
Hari-hari terus berlalu,setelah pernikahan Dimas dan Siska dilaksanakan dan berjalan dengan lancar,dan tiga minggu setelahnya pernikahan Aura dan Doni,acara mereka juga berjalan dengan lancar,pesta mereka di gelar dengan mewahnya dan mengundang para pengusaha-pengusaha ternama,tapi kali ini Amira dan Rangga tidak ingin seperti kakak-kakaknya,mereka sudah merancang konsepnya sendiri,ingin membuat pernikahan yang sederhana saja.
"Kalian berdua kenapa,takut ngeluarin banyak biaya?" tanya Aura pada calon adik iparnya itu.
"Kalau soal biaya kita nggak perlu mikir ya kan Mira?" ucap Rangga meminta pendapat Amira.
"Iya,kakak-kakak kita kan orang kaya semua,minta aja uang sama mereka iyakan Rangga sayang." Jawab Amira santai.
Mereka berdua menatap pasangan pengantin baru itu dengan wajah sok polosnya.
"Gini ni kalau jadi orang kaya,di jadiin ladang duit sama mereka berdua." Tutur Aura sambil memonyongkan mulutnya.
Amira tertawa melihatnya." Kak Aura dan kak Doni enggak bulan madu tu,kayak kak Siska?" tanya Rangga.
"Kita nanti aja ya sayang ya,setelah mas Dimas sama mbak Siska pulang." Jawab Doni,sambil melirik ke arah Aura yang duduk di sampingnya.
"Iya,kita nanti aja,lagian kamu juga masih punya banyak pekerjaan di kantor yang nggak bisa di tinggalin gitu aja." Ucap Aura penuh perhatian. Mira terus menatap mereka dengan pandangan yang cukup rumit,pikiran Amira sendiri juga tidak fokus saat itu. Rangga yang melihatnya segera bertanya,ada apa sebenarnya dengan Amira karena dilihatnya dari tadi Amira sama sekali tidak fokus.
"Kamu kenapa Mira,kamu baik-baik aja kan?" tanya Rangga.
"Aku nggak apa-apa kok,cuma lagi nggak enak badan aja." Jawab Amira berbohong.
"Yang nggak enak itu badan apa perasaan?" tanya Aura yang tahu betul kalau Amira sedang berbohong.
"Kakak kenapa nggak percaya gitu sama omongan aku?" dia balik bertanya.
"Mir,jangan memendam segala sesuatu itu sendiri,kalau ada yang mengganjal di hati ya di omongin." Ujar Doni menasehati.
"Apa yang di katakan kak Doni benar Mira,coba bilang sama kita apa yang membuat perasaan kamu tidak enak.?" Tanya Rangga,berusaha membuat Amira mengeluarkan sesuatu yang mungkin mengganjal dipikiran calon istrinya itu.
"Aku nggak yakin Rangga kalau pernikahan kita akan berjalan dengan lancar." Ungkap Amira jujur,dia sebenarnya ingin menangis saat itu,entahlah dia sendiri juga tidak tahu kenapa dirinya ingin menangis,menangis dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih?" Rangga sebenarnya juga ikutan khawatir,dan perasaannya juga jadi tidak enak setelah mendengar ucapan Amira.
__ADS_1
"Jangan berpikir dan berprasangka yang buruk dulu,yang penting banyakin berdoa biar Allah mempermudahkan segala urusan kita." Ucap Doni.
"Iya dengar tu Amira kata kakak ipar mu." Ucap Aura.
"Ah,kamu itu memang baik,bijak,penuh perhatian dan aku nggak salah milih kamu jadi pendamping hidup aku,tambah sayang aja." Puji Aura sambil memeluk suaminya itu,dia bahkan bersikap sok mesra di depan Rangga dan Amira,yang membuat mereka hampir muntah melihatnya. Amira yang perasaannya tadi tidak enak malah tambah tidak enak saat melihat Aura yang bermanja-manja di pelukan Doni,meski mereka sudah sah menjadi suami istri tapi nggak perlu gitu juga lagi.
"Mir,keluar yuk! rasanya aku mau muntah" ajak Rangga,sebenarnya cowok itu sedang menyindir pasutri didepannya.
"Aku juga." Tambah Amira,dia menggenggam tangan Rangga dan pergi meninggalkan Doni dan Aura.
"Huu...bilang aja iri" cibir Aura saat adiknya itu sudah keluar bersama Rangga,mereka kemudian sama-sama tertawa,ternyata mereka memang sengaja bersikap seperti itu di depan Amira,supaya Amira dapat melupakan perasaan khawatirnya.
\*\*\*\*\*\*
Setelah mengantarkan Amira ke toko kue mamanya,Rangga langsung pergi menuju kantornya,dia juga masih punya banyak pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya,apalagi akhir-akhir ini dia terlalu sering bertemu dengan Amira,hingga semua urusan kantor jadi bu Anet yang mengurusinya.
"Mukanya kok cemberut gitu sih Mir?" tegur mamanya.
"Bukan cemberut ma,lagi malas senyum aja." Jawab Mira seadanya.
"Mama,Mira boleh nggak nanya sesuatu?"
Melihat wajah Amira yang mulai terlihat serius bu Diandra mulai memfokuskan perhatian pada gadis itu.
"Tok tok...!" seorang wanita mengetok pintu ruang kerjanya bu Diandra yang memang dibiarkan terbuka begitu saja,membuat Amira dan mamanya sama-sama menoleh.
"Maaf bu mengganggu,ini daftar pemasukan kita bulan ini yang ibu minta.
"Iya,terimakasih ya Syila." Ucap bu Diandra.
"Sama-sama bu,kalau tidak ada apa-apa lagi saya permisi dulu." Ucap mbak Syila dengan sangat sopannya.
"Ya,silahkan!" jawab mamanya Mira. Kemudian mereka sama-sama melanjutkan pembicaraan tadi yang sempat tertunda.
__ADS_1
"Kamu tadi mau nanya apa sama mama.?"
"Ma,kalau seseorang ingin menikah,tapi perasaannya tiba-tiba tidak enak apakah benar bahwa itu pertanda tidak baik?" tanya Amira hati-hati.
"Sayang,jangan terlalu di bawa perasaan,itu semua sudah biasa terjadi,orang yang ingin menikah memang begitu,takut pernikahannya gagal lah,takut tidak berjalan sesuai dengan keinginan semua itu hanya pikirannya saja." Jawab bu Diandra.
"Tapi perasaan Amira benar-benar nggak enak,nggak nyaman,Amira sendiri juga tidak tahu bagaimana cara ngejelasin semuanya." Ujar Amira,matanya tampak sayu,semangatnya seperti hilang.
"Serahkan saja semuanya sama Allah,yang pasti kamu harus tetap ingat jika Rangga memang jodoh kamu sejauh apapun dia pergi dia akan tetap kembali pada kamu."
"Ma,kenapa Amira ingin menangis dari tadi." Amira semakin tidak bisa menahan air matanya.
"Hiks...!"
"Hiks...!" ternyata Amira benar-benar menangis,dia sudah lelah dari tadi menahannya bahkan dadanya pun terasa sesak,bu Diandra segera bertukar posisi duduknya,dan duduk di samping Amira untuk menenangkan anaknya itu.
"Sudah dong Mira,kamu membuat mama khawatir,berhenti dong nangisnya!" pinta bu Diandra,malah beliau sendiri seperti hendak ikut menangis.
"Mira nggak tahu ma kenapa Mira nggak bisa berhenti menangis" jawab Amira di sela tangisnya.
"Kamu sakit?"
"Nggak,Amira nggak sakit,Amira cuma ke ingat Rangga terus,Amira sayang dia ma,dan aku nggak mau dia pergi" ucap Amira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bu diandra semakin tidak mengerti dengan ucapan Amira,dia terus menangis dan mengatakan takut,sepertinya Amira benar-benar tidak sehat saat ini,begitulah yang dipikirkan wanita itu.
"Mama... bagaimana kalau Amira benar-benar nggak bisa bersama Rangga,aku takut ma,aku sudah pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya,rasanya sakit sekali." Bu Diandra tidak bisa mengatakan apapun,beliau hanya bisa mengusap punggung anaknya untuk menenangkannya,tidak tahu kenapa Amira tiba-tiba jadi seperti itu.
"Mama...!" seru Aura dia berlari dan hampir saja menabrak meja di depannya.
"Ada apa?" bu Diandra yang sedang menenangkan Mira terkejut saat mendengar teriakan Aura.
Sedangkan Amira sama sekali tidak mempedulikan kedatangan kakaknya,dia masih menangis dalam pelukan mamanya,Aura tahu kalau saat itu Amira sedang galau jadi tidak berani untuk mengatakannya,tapi bagaimanapun dia tetap harus mengatakannya.
__ADS_1
"Ini ma,Ra-Rangga k-kecelakaan." Ucap Aura terbata. Amira sangat syok dibuatnya,jantungnya berdetak kencang,sekarang terjawab sudah kenapa perasaannya tidak enak.
"Mama... Rangga." Mira kembali menangis,melihat hal itu Aura langsung berkata. "Dia tidak kenapa-kenapa,tapi orang yang dia tabrak terluka cukup parah dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit,Rangga menyuruh kamu untuk datang kesana" sambung Aura.