Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Kedatangan Mama Rangga


__ADS_3

"Amira!!" panggil Rangga lagi,karena Amira tidak menjawab panggilannya.



"Kamu di kamar mandi,ya?"



"Iya,aku di kamar mandi."



"Kenapa nggak minta bantuan bibi?" tanya Rangga saat melihat kursi roda Amira telungkup begitu saja di atas lantai,sudah jelas kalau tadi Amira sangat kesusahan untuk pergi ke kamar mandi.



"Aku lupa." Jawabnya singkat,jawaban yang terdengar aneh menurut Rangga.


"Masih lama tidak? Aku sangat kepanasan ni pengen cepat-cepat mandi." Lanjutnya.


Amira buru-buru menghapus air matanya,dan merapikan sedikit penampilan,agar tidak terlihat sedih di depan Rangga.


Dia pun keluar dengan kembali menyeret tubuhnya,melihat hal itu Rangga buru-buru datang untuk menggendongnya,tapi Amira langsung mencegahnya." Tidak apa-apa aku bisa sendiri,kamu mandi sana!!" suruh Amira,dia tidak menatap Rangga sama sekali,Amira bukan marah hanya saja dia tidak ingin Rangga melihat matanya yang sembab.


"Ya sudah aku mandi dulu." Rangga tidak memaksa,dia semakin aneh,biasanya dia sangat perhatian dengannya (Amira) tapi kali ini tidak.


30 menit kemudian Rangga sudah keluar dari kamar mandi,wangi sabun yang di pakainya menyeruak ke seluruh ruangan,membuat Amira sangat nyaman dengan baunya,tapi hatinya tidak nyaman,pikirannya semrawut,banyak hal yang sekarang di dipikirkannya.


Sesaat,pikirannya terfokuskan kepada keluarga Pak Andi,orang yang sempat menjenguknya beberapa kali di rumah sakit. "Siapa sebenarnya mereka,apa benar mereka itu keluargaku? Aku kehilangan sebagian ingatan ku,dan yang aku ingat hanya Rangga seorang. Yang aku ingat hidup ku sebatang kara,orang tua ku sudah tiada,tapi mereka mengatakan kalau aku anak mereka,siapa mereka sebenarnya?"


   


     "Kamu tadi memakai kartu kredit yang aku berikan?" tanya Rangga,tanpa menatap ke arahnya,dia sibuk dengan handphone di tangannya.


   "Aku hanya membeli sepasang baju,itu pun hanya tujuh ratus ribu,maaf karena tidak izin dulu!" Amira menundukkan wajahnya.


   "Hei,aku tidak marah aku hanya bertanya,kamu tidak perlu takut." Rangga terkekeh melihat Amira yang terlalu sungkan padanya.


   "Kamu tidak marah?" Amira memastikan,kini matanya menatap lekat ke wajah Rangga dengan mata bersinar,ternyata Rangga masih menyayanginya.


   "Tidak,itu hak kamu." Balas Rangga sambil membelai lembut wajah Amira. Jantung gadis itu berdetak kencang,perasaan ini apakah cuma dia yang merasakan? Mungkinkah Rangga masih mencintainya juga?


   "Kamu pernah tidak berfikir untuk meninggalkan aku,karena keadaan aku yang seperti ini?" Amira tidak bisa tidak menanyakan hal ini,dia harus tahu akan perasaan Rangga yang sebenarnya.


   Mendengar pertanyaan Amira membuat Rangga terpaku sesaat,dia sebenarnya masih bingung dengan perasaannya sendiri,terkadang dia merasa bahwa dia masih mencintai Amira,tapi di saat itu pula dia tidak ingin Amira berada di dekatnya,apalagi dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


Rangga menganggap kalau Amira menjadi beban baginya,Rangga ingin mengatakan kepada Amira tentang perasaannya sekarang,tapi dia masih ragu-ragu.


   "Aku tidak pernah berfikir sampai ke situ."


  "Kalau kamu suatu saat nanti memang tidak ingin bersamaku lagi,kembalikan saja aku ketempat di mana pertama kali kita bertemu." Ucap Amira,dia juga masih penasaran dengan dirinya sendiri,siapa dia sebenarnya,kenapa ingatannya itu belum juga kembali.


   "Kata-kata kamu membuat aku takut." Ucap Rangga jujur.


   "Aku mengatakannya berdasarkan dengan apa yang ada di pikiran aku,kamu tahu,sifat manusia bisa berubah-ubah. Terkadang saat seseorang menginginkan sesuatu,dia bekerja keras hanya untuk mendapatkannya,semua hal di lakukan agar apa yang di inginkannya bisa dia miliki,begitu memilikinya dia merasa sangat senang. Namun,ketika dia merasa bosan dan menginginkan hal baru dia akan membuangnya begitu saja,dia melupakan semua usahanya yang bersusah payah untuk mendapat apa yang di diinginkannya dulu,seolah hal tersebut


tidak berharga sama sekali."


   "Kamu berbicara sangat banyak,aku hampir saja tidak mengerti." Rangga mencubit gemas pipinya,Amira tertawa,kemudian dia kembali bertanya.


   "Menurut mu jika seseorang yang di perlakukan seperti itu,bagaimana perasaannya?"


   "Perempuan ini sedang menjebak ku." Batin Rangga,ya apa yang di dipikirkannya memang tidak salah.


  "Kamu tidak bisa menjawabnya?" Amira bertanya saat melihat Rangga hanya diam saja.


   "Aku tidak bodoh,pertanyaan tadi jelas-jelas tertuju untuk ku." Bukannya menjawab,Rangga malah mengatakan hal yang tidak penting.


   "Hei,pertanyaan itu memang untuk mu,aku kan bertanya sama kamu,jadi kamu harus menjawabnya.!" Amira menjelaskan.


   "Kau,apa yang akan kau lakukan?" Amira mulai waspada.


  "Kamu ingin bermain-main dengan ku ya?Rasakan ini." Ucap Rangga kemudian tangannya langsung berpindah ke perut Amira dan menggelitikinya habis-habisan,Amira sangat geli,dia tertawa tanpa henti.


   "Ahh...aku sangat geli,tolong berhenti,kamu keterlaluan Rangga!" pekik Amira,tapi Rangga masih melanjutkan aksinya.


   "Tidak! Aku tidak akan berhenti sebelum kamu minta maaf ke padaku." Rangga masih belum berhenti,dia juga sangat menikmatinya,apalagi melihat wajah Amira yang sudah kemerahan menahan rasa geli ditubuhnya


  "Baiklah,tapi tolong berhenti dulu,aku..." Rangga langsung berhenti begitu melihat Amira tidak bergerak lagi,bahkan dia tidak sempat menyelesaikan ucapannya,ini membuat Rangga sangat ketakutan.


   "Mira ... Amira,kamu tidak sedang bercanda kan? Amira bangun Amira." Rangga menggerak-gerakkan tangan Amira,tapi masih tidak bergeming,mungkinkah dia pingsan?


   Rangga langsung turun dari ranjangnya,dan berniat membawa Amira ke rumah sakit,takutnya terjadi sesuatu,baru saja dia mengangkat tubuh Amira,eh gadis itu malah tertawa,ternyata dia hanya berpura-pura.


   Rangga mendengus kesal,merasa di permainkan,jadi dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dengan wajah cemberut.


Amira kemudian menghentikan tawanya,dan kembali menatap Rangga."


"Aku tidak melihat orang tuamu,mereka ada di mana?" kini wajah Amira terlihat serius.


  "Kedua orang tua ku sudah meninggal,mama meninggal sewaktu aku masih berumur 5 tahun,dan papa sudah meninggal 2 tahun yang lalu,itu sebabnya aku tinggal bersama oma." Rangga bercerita dengan wajah yang sedih,Amira dapat merasakannya,rasa kehilangan seperti Rangga.

__ADS_1


   "Kehilangan sosok ibu di saat masih kecil,pasti sangat berat menjalani hidup." Lirih Amira,dia merebahkan kepalanya di pundak cowok itu. "Besok aku ingin ke makam orang tua kamu boleh,nggak?" pinta Amira.


  Mendengar pertanyaannya,Rangga tidak tahu harus jawab apa,sebab jalan menuju makam kedua orang tuanya itu,searah dengan jalan menuju rumah mama tirinya,dia bahkan sedang tidak ingin lewat ke sana.


 


   "Boleh ya?" Amira masih memohon


   "Aku tidak berani janji,kalau besok aku tidak sibuk ya bisa saja bawa kamu kesana." Jawab Rangga,dia harus bisa mencari cara supaya punya alasan agar tidak ke sana.


   .   *****


  "Ting tong!"


   


  "Ting tong!!"


Terdengar bunyi bel,saat itu Amira sedang menonton tv,bibi sedang bersih-bersih di dapur,jadi dia sendiri yang membuka pintu,dan melihat siapa tamu itu.


   "Maaf,ibu cari siapa ya?" Amira bertanya heran,saat melihat wanita di depannya,yang sama sekali tidak dia kenal.


   Bu Anet menatap heran ke arah Amira,dan kemudian bertanya. "Kenapa kamu ada di rumah mertua saya?" mendengar wanita itu mengatakan rumah mertuanya,sudah jelas wanita yang saat ini ada di depannya adalah mamanya rangga,tapi rangga bilang kalau mamanya sudah lama meninggal.


  "Tante ini mamanya Rangga?" Amira masih tidak percaya.


  "Saya memang mamanya Rangga,dan kamu ini,kamu adalah Amira kan,pembantu yang pernah bekerja di rumah saya dulu waktu itu." Bu Anet melotot garang ke arah Amira,dia memang kehilangan sebagian ingatannya,tapi melihat sikap kasar wanita di depannya saat ini,dia bisa merasakan bahwa dia memang pernah melihat wanita ini,tapi tidak tahu di mana.


  Saat mereka sedang dalam keadaan yang sangat menegangkan bi Lastri datang untuk melerai,wanita paruh baya itu mencoba memberi pengertian kepada Bu Anet.


   "Maaf Nyonya,mungkin den Rangga belum memberitahukan soal ini kepada Nyonya,dia itu memang benar Amira,temannya den Rangga,jadi non Amira kehilangan sebagian ingatannya dan hanya mengingat den Rangga" jelas bi Lastri.


   "Lalu Rangga menerima dia begitu saja dia di rumah ini.?" Bu Anet masih sangat emosi,dia tidak suka melihat Amira,apalagi amira pernah menjadi pembantu di rumahnya,meski cuma beberapa hari saja.


  "Mau bagaimana lagi Nyonya,dokter juga bilang itu yang terbaik untuk saat ini,kata dokter,nanti kalau ingatannya sudah kembali,den Rangga baru boleh meninggalkannya." Ungkap bibi,mereka tidak sadar kalau Amira juga mendengarkannya.


  "Tadi bibi bilang dia hanya mengingat Rangga,dia mengingat Rangga sebagai temannya juga kan?" tanya Bu Anet penuh selidik.


  "Se-sebagai suaminya." Bi Lastri menjawab gugup.


Mendengar jawaban dari bibi,membuat amarah wanita itu meledak-ledak.


"Ini tidak bisa di biarkan,jelas saja dia sedang mengambil keuntungan dari Rangga,mana ada amnesia seperti itu,dia pikir ini drama apa? Atau cerita cinta di novel,konyol memang." Bu Anet berjalan mondar-mandir,dia tidak tenang,dia sedang berfikir bagaimana caranya mengusir Amira dari sana. "Iya aku tahu,biar aku yang membuat ingatannya kembali.


   "Lah, Nyonya mau ngapain?" tanya bibi saat melihat Bu Anet pergi menuju dapur dengan kilatan mata yang seperti ingin melakukan suatu hal yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2