
Begitu sampai dirumah sakit Amira langsung memeluk Rangga,dia sangat takut terjadi hal buruk pada kekasihnya itu,apalagi sekarang mereka akan menikah.
"K-kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Amira saat melepaskan pelukannya.
"Nggak,aku baik-baik saja,kamu habis nangis ya?" ucap rangga bertanya ketika melihat mata Mira yang masih sembab.
"Perasaan aku sudah tidak enak sejak tadi di rumah,kamu sih nggak percaya sama aku,kan sudah kejadian seperti ini." Ucap Amira kesal. "Kamu pasti ngebut-ngebut bawa mobilnya kan?"
"Tidak...!" jawab Rangga cepat. "Dia itu lewat tiba-tiba di depan mobil aku,dan terjadilah kejadian seperti ini." Ucap Rangga jujur.
"Yang kamu tabrak itu cewek apa cowok.?" Pertanyaan Amira membuat Rangga merasa aneh,gadis itu masih sempat-sempatnya menanyakan hal konyol seperti itu,di saat keadaan sedang gawat begini.
"Apa pentingnya coba,mau cewek mau cowok yang pasti aku harus bertanggung jawab karena sudah menabrak anak orang." Jawab Rangga dia tampak khawatir.
"Rangga,kamu tahu kan orang zaman sekarang suka memanfaatkan keadaan,kalau yang di tabrak anak perempuan maka kamu harus mau menikahinya,kamu nggak berpikir seperti itu?" tanya Amira,ah dia berpikiran terlalu jauh,eits...tapi ada benarnya juga seperti apa yang di katakan Amira.
"Kamu membuat aku semakin pusing Mira." Rangga lemas seketika,dia baru menyadari akan kebenaran dari ucapan Amira,dan lagi yang di tabraknya itu juga seorang perempuan.
"Yang aku tabrak itu memang seorang perempuan." Lirih cowok itu.
Jawaban Rangga membuat Amira terdiam,sekarang benar-benar keadaan yang sulit untuk mereka,badai itu akhirnya datang juga,ternyata jalan yang harus di tempuh untuk bisa bersatu tidaklah selalu mulus.
*******
"Bu anet sudah berada di rumah sakit sekarang setelah menerima telepon dari Rangga,orang tua gadis itu juga sudah datang,Amira terus menggenggam tangan kekasihnya seperti tidak ingin Rangga jauh-jauh dari sampingnya.
"Matanya mengalami kebutaan,kalian dengar sendiri kan?" ucap lelaki itu,yang tak lain adalah ayah dari si korban.
"Saya ingin anak ibu bertanggung jawab atas kejadian ini" tambah istrinya.
"Ya,kami akan membayar semua biaya pengobatannya,ibu tenang saja." Jawab bu Anet.
"Kalau soal biaya kami sendiri pun bisa membayarnya." Tukas si bapak mulai kesal.
__ADS_1
"Lalu saya harus apa? Dan lagi,bukan saya yang sengaja menabrak dia,dia sendiri yang tiba-tiba muncul di depan mobil saya." Ucap Rangga membela diri.
"Tetap kamu yang bersalah." Si ibu ikut membantu suaminya.
"Lalu bapak mau apa,mau laporin saya ke polisi,silahkan.!" tantang Rangga,dia masa bodoh dengan semua itu,karena menurut dirinya dia tidak bersalah.
"Kamu harus menikah dengan anak saya." Ucap ibu itu. Bu Anet tidak setuju dengan permintaan bodoh wanita di depannya,jadi beliau langsung menjawabnya.
"Eh,anda pikir menikah itu suatu hal yang bisa di buat main-main,anak saya tidak kenal dengan anak anda,dan kami juga tidak tahu kalian itu berasal dari keluarga baik-baik atau bukan,enak saja suruh nikah sembarangan." Omel bu Anet tidak terima.
Amira hanya diam,bahkan sekarang dia perlahan-lahan menjauh dari mereka, Rangga sendiri bahkan tidak sadar kalau Amira sudah tidak ada di sampingnya lagi,gadis itu berjalan sempoyongan tidak tentu arah,dugaannya kali ini pun benar,Rangga disuruh menikahi anak wanita itu,sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa,dia terus berjalan keluar dari rumah sakit."
******
Begitu sampai di rumah tubuh Amira langsung ambruk ke lantai,dan itu membuat semua keluarganya panik,mereka yang memang sedang duduk di ruang tengah langsung berlari menuju ke arahnya,Doni segera mengangkat tubuh adik iparnya dan merebahkannya di atas sofa.
"Dia kenapa lagi ini ma?" Aura khawatir dengan keadaan Amira,apalagi wajahnya sangat pucat.
"Pasti terjadi sesuatu lagi." Ucap mamanya.
"Apa tidak sebaiknya kita tanyakan langsung pada Rangga?" usul pak Andi.
Mereka terus mengawasi Amira,dia belum sadar juga.
"Badannya semakin panas Ra." Kata Doni saat menempelkan tangannya di kening Amira.
"Benarkah?" tanya Aura tidak yakin,kemudian dia meletakkan telapak tangannya di pipi dan kening adiknya,ternyata memang benar Amira sakit.
"Pa,telpon dokter Niko saja untuk melihat kondisi Amira.!" Ucap bu Diandra,tanpa di suruh dua kali,pak Andi langsung menelpon dokter pribadi keluarga mereka.
********
Sudah tiga hari setelah kejadian di rumah sakit hari itu,Rangga sama sekali tidak menghubungi Amira,dan Amira pun juga tidak menghubungi Rangga,mereka seperti sedang memberi waktu untuk diri masing-masing,waktu untuk berpikir tentang hubungan mereka yang sekarang sedang dalam masalah.
"Gadis yang di tabrak Rangga mengalami kecedaraan pada matanya,dia buta tidak akan bisa melihat lagi,dan keluarganya meminta Rangga untuk menikahi gadis itu." Ucap Amira,dia bicara sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak boleh egois kan,aku juga seorang wanita,aku bisa merasakan bagaimana kehilangan semangat hidup,tapi haruskah aku memberikan Rangga kepada gadis itu?" Amira bertanya pada dirinya sendiri. Dia menangis dan kemudian tertawa,dan menangis lagi.
"Pikirannya benar-benar kacau kak." Ucap Aura pada Siska,mereka ternyata sedang berada di depan kamar Amira dan melihat keadaan gadis itu,yang sudah seperti orang gila. Siska dan Dimas sudah pulang,mereka langsung pulang dari acara berbulan madunya,begitu mendengar kabar tentang Amira.
"Kenapa tidak telpon Rangga saja,karena yang dia butuhkan adalah Rangga." Usul Siska.
"Aku sudah menelpon dia,dan apa kakak tahu apa yang Rangga katakan,gadis yang di tabraknya itu bahkan keadaannya lebih kacau dari pada Amira" ungkap Aura,sekarang ini mereka tidak punya jalan keluarnya,Rangga juga tidak bisa di harapkan,Amira juga tidak mau bicara sama mama.
******
"Mama kenapa berjalan mondar mandir seperti itu,pusing papa melihatnya,telpon saja pak Aryo siapa tahu dengan bertemu papanya keadaan Amira jadi sedikit lebih baik." Ucap pak Andi mengusulkan.
"Iya ya,kenapa aku tidak kepikiran dari tadi." Bu Diandra segera menelpon mantan suaminya itu.
Berselang 30 menit pak Aryo dan istrinya pun tiba di kediaman mereka,tidak hanya datang berdua,tapi mereka juga membawa si comel Cici.
"Apa keadaannya memburuk lagi?" tanya pak Aryo terlihat khawatir.
"Dia tertawa,menangis,dan kemudian tertawa lagi Amira terus bicara sendiri di kamarnya." Ucap bu Diandra sedih.
"Kamu sebaiknya langsung melihat keadaannya,Aryo!" suruh pak Andi. "Siapa tahu dengan kamu dia mau bicara." Sambung lelaki itu.
"Tidak apa-apa om,biar Cici saja yang bicara sama kak Amira" ujar Cici menawarkan diri untuk membantu
"Kamu ingin bicara sama kak Amira,emang kamu bisa?" tanya bu Diandra tidak yakin.
"Yakinlah,tante tenang saja." Jawab Cici sambil turun dari pangkuan mamanya.
"Biar papa saja,kamu jangan sok keren gitu deh" cegah bu Desi.
"Tidak apa,biarkan saja." Ucap pak Andi,lelaki itu membiarkan begitu saja Cici pergi menemui Amira,karena menurutnya Cici punya cara tersendiri.
Di tengah tangga Cici berhenti dan melihat ke bawah sambil bertanya. "Kamar kak Amira belok kiri apa kanan?" dia tidak tahu harus kemana,karena rumah mereka cukup luas.
"Kiri!" sahut bu Diandra dan pak Andi bersamaan.
__ADS_1
"Oke." Cici kembali melangkah,dia bahkan senyum-senyum sendiri saat itu,sepertinya Cici sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat Amira kesal nantinya.
*******