
Rasya menatap ke sekeliling. Tak ada orang satu pun. Awalnya Rasya biasa aja. Tapi selanjutnya ia sadar bahwa tidak mungkin pacarnya Nita datang bersama tiga temannya menemuinya tanpa maksud apa-apa.
"Ada perlu apa ya dengan gue?" tanya Rasya sedikit sopan.
"Oh, banyak"
PLAK
Satu tamparan mengenai wajahnya. Rasya mengerang dan memegang pipinya yang kesakitan.
Ni orang cewek atau cowok sih? kok main tampar-tamparan - Rasya risih.
Arjun maju lalu mencengkram erat rahang Rasya sedangkan tangannya sebelah lagi memegang sandaran kursi panjang yang di duduki Rasya. Sorot mata mereka bertemu. "Pacar gue bilang, lo udah bikin dia malu. Apa bener?" ujar
Rasya menetralkan degup jantungnya. Tidak mengeluarkan suara meskipun cengkraman Arjun itu sangat kuat dan membuat rahang Rasya sakit. Ia semaksimal mungkin membuat dirinya terlihat tegar.
"E-emang dia sendiri yang jahat, kok gue yang disalahin" bantah Rasya dengan susah payah untuk bicara karena rahangnya masih dicengkram.
"KAMU BILANG APA?" Arjun melepaskan dan menurunkan tangannya dari rahang Rasya lalu mencengkram erat kedah baju Rasya dan menghempaskannya ke lantai dengan kasar.
"Awwww" pantat dan kaki Rasya nyeri. Rasya memegang kaki kanannya yang berbalut memancarkan darah pada perban akibat hentaman yang keras dengan lantai.
"Sakit gak? sakit gak? ya sakitlah, masa nggak"
"Hahaha, rasain"
"Emang pantas lo seperti ini"
"Pulang gih, ngomel sana sama ibu lo. Jangan lupa bilang kalo kita yang nyakitin lo"
Dada Rasya sesak ketika mendengar nama ibu disebutkan. Ia rindu mamanya. Seketika air matanya keluar. Ia tidak dapat menahannya lagi.
"Yeahhh, nangis. Cengeng"
"Hahaha"
"Kalian kenapa sih? Cari musuh yang setara dong. Jangan cemen. Berani cuma sama yang lemah, kayak gak da harga diri" lirih Rasya.
"Kamu bilang apa?"
"GUE BILANG KALIAN P*NGECUT"
"Berani banget kamu ya" Arjun menendang tangan Rasya yang memegang kakinya hingga tersehempas ke udara. Lalu menginjak kaki Rasya yang berbalut perban beberapa kali dengan keras.
"Aaauggghhhh" Rasya berteriak kesakitan. Darah yang menembus perban makin banyak. Rasya memejamkan matanya menahan rasa sakit.
"Rasain. Udah, cabut yok"
"Hiks, ma... Tolongin Rasya. Rasya gak kuat" ucap Rasya sambil menangis. Hampir seluruh perban berwarna merah. Rasya membuka matanya dalam isakan.
Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit. Rasya menatap tas yang ada di atas kursi. Ia ingin menelpon adiknya dan meminta bantuan. Tapi saat ia mencoba meraih tongkat, tongkatnya tidak ada. Pasti sudah diambil Arjun.
"Huuuuuu hiks hiks" Rasya tidak bisa bergerak. Kakinya sakit hingga mati rasa. Ia mencoba bangun, tapi tak bisa. Beberapa kali ia berusaha sambil terisak, tetap saja tidak bisa.
__ADS_1
Matahari sudah naik. Cuaca jadi semakin panas. Beberapa kali Rasya mengusap keringatnya. Ia merasa sangat menderita.
Rasya membayangkan bagaimana nasib selanjutnya. Apakah ia akan berada di sana hingga nanti malam atau bahkan esok pagi. Dan orang-orang memandangnya dengan kasihan. Rasya menangis keras akan bayangan tersebut.
"Rasya, Rasya kamu gak papa? Sayang,,, tolongin Rasya" Elita datang memeluknya. Rasya tersenyum. kekhawatirannya hilang. Namun sesaat kemudian kesadarannya hilang.
...*•*...
Rasya POV
Mataku terbuka. Aku melirik ke kanan dan kiri. Ternyata aku di rumah sakit. Ku angkat tanganku, dan kudapati bahwa diriku sedang diinfus. Mataku malas untuk kubuka dan ingin tidur lagi. Tapi penasaran apa yang terjadi padaku.
Ku dudukan diriku di atas bangkar dengan bantuan tangan dan kakiku. Tapi.... aneh. Kakiku sebelahnya lagi tidak bergerak. Tapi aku terus berusaha duduk.
Ku pandangi seluruh isi kamar ini. Sepi, dan senyap. Tidak ada orang. Tiba-tiba aku merasa merinding dan ketakutan.
Ku ambil HP yang ada di nakas samping kiri, mencari sesuatu yang bisa menghibur dan menghilangkan ketakutan.
"Sial.... Kok gak sampai sih" aku masih berusaha mengambil bahkan sedikit bergeser supaya aku bisa mencapainya. "Sedikit lagi, sedihikit lagi"
Phuk
Bukannya berhasil mengambilnya aku malah menjatuhkannya. Akhirnya aku bertekad untuk mengambilnya. Ku turunkan kakiku satu persatu.
PHUUKKK
Malah diriku yang jatuh. Aku tidak bisa menyeimbangkan tibuhku yang lemah dengan satu kaki. Perasaanku tidak enak. Kenapa hanya satu kaki yang bergerak.
Ku tatap dengan cermat kakiku di lantai yang masih tertutup selimut karena jatuh bersamaku tadi. Aku menyibak selimut itu.
"AAAAAAAAAAA"
...***...
Author POV
"AAAAAAAAAAA"
Rasya bangun dari tidurnya dengan cepat hingga terduduk. Ia bernafas dengan terburu-buru. Jantungnya berdetak kencang. Kesadarannya masih setengah.
"Rasya, kamu gak papa?" Tanya Elita khawatir karena tiba-tiba Rasya beteriak.
Rasya tak menjawab. Ia tenggelam dalam pikirannya. Pandangannya tertuju pada kakinya yang ditutupi selimut.
"Rasya, kamu kenapa?"
Rasya hendak menarik selimut tersebut. Tapi tangannya gemetar, sama halnya dengan hatinya. Rasya memberanikan untuk menyibak selimutnya.
Hufffttt
Rasya bernafas lega.
"Rasya kamu kenapa? Jawab aku, Rasya"
__ADS_1
Rasya menatap Elita lekat. "A-aku bermimpi, kaki kanankuh, kakiku kananku dipotong" ucap rasya lirih. Mata Rasya mulai berkaca-kaca dan keluarlah air mata.
Elita merasa khawatir, ia pun memeluk Rasya sambil mengusap-usap punggungnya. Ia mencoba menenangkan Rasya. " Nggak, nggak mungkin kok. Dokter udah bilang kalo kaki kamu baik-baik aja. Jadi tenang ya"
Rasya melepaskan pelukannya. Lalu tersenyum kecil pada Elita. Di peganginya tangan Elita. Diusapnya lembut berharap ia bisa menemukan kehangatan dan ketenangan disana.
"Makasih ya, udah jagain aku"
"Iya, sama-sama. Lagian ini salah aku kok. Seharusnya aku gak ninggalin kamu kemarin"
"Nggak. Kamu nggak salah kok, yang salah itu aku. Seharusnya aku dengerin nasihat kamu kemarin dan langsung pulang"
"Nggak itu salah aku"
"Nggak salah aku"
"Nggak-"
"Dramatis banget. Kayak cerita Mangatoon aja" ledek David baru saja datang bersama kak Johan.
Rasya melotot sambil memberikan aba-aba seperti mengatakan "Sipan siket dong, ada orang nih" atau "Jangan macem-macem".
Awas aja nanti, gue cukur bulu ketek lo -Rasya.
David mengangguk. Ia tak maksud Rasya lain dari pemikirannya.
Rasya jadi sebal karena David menganggukkan kepalanya, seolah-olah ancaman Rasya tidak ada apa-apanya.
"Ada orang yang selalu nelpon kamu dari kemarin" ucap kak Johan sambil duduk di kursi panjang yang tersedia disana.
"Oh iya, nih HP kamu"ucap Elita sambil mengambil HP di nakas dan menyodorkannya pada Elita.
"Siapa?"
"Entahlah, kayaknya ban*sat" ujar Elita ragu-ragu dan gelisah.
"Hah?" Rasya mengernyit.
Rasya langsung mengambil HPnya dan membuka pola sandi.
"Eh, mau di kemanain HP gue?" Rasya sontak kaget karena HPnya diambil David.
"Tuh kan Bang Sat ban*sat!!!, gue bilang juga apa. Kakak juga suka manggil Kak satria Bang Sat" David rada menuntut.
" Serah guelah, sini" Rasya merebut kembali HPnya. Ia menghubungi Satria.
"Halo, ada apa telepon gue terus-terusan?"
"......"
"Iya, gue baik-baik aja,,, iya,,, cerewet banget sih"
"......"
__ADS_1
" Hah? Buka Whatsapp?" Rasya menatap Elita curiga.