
Hujan terus turun dengan derasnya,membuat Amira terjebak di sana,di sebuah restorant yang terletak tidak jauh dari perusahaan papanya,pak Andi.
Amira menarik nafas panjang beberapa kali,dia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Rangga memang tidak akan bisa di milikinya lagi.
"Jangan terus melihat fotonya,ini hanya akan membuat kamu semakin sulit untuk melupakan dia." Ujar seseorang di belakangnya,Amira menoleh kebelakang dan ternyata itu adalah Amel.
"Bagaimana kamu tahu aku ada disini?" tanya Amira,dia masih fokus menatap foto Rangga yang masih disimpan di album handphonenya.
"Aku memang menyuruh seseorang untuk terus memantau kamu,apa yang kamu lakukan setiap harinya,ini sebagai bentuk permintaan maaf aku sama kamu,karena sudah berniat ingin menghancurkan hubungan kamu dengan Rangga." Ucap Amel penuh sesal.
"Tidak perlu repot-repot lagi menyuruh seseorang untuk memantau segala aktivitas aku,karena sekarang hubungan aku dan Rangga sudah benar-benar hancur." Ucap Amira,dia menatap Amel dengan dalam.
"Kamu jangan salah paham dulu Mira,aku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar bahagia dengan Rangga,kamu tahu kenapa aku mau merelakan Rangga dan tidak melanjutkan niat buruk ku ini? Karena aku sadar bahwa Rangga memang sangat mencintai kamu,dan kamu juga perempuan yang berhati mulia,aku merelakan dia bersama kamu,tapi kamu malah begitu saja membiarkan dia bersama orang lain yang bahkan Rangga tidak mengenal gadis itu" ucap Amel,dia mau Amira terus mempertahankan Rangga.
"Besok mereka akan menikah Mel,biarkan saja aku mengambil keputusan seperti ini,aku juga sudah lelah." Ucap Amira sendu,dia tidak ingin Amel mengacaukan pikirannya,dia sudah membuat keputusan bahwa dia tidak akan mengganggu Rangga lagi,meskipun sebelumnya dia sudah berjanji pada Rangga bahwa mereka akan menikah setelah Rangga menikahi gadis itu,tapi sekarang dia tidak ingin menjadi yang kedua.
"Kamu yakin bisa melupakan Rangga semudah itu Mir?" tanya Amel. Dia tidak yakin akan keputusan yang di ambil Amira.
Amira yang sejak tadi terus memandangi hujan,kembali melihat ke arah Amel yang duduk di depannya.
"Aku sendiri juga tidak yakin,tapi aku akan mencoba."
"Kamu mungkin bisa membuang semua barang pemberian dari Rangga,dan kamu juga bisa menghapus semua foto dia yang ada di hp kamu,tapi kenangan itu bagaimana kamu akan menghapusnya?" tanya Amel lagi,dia sebenarnya tidak rela kalau Rangga menikahi orang lain,dia sudah mau melepaskan Rangga hanya untuk Amira,tapi sekarang Amira malah tidak mau memperjuangkan Rangga.
"Amel,jangan mencoba membuat aku semakin ragu,sebenarnya kamu masih suka kan sama dia,kalau kamu memang masih mencintai Rangga kamu kejar saja cintanya dia,lagian aku sudah tidak peduli lagi" ucap Amira mulai gusar,dia segera meraih tasnya dan pergi menerobos hujan yang masih turun dengan deras.
"Mir,Mira kamu kok jadi marah sih?"
"Mir,tunggu dulu Mir!" panggil Amel,diapun ikut keluar mengejar Amira.
__ADS_1
Amira tidak peduli dengan bajunya yang basah di bawah guyuran hujan,sedangkan Amel terhenti langkahnya di depan restoran itu,dia tidak ingin bajunya ikutan basah juga,dengan keadaan panik Amel menelpon Dimas dan memberitahukan apa yang barusan terjadi.
********
Amira pulang kerumahnya dalam keadaan basah kuyup,rumahnya sangat sepi saat itu,karena di rumah tidak ada satu orang pun. Ya,semenjak kedua kakaknya menikah,Amira hanya tinggal bertiga dengan mama dan papanya,Aura hanya sekali-sekali saja pulang ke rumah,dan Dimas juga demikian.
Amira menaiki tangga satu persatu dia hendak masuk ke kamarnya untuk mengganti baju.
"Setelah berganti pakaian kamu turun lagi kesini ada yang mau kakak bicarakan sama kamu!" ucap Dimas,langkah Amira terhenti seketika, karena dia tidak menyadari bahwa kakaknya ternyata ada di ruang tengah saat itu.
"Iya" jawab Amira singkat,dia melihat ke arah di mana kakaknya duduk,ternyata di sana juga ada Cici,anak kecil itu tengah sibuk melukis di samping Dimas,pantesan aja suaranya nggak terdengar sama sekali.
^°°°°^
"Jangan berbuat hal bodoh seperti itu lagi Mira,kamu buat kakak gelisah setiap hari." Ucap Dimas mengingatkan.
"Hal bodoh apa kak?" tanya Amira sedikit menungging kepalanya,menatap Dimas dengan bingung.
"Amira tidak akan mengganggu dia lagi,besok Rangga juga akan menikah dengan Laras,tidak ada lagi yang bisa di perjuangkan kak." Ucap Amira dia tidak terlihat sedang bersedih saat itu,mungkin hatinya sudah benar-benar bisa merelakan Rangga.
"Ya sudah kalau kamu memang yakinnya begitu,kakak juga tidak bisa berkata apa-apa,semua keputusan ada di tangan kamu."
"Kak Dimas ingat nggak dulu,waktu Rangga memutuskan aku karena Amel,dia bahkan bisa bertindak begitu jahatnya sama aku,seolah-olah aku ini tidak pernah menjadi bagian dalam hidupnya dia,dan dari kejadian itu aku dapat menyimpulkan bahwa Rangga juga akan dengan mudahnya dapat melupakan aku." Jelas Amira di iringi dengan senyumnya,senyum yang sulit diartikan.
"Kalau memang tidak kuat,ya jangan sok kuat kak,nangis ya nangis aja kalau nggak teriak sekalian,biar dadanya pun terasa plong" cicit Cici sambil terus melukis,anak kecil itu memang sangat pintar bicara,Dimas berusaha menahan senyumnya,dia heran dari mana Cici dapat kata-kata seperti itu,dia sudah seperti orang dewasa saja saat menasehati orang lain.
"Kamu Ci kalau melukis ya melukis aja,nggak usah nyimak obrolan orang lain,fokus aja sama apa yang ada di depan mata." Tutur Amira kesal.
"Yang di depan Cici ya kak Amira,nggak salah dong kalau Cici ikut nimbrung juga" lanjut Cici,dia memang duduk di depan Amira,hanya saja dia lesehan sedangkan Amira dan Dimas duduk di atas sofa.
"Kamu sebaiknya jangan berdebat sama Cici Mira,malu kalau kalah." Ucap Dimas di iringi dengan kekehannya.
"Kak Dimas betul,kak Mira sebaiknya jangan berdebat sama aku tapi bukan karena kalah,melainkan takutnya nanti darah tingginya kumat lagi." Tambah Cici, lama-lama tingkahnya itu membuat Amira jengkel.
__ADS_1
"Hahaha..." Cici tertawa lucu memperlihatkan giginya yang berbaris rapi.
"Ternyata aku nggak salah mengajak Cici tinggal di sini untuk menemani Amira,karena sepertinya dia bisa membuat Amira melupakan sedikit masalahnya." Ketik Dimas,dia mengirim chatt itu kepada Siska.
\*\*\*\*\*
"Kak,tadi kak Dimas bilang sama mama untuk ngizinin aku tinggal disini sama kak Amira,mama ngizinin,kalau kakak bagaimana?" tanya Cici saat mereka tengah rebahan di atas kasur
"Ya,kakak sih nggak keberatan asalkan kamu nggak ngusilin kakak tiap hari" ucap Amira.
"Tapi kalau nggak ada Cici kak Amira juga kesepian kan?" ucap Cici,apa yang dikatakannya memang benar,jadi Amira tidak bisa membantahnya,dia hanya tersenyum mengiyakan.
"Besok kita datang ke acara pernikahannya kak Rangga,kakak mau kan?" tanya Cici berharap.
"Enggak ah,kakak saja mau move on,eh kamu malah ngajakin datang kesana." Tolak Amira tidak setuju.
"Ayolah...! Aku sangat penasaran ingin melihat bagaimana wajah perempuan yang akan dijadikan istri kak Rangga." Rengek Cici,dia masih membujuk Amira.
"Pokoknya kak Mira nggak mau,wajahnya biasa aja kok nggak ada yang spesial,jadi kamu nggak usah penasaran."
"Kakak cemburu ya?" tanya cyici penuh selidik.
"Nggak...! Sekali lagi kamu ngomongin tentang kak Rangga,kakak bakal nyuruh kamu tidur di luar malam ini,mau?" ancam Amira,dia hanya menakut-nakuti Cici saja,tidak berniat serius dengan ucapannya.
"Jahat!" Ucap cici dengan wajah cemberut,dia kemudian tidur Dengan posisi memunggungi Amira.
Amira diam-diam tersenyum dalam hatinya saat melihat wajah Cici yang berubah jadi bad mood.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1