Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Bertemu Camer Matre


__ADS_3

     "Pagi-pagi sudah rapi dan cantik begitu,mau kemana memangnya kamu?" tanya Aura ketika sedang menyantap sarapannya.


     "Mau tahu aja apa mau tahu bangat.?" Tanya Amira sengaja mau buat Aura penasaran.


     "Kalau papa sih,nggak usah di kasih tahu juga sudah tahu duluan kamu mau kemana." Ucap pak Andi.


     "Mau ketemu camernya tu." Tambah Dimas.


     "Kamu nggak takut memangnya Mir?" giliran bu Diandra yang bertanya.


     "Ngapain takut,memangnya Amira punya hutang sama mamanya Rangga,kan nggak," jawabnya santai.


     "Kamu harus bisa ngambil hatinya tante Anet,biar direstui gitu hubungan kamu sama Rangga." Ujar Aura memberi saran.


     "Apaan tu,kalau aku ambil hatinya,tante Anet bisa mati dong" Haha... Kak Aura pagi-pagi gini bikin lelucon aneh." Amira tertawa ngakak.


Mereka semua heran melihat tingkahnya,bahkan pak Andi yang sedang makan pun berhenti sejenak,hening tidak ada suara hanya terdengar suara tawa Amira.


    "Lho,kok pada jadi patung semua?" tanya Amira dia meneguk habis air dalam gelasnya,dan kemudian berpamitan pada pada kedua orang tuanya.


    "Aku rasa dia terlalu bersemangat hari ini." Ucap Dimas.


     "Dia aneh." Tambah Aura,kembali melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda.


     "Semoga aja lancar" harap bu Diandra.


     "Ya,papa juga berharap begitu."


********


     "Aku ajak Cici dulu ya,kamu tunggu disini aja,nggak bakalan lama kok." Ucap Amira saat akan turun dari mobil.


    "Oke sip," jawab Rangga singkat,dia melihat kekasihnya itu sudah masuk ke dalam rumah mewah yang berdiri kokoh di depannya.


    Hari ini mereka sepakat untuk kerumah bu Anet,mama tirinya Rangga,dan semoga saja mamanya itu kali ini berlaku baik sama Amira,tidak seperti sebelumnya.


    "Lho,Cici mau kemana?" tanya Amira heran saat Cici membuka pintu belakang mobil.


    "Cici di belakang aja kak" jawab Cici dengan gaya imutnya.


    "Didepan aja bareng kakak." Suruh Amira.


    Rangga tidak ikut-ikutan,karena urusan dia saat ini hanyalah fokus mengemudi.


     "Nggak ah,entar kak Amira cemburu lagi sama Cici." Ucap Cici,dia tidak memandang Amira sama sekali,matanya malah terus menatap keluar jendela.

__ADS_1


  "Plak...!!!" seperti di tampar berkali-kali,perkataan Cici tadi membuat Amira kena mental. Amira mendengus kesal,sedangkan Rangga hanya bisa menahan tawanya,ingin tertawa lepas takut di tonjok sama Amira.


   Amira memilih untuk tidak bicara selama dalam perjalanan,sedangkan Cici malah nyanyi-nyanyi nggak jelas.


    "Potong bebek angsa,angsa dikuali nona minta angsa,angsa sudah mati...belok ke kiri,belok ke kanan...


    "Lho,kok kamu belok ke kanan sih rangga.?" tanya Amira,rangga segera mengerem mobilnya mendadak,syukur saat itu dia nggak kencang bawa mobilnya dan keadaan juga sedang sepi. Kalau nggak,entah apa yang akan terjadi.


    "Ini gara-gara lagunya Cici ni,makanya deh aku belok ke kanan," jawab Rangga,dia melihat kearah Cici dengan menunjukkan rasa kesal.


    "Ya udah kita muter lagi berarti,Cici nggak usah nyanyi lagi. Apa apaan itu,lagunya pun salah semua." Kata-kata Amira malah membuat Cici tertawa.


    "Haha... Kak Amira,itu lagu yang di ajarin sama papa,kayaknya papa sudah mengubah liriknya deh." Ucap Cici sambil terus tertawa.


    "Udah Mir,anak kecil dibiarin aja nggak usah diladenin" ucap Rangga ketus.


******


     Sekarang mereka sudah sampai dirumah mamanya Rangga,begitu keluar dari mobil,bu Anet langsung menyambut mereka dengan wajah yang cukup ramah,bahkan Amira diperlakukan sangat baik,tentu saja karena sebelum datang kesana Rangga sudah memberitahu mamanya bahwa mereka akan datang bertamu hari ini.


    "Rangga,Amira masuk dulu sayang!" wanita itu mempersilahkan.


    "Iya tante." Jawab Amira,dia berusaha menurunkan Cici dari gendongannya,tapi anak itu tidak mau turun sama sekali,terpaksa deh Amira harus menggendong itu anak sampai kedalam rumah.


*******


     "Ini adik Amira tante,anak dari istri kedua papa" jelas Amira.


    "Oh,hampir mirip ya" ucap bu Anet memperhatikan.


    "Masa sih ma" tiba-tiba Rangga juga jadi penasaran,dan akhirnya memperhatikan wajah mereka berdua. Iya benar,mereka memang mirip, Cici itu bisa di bilang versi Amira kecil


     "Wah benar Mira,dia memang mirip sama kamu." Ucap rangga membenarkan.


      "Baru sadar? Kalau aku sih sudah menyadarinya dari kemarin-kemarin hari malah." Jawab Amira,dia tersenyum ke arah Cici,tapi anak itu hanya melihatnya dengan ujung matanya,sinis gitu bikin Amira geram melihatnya.


      "Cici sudah sekolah.?" Tanya bu Anet,wanita itu sebenarnya sangat menyukai anak kecil.


     "Belum,tahun depan baru Cici sekolah,itupun masih harus masuk Tk dulu."


    "Memang harus begitu." Ucap Rangga.


     "Maunya sih Cici langsung SMP terus."


     "Kenapa begitu?" tanya Amira penasaran.

__ADS_1


    "Soalnya ya,Cici mau cari pasangan hidup,biar ada teman mainnya tiap hari,kak Ririn bilang SMP itu kepanjangannya sekolah mencari pasangan." Tutur Cici,ketiga orang di depannya saling tatap-tatapan,kata-kata seperti itu keluar dari mulut anak sekecil Cici,sungguh aneh memang. Dan sepertinya yang ngajarinnya pun nggak waras.


     "Cici,itu bukan kepanjangan dari SMP,siapa sih yang usil bangat ngajarin Cici nggak benar gini?" tanya bu Anet.


     "Kak Ririn tante." Jawab Cici. Sekarang dia beralih duduk di pangkuannya Rangga,Amira hanya melihatnya saja,tidak bilang apa-apa.


Rangga pikir Amira ngambek lagi,jadi dia berniat ingin memindahkan Cici dari pangkuannya,namun Amira langsung mencegahnya.


      "Nggak apa-apa,biarkan saja,lagi pula anak kecil kok."


     "Oh iya ma,Rangga sama Amira mau nikah akhir tahun ini,menurut mama bagaimana?" tanya Rangga meminta pendapat mamanya.


     "Kabar bagus dong,yang pasti mama setuju aja,kalau kalian butuh bantuan mama,mama dengan senang hati bakal bantuin." Jawab wanita itu penuh semangat.


    "Cie... Cie sudah dapat restu ni,sekarang mana janjinya,tepatin dulu." Ucap Cici mengingatkan Rangga yang tidak tahu dia punya janji apa sama Cici,cowok itu jadi heran dengan pikiran penuh tanda tanya.


     "Udah,nggak usah pura-pura lupa,Cici sudah tahu trik-trik seperti itu." Ucap Cici,menatap malas wajah Rangga.


     "Punya janji apa kalian?" bu Anet juga jadi penasaran.


     "Nggak ada." Mereka menjawab kompak.


      "Nggak ada Ci,kamu bohong ya?" tanya bu Anet,Cici menggelengkan kepalanya.


      "Cici nggak bohong tante,ingat nggak waktu di mobil tadi?" Cici berusaha membuat Amira dan Rangga mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


DUA JAM SEBELUMNYA...


      "Ci,diam dong pusing ni dengarnya,lagu kamu nggak ada yang benar satupun." Ucap Amira.


      "Iya Ci,nanti aja nyanyi lagi ya,kak Rangga ajarin deh." Tambah Rangga.


      "Oke,tapi kak Rangga sama kak Mira janji dulu sama Cici." Suruh anak kecil itu.


      "Janji apa?" tanya Mira.


      "Beliin sepeda yang ada di toko tadi itu,yang harganya lima juta,sepedanya bagus harganya juga nggak mahal,kan kak Mira sama kak Rangga juga punya banyak duit.


     "Iya kita beliin" jawab mereka,jawabnya sih asal-asalan,tapi sekarang jadinya betul-betulan,apes benar nasib mereka.


    Sekarang mereka sama-sama baru ingat,sambil saling pandang,Rangga dengan lemasnya berkata." Duit lagi Mir,apes benar."


      "Sabar Ga,tadi sih kita juga ngejawabnya asal-asalan." Amira mengusap lembut punggung Rangga,tapi dalam hatinya dia itu sedang menertawakan kebodohan dirinya sendiri.


      "Hahha ... Kasian benar kalian di permainkan Cici." Ucap bu Anet sambil tertawa melihat wajah murung mereka berdua.

__ADS_1


*****


__ADS_2