
Amira pun sebenarnya merasakan hal yang sama.
"Lalu sekarang mama mau memaafkan mereka begitu saja?" tanya Rangga,dengan tatapan mata yang tajam melihat Laras dan mamanya.
"Iya,mama juga tidak ingin memperpanjang lagi masalah ini." Jawab bu Anet terlihat tulus. Mereka semua tidak habis pikir dengan keputusan mamanya Rangga.
"Makasih Anet,hati kamu memang sangat baik,aku benar-benar sangat menyesal,aku minta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan." Ucap bu Lidia,wanita itu semakin mendekat ke arah bu Anet mungkin ingin memeluknya,namun ternyata Lidia memiliki niat lain. Bu Lidia mengeluarkan pisau dari balik bajunya dan hendak menusuk bu Anet. Amira yang melihat hal itu segera menghadang di depan Lidia untuk melindungi ibu mertuanya.
"Mama awas...!" seru Amira.
"Sret..." Pisau itu menancap diperutnya.
"Tidak,Amira...!" Rangga memekik histeris,dan segera menopang tubuh Amira yang hampir ambruk ke lantai.
Bu Lidia sangat terkejut begitu menyadari bahwa yang ditusuknya bukanlah Anet tapi Amira,wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang." Tidak,a-aku aku tidak berniat melukai dia." Wanita itu gemetaran.
"Kak Amira!" Laras berusaha mendekati Amira dia menangis,karena tidak menyangka kalau ternyata Mamanya hanya berpura-pura menyesal saja tadi,dan tanpa dia sadari ternyata mamanya sudah merencanakan ini semua.
"Pergi! Pergi kamu dari sini! Kamu tidak boleh menyentuh Amira!" Bentak Rangga,dia tidak ingin melihat wajah Laras ada di hadapannya lagi.
"Aura,telepon ambulance sekarang!" suruh bu Diandra,wanita itu semakin histeris saat melihat tubuh Amira yang bersimbah darah.
Suasana semakin kacau,bu Lidia saat itu sudah ditangani oleh pihak kepolisian,dan Amira langsung dibawa ke rumah sakit,tanpa menunggu ambulance datang karena takut Amira kehilangan banyak darah.
\*\*\*\*\*
Amira kehilangan banyak darahnya,jadi dia harus segera mendapatkan donor darah,syukur darahnya dan Pak Aryo sama jadi mereka tidak terlalu khawatir.
Dan Cici sendiri,gadis kecil itu terus menangis di pelukan ibunya,dia masih sangat syok karena kejadian tadi terjadi tepat di depan matanya.
"Ma,kak Amira akan baik-baik saja kan?" tanya Cici,dia sangat takut kehilangan kakaknya.
"Kita berdoa ya sayang,kita doakan semoga kakak baik-baik saja,kak Amira kuat,dia pasti bisa melewati ini semua." Jawab Bu Desi.
Semua orang yang ada di situ sibuk dengan kesedihan mereka masing-masing,tidak ada yang saling menguatkan,keadaan mereka semua terlihat benar-benar kacau. Pak Aryo bahkan duduk lebih jauh dari mereka,lelaki itu menyendiri dan air matanya terus mengalir hatinya benar-benar sedih,bagaimana bisa anaknya itu menanggung begitu banyak cobaan.
"Doni,adikku satu-satunya kenapa hidupnya begitu berat,dia baru saja menikah dan sekarang lihat,apa yang terjadi padanya." Ucap Aura sedih.
"Hiks...!" Dia menangis pilu. Doni tidak tahu harus menjawab apalagi,jadi dia hanya bisa memeluk istrinya itu untuk menenangkannya. Dia sendiri juga merasakan hal yang sama,meski sebenarnya dia dan Amira tidak terlalu akrab,tapi setiap Amira bertemu dengannya,Amira selalu bersikap baik,siapa coba yang tidak menyayangi gadis sebaik itu.
Rangga terduduk lemah di lantai,dia merasa benar-benar sendiri saat itu,bahkan oma yang sejak tadi terus menghiburnya sama sekali tidak di dengarnya,yang ada dipikirannya saat ini hanya Amira.
"Rangga,oma juga sedih dengan apa yang tengah menimpa Amira nak,tapi cobalah untuk jangan terpuruk seperti ini,kamu lihat mama kamu yang disana!" tunjuk oma,dan Rangga melihatnya. Bu Anet memeluk kedua lututnya yang terus gemetaran,disampingnya ada Amel yang terlihat memeluk bu Anet.
Bu Diandra yang sejak tadi terus larut dalam kesedihan,akhirnya tersadar begitu mendengar suaran adzan ashar berkumandang,dia dan suaminya mengajak semua orang yang berada di situ untuk shalat berjamaah dan berdoa semoga operasi Mira berjalan dengan lancar.
\*\*\*
Tiga hari kemudian Amira sadar,dia kembali membuka matanya,orang yang pertama dilihatnya adalah Rangga. Amira tersenyum meski senyum itu terkesan dipaksakan,dia tidak ingin terlihat rapuh di depan Rangga dan mamanya.
"Rangga..." Nama dia yang pertama keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Iya aku di sini!" jawab Rangga,dia berdiri lebih dekat disisi tempat tidur Amira.
"Aku tidak panggil kamu,mama dimana.?"
"Kamu sudah seperti ini masih saja ngelawak." Ujar Rangga,ingin sekali dia menangis saat itu juga,tapi dia tidak mau membuat Amira tambah sedih,Amira tersenyum getir mendengar ucapan Rangga.
"Kamu jangan banyak gerak dulu sayang,luka kamu belum sembuh sepenuhnya." Bu Diandra mengingatkan.
"Yang lain kemana ma?" tanya Amira,dan saat itu dia mulai merasakan tubuhnya semakin melemah.
"Yang lain ada di luar,mau mama panggilin?"
"Jangan dulu,Amira ingin mengobrol bersama Rangga sebentar ma" ucap Amira,bu Diandra paham akan maksud anaknya,jadi beliau segera keluar dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Rangga..." panggil Amira pelan,dia menyuruh cowok itu untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa sayang,apa yang ingin kamu katakan?" tanya Rangga lembut.
"Aku sudah menepati janjiku kan," ucap Amira parau.
"Kamu sudah mengorbankan nyawa kamu sendiri untuk mama,kamu tahu kan apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya." Ujar Rangga.
"Mati pun aku tidak akan menyesal karena sudah melindungi mama," ucapannya itu membuat Rangga menitikkan air matanya.
"Jangan mengatakan kata mati lagi Amira,aku tidak ingin mendengarnya." Cowok itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya,dia menangis,perasaannya sangat sedih kala itu,melihat wajah pucat Amira dan dia juga merasakan kalau Amira akan segera meninggalkannya.
"Jangan menangis aku tidak ingin kamu menangis,lihat aku! Aku yang terbaring lemah seperti ini saja tidak menangis sama sekali." Ucap Amira dia menghapus air mata Rangga dengan lembut. Rangga semakin takut,takut kalau sentuhan tangan Amira tidak bisa dirasakannya lagi." Kelak jangan menangis dan bersedih seperti ini,aku belum tentu bisa selalu ada di samping kamu untuk menghapus air mata kamu dan menghibur kamu." Tuturnya,bukan membuat Rangga tenang,Amira malah membuat suaminya itu semakin sedih.
"Kamu yang sudah membuat aku seperti ini," gumam Rangga,berhari-hari aku disini,terus nungguin kamu sampai kamu sadar,kamu tahu Mir betapa sedihnya aku,dan aku juga sudah pernah bilang sama kamu,kalau kamu dan mama itu sudah punya posisi masing-masing di hati aku,aku tidak sanggup jika harus kehilangan salah satu dari kalian," ungkapnya jujur.
"Kamu bicara apa sayang? Aku janji kalau kamu sudah sembuh nanti,aku nggak akan ngerepotin kamu,aku bisa mengurus diri aku sendiri,kamu jadi istri yang baik untuk aku itu saja sudah cukup," cicit Rangga.
"Peluk aku rangga!" lirih Amira. Rangga langsung memeluk istrinya.
"Mira,sekarang semuanya sudah berakhir,tidak akan ada lagi yang mengganggu kita,kamu cukup fokus sama kesembuhan kamu saja," ucap Rangga,masih memeluk isterinya.
"Tolong panggilkan mama aku,mama desi,dan mama anet," pintanya kemudian,Rangga langsung keluar untuk memanggil mereka.
\*\*\*
"Sayang,kamu harus sembuh,kamu tidak boleh ngomong kayak gitu." Ucap bu Diandra sedih. Pikirannya jadi kacau saat mendengar penuturan Amira,beliau mulai berpikiran macam-macam.
"Kenapa kamu melakukan semua ini untuk mama nak? Kamu pikir mama senang? Tidak! Mama sama sekali tidak bahagia melihat keadaan kamu,seharusnya yang sekarang ada di posisi kamu adalah mama,mama sudah terlalu lama hidup di dunia ini,kalaupun mati saat ini mama sudah ikhlas,tapi kamu..." bu Anet tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi,dadanya sudah sesak,dan akhirnya air matanya lolos begitu saja tanpa dapat di bendung lagi.
"Amira sayang Rangga ma,Amira tidak mau Rangga hancur jika melihat mama terluka." Lirih Amira.
"Kamu harus kuat Amira,kamu harus bisa melewati semua ini." Ucap bu Desi memberi semangat,Amira melihat satu persatu wajah mamanya,mereka adalah ketiga wanita yang sangat di cintainya juga. Amira menyuruh mereka untuk memeluknya,dan mereka mengikuti keinginannya.
__ADS_1
"Sekarang panggil papa,panggil kakak,Cici,oma dan Amel." Amira mulai menyebut satu persatu nama orang-orang yang tak pernah hilang dalam ingatannya.
"Kak Amira.!" Seru Cici dia berlari menuju Amira,hatinya sangat sedih melihat kakaknya yang terbaring lemah tak berdaya.
"Cici,adek kakak yang baik hati,"puji Amira begitu melihat Cici di sampingnya. "Simpan ini!" Amira memberikan seutas kalung yang di pakainya,kalung itu adalah pemberian dari Della sahabatnya,tapi sekarang Della tidak ada di sana. Cici menggenggam kalung itu di tangannya dan dia menangis.
"Hey,jangan menangis,kamu ingatkan apa pesan kakak dulu?" tanya Amira,Cici mengangguk. "Tidak boleh nakal,harus jadi anak yang baik,harus berbakti sama mama dan papa." Jawab Cici masih menangis.
Amira menoleh ke arah Rangga yang berdiri di samping bu Anet." Rangga tolong berikan ini untuk Amel,kamu mengerti maksudku kan?"
Rangga menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku tidak bisa!" tegas cowok itu.
"Aku juga tidak mau Amira,kamu pasti sembuh,kamu bisa melewati semua ini,kami semua di sini,kami sangat menyayangi kamu," Amel memang mencintai Rangga,tapi bukan berarti dia mau Amira melakukan semua itu untuknya.
"Jangan menolak,ini keinginan terakhir aku." Ucap Amira,dia yang tadinya masih bisa menahan tangisnya kini mulai menangis,Amira merasa sangat sedih,mendengar mereka yang menolak mentah-mentah keinginannya tersebut.
"Baik aku mau,jangan menangis lagi." Ucap Rangga langsung menyetujui,meski hatinya terasa sakit.
"Kak Aura,kak Dimas," panggilnya lagi,dan kedua kakaknya langsung mendekat dan memeluknya. Mereka seolah sedang mengantarkan kepergian Amira.
"Papa..." Amira memanggil kedua papanya,mereka juga melakukan hal yang sama,memeluk dan mencium pipinya,begitu juga dengan oma.
"Aku bahagia,sangat bahagia," gumam Amira,suaranya semakin terdengar lemah,dan suasana semakin haru.
"Papa,Amira... Dada Amira terasa sesak." Ucap Amira hampir tidak terdengar.
Pak aryo tahu apa yang dimaksud anaknya,lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Amira dan menuntunnya untuk mengucapkan syahadat,Amira mengikutinya dan setelah itu matanya terpejam dia masih dengan senyum yang sama,kini tumpah lah tangis mereka,Amira sudah benar-benar pergi,Rangga merasa separuh dari jiwanya ikut pergi bersama Amira,padahal mereka baru saja bersatu tapi sekarang di pisahkan lagi.
"Amira anakku!" bu Diandra menangis pilu. Cici juga menangis,anak itu menatap wajah kakaknya,perlahan dia mendekat dan mencium kening Amira,sebelum itu dia sudah lebih dulu menghapus air matanya supaya tidak mengenai wajah Amira.
"Kakak bilang jangan menangis." Gumam Cici.
Semua berjalan begitu cepat bagi mereka,terasa seperti mimpi.
\*\*\*\*
Dua Tahun kemudian
"Kehilangan seseorang yang sangat dicintai memang sangat menyakitkan,tapi itu bukan berarti kamu harus bersedih sepanjang hidup,kamu sudah memiliki kehidupan baru Rangga,kamu sudah memiliki istri yang cantik dan baik hati seperti Amel,kamu juga sudah punya anak,sekarang kamu harus bisa merelakan Amira,ikhlaskan kepergiannya,biar Amira tenang di sana." Ucap bu Anet.
"Rangga tahu ma." Jawabnya singkat
Dia berdiri dengan tegaknya di bawah sinar mentari pagi saat itu,menatap langit dan hatinya berbisik. "Jika akhirnya aku harus kehilangan kamu,setidaknya aku merasa bangga dan bahagia karena pernah memilikimu,terimakasih sudah hadir di hidupku,mewarnai setiap hari-hariku dan terimakasih karena sudah mengisi hari-hari kosongku,terimakasih untuk semuanya sayang tunggu aku disurga-Nya." Tak terasa air matanya jatuh,meski dua tahun sudah berlalu tapi kenangan manis Amira takkan pernah bisa terkubur,sosoknya memang sudah tidak ada lagi di samping mereka,tapi kebaikan yang di taburnya terus tumbuh di hidup mereka.
Rangga tersenyum bahagia melihat istri dan anaknya yang saat itu sedang berjalan-jalan di taman,mereka memberi nama untuk anaknya dengan nama Amira,sebagai bukti bahwa mereka tidak pernah melupakan sosoknya yang baik hati.
**TAMAT**
❤️ \*\*\*\*\*❤️
__ADS_1
*Dibalik cinta yang tulus terdapat sebuah pengorbanan yang besar pula,itu juga yang terjadi ketika kita merelakan orang yang kita cintai dengan hati yang ikhlas.*