Berubah Pikiran

Berubah Pikiran
Pak Sayang


__ADS_3

"Jika pak tampan tidak bisa juga, maka panggil saya pak sayang" Tatapan mereka beradu tajam, saling mengintimidasi satu sama lain.


"Maaf, bukankah panggilan seperti itu bisa mempermalukan diri anda sendiri pak?" Tanya Rasya sinis.


"Kamu masih bisa memanggilnya saat kita hanya sedang berdua, seperti sekarang!" ucapannya seperti menggoda, tapi jelas tatapannya terang-terangan menantang Rasya.


"Sekali lagi mohon maaf, saya tidak akan mengorbankan harga diri saya hanya untuk hal sepele seperti itu pak. Saya permisi" Rasya memutar balik tubuhnya untuk kembali ke mejanya sendiri tepat di depan ruangan tersebut.


Kita lihat saja nanti -Dego


Seorang profesional tau kapan harus menyerah atau bertindak di luar batas. Seperti itulah isi pikirannya sekarang, apalagi disaat moodnya sedang disulut api besar, lebih baik cepat-cepat Rasya pergi dari situasi seperti itu.


Hindari saja untuk hari ini. Lebih baik cari jalur aman dulu -Rasya


"Tunggu, tolong belikan saya Americano yang ada di cafe sebelah" Perintah Dego sambil merebahkan tubuhnya kebelakang lalu menyilangkan tangannya.


Plak


Langkah Rasya terhenti tepat ketika ia memegang kenop pintu. keningnya mengerut sekaligus mulutnya mengerucut.


Rasya kembali memutar tubuhnya berhadapan dengan pak Dego, tak lupa senyum terpaksa. "Tapi pak, kita juga memiliki kantin sendiri dengan kualitas tak kalah saing"


"Se-ka-rang. Saya tunggu kamu sepuluh menit lagi karena kita akan mengikuti rapat"


Tak bisa di negosiasi lagi. Rasya langsung bergerak meninggalkan ruangan, menaiki lift, turun hingga lantai satu, berlari keluar gedung, menjadi pusat perhatian semua orang karena berlari seperti orang gila dikejar anjing, hingga sampailah ia ditempat tujuan.


"A-americano satu, eh dua, dua" ucap Rasya terengah-engah di depan kasir. Tak lumrah jika dirinya tak ikut minum. Apalagi jika harus lelah seperti ini.


"Ini kopinya. Selamat menikmati!"


Tak sempat menjawab, Rasya sudah terkocar-kacir berlari kembali ke perusahaan.


"Ahhhh, bullsh*t,,,, waktunya tinggal tiga menit lagi" Rasya terus menekan tombol lift yang tak kunjung terbuka. Daripada harus menunggu lama, ia memutuskan menaiki tangga tak jauh dari sana.


Sial emang sangat sial. Ia harus menaiki tangga hingga tiga puluh lantai. Untung David dulu sering memaksanya untuk olahraga, jika tidak pasti ia sudah terkapar duluan dilantai tujuh.


Rasya tersentak saat melewati ruangannya yang terhubung ke ruang Dego. "Oh iya, kopinya". Ia menghampiri mejanya sendiri lalu meninggalkan satu kopi di mejanya.


"Ini pak, mari kita rapat sekarang" Rasya menaruhnya disamping berkas di atas meja, sementara Dego sibuk membaca kertas lainnya.


Dego memperhatikan Rasya dari atas ke bawah. Rambut acak-acakan didominasi gemetar di tangannya cukup membuat ia terkekeh dalam hatinya.


"Dimana kopimu?"


"Kopi?, kopi apa pak?"

__ADS_1


"Saya tanya, Dimana kopi kamu?" bentak Dego.


"Di-di meja saya pak" Rasya gelapgapan. Ia tiba-tiba takut tanpa sebeb.


"AMBIL!!!" Suara bariton itu membuat Rasya kembali beranjak.


"Jangan lupa batalkan semua rapat hari ini"


Rasya kembali mematung. Bosnya ini memang tidak bisa ditebak.


"Tapi kenapa tiba-tiba pak? Seharusnya bapak mengatakan kepada saya sejak tadi"


"Lakukan saja perintah saya"


Rasya tak membantah sama sekali ia kembali berjalan.


Cari aman, cari aman, cari aman -Rasya.


Beberapa lama kemudian ia kembali dengan kopi ditangannya, lalu Dego mempersilahkannya duduk di sofa.


"Itu kopinya udah dibeli kok nggak diminum?" Sindir Dego.


Suka-suka saya lah pak -Rasya


"Oh, i-iya pak"


"Tapi pak, hari ini banyak tempat yang harus kita survey" Bantah Rasya sambil membuka buku jadwal bosnya itu.


saya lelah pak jika harus menjadwalkan ulang semuanya huhuhu - Tangis Rasya dalam hari sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Saya tidak mau tau. Saya ingin hari ini kamu mengubah interior ruangan ini menjadi lebih modern. Terutama itu, meja kerja kayu antik itu harus diganti dengan yang warna putih. Paham!" suara Dego kembali meninggi.


"Bapak bisa melakukannya sendiri kan?, biar saya saja yang menggantikan pekerjaan bapak hari ini" tegas Rasya. Kini ia mulai menggertakkan giginya.


"Kamu kan sekretaris saya, saya gaji kamu tentu saja untuk membantu saya" Tuding Dego.


Aaaaaarrrrrgggghhhhhhhhhhh -Rasya


"Tapi pak,,,"


"Tidak ada tapi-tapi. Ayo". Dego beranjak duluan.


"Kemana pak?" Tanya Rasya melongo.


"Sekali lagi bertanya. Saya pecat kamu"

__ADS_1


Glek


Cari aman -Rasya ikut beranjak mengikuti bosnya.


GEDEUPHAAAAAMMMM


Dego menutup kasar pintu tepat dihadapan Rasya. Api sudah tersulut-sulut di wajah Rasya. Nafasnya berderu kencang. Ia diam selama dua belas detik menahan emosinya, lalu baru membuka pintu.


Sesampainya di Basement. Bukannya masuk ke dalam mobil BMW Vision Next 100. Ia malah menunggu sambil bersender disana.


"Menyetir" Perintahnya sambil melempar kunci ke arah Rasya.


Yang di tatap hanya melongo.


...***...


Di toko perlengkapan rumah. Dego terus memasukkan barang-barang disana ke dalam troli besar yang di dorong Rasya.


"Itu. Itu. Itu. Itu juga. Itu. Bukan yang dibelakangnya" tak lupa jari telunjuknya itu terus menunjukkan ke arah barang-barang besar lalu diangkat satu-persatu oleh bodyguard dadakan yang berjumlah sepuluh orang.


"Pak. Pak, anda yakin semua ini yang bapak butuhkan?. Ini sangat berlebihan pak" Racau Rasya sambil terus mendorong troli di depan Rasya.


"Bagaimana dengan yang ini. Menurutmu mana yang lebih bagus? hitam atau silver?" Dego menunjuk bola kecil yang mengambang dengan sendirinya di atas sebuah piring pipih. Jika disentu dua kali maka akan mengeluarkan cahaya layaknya lampu tidur, namun cahaya benda ini lebih terang.


"Huuufffff" Rasya membuang nafas untuk kesekian kalinya. "Menurut saya pak. Yang berwarna silver itu lebih mendominasi untuk ruangan bapak supaya lebih terang. Namun Jika dilihat dari persepsi style bapak maka lebih cocok yang berwarna hitam, karena akan menunjukkan kesan lebih maskulin. Jadi yang warna hitam saja pak" pidato Rasya panjang lebar sambil bersender di troli.


"Baiklah. Kita pilih yang ini" Dego memasukkan yang warna silver ke dalam troli.


Kalo tau begini pasti takkan ku jelaskan panjang lebar. Dasar


Hanya itu kata-kata indah yang timbul dibenak Rasya. Rasanya untuk sekedar kesal saja ia tidak sanggup lagi saking lelahnya saat ini.


"HEY, ayo cepat" panggil Dego dari kejauhan. Benar saja, sekarang ia sudah tertinggal langkah dari bosnya.


"Tunggu saya pak"


"Berapa semuanya?" Tanya Dego pada seorang kasir. Sementara Rasya sibuk menyeruput jus jeruk di depan gedung tersebut sambil menopang pinggang dengan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.


Tak lama kemudian ia juga bertengger di samping mobil sambil memandang kota kenangannya. Kota yang dahulu ia tinggali kini sudah banyak perubahan.


Kota yang selalu dihindarinya semasa bekerja dengan pak Herman kini ia sedang menikmati pemandangan nya dari pinggir jalan di sore hari. Rasnya menyesakkan jika harus kembali mengingat masa lalu yang menyesakkan. Jika bukan karna Dego yang memaksanya. Tak mungkin ia berada disana.


Mencoba berdamai dengan masa lalu, itulah yang dilakukannya sekarang.


Pandanyan Rasya tertuju pada dua orang yang baru saja keluar dari toko buah.

__ADS_1


"Itu bukannya,,,,, "


__ADS_2