
Setelah Amira menemaninya makan siang,Rangga kemudian mengajak Amira untuk duduk di taman belakang rumahnya.
"Apa rencana kamu,Ga?"
"Aku masih bingung Mira,tolong bantu aku!" ucap Rangga lemah,dia benar-benar tidak mau menikahi gadis itu.
"Kamu tetap harus menikahinya apapun yang terjadi,kamu juga tidak punya pilihan lain kan?"
"Kamu nyuruh aku untuk menikahi dia? Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Kita juga akan menikah bulan ini,semuanya sudah di persiapkan Mira,tidak mungkin dibatalkan begitu saja." Ucap Rangga gelisah.
"Belum terlambat untuk mengakhiri semuanya." desis Mira,dia berusaha untuk tidak terlihat rapuh saat itu.
"Dengerin aku! Aku tahu kamu sangat mencintai aku,tapi saat ini kita tidak punya pilihan lain Rangga,hubungan kita mungkin hanya bisa bertahan sampai disini saja." Ucap Amira,matanya terasa perih ingin sekali menangis tapi tidak mungkin,karena nantinya akan membuat Rangga semakin tidak bisa mengambil keputusan yang tepat.
"Kamu sudah mau menyerah,kamu tidak ingin mempertahankan hubungan kita sama sekali,kamu sudah ingin menyerah begitu saja?" bentak Rangga,dia tidak bisa menahan emosinya,nafasnya memburu dadanya naik turun,menurut dia Amira sudah tidak mencintainya lagi,karena begitu mudah menyuruhnya untuk menikahi gadis itu.
"Namanya Laras Ga,sebelum kesini aku sudah kerumah sakit dengan mama,tadi aku bertemu dengan temannya,dia menceritakan semuanya tentang Laras." Ucap Amira,dia ingin Rangga tahu kenapa dirinya setuju jika dia menikah dengan Laras.
"Maksud kamu apa?" kini suaranya mulai melunak,tidak sekasar tadi.
"Orang yang kemarin itu bukan orang tua kandungnya,mereka orang tua tiri Laras,mamanya meninggal saat dia masih kelas 2 SMP,dan kemudian papanya nikah lagi,dan saat dia baru masuk SMA papanya juga meninggal,dan ibu tirinya itu nikah lagi,di rumahnya pun dia sering di pukuli tanpa alasan,kamu harus mau ya menikahi dia?" Amira mencoba membuat Rangga mengerti.
"Mir,menurut kamu bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak kita cintai sama sekali?" tanya Rangga dengan tidak semangat.
Amira tidak menjawab dia hanya menggenggam tangan Rangga dan merebahkan kepalanya di bahu cowok itu,menutup matanya dan merasakan angin yang berhembus pelan,dia mencoba untuk membuat pikirannya tenang,Rangga pun terdiam mereka membisu diam seribu bahasa,sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Amira mengucapkan satu kata.
"Menikahlah dengannya! Setelah itu nikahi aku," dan ucapannya itu sukses membuat Rangga jantungan.
"Kamu bilang apa Mira? Aku nggak salah dengar kan?" tanya Rangga masih tidak yakin.
"Nggak,kamu nggak salah dengar,kamu pikir aku rela kamu nikah sama orang lain?"
"Makasih Mir,kalau begitu aku mau." Rangga sangat senang hingga dirinya begitu saja mendaratkan sebuah ciuman di bibir Amira,meski cuma sebentar tapi membuat Amira marah kayak orang kesurupan,dia bahkan melempari Rangga dengan sepatunya,syukur Rangga sudah menjauh saat itu.
__ADS_1
"Galak bangat calon istri gue,gimana ceritanya kalau malam pertama?" ucap Rangga setelah dia menjauh dari Mira,bahkan bahunya sampai bergidik membayangkan Amira yang galak begitu.
"Awas kamu,aku nggak terima Rangga!" Amira berseru marah,gadis itu berlari ke arah Rangga,akhirnya mereka jadi kejar-kejaran di taman belakang yang luas itu,alhasil tanaman bu Anet yang jadi korbannya.
"Ya ampun!!! Bunga-bungaku,anak-anak itu sudah pada gede-gede masih aja kayak anak kecil." Ucap bu Anet kesal.
"Rangga,Amira...!" seru bu Anet memanggil mereka,akhirnya aksi mereka terhenti sejenak dan melihat ke arah panggilan tersebut,ternyata itu adalah bu Anet.
"Mir,mama kesini sambil bawa sapu lidi lagi,kayaknya mama marah deh." Ucap rangga mulai waspada.
"Sepertinya kita bakalan di pukul Ga,karena sudah merusak tanaman mama,tapi ini salah kamu bukan aku!" Amira membela diri,lah emang itu Rangga yang merusaknya jadi Amira tidak mau kena marah sama calon ibu mertuanya itu.
"Mir,Mira kabur Mir.!!" seru Rangga saat melihat mamanya semakin dekat,mereka akhirnya kembali berlari menjauh.
"Tante,ini bukan salah Amira,ini semua Rangga yang merusaknya!" seru Amira sambil berlari.
"Mama nggak mau tahu,pokoknya ganti bunga mama." Bu Anet mengejar mereka,kemudian melayangkan sapu lidi di tangannya,dan mendarat tepat di punggungnya Rangga.
BUK!
"Wah kamu ngeledekin mama,awas kamu ya!" ucap bu Anet masih mencoba mengejar.
"Ampun ma..!" seru Rangga di iringi dengan tawanya,cowok itu menarik lengan Amira dan mengajaknya masuk ke dalam,dia sudah lelah berlari-lari dari kejaran mamanya.
"Dasar anak nakal" gumam bu Anet kesal,tapi beliau sebenarnya juga sangat bahagia melihat Rangga sudah bisa tertawa lagi,tidak seperti beberapa hari sebelumnya.
****
"Kamu yakin sama keputusan kamu Mir?" tanya Aura.
"Yakin kak,lagian Laras juga tidak keberatan akan hal ini,kami akan merawat dia sampai ada seseorang yang mendonorkan mata untuknya" ucap Amira seraya tersenyum. Aura merasa tidak enak hati dengan keputusan Amira.
"Kamu sudah berpikir...
__ADS_1
"Keputusanku sudah bulat kak," potong Amira,membuat Aura tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Apa dia masih mencintai calon suaminya itu?"
"Ya,dia bilang sih begitu,tapi aku juga tidak yakin kalau cowok itu masih mau menerima dia."
"Kenapa hidup kamu ribet begini ya Mira,mau nikah aja rintangannya sudah banyak kayak gitu?"
"Mira jalani aja kak." Jawab Mira singkat.
"Mir,kamu yakin ini keputusan yang tepat?" Aura bertanya lagi,dia tidak mau Amira salah dalam mengambil keputusan.
"Aku yakin,kakak ini kenapa sih khawatir sampe segitunya?" Amira mengerutkan keningnya.
"Nikah itu bukan perkara yang dapat dijadikan mainan Mir,apapun langkah yang ingin kamu ambil selanjutnya,kamu harus memikirkannya dengan matang,kakak hanya ingin mengingatkan saja." Aura berusaha menasihati adiknya.
"Kak Aura seperti tidak mendukung keputusanku." Ucap Amira tampak kecewa.
"Aku bukan tidak mendukung Mir,aku cuma tidak yakin aja,mungkin iya sekarang Laras bilang kalau dia mau mengizinkan kamu menikah dengan Rangga setelah Rangga menikahi dia,tapi ingat Mira dia itu perempuan,dan kamu tahu sendiri sifat perempuan itu bagaimana."
"Maksud kak Aura?" tanya Amira semakin tidak mengerti dengan perkataan kakaknya.
"Memang ada wanita yang mau di madu? Meski dia tidak kenal dengan Rangga,namun setelah menjadi istri dan mulai hidup bersama seiring berjalannya waktu perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya,coba deh kamu pikir sendiri Mira,kamu ini kayak nggak pernah nonton sinetron aja." Sindir Aura di akhir kalimatnya.
Amira bengong mendengar ucapan Aura,perkataan kakaknya itu ada benarnya juga,mana mungkin Laras nantinya mau menerima Amira sebagai istri keduanya Rangga,pasti dia tidak akan membiarkan Rangga menikahi dirinya,apalagi Laras sudah tahu bahwa Rangga memang sangat mencintai Amira,dia pasti tidak mau menjadi istri yang di abaikan.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana?" Amira kini mulai ragu dengan keputusannya sendiri.
"Mau bagaimana lagi Mira,kamu ya harus merelakan Rangga,Laras juga tidak mungkin kan jadi istri pertama tapi di abaikan,coba kalau kamu yang berada di posisi dia bagaimana perasaan kamu?" Aura mencoba membuat Amira mengerti,dia tidak ingin adiknya itu kembali bersama dengan Rangga,karena menurut dia Rangga memang bukan jodohnya(Amira).
*******
__ADS_1
.