Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Kebersamaan Dengan Si Dia


__ADS_3

   Hari ini adalah hari keberangkatan Amira,dan hari ini adalah hari terakhir dia bisa bersama Rangga,dan setelah itu mereka tidak akan bisa bertemu lagi,tidak akan lama,hanya beberapa bulan saja,namun bagi mereka yang sedang di mabuk cinta itu rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya.


    "Kamu akan berangkat sore ini Mir?"


    "Iya,tidak akan lama,aku harap kamu bisa menunggu,dan jangan coba-coba melirik gadis lain." Amira mengingatkan.


   "Iya tuan puteri,aku tidak akan melirik yang lain,karena yang lain juga tidak ada yang secantik gadis ku." puji Rangga.


   "Jadi kamu menyukai aku,karena aku cantik.? Tanya Amira,senyumnya tiba-tiba menghilang.


   "Kok jadi cemberut begitu,jelek tahu." Ucap Rangga.


    "Jawab dulu pertanyaan aku,kamu benar-benar tulus kan sama aku,bukan karena aku cantik." Amira meminta kepastian.


   "Mira,aku mencintai kamu itu apa adanya,mau cantik,mau nggak di mata aku itu kamu tetap sama,kamu punya hati yang baik,siapa coba yang tidak menginginkan wanita yang sebaik itu," jawab Rangga jujur.


   "Kamu tidak berbohong sama aku kan?"


   "Nggak,aku jujur..."


  "Awas kalau bohong" ancam Amira.


   "Kalau bohong memangnya kenapa,kamu mau apa?" Tanya Rangga,kini wajahnya semakin dekat dengan wajah Amira,dia tahu kalau Rangga hanya ingin mengganggunya saja.


   "Mau aku tonjok ya?" Amira mengancamnya.


   "Ah,cium saja tidak boleh,nggak seru bangat." Ucap Rangga kecewa.


   "Enak saja mau minta cium,nikah dulu tahu."


    "Ayo...!" ajak Rangga.


    "Kemana?" Amira bingung.


    "Ke KUA." Jawab Rangga serius.


    "Mau ngapain.?" Tanya Amira cuek.


    "Tadi katanya mau nikah,giliran aku ngajakin ke KUA,di tanya mau ngapain gimana sih.?


   "Nikah tu sama kambing,jangan ngajak aku,males bangat."


   "Ya sudah,kalau kamu maunya begitu,nanti kalau aku melirik yang lain jangan marah,ya?"


  "Jangan..." Lirih Amira,dia sepertinya takut dengan omongan Rangga barusan,tampak jelas dari wajahnya yang tadinya ceria kini terlihat sedih.


   "Loh,aku kan cuma bercanda jangan sedih dong." Rangga langsung memeluknya,tidak ingin Amira bersedih di hadapannya,apalagi ini hari terakhir mereka bisa menghabiskan waktu bersama,setelah itu Amira akan berangkat ke luar negeri bersama Aura.


   "Bercanda kamu itu kelewatan." Amira kesal di buatnya,Rangga mencubit gemas pipi Amira.


  "Kamu tahu nggak saat kamu lagi ngambek,wajah kamu itu imut banget,aku suka tahu,sering-sering ya?" ucap Rangga,dia itu entah sedang memuji entah bukan

__ADS_1


   "Untuk apa sering-sering ngambek,apa untungnya coba."


   "Biar cepat aku tinggalin." Ucap Rangga bergurau.


    "Tuh kan mulai lagi,suka deh buat orang kesal."


    "Hhhaaa." Rangga tertawa keras,dia sangat senang membuat Amira kesal.


   Mereka terus di taman itu seharian menghabiskan waktu bersama,saat itu serasa dunia hanya milik mereka berdua,dan yang lain ngontrak,saat ini Amira tidak memikirkan hal lain,dia hanya memikirkan hubungannya dengan Rangga kedepannya akan bagaimana.


   \*\*\*\*\*\*\*


    "Sudah tiga bulan Amira dan Aura tidak ada di rumah,mama jadi sering kesepian pa." Ungkap wanita itu pada suaminya.


   "Sebentar lagi mereka juga bakalan pulang kok ma."


   "Makanya papa cepat-cepat dong nikahin Dimas sama Siska,biar mama nggak kesepian terus,mama ini juga sudah pengen menimang cucu." Ucap bu Diandra.


   "Benarkah?" mata pak Andi berbinar-binar.


   "Iya,masa mama bohong."


   "Papa juga,sudah lama rumah kita tidak terdengar suara tangis bayi,papa jadi rindu."


   "Bagaimana kalau kita lamar Siska untuk Dimas.?" bu Diandra meminta pendapat suaminya.


   "Wah ide bagus itu,lebih cepat lebih baik." Jawab pak Andi setuju.


   "Itu ide gila mama,masa malam-malam gini ke rumah orang buat lamaran,kan semuanya itu butuh persiapan,kita juga harus bicara dulu sama Dimas dan Siska.


  "Besok saja kita bicarakan masalah ini sama mereka,lagian nggak enak juga pa,di lihat sama tetangga kalau Siska sering main kesini,mending kita nikahin saja sekalian.


   "Mama memang benar,papa setuju."


 


\*\*\*\*\*


    "Ada apa pa,kok wajahnya serius bangat mandangin wajah Dimas kayak gitu.?" Tanya Dimas penasaran,mamanya juga sama,sepertinya mereka akan mengatakan hal yang sangat penting,begitulah yang di pikirkan Dimas.


   "Hubungan kamu sama Siska bagaimana?" tanya pak Andi langsung ke intinya.


 


   "Baik-baik aja,memang ada apa ya?"


    "Mama sama papa mau kalian cepat-cepat nikah" yang di jawab bu Diandra.


   "Kenapa harus buru-buru ma,kan Dimas juga ..."


  "Kamu itu sudah cukup mapan Dimas,punya pekerjaan tetap,penghasilan lumayan,kamu itu sudah cocok untuk menikah." potong bu Diandra,tidak menunggu sampai Dimas menyelesaikan omongannya.

__ADS_1


   "Tapi,bagaimana kalau Siska belum siap?"


   "Dia atau kamu yang nggak siap?" tanya pak Andi.


   "Heran deh sama mama dan papa ngebet bangat pengen aku nikah cepat-cepat,kan masih ada Aura sama Amira,biar saja mereka duluan." Dimas mengelak.


   "Kamu duluan saja,lagian Doni juga nggak ada di sini dia masih di luar negeri,ngurusin perusahaan papa yang ada di sana." Jawab pak Andi


  "Tunggu sampai dia pulang saja pa,kan bisa." Usul Dimas.


   "Pokoknya mama nggak mau tahu,malam ini kamu ajak Siska ke sini mama mau bicara sama dia.!" Suruh bu Diandra.


   "Harus malam ini juga ma?" Dimas memastikan.


   "Iya malam ini,harus malam ini!" tegas sang mama.


   "Niat baik itu nggak boleh di tunda-tunda Dim." Pak andi memberitahu.


   "Iya,Dimas tahu,tapi kalau Siskanya belum siap,dimas nggak bisa maksa ya?"


    "Orangnya nggak ada di sini,dan kita juga belum menanyakan sama dia tentang rencana kita ini,kenapa juga kamu begitu yakin dia nggak mau?" tanya papanya.


   "Kan tadi Dimas bilangnya kalau,kalau dia nggak mau." Dimas menjelaskan.


   "Awas aja kalau kamu menyuruh dia untuk tidak menerima ajakan mama ya?" ancam wanita itu.


  \*\*\*\*\*


     "Bengong lagi,kenapa Dim,kepikiran Siska?" tanya Rangga menggoda.


  


   "Bukan,aku itu lagi kepikiran sama omongan mama tadi pagi."


   "Soal apa?" Rangga mulai tertarik dengan cerita Dimas,dia bahkan mengambil kursi dan duduk di depan sohibnya.


   "Mama sama papa nyuruh aku cepat-cepat nikah."


   "Sama Siska?" Rangga berusaha menahan tawanya


   "Iya,sama siapa lagi,kan aku dekatnya cuma sama dia."


   "Ya sudah,bagus dong." Ucap Rangga penuh semangat.


   "Bagus apanya,kami itu nggak ada hubungan apa-apa,kita itu cuma temanan aja." Ungkap Dimas.


   "Ya sudah,cari cara dong biar ada hubungan,makanya di lamar buat di jadiin istri,biar ada hubungannya,hubungan sebagai suami istri" usul Rangga.


  Mendengar omongan temannya bukan membuat Dimas makin tenang,yang ada malah makin stress.


 

__ADS_1


 


__ADS_2