
Operasi Mira berjalan dengan lancar,setelah di pindahkan ke ruangan lain,keluarganya di izinkan untuk masuk satu persatu.
Dia belum sadar,kondisi benar-benar parah,dokter bilang untuk sementara dia hanya bisa berjalan memakai kursi roda.
kalau Amira mendengarkan berita ini dia pasti akan sangat hancur,dia memang selalu terlihat kuat tidak pernah mengeluh dengan keadaan nya,dia tidak banyak menuntut,dari kecil dia sudah terbiasa di abaikan oleh ibunya,jadi dia berusaha menjadi wanita tegar. Namun di balik sosoknya yang terlihat selalu kuat itu dia tetap lah seorang wanita lemah,dia perlu kasih sayang dari keluarganya,dia sebenarnya sangat rapuh.
Bu Diandra menangis pilu dalam pelukan suaminya,dia mengutuk dirinya sendiri,kenapa membiarkan Amira sendirian di luar sana,dia menyesali perbuatannya sendiri yang tidak pernah berlaku adil kepada anak kandungnya.
"Untuk apa mama menangis dan menyesali semuanya,sekarang sudah tidak ada gunanya." Ucap Dimas,dia bukannya mencoba menenangkan mamanya,tapi dia malah menyalahkan wanita itu.
"Kak Dimas,jangan begitu sama mama." Aura mengingatkan. Dimas kembali diam,dia hanya menatap sedih ke arah adiknya yang kini terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
"Aku tidak yakin dia mau memaafkan kita ma." Ucap Pak Andi dalam keheningan.
"Aku juga tidak yakin dia mau memaafkan aku,selama ini aku juga terus menyakiti hatinya Amira." Sesal Aura,dia menyesali semua perbuatan jahat yang pernah di lakukannya pada Amira. Mereka terus berada di sana sepanjang malam menjaga amyira,Dimas bahkan tidak sedikit pun memejamkan matanya,meski dia sudah sangat mengantuk,dia ingin menunggu sampai Amira sadar. Rangga juga masih di sana dia tidak pulang ke rumahnya,dia di luar ruangan menunggu Amira tersadar.
*******••••••••••********
"Ma bangun ma... Amira sudah sadar!!" seru Aura dia sangat senang saat melihat jari jemari Amira mulai bergerak-gerak.
Mereka semua langsung terjaga dan menunggu Amira membuka matanya. Mata gadis itu mulai terbuka sedikit demi sedikit,Amira merasakan pandangannya masih belum jelas,dia mulai melihat ke sekeliling ruangan,dia menyipitkan matanya saat melihat orang-orang di depannya itu,dia kembali menutup matanya,mereka semua heran melihat apa yang di lakukan Amira.
"Amira,kamu masih marah sama kami nak? Mama minta maaf,mama yang salah,mama yang sudah berlaku tidak adil sama kamu." Bu Diandra kembali menangis,dia memeluk Amira,gadis itu hanya melihatnya dengan tatapan bingung.
"Kalian siapa???
__ADS_1
"Plak!!!" pertanyaan Amira seperti tamparan keras buat mereka,ada apa ini? Kenapa Amira tidak mengenal mereka.
"Kamu tidak mengenal kami Mira,ini mama kamu,kak Dimas,dan Aura dan papa,kamu tidak mengenal kami semua???" Pak Andi syok mendengar pertanyaan Amira.
"Mira kamu juga tidak mengingat aku dan Aura?? Kamu benar-benar tidak ingat kami," tanya Dimas dia tidak kuasa lagi membendung air matanya,beningan kristal itu jatuh membasahi pipinya,ternyata keadaannya separah ini.
"Amira tolong,tolong jangan berpura-pura tidak kenal sama kami,kami tahu kamu pasti sangat marah kan,tolong maafkan kami,aku janji setelah ini aku akan jadi kakak yang baik buat kamu,aku janji bakal ngelakuin apa pun yang kamu suruh." Aura menangis sejadi-jadinya bahkan tangisannya lebih parah dari Bu Diandra,ya dia merasa sangat bersalah pada Amira,sebab Amira di usir karena dirinya.
"Ak.. aku tidak kenal kalian siapa,kenapa mengaku menjadi keluarga aku,selama ini aku hidup sebatang kara,keluarga aku semua sudah tiada,kalian...kalian," Amira menunjuk mereka satu persatu,dengan marah "Kalian bukan keluarga aku,jangan coba-coba untuk menipu aku,pergi...!!!"
"Pergi!!
"Pergi kalian dari sini!!!" Amira histeris,dim6as mencoba memeluknya untuk menenangkan,tapi tidak bisa,dia meronta-ronta minta untuk di lepaskan.
"Rangga...!!"
"Rangga!"
Melihat keadaan yang semakin kacau Aura dan papanya keluar memanggil dokter,Rangga yang mendengarkan keributan di dalam pun ikut masuk,melihat apa yang sedang terjadi.
Amira kembali tertidur,setelah dokter menyuntikkan obat penenang.
"Ingatan Amira sepertinya terhenti di saat kecelakaan itu,dan kenapa dia hanya mengingat nak Rangga ya karena di saat-saat kritisnya itu,hanya ada Rangga." Dokter itu menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu apa ingatannya bisa kembali seperti dulu dok?" tanya Pak Andi.
"Seiring berjalannya waktu Insyaallah ingatannya akan pulih kembali,asalkan dari pihak keluarga ikut membantu,jangan membuat dia stres,yang paling penting saat ini adalah mengikuti seperti apa yang dia pikir kan." Mendengar jawaban doktor tersebut,Rangga sudah dapat menyimpulkan bahwa dia harus berpura-pura menjadi suami Amira.
"Ini konyol Dim." Rangga terduduk lemas atas bangku di luar ruangan itu.
"Maafkan kami Ga,bukannya kami egois tapi ini semua untuk Amira,cuma sebentar kok,nggak lama,nanti kalau ingatannya sudah pulih kamu bisa pergi jauh dari dia." Pinta Dimas,tidak ada yang di pikirkannya saat ini selain kesembuhan Amira.
"Bagaimana jika ingatannya tidak kembali lagi?" Rangga bertanya dengan putus asa,dia belum siap untuk menikah,dia juga tidak mau berpura-pura menjadi suami Amira,apa-apaan itu, benar-benar sangat tidak masuk akal menurutnya.
"Rangga,kamu mau ya,sekali ini saja bantuin kita,sekarang nggak ada jalan lain." Tambah Aura
"Tante bahkan sangat berharap sama kamu Rangga,tante mohon kamu mau ya bantu tante.
"Saya akan sangat berterimakasih sama kamu Rangga kalau kamu mau melakukan hal ini,karena saat ini yang di ingat Amira hanya kamu saja."
Ujar Pak Andi,Rangga tidak tahu apa yang harus di lakukannya,tapi orang-orang di depannya ini sangat berharap dia mau menjadi suami Amira untuk sementara waktu saja.
"Kenapa harus aku,aku tidak bisa berpura-pura,karena aku sudah menyakitinya,nanti jika dia sadar,ingatannya sudah kembali apa kalian tahu apa yang akan dia rasakan?" tanya Rangga menatap satu persatu orang di depannya," dia akan terluka,dia akan lebih kecewa lagi,dia akan merasa bahwa selama ini dia hanya hidup dalam kepura-puraan kita,dia akan berpikir kita sedang mempermainkan perasaannya,bukan kah itu sangat menyakitkan." Lanjutnya kemudian.
"Tapi kita tidak punya cara lain Rangga." Bu Diandra tampak putus asa.
"Please Ga,aku mohon..!" pinta Aura penuh harap.
__ADS_1
"Kenapa tidak katakan saja kebenarannya pada Amira,biar dia tidak kecewa nantinya?" tanya Rangga.
"Jika mengatakan semuanya di saat keadaan seperti ini,yang ada hanya akan memperburuk keadaan." Ucap dokter Rani yang sedari tadi diam.