinya.
Apa yang ingin ia lakukan? Ya Tuhan... selamatkanlah aku... -rasya. Ia terus meremas erat seprai di dalam selimutnya.
Sekarang rasya sudah mulai tenang. Sepertinya, suster hanya mengambil data yang dibaca oleh rasya tadi. Lalu suster tersebut berlalu keluar.
Jadi benar, aku kecelakaan, tapi kenapa tidak ada yang menemaniku? apakah tidak ada yang tau kalau aku disini? aku sendirian -rasya.
Rasya terpikul atas kesimpulannya sendiri. Ia menunduk memandang telapak tangannya sendiri. Kini sepucuk air mata keluar begitu saja. Ia tak sanggup menahannya. Tapi ia tak ingin terlarut dalam kesedihannya sehingga ia tidur kembali.
***
Jam telah menunjukkan pukul 17.10. Rasya bangun dari tidurnya. Ia masih menyadari dirinya berada di tempat yang sama. Tapi setelahnya, ia mendengar sebuah nyanyian jelek dan irama yang hancur mengusik telinganya.
"AKU KECAPEAN SEHARIAN, BADANKU MERIANG KARENA MENJAGA KAKAKKU" tentu saja itu suara yang sangat familiar baginya. Suara david.
Karena kehabisan akal untuk bertemu adiknya itu, ia pun mulai berakting seolah-olah ia baru bangun dari pingsannya.
***
"Jhhhhhh, bengek banget lu" sekarang malah elita yang tertawa.
"Aku ingin bertanya sekali lagi padamu, jawab dengan jujur, apakah kamu baik-baik aja?" sepertinya, jiwa kepo temannya itu sudah muncul.
"Iya, aku baik-baik aja kok" jawab rasya sambil tersenyum penuh.
"Yakin???, trus gimana kamu mau menjelaskan padaku tentang kamu dipecat kemarin?"
Dengan cepat raut wajah rasya langsung berubah menjadi sayup. Seolah-olah ada beribu penyesalan yang terungkap di wajahnya. Ia ingin diam seribu bahasa tentang hari kemarin. Tapi di depannya sekarang adalah temannya.
"Kamu serius mau tau?" timpal rasya sambil membuang nafas panjang.
__ADS_1
"Hemmm"
"Kemarin..."