Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Target Sebenarnya


__ADS_3

    Bu Anet tetap diam,beliau sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rangga.


  "Ma,kalau mama terus diam begini bagaimana caranya aku tahu apa motif Laras melakukan semua ini." Ucap Rangga kesal dengan sikap sang mama.


  "Maksud kamu,Laras itu ada hubungannya dengan pak Sam?" kini barulah bu Anet merespon omongannya Rangga,semoga saja kali ini beliau mau memberitahukan tentang siapa pak Sam sebenarnya.


    "Iya,dan dia memang sengaja melakukan semua ini agar bisa masuk ke dalam keluarga kita,sepertinya dia punya niat buruk dan setahu aku,papa itu nggak punya musuh. Tapi tidak tahu dengan mama,entah siapa yang sudah mama buat sakit hatinya hingga aku ikut terseret dalam masalah ini." Ucap Rangga panjang lebar.


     "Kejadiannya sudah lama sayang,saat itu kamu baru kelas 2 SMA,mama sebenarnya sangat tidak suka membicarakan masalah ini,lagian bukankah kamu juga sudah tahu kalau pak Sam itu sudah meninggal?"


    "Rangga memang tahu soal itu ma,tapi yang sekarang ingin Rangga ketahui apa mama ada hubungannya dengan semua ini," Rangga sedikit menekankan suaranya.


  "Kamu kenapa jadi curiga sama mama,masalah ini mama nggak tahu apa-apa,dan tentang pak Sam itu nggak mungkin juga kan ada orang yang mau balas dendam,toh kematian pak Sam juga bukan salah mama,karena dia memang menggelapkan dana perusahaan saat itu,nggak bisa bayar ya dijebloskan ke penjara." Jelas bu Anet mencoba membuat rangga percaya kepadanya.


      "Ya,itu dia!" seru Rangga,sepertinya dia sudah mendapat petunjuk dari perkataan mamanya.


      "Kenapa Rangga.?" tanya bu Anet seraya memegang dadanya,reaksi Rangga tadi benar-benar membuat beliau terkejut.


     "Aku sudah menemukan jawabannya ma,mama masih punya biodatanya pak Sam nggak?" Rangga terlihat semakin semangat saja,akhirnya dia menemukan sedikit petunjuk,dan semoga itu bisa membuat masalah ini segera terselesaikan.


    "Ada di kantor,nanti kamu ambil saja sendiri di ruang kerja mama,"


     "Tapi mama jangan bersikap terlalu ketus begitu sama dia ya,karena kita belum tahu apa yang sebenarnya ingin dia lakukan," pesan Rangga,yang di ikuti dengan anggukan kepala oleh mamanya.


    Bu Anet saat itu baru saja mau mengatakan sesuatu,tapi tidak jadi karena Mira dan Laras sudah keburu masuk,sepertinya obrolan mereka sudah selesai.


    "Kalian sudah selesai ngobrolnya Mira?" tanya bu Anet sekedar basa basi.


    "Iya tante,sudah petang juga ni,Amira harus cepat-cepat pulang. Nanti Cici ngambek lagi,sekarang kan aku sudah jarang ngajakin dia main,kemana-mana selalu sendiri jadi kasihan kalau ninggalin dia sendiri lama-lama di rumah." Jawab Amira.


     "Sekali-kali kamu kan bisa ngajakin Cici ke sini Mir,tante juga sudah kangen sama dia." Ucap bu Anet.

__ADS_1


    "Iya tante,besok kalau aku datang ke sini lagi aku akan ajak Cici deh." Amira mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam tasnya,dan dia memberikan kotak itu kepada bu Anet.


Bu Anet mengerjapkan matanya berkali-kali,seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.


    "Ini buat mama Mir?" tanya bu Anet memastikan,wajahnya tampak sangat bahagia. Dia tidak pernah terbayang kalau Amira akan memberikan hadiah berupa cincin untuknya,dan yang pasti harganya tidaklah murah.


    "Iya tante."


    "Kamu dapat uang dari mana Mira,hingga bisa membelikan cincin semahal itu?" Rangga terlihat tidak senang,dia tidak mau Amira sembarangan menghabiskan uangnya sendiri hanya untuk menyenangkan hati mamanya.


   "Itu uang tabungan aku sendiri Rangga,kamu nggak usah khawatir,lagian ini tidak seberapa kok." Jawab Amira,dia tahu Rangga tidak suka dengan apa yang dilakukannya sekarang.


    "Kamu sudah membangkitkan kembali jiwa materialistisnya mama aku dengan memberikan hadiah semahal itu Mir." Ucap Rangga dengan suara yang sengaja di keraskan,supaya bu anet mendengar ucapannya. Dan benar saja bu Anet tidak tinggal diam,beliau langsung menjawabnya. "Emang ada wanita yang tidak senang di kasih hadiah seperti ini,coba kamu tunjukkan wanita mana itu?" bu Anet kesal dengan omongan anaknya. Laras hanya diam saja melihat drama diantara tiga orang itu.


      "Itu bisa menjadi kenangan buat tante,jadi tante harus menjaganya dengan baik." Ucap Amira,wajahnya terlihat tenang,tapi kata-katanya membuat mereka tidak tenang,apa coba maksudnya dengan kenang-kenangan,perkataannya seperti orang yang ingin pergi jauh saja.


    "Kamu kenapa bicara seperti itu Mir?" Rangga mulai merasa tidak tenang.


   "Ah tante sama Rangga kayak nggak tahu saja,semua barang yang kita berikan kepada seseorang memang akan menjadi kenangan." Amira menjelaskan agar mereka tidak salah paham.


    "Iya juga sih." Jawab Rangga tersenyum.


  "Kalau begitu Amira langsung pulang ya,Ma." pamit Amira.


"Ini orang gimana sih,kadang-kadang manggil tante,kadang-kadang manggil mama,aneh." Gumam Rangga,untungnya ocehannya itu tidak ada yang mendengar.


  "Oh ya,kamu tadi kesini naik taksi kan,sekarang biar Rangga yang anterin." Ucap bu Anet,wanita itu langsung menyuruh Rangga mengantar amira pulang,dan cowok itu dengan senang hati melakukannya,tanpa disuruh pun dia memang akan mengantarkan Amira.


    "Aku pulang dulu ya Ras," tak lupa juga Amira berpamitan sama Laras.


  "Iya,mbak hati-hati di jalan,ya!" pesan Laras,hubungan dia dengan Amira sepertinya sangat baik,ya karena memang targetnya bukan Mira apalagi Rangga,tapi bu anet.

__ADS_1


                              *****


    "Setelah ngantarin kamu pulang,aku akan pergi ke kantor untuk mengambil biodatanya pak Sam." Ucap Rangga.


    "Tadi Amel kirim pesan Ga,katanya kemungkinan besar Laras itu anaknya pak Sam" ungkap Mira,dan Rangga langsung menghentikan mobilnya,dia mulai merubah posisi duduknya dan menghadap ke arah Mira.


    "Kamu ngomong apa tadi?"


   "Kemungkinan besar Laras itu anak dari pak SAM!" ulang Amira dengan volume lebih tinggi di akhir kalimatnya,biar Rangga lebih jelas mendengarnya.


    "Tadi aku juga berpikir hal yang sama,bukankah Amel juga bilang kalau laras itu masih punya ibu,sedangkan ayahnya sudah meninggal"


    "Berarti sekarang kita harus mencari tahu tentang siapa ibunya Laras,bisa jadi yang menyuruhnya untuk melakukan semua ini adalah ibunya."


     "Iya,kamu benar sekali,kalau begitu sekarang kamu mau kemana,apa ikut aku ke kantor dulu atau langsung pulang?" tanya Rangga,sebenarnya sih itu cuma akal-akalannya dia aja,sebab dia masih ingin berlama-lama dengan Amira,beberapa hari terakhir ini mereka sangat jarang menghabiskan waktu berdua,karena terlalu sibuk mencari informasi tentang Laras.


      "Alasan kamu aja kan," ucap Amira seraya melihat Rangga dengan tatapan malasnya.


    "Hehe...tau aja." Rangga terkekeh,dia kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan,karena Amira lebih memilih untuk langsung pulang saja.


                          *****


    Bu Anet tampak sedang melamun di kamarnya,wanita itu kembali mengingat peristiwa yang terjadi tujuh tahun yang lalu.


    "Kalau memang Laras datang untuk membalas dendam,itu berarti dia memang benar anaknya pak Sam,kalau dia anaknya pak Sam berarti ibunya itu Lidia." Batin bu Anet dan wajahnya terlihat tegang saat beliau mengingat nama sepasang suami isteri itu.


    Lidia adalah wanita yang memang sangat membencinya,Lidia merupakan teman suaminya yang tak lain adalah papanya Rangga,wanita itu sangat mencintai pak Erick(papanya Rangga). Tapi pada akhirnya yang dipilih oleh pak Erick adalah bu Anet bukan Lidia,padahal saat itu Lidia sudah berjanji akan meninggalkan suaminya dan dia mau menikah dengan papanya Rangga,namun papa Rangga tidak mau melakukan hal seperti itu,karena beliau sudah menganggap Lidia sebagai adiknya sendiri.


Namun siapa sangka ternyata Lidia malah menyimpan dendam terhadap bu Anet.


                            **"***

__ADS_1


         


__ADS_2